Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Malam Ketika Denis Mengkhianati Mita (Flash Back Denis dan Siska #2)
Keheningan menyambut Denis dan Siska begitu pintu kamar hotel tertutup di belakang mereka. Kamar itu tidak berbeda dari kamar hotel pada umumnya. Sebuah tempat tidur besar berada di tengah ruangan, meja kecil terletak di dekat jendela, dan tirai tebal menutupi pemandangan kota yang masih basah oleh hujan.
Siska meletakkan tasnya, kemudian menoleh kepada Denis, “Mas yakin tidak keberatan menemani saya malam ini?”
Denis menatapnya cukup lama sebelum menjawab, “Seharusnya saya tidak berada di sini.”
Kalimat itu membuat Siska terdiam.
“Kalau begitu, Mas bisa pergi.”
Denis menoleh ke arah pintu. Ia tahu Siska benar. Tidak ada yang menghalanginya untuk keluar. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan keputusannya bertahan di kamar itu. Ia masih bisa mengakhiri semuanya sebelum terlambat. Namun, ketika ia kembali memandang Siska, perempuan itu sudah berdiri tidak jauh darinya.
“Saya tidak ingin membuat Mas melakukan sesuatu yang tidak Mas inginkan,” ujar Siska pelan.
Denis menarik napas Panjang, “Masalahnya bukan itu.”
“Lalu apa?”
Denis tidak menjawab. Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak berani ia akui kepada dirinya sendiri? Bahwa ia menyukai perhatian Siska, tetapi masih mencintai Mita. Bahwa ia menikmati kedekatan yang baru tumbuh itu, meskipun tahu ada seseorang yang akan terluka jika ia terus melangkah.
Siska mengetahui bahwa ada nama lain di antara mereka, meskipun perempuan itu tidak menyebutkannya. Ada seorang perempuan yang tidak berada di kamar itu, tetapi memiliki hak atas kesetiaan Denis.
Mita.
Nama itu kembali muncul dalam pikirannya. Ia membayangkan wajah perempuan tersebut, pesan singkatnya sebelum keberangkatan, dan suaranya yang mengatakan rindu melalui telepon beberapa jam lalu. Untuk sesaat, rasa bersalah membuatnya ingin pergi.
Namun, Siska meraih tangannya.
“Mas Denis,” bisiknya, “saya suka berada di dekat Mas.”
Sentuhan itu membuat Denis kehilangan keteguhan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan. Ia tidak bisa lagi menyalahkan hujan, suasana malam, atau perhatian Siska.
Ia memahami apa yang sedang terjadi. Ia juga memahami bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk menghentikannya. Akan tetapi, malam itu Denis memilih mengikuti keinginannya sendiri.
Ketika Siska mendekat dan Denis membalas kedekatan itu, batas terakhir di antara mereka pun runtuh. Mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah seharusnya terjadi selama Denis masih menjalin hubungan dengan Mita.
Tidak ada janji yang diucapkan malam itu. Tidak ada kepastian tentang masa depan. Hanya ada keputusan sesaat yang mereka ambil bersama, sementara di luar sana, seseorang masih percaya bahwa laki-laki yang dicintainya sedang menjalankan tugas pekerjaan dengan baik.
Malam itu berlalu tanpa ada seorang pun yang mengetuk pintu untuk mengingatkan mereka akan kesalahan yang sedang dilakukan. Dan justru karena tidak ada yang menghentikan mereka, Denis dan Siska membiarkan diri melewati batas yang seharusnya dijaga.
Ketika akhirnya Denis terlelap, ia belum memahami bahwa ada keputusan yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibuat, tetapi bisa meninggalkan luka selama bertahun-tahun.
……………….
Di Pontianak, Mita masih menjalani malamnya dengan tenang. Ia tidak tahu bahwa di kota lain, kepercayaan yang selama ini ia berikan kepada Denis baru saja dikhianati.
