NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08. Peraturan Velvet Sovereign

Suasana di ruang UKS terasa begitu hening dan dingin dari pendingin udara yang bertiup pelan. Bau minyak kayu putih dan antiseptik menyeruak di udara. Valeska perlahan membuka matanya, mengeripikkan kening akibat rasa pening yang menusuk tajam di kepalanya.

"Aduh... pusing banget," lenguhnya serak sambil memegangi pelipisnya.

Dia mencoba mendudukkan diri di atas ranjang periksa, menarik selimut putih tebal hingga menutupi dada. Bibirnya masih terasa agak kering, dan badannya terasa lemas tanpa tenaga.

"Mana sih Bi Sumi... Haus banget..." gumam Valeska dengan nada manja dan menyekat, terbiasa dilayani setiap kali sedang sakit atau tidak enak badan.

Brak!

Pintu ruang UKS terdorong kencang dari luar. Dua orang cewek cantik dengan seragam yang serba ketat dan aksesoris mewah bergegas masuk dengan raut wajah panik luar biasa. Clarissa dan Giselle—dua sahabat karib Valeska—langsung menghambur ke pinggir ranjang.

"Valeska! Ya ampun, babe! Lo enggak apa-apa kan?!" seru Clarissa histeris sambil memegang kedua tangan Valeska. "Gue kaget banget pas denger anak-anak pada heboh bilang lo pingsan di lapangan!"

"Iya, Val! Gila, kita berdua langsung lari dari kantin tahu enggak!" timpal Giselle dengan napas terengah-engah, mengibas-ibaskan tangannya ke arah wajah Valeska. "Muka lo masih pucat banget lagi. Parah banget sih Pak Bambang, tega banget jemur lo sampai begini!"

Melihat kedatangan dua sahabatnya, mode manja Valeska makin menjadi-jadi. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Clarissa sambil cemberut berat.

"Rissa, Selle... Gue pusing banget, gila," racau Valeska dengan suara dibuat-buat lemas dan manja. "Sekolah ini jahat banget sama gue. Pak Bambang tuh bener-bener enggak punya rasa kemanusiaan! Kulit gue panas semua, kepala gue mau pecah rasanya!"

"Sabar ya, babe... Mending lo istirahat dulu," kata Clarissa mengelus rambut Valeska penuh simpati.

Giselle melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit penuh dendam. "Tapi Val, lo tahu enggak? Tadi pas lo pingsan, si Jena sama gengnya di lantai dua malah ngetawain lo! Sialan banget tuh cewek, pengen gue jambak rasanya!"

Mendengar nama Jena disebut, Valeska langsung menegakkan kepalanya, menyisakan raut wajah manisnya yang berganti menjadi tatapan tajam nan penuh amarah.

"Masa si Jena ngetawain lo?!" sentak Clarissa makin emosi, matanya berbinar menanti pembalasan.

Valeska yang tadi bersandar lemas mendadak mengepalkan tangannya di atas kasur UKS. Walau wajahnya masih pucat, tatapan matanya berubah menajam bagaikan silet.

"Tenang aja..." desis Valeska dengan nada dingin yang sarat dendam. "Abis ini bakal gue jambak tuh cewek sampai botak. Tunggu aja, pas gue udah sembuh dan tenaga gue balik penuh! Bikin gara-gara banget sama Valeska Aurelia!"

"Nah, gitu dong! Ini baru Ratu kita!" seru Giselle puas sambil menepuk tangan.

Namun, begitu mendengar suara langkah kaki berat yang mendekat dari balik pintu UKS, otak licik Valeska langsung bekerja cepat. Dia tahu persis siapa pemilik langkah kaki itu. Dalam hitungan detik, Valeska mengubah raut mukanya yang gahar menjadi sangat lemas, matanya dijadikan sayu, dan badannya kembali terkulai pasrah di atas kasur.

Klek.

Pak Bambang melangkah masuk ke ruang UKS bersama Petugas PMR. Raut wajah guru kedisiplinan itu tampak campur aduk antara khawatir dan bersalah.

"Bagaimana kondisinya, Valeska?" tanya Pak Bambang pelan, suaranya jauh lebih lembut dari biasanya. "Sudah agak mendingan?"

Bukannya menjawab dengan benar, Valeska malah mulai meracau heboh. Dia meremas selimutnya rapat-raut, matanya menerawang ke arah langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang sengaja dibuat-buat secara berlebihan.

"Aduh... Pak Bambang... Ini di mana ya?" bisik Valeska dengan suara bergetar dan sangat dramatis. "Rissa... Selle... Kenapa ada banyak bayangan hitam melayang-layang di atas kepala Pak Bambang? Itu burung gagak ya? Aduh, kepala gue... Dunia kayak memutar tiga ratus enam puluh derajat!"

Clarissa dan Giselle yang paham betul tabiat sahabatnya langsung menahan tawa, ikut-ikutan memasang raut muka panik untuk mendukung drama Valeska.

"Tuh kan, Pak! Non Valeska sampai halusiuasi begini!" kompor Clarissa sambil menunjuk-nunjuk udara kosong. "Gara-gara dijemur di bawah matahari terik tadi tuh! Kalau otak sahabat saya makin miring gimana, Pak?!"

