Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Hutan yang Tak Tersentuh dan Panen Besar
Langkah Riu Han terus melangkah masuk lebih dalam, hingga akhirnya pemandangan di sekelilingnya berubah sepenuhnya. Dulu tempat ini adalah medan pertempuran yang hancur lebur, namun ribuan tahun berlalu, dan alam perlahan menyembuhkan dirinya sendiri. Kini ia berdiri di tengah hutan yang rimbun, lebat, dan asri — pepohonan menjulang tinggi, dedaunan membentuk kanopi hijau yang meneduhkan lantai hutan, dan rumput liar tumbuh subur tanpa ada jejak kaki manusia yang menginjaknya. Luasnya sebanding dengan Hutan Binatang Roh di wilayah Kerajaan Jiang, namun suasananya jauh lebih tenang dan murni.
"Pasti ada banyak hal berharga di sini..." gumam Riu Han sambil tersenyum lebar.
Ia melangkah masuk lebih jauh. Di permukaan tanah, bekas luka perang kuno masih samar terlihat di beberapa tempat, namun semuanya telah tertutup akar, lumut, dan semak belukar yang tumbuh selama ribuan tahun. Bagian luar Reruntuhan Perang Kuno memang sering dikunjungi oleh para pemburu harta dan murid klan, namun hutan di bagian dalam ini dipenuhi robekan ruang yang mematikan — sehingga tidak ada satu pun yang berani melangkah sejauh ini. Sama seperti ladang logam yang ia temukan sebelumnya, hutan ini pun belum pernah disentuh siapa pun sejak perang dahsyat itu berakhir.
Udara di sini terasa sejuk dan lembap, dipenuhi aroma tanah subur dan dedaunan yang segar. Energi kehidupan mengalir kental, jauh lebih pekat daripada di tempat lain. Riu Han menarik napas panjang, menikmati kedamaian yang jarang ditemukan di dunia ini.
"Xiao Bai, keluarlah... kau tidak bosan terus-menerus diam di dalam sana?" panggilnya pelan.
Cahaya hijau lembut berkilau di sampingnya, lalu terbentuklah sosok seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Rambutnya hitam berkilau, kulitnya sehalus porselen, dan matanya bersinar jernih seperti air mata embun. Tangan dan kakinya kini sudah sepenuhnya menyerupai manusia — tidak lagi tertutup ranting, daun, atau akar ginseng seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menatap sekeliling dengan mata yang berbinar penasaran.
"Kakak... kita ada di mana?" tanyanya dengan suara yang renyah.
Riu Han tersenyum menatapnya. "Ini adalah hutan di sebuah dunia tersendiri, Xiao Bai. Orang-orang menyebutnya Reruntuhan Perang Kuno. Tempat ini tersembunyi, dan sangat sedikit yang mampu melangkah sejauh ini."
Ia berjongkok sedikit agar sejajar dengan pandangan anak itu. "Aku memanggilmu keluar karena aku butuh bantuanmu. Sebagai leluhur segala tanaman dan herbal, tentu kau tahu di mana kerabatmu berada, bukan?"
Xiao Bai mengerutkan kening, memasang wajah sebal. "Kakak jahat... aku masih anak-anak! Bagaimana bisa kau menyamakan aku dengan orang-orang tua yang kaku dan tidak pernah mati itu?"
Tawa Riu Han meledak pelan. "Hei, wujudmu memang seperti anak kecil, tapi usiamu sudah mencapai sepuluh ribu tahun, bukan? Jadi herbal yang tumbuh di sini yang usianya ribuan tahun — yang paling tua pantas menjadi anakmu, yang menengah menjadi cucumu, dan yang muda menjadi cicitmu. Aku tidak salah, kan?"
Xiao Bai menunduk, jari-jarinya memutar ujung bajunya pelan. "Ih... kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga..."
"Nah, begitu dong," Riu Han menepuk bahunya pelan. "Jadi tolong aku menemukannya, ya?"
"Baiklah..." Xiao Bai mengangkat wajahnya kembali, matanya berbinar semangat. "Tapi aku beritahu dulu, Kakak — herbal di sini tidak seperti yang ada di tamanmu. Yang paling muda saja sudah berusia seribu tahun, dan yang tertua mendekati sepuluh ribu tahun. Mutu dan kekuatannya jauh lebih tinggi dari apa pun yang pernah kau lihat."
Mata Riu Han membelalak takjub. Paling muda seribu tahun! Itu berarti setiap tanaman di sini adalah harta yang tak ternilai harganya di luar sana. Panen besar sungguh menanti! Ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit, lalu menepuk kedua telapak tangannya seakan membersihkan debu yang tak terlihat.
"Baiklah! Kalau begitu, ayo kita mulai bekerja!"
Xiao Bai mengangguk mantap. Tanpa suara, sosoknya melesat ke depan, bergerak lincah di antara pepohonan. Riu Han mengikutinya dengan tenang.
Siut!
Xiao Bai berhenti seketika, tangannya menyambar sebatang tanaman yang tumbuh tersembunyi di balik semak. "Ini satu, Kakak!" Ia melemparkannya ke arah Riu Han.
Riu Han menangkapnya dengan cekatan — ginseng berakar tebal yang memancarkan cahaya keemasan samar. Ia langsung menyimpannya ke dalam Cincin Ruang.
Siut!
Xiao Bai bergerak lagi, menghilang di balik batang pohon raksasa, lalu muncul kembali seketika dengan tanaman lain di tangannya. "Ini lagi!"