Seusai menyelesaikan beberapa pekerjaan, Mita sempat membuka ponselnya. Ia berharap ada pesan baru dari Denis, atau setidaknya kabar singkat yang menandakan bahwa laki-laki itu sudah beristirahat setelah seharian mengikuti pelatihan.
Namun, tidak ada pesan baru.
Mita tidak merasa curiga. Ia justru berusaha memahami kesibukan kekasihnya. Baginya, perjalanan dinas merupakan bagian dari tanggung jawab pekerjaan yang harus dijalani Denis.
Ia tahu Denis memiliki banyak tugas. Ia juga tahu laki-laki itu terkadang terlalu larut dalam pekerjaan hingga lupa memperhatikan waktu. Karena itulah, Mita tidak ingin menjadi perempuan yang terus-menerus menuntut perhatian.
Ia hanya berharap Denis tetap menjaga kesehatan dan tidak melupakan dirinya meskipun sedang berada jauh dari rumah. Mita meletakkan ponselnya di meja, lalu tersenyum kecil ketika mengingat percakapan mereka sore tadi.
“Aku kangen.”
Kalimat sederhana itu masih terasa hangat dalam ingatannya.
Ia tidak tahu bahwa pada saat yang hampir bersamaan, Denis sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan makna kalimat tersebut.
Bagi Mita, rindu adalah perasaan yang mengikat dua orang meskipun terpisah jarak.
Bagi Denis malam itu, rindu yang diucapkan Mita justru menjadi sesuatu yang gagal ia hormati.
……
Pagi datang menyapa Kota Bandung. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar hotel, menerangi sebagian ruangan yang masih sunyi.
Denis terbangun lebih dahulu. Ia menatap langit-langit kamar selama beberapa saat, berusaha mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya teringat di mana dirinya berada.
Lalu, perlahan-lahan, ingatan tentang malam sebelumnya kembali memenuhi pikirannya.
Siska.
Kamar hotel.
Keputusan yang seharusnya tidak pernah ia ambil.
Denis duduk di tepi tempat tidur. Kedua tangannya bertaut, sementara pandangannya kosong menatap lantai. Ia tidak bisa berpura-pura bahwa semua itu terjadi tanpa kesadarannya. Tidak ada paksaan. Tidak ada keadaan yang membuatnya kehilangan pilihan.
Ia tahu sejak awal bahwa dirinya memiliki kekasih. Ia tahu bahwa Mita mempercayainya.
Dan ia tetap memilih untuk mengkhianati perempuan itu. Perasaan bersalah mulai menyesakkan dadanya. Namun, di balik rasa bersalah tersebut, muncul ketakutan yang lebih besar: bagaimana jika Mita mengetahui semuanya?
Bagaimana jika hubungan yang selama ini mereka bangun harus berakhir hanya karena satu malam yang tidak mampu ia kendalikan? Denis mengusap wajahnya kasar.
Ia ingin menganggap kejadian itu sebagai kesalahan sesaat yang tidak akan terulang. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa setelah kembali ke Pontianak, semuanya bisa berjalan seperti biasa.
Namun, jauh di dalam hati, ia tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar sama setelah kepercayaan dikhianati.
Siska bergerak perlahan di tempat tidur, “Mas sudah bangun?” tanyanya dengan suara serak.
Denis menoleh, “Iya.”
Siska bangkit dan merapikan rambutnya. Untuk beberapa saat, keduanya terdiam, seolah-olah sedang berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk mengawali pagi setelah kejadian semalam.
“Mas menyesal?” tanya Siska tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Denis terdiam. Ia tidak segera menjawab karena tahu bahwa jawaban apa pun tidak akan mengubah kenyataan yang telah terjadi.
“Aku tidak tahu harus bilang apa,” ujarnya akhirnya.
Siska menatapnya, “Mas masih memikirkan Mita?”
Denis mengalihkan pandangan, “Dia tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di antara kita,” katanya pelan. “Ini kesalahanku.”