"Iya, Pak Bambang!" timpal Giselle heboh. "Lihat tuh, matanya aja udah enggak fokus! Nanti kalau papanya yang konglomerat itu tahu anaknya dihukum sampai ngeliat burung gagak melayang, bisa dituntut sekolah ini, Pak!"

Pak Bambang seketika makin panik. Beliau mengusap keringat dingin di dahinya, tidak tahu harus berbuat apa melihat anak muridnya melindur serasa mendekati maut.

"A-aduh, Valeska, kamu jangan nakut-nakutkan Saya!" seru Pak Bambang panik sambil mendekat. "Beneran lihat bayangan hitam?! Ya sudah, ya sudah! Hari ini kamu tidak usah kembali ke kelas! Istirahat saja di sini sampai dijemput supir kamu!"

"Aduh... Pak... Burung gagaknya mau hinggap di kumis Bapak..." rintih Valeska makin menjadi-jadi sambil memejamkan mata dan memegang dadanya seolah-olah kesakitan parah. "Sakit banget... Dada saya sesak, Pak..."

"Iya, iya! Nanti kumis Saya potong kalau perlu!" potong Pak Bambang cepat, benar-benar mati kutu dan merasa sangat bersalah. "Sudah, kamu tenang! Jangan banyak bicara dulu! Jangan lihat burung gagak lagi!"

Setelah memarahi Petugas PMR untuk menjaga Valeska dengan benar, Pak Bambang bergegas keluar dari ruang UKS dengan langkah seribu, takut urusannya makin panjang.

Begitu pintu UKS tertutup rapat dan langkah Pak Bambang menghilang, Valeska langsung membuka matanya, melipat kedua tangannya di dada, lalu tertawa lepas bersama Clarissa dan Giselle.

"Buset, Val! Burung gagak di kumis Pak Bambang enggak kuat gue!" tawa Giselle pecah sambil memegangi perutnya.

"Dasar guru tua bangkai, gampang banget dikerjain!" kekeh Valeska puas, sisa lemasnya mendadak menguap entah ke mana.

Sore harinya, alih-alih pulang ke rumah untuk beristirahat, Valeska justru meluncur ke salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota bersama Clarissa dan Giselle. Bagi Valeska, berbelanja baju, sepatu, dan tas desainer adalah cara paling ampuh untuk membuang rasa stres dan emosi akibat kejadian di sekolah tadi.

Mereka bertiga keluar dari boutique tas barang bermerek dengan beberapa kantong belanjaan di tangan. Valeska melangkah dengan anggun di paling depan, sementara Giselle berjalan di sampingnya.

Saat tiba di kasir toko kosmetik internasional berikutnya, Valeska memperhatikan ada yang aneh. Ketika Clarissa hendak membayar sebuah botol parfum dan *lipstick* edisi terbatas, Giselle yang justru menyerahkan kartu kreditnya ke petugas kasir.

Valeska menghentikan langkahnya, menyipitkan mata menatap mereka berdua.

"Tunggu deh," tegur Valeska curiga sambil melipat kedua tangannya di dada. "Selle, kok lo yang bayarin belanjaannya Rissa? Bukannya dari toko sepatu tadi lo juga yang bayar belanjaan dia?"

Clarissa seketika membeku. Wajahnya mendadak pucat dan jemarinya meremas tali tasnya erat-erat. Dia menunduk, tidak berani menatap langsung ke dalam mata Valeska.

"A-anu, Val..." bisik Clarissa dengan suara bergetar dan penuh ketakutan. "Bisnis Papa gue... lagi terpukul banget beberapa bulan terakhir ini. Tabungan gue dibatasi... Gue sebenarnya lagi susah, Val. Makanya belakangan ini gue belum bisa ikut shopping barang-barang mahal kayak biasa..."

Mendengar pengakuan jujur itu, raut wajah manis dan manja Valeska seketika menghilang total, berganti dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh keangkuhan yang merendahkan.

Valeska mundur satu langkah, menatap Clarissa dari atas ke bawah seolah cewek di depannya itu adalah sesuatu yang kotor.

"Lo seriusan?" desis Valeska dengan nada suara tanpa empati sedikit pun. "Lo tahu kan, dari awal peraturan geng Velvet Sovereign itu apa? Geng kita cuma buat anak-anak konglomerat yang setara. Kalau miskin dan bangkrut, lo enggak berhak ada di kelompok ini!"

Clarissa menahan napas, matanya mulai berkaca-kaca menahan malu di tengah koridor mall yang megah itu.

"Jadi untuk saat ini, lo jauh-jauh dulu dari gue," lanjut Valeska pedas, mengibaskan tangannya mengusir Clarissa. "Gue enggak mau berteman sama orang susah. Takut ketularan sial dan melaratnya."

Giselle yang mendengar ucapan telak itu mendadak tidak tega melihat Clarissa yang hampir meneteskan air mata. "Val, tapi kan Rissa sahabat kita—"

Sebelum Giselle menyelesaikan kalimatnya dan memprotes lebih jauh, Clarissa cepat-cepat memegang lengan Giselle dan menggelengkan kepala pelan. Clarissa menahan Giselle agar tidak membalas omongan Valeska, tahu betul kalau membalas hanya akan membuat Valeska makin murka dan mempermalukannya lebih parah.

"Udah, Selle... Nggak apa-apa," bisik Clarissa pasrah dengan suara serak, menahan air matanya agar tidak jatuh.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!