Dan lagi, dan lagi. Setiap kali ia bergerak, selalu ada sesuatu yang berharga ia temukan.
"Eh, Kakak..." Xiao Bai menoleh ke belakang sambil melayang perlahan, wajahnya tampak bingung. "Gerakanmu kenapa jadi makin cepat? Dulu kau memang cepat, tapi masih sedikit tertinggal dariku dan Bai Wing. Sekarang... sepertinya kau sama cepatnya dengan kami."
Riu Han tersenyum mendengarnya. "Tidak usah bingung, Xiao Bai. Ini bukan karena tingkat kultivasiku naik, melainkan teknik gerakanku yang berkembang. Aku menemukan cara baru untuk melangkah — bukan dengan berlari, melainkan dengan memendekkan jarak itu sendiri."
Mata Xiao Bai terbelalak sejenak, lalu mengangguk pelan seakan mulai memahami. "Wah... hebat sekali, Kakak. Kalau begitu, ayo lanjut!"
Kembali mereka bergerak, kini beriringan dengan kecepatan yang setara. Xiao Bai menyapu setiap sudut hutan, menemukan tanaman langka yang tersembunyi sekalipun, sementara Riu Han menyimpannya dengan rapi. Di dalam Cincin Ruang, kerja sama pun berjalan lancar — Qin Siue segera menanam setiap herbal yang masuk ke sana ke tanah yang subur di taman, memastikan semuanya tetap hidup dan terus tumbuh. Siklus memanen dan menanam berjalan tanpa henti, sehalus aliran air.
Xiao Bai seolah mengenal setiap jengkal tanah di hutan ini. Ia tahu mana tempat yang lembap, mana yang kaya energi, dan di mana tanaman berharga suka bersembunyi. Baginya, hutan ini seperti rumah sendiri — ia bisa merasakan kehadiran kerabat-kerabatnya sekalipun tersembunyi di balik akar raksasa atau di balik dahan yang rimbun.
Riu Han mengikutinya dengan santai, sesekali tersenyum melihat kegesitan anak itu. Ia merasa seperti tuan tanah yang sedang memeriksa kebunnya sendiri — setiap kali Xiao Bai melemparkan sesuatu, ia hanya perlu mengulurkan tangan dan menyimpannya. Di dalam cincin itu, Qin Siue menanamnya dengan keterampilan yang begitu mahir sehingga seolah-olah hal itu terjadi secara alami. Bagi roh cincin itu, menanam dan menjaga tanaman adalah hal yang semudah bernapas.
"Kakak, ini yang paling istimewa sejauh ini!" seru Xiao Bai tiba-tiba, suaranya terdengar bersemangat. Ia melayang turun dari sela-sela dahan pohon tertinggi, tangannya memegang sebatang tanaman yang memancarkan cahaya putih keperakan yang lembut namun kuat. Daun-daunnya berkilau seakan dihiasi embun permata, dan aromanya harum menenangkan hati siapa pun yang menghirupnya.
Riu Han menerimanya dengan hati-hati. Tanaman itu terasa hangat di tangannya, memancarkan energi kehidupan yang murni dan pekat.
"Ini adalah Bunga Jiwa Abadi," bisik Xiao Bai kagum. "Hanya tumbuh di tempat yang tidak pernah tersentuh kekuatan jahat, dan butuh sepuluh ribu tahun untuk mekar sekali saja. Di luar sana, benda ini sudah tidak ada lagi — dianggap lenyap ribuan tahun lalu."
Riu Han menatap bunga itu lekat-lekat. Hatinya bergetar penuh syukur. Di tempat yang terlupakan ini, di antara reruntuhan masa lalu, ternyata masih tersimpan keajaiban yang hilang dari dunia luar. Ia menyimpannya perlahan, seakan takut benda itu akan pudar jika tergesa-gesa.
"Terima kasih, Xiao Bai," ucapnya tulus. "Kau sungguh membantuku banyak."
Xiao Bai tersenyum bangga, dadanya membusung sedikit. "Itu tugasku, Kakak! Lagipula... melihat mereka tumbuh subur di tempat yang baik membuatku senang."
Mereka melanjutkan perjalanan. Sore mulai menjelang di dunia luar, namun di dalam hutan ini cahayanya tetap remang-remang, seakan senja abadi. Tidak ada yang mengganggu mereka — tidak ada binatang buas, tidak ada orang lain. Hanya suara dedaunan yang bergesekan dengan angin, dan langkah kaki mereka yang menyusuri tanah empuk.
Setiap tanaman yang mereka temukan memiliki usia yang tak ternilai harganya. Ada yang berkhasiat mempercepat pemulihan energi, ada yang menguatkan fondasi kultivasi, ada pula yang menjadi bahan utama ramuan untuk menembus batas ranah yang sulit dilewati. Semuanya masuk ke dalam Cincin Ruang, ditanam dengan penuh perhatian, dan di sana mereka akan terus tumbuh, berkembang biak, menjadi sumber kekayaan yang tak akan habis digunakan.
Riu Han menyadari satu hal dengan jelas: perjalanan ini jauh lebih berharga daripada yang ia duga. Ia datang mencari bahan obat-obatan, namun yang ia temukan adalah kekayaan yang dapat menopang kemajuan seluruh keluarganya selama bertahun-tahun mendatang. Dan di sampingnya, Xiao Bai — sosok kecil yang sesungguhnya lebih tua dari siapa pun yang ia kenal — terus menuntunnya dengan tulus, seakan mereka kakak dan adik yang sedang bermain bersama di taman sendiri.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