Siska tidak membantah.
Untuk pertama kalinya, Denis menyadari bahwa kedekatan yang semula terasa menyenangkan kini meninggalkan persoalan yang tidak sederhana. Perasaan yang tumbuh di antara mereka tidak serta-merta menghapus hubungan Denis dengan Mita, apalagi menghilangkan tanggung jawabnya atas pilihan yang telah dibuat.
“Aku harus kembali ke kamarku,” ujar Denis kemudian.
Siska mengangguk pelan.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tuntutan. Namun, keheningan di antara mereka justru terasa lebih berat daripada percakapan panjang.
Denis mengambil barang-barangnya, lalu berdiri di dekat pintu.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi, “Sis, soal semalam—”
“Tidak perlu dibicarakan sekarang, Mas,” potong Siska. “Kita masih harus mengikuti pelatihan hari ini.”
Denis mengangguk, meskipun jawaban itu tidak membuat pikirannya lebih tenang. Ia membuka pintu dan melangkah keluar.
Koridor hotel tampak lengang. Denis berjalan menuju kamarnya sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tahu bahwa ia harus kembali mengikuti pelatihan, berbicara dengan rekan-rekannya, dan bersikap seolah-olah tidak ada sesuatu yang berubah.
Namun, ada satu hal yang tidak mungkin ia hindari. Ia harus menghadapi dirinya sendiri.
………..
Hari kedua pelatihan berjalan seperti biasa. Para peserta berkumpul di ruang pertemuan, mendengarkan pemaparan materi, dan kembali berdiskusi mengenai evaluasi program CSR.
Denis berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan. Ia mencatat materi yang disampaikan narasumber, memberikan pendapat ketika diperlukan, dan mengikuti diskusi kelompok sebagaimana mestinya.
Namun, konsentrasinya tidak lagi utuh. Sesekali, pandangannya tanpa sengaja tertuju kepada Siska yang duduk beberapa kursi darinya.
Perempuan itu terlihat tenang. Ia bahkan masih sempat tersenyum ketika berbicara dengan peserta lain. Tidak ada yang menunjukkan bahwa mereka baru saja melewati batas yang seharusnya tidak pernah mereka sentuh.
Sementara itu, Denis merasa seolah-olah membawa rahasia besar yang terus menekan pikirannya. Ponselnya bergetar ketika sesi istirahat dimulai.
Sebuah pesan dari Mita muncul di layar, “Mas, bagaimana pelatihannya hari ini? Jangan lupa sarapan, ya. Semoga semuanya lancar.”
Denis menatap pesan itu lama sekali. Ada ketulusan yang begitu sederhana di dalamnya. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada tuntutan. Mita hanya ingin mengetahui kabarnya. Justru itulah yang membuat Denis merasa semakin hina.
Ia mulai mengetik balasan, lalu berhenti. Ia menghapus beberapa kata sebelum akhirnya menulis Kembali, “Lancar, Ta. Mas baik-baik saja. Kamu juga jangan lupa makan.”
Pesan itu terkirim.
Denis memandangi layar ponselnya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya ia menyampaikan kabar kepada Mita sambil menyembunyikan sesuatu yang begitu besar.
Ia tidak tahu apakah dirinya akan sanggup menceritakan kebenaran itu suatu hari nanti. Yang ia tahu, mulai saat itu, setiap pesan dari Mita akan mengingatkannya pada kesalahan yang telah ia lakukan.
Dan setiap kali ia menjawab dengan kata-kata penuh perhatian, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya tidak lagi sepenuhnya jujur kepada perempuan yang dicintainya.
………
Malam kedua di Bandung tiba.
Denis kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama beberapa peserta pelatihan. Ia mencoba beristirahat, tetapi pikirannya terus berkelana. Ia teringat Mita, keluarganya, serta semua rencana yang pernah mereka bicarakan tentang masa depan.
Dulu, Denis selalu membayangkan bahwa akhir tahun akan menjadi momen membahagiakan bagi mereka. Ia ingin menutup tahun dengan pencapaian pekerjaan yang baik, kemudian menghabiskan waktu bersama Mita tanpa gangguan urusan kantor.
Namun, kini bayangan itu terasa berbeda.
Ia mulai memahami bahwa pengkhianatan tidak hanya melukai orang yang dikhianati. Pengkhianatan juga merusak cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Denis bisa saja kembali ke Pontianak, menemui Mita, dan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia bisa terus menyimpan rahasia tersebut, berharap waktu akan membuat rasa bersalahnya menghilang.
Tetapi ia tidak bisa menghapus kenyataan bahwa ia telah membuat pilihan. Dan pilihan itu akan selalu menjadi bagian dari kisah mereka.
Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar sesekali melewati koridor. Denis meraih ponselnya dan membuka percakapan dengan Mita.
Ia membaca kembali pesan-pesan lama mereka. Percakapan ringan, candaan sederhana, dan kata-kata penuh perhatian yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi pengingat tentang sesuatu yang telah ia pertaruhkan.
Denis memejamkan mata. Ia masih mencintai Mita. Namun, cinta yang ia akui itu kini berdiri berhadapan dengan perbuatannya sendiri.
Sementara di Pontianak, Mita masih percaya bahwa jarak hanyalah persoalan waktu, bahwa kesibukan adalah bagian dari pekerjaan, dan bahwa laki-laki yang dicintainya akan selalu tahu jalan untuk kembali kepadanya.
Sayangnya, Denis telah memilih jalan yang menjauhkannya dari Mita.
Ia belum tahu bagaimana rahasia itu akan terbongkar, atau seberapa besar luka yang kelak harus ditanggung perempuan tersebut.
Yang jelas, malam di Bandung telah mengubah sesuatu di antara mereka.
Dan ketika Denis akhirnya kembali ke Pontianak nanti, ia akan membawa pulang bukan hanya hasil pelatihan, melainkan juga sebuah rahasia yang berpotensi menghancurkan hubungan mereka.
Sebab ada kesalahan yang bisa disesali, tetapi tidak bisa dibatalkan.
Ada kepercayaan yang bisa diperjuangkan kembali, tetapi tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya.
Dan ada cinta yang perlahan kehilangan tempatnya ketika seseorang memilih keinginan sesaat daripada kesetiaan.
Denis baru saja memulai perjalanan panjang untuk menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.
Sementara Mita, tanpa mengetahui apa pun, masih menunggunya pulang.
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai.
Denis terbangun lebih dahulu. Beberapa detik ia hanya memandangi langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Tubuhnya masih terasa berat, tetapi bukan kelelahan akibat pelatihan yang membuat dadanya sesak.
Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih ponsel yang tergeletak di meja, lalu mendapati beberapa pesan dari Mita.
Pesan pertama dikirim sebelum tengah malam.
“Pelatihannya lancar, kan? Mas sudah istirahat?
Pesan kedua datang beberapa menit kemudian.
“Sepertinya Mas sibuk. Tidak apa-apa, nanti kita bicara lagi. Semoga tidurmu nyenyak. Mimpikan aku ya Mas…”
Denis membaca kedua pesan itu berulang kali.
Tidak ada kecurigaan dalam kata-kata Mita. Tidak ada tuduhan, tidak ada kemarahan. Perempuan itu hanya sedang menunjukkan perhatian kepada seseorang yang dipercayainya.
Justru ketulusan itulah yang membuat rasa bersalah Denis terasa semakin berat. Ia mengetik sebuah pesan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Pada akhirnya, ia hanya membalas, “Maaf, semalam mas kelelahan dan langsung tidur. Pagi ini masih ada kegiatan lagi.”
Kebohongan itu terasa kecil ketika dituliskan. Namun, Denis tahu ia sedang menutupi sesuatu yang jauh lebih besar.