Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Edward dan Surat Cerai
Selama tiga hari terakhir, Yoselin menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ponsel pribadinya sengaja ia matikan sejak malam kelam ketika Edward menampar dan mencekiknya. Selama beberapa hari itu, ia hanya mengandalkan ponsel kantor khusus urusan bisnis. Yoselin berusaha menata kembali puing-puing hatinya, menempati rumah kontrakan barunya yang tenang, serta mengurus berkas perceraian melalui bantuan pengacara.
Hari ini, Yoselin akhirnya memutuskan untuk menyalakan kembali ponsel pribadinya setelah salinan resmi dokumen gugatan cerai sudah mantap berada di genggamannya. Yoselin sebenarnya sempat merasa bingung mengapa proses administrasi dan persiapan berkas hukum ini bisa berjalan begitu lancar dan cepat dalam waktu tiga hari saja. Ia berpikir, mungkin keberuntungan memang sedang berpihak padanya untuk segera bebas dari penderitaan ini.
Begitu ponselnya menyala, puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan singkat langsung bertubi-tubi masuk. Jemari Yoselin bergerak menggeser layar, hingga matanya tertuju pada satu pesan mendesak dari ibu mertuanya. Pesan itu mengabarkan bahwa Edward saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat dihadang sekelompok orang tidak dikenal yang mengakibatkan pergelangan tangan kanannya patah tulang.
Yoselin tertegun sejenak. Biar bagaimanapun, nuraninya masih ada. Ia bergegas merapikan pakaian kerjanya, mengambil map berisi dokumen perceraian, lalu berkendara menuju rumah sakit tempat Edward dirawat. Niatnya murni untuk menjenguk sebentar demi menghormati mertuanya, sekaligus meminta Edward menandatangani berkas perceraian agar proses di pengadilan berjalan lebih cepat.
Sesampainya di lorong VIP rumah sakit, Yoselin berjalan menuju kamar rawat Edward. Tanpa membuang waktu dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Yoselin langsung memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
Namun, pemandangan di dalam ruangan seketika menghentikan detak jantungnya.
Di atas ranjang rumah sakit, dua orang manusia sedang bertautan mesra dalam sebuah ciuman panas. Angela tampak duduk di pangkuan Edward, melingkarkan tangannya di leher pria itu, sementara Edward menikmati setiap sentuhan yang diberikan Angela tanpa ada niat menolak.
"Siapa yang tidak tahu sopan santun main masuk—" bentak Edward murka karena kencannya terganggu.
Namun, ucapannya terputus di udara saat matanya bertabrakan dengan sosok Yoselin yang berdiri kaku di ambang pintu. Tatapan mata Yoselin memancarkan kekecewaan yang teramat dalam, meski raut wajahnya diusahakan tetap datar.
Kepanikan luar biasa seketika menyergap dada Edward.
"Yoselin?!" pekik Edward kaget.
Dalam kepanikannya, Edward secara refleks mendorong tubuh Angela dengan tangan kirinya yang sehat hingga wanita itu terdorong dan jatuh tersungkur ke lantai marmer.
"Aduh! Edward!" ringis Angela meringis kesakitan, menatap Edward dengan raut wajah tidak percaya dan terkejut.
Edward tidak memedulikan Angela. Matanya terus terkunci pada Yoselin yang melangkah masuk ke dalam kamar dengan raut wajah acuh tak acuh. Yoselin menutup pintu rapat-rapat, menatap Edward dan Angela bergantian dengan pandangan dingin.
"Yoselin... dengarkan aku dulu! Ini... ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" seru Edward panik, berusaha mendudukkan tubuhnya lebih tegak di ranjang.
Yoselin menghentikan langkahnya di samping ranjang, mengulas senyum tipis yang sarat akan kepahitan.
"Aku tidak peduli, Edward. Kamu mau berciuman, bermesraan, atau melakukan apa pun dengan Angela di ruangan ini, itu bukan urusanku lagi."
"Yoselin!" panggil Edward dengan suara bergetar.
"Kedatanganku ke sini murni hanya karena pesan dari Ibu yang memintaku melihat kondisimu," lanjut Yoselin datar seraya meletakkan map cokelat di atas meja samping ranjang.
"Dan sekalian menyerahkan berkas ini untuk kamu tanda tangani."
Dahi Edward bertaut rapat. "Berkas? Berkas apa ini?!"
Dengan tangan kirinya yang bebas, Edward menarik dokumen dari dalam map tersebut dan membukanya. Begitu membaca judul tulisan di lembar pertama, mata Edward membelalak lebar. Amarah yang sangat besar seketika membakar dadanya, memadamkan rasa takut dan bersalahnya.
"Surat gugatan cerai?!" bentak Edward murka, melemparkan lembaran itu ke atas selimutnya. Pria itu menatap nyalang ke arah Yoselin.
"Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri, Yoselin! Aku sedang terbaring sakit dan terluka seperti ini, dan kamu malah membawakan surat cerai?!"
Yoselin menatap Edward tanpa kedip. "Lalu aku harus menunggu sampai kapan? Sampai kamu menampar dan mencekik ku lagi hingga mati?"
"Tahu tidak kenapa aku bisa terluka dan patah tulang seperti ini?!" amuk Edward dengan nada menuduh yang sangat tinggi.
"Aku seperti ini gara-gara kamu, Yoselin! Ini semua karena perbuatanmu!"
Yoselin mengerutkan keningnya, tidak terima atas tuduhan tak berdasar itu. "Gara-gara aku? Jangan memutarbalikkan fakta, Edward. Aku bahkan tidak tahu-menahu tentang kejadian penyerangan mu!"
Edward tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa sumbang yang penuh ejekan dan rasa frustrasi. "Haha! Pembelaan yang sangat manis, Yoselin! Kamu mau pura-pura tidak tahu?!"
"Aku memang tidak tahu apa-apa!" tekan Yoselin membela diri.
"Pria selingkuhanmu itu yang melakukan ini padaku!" bentak Edward seraya menunjuk wajah Yoselin.
"Javier Vernand Romero! Pria brengsek itu mengirim empat orang preman untuk menghadangkan mobilku dan mematahkan tanganku! Kamu puas sekarang, hah?! Kamu bersekongkol dengannya untuk menghancurkanku!"
Yoselin tertegun kaget mendengarkan nama Javier disebut. "Pak Javier... melakukan ini? Tapii buat apa?" batin Yoselin terperanjat.
Namun, Yoselin dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia menatap Edward dengan pandangan lurus dan tegar.
"Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun, Edward," tegas Yoselin dengan suara yang begitu jernih.
"Jika ada orang yang berselingkuh dan mengkhianati pernikahan ini sejak hari pertama, orang itu adalah kamu sendiri. Kamu yang membawa mantan kekasihmu ke mana-mana dan menciumnya di depan mataku!"
Yoselin memalingkan pandangannya menatap Angela yang masih terduduk di lantai dengan raut wajah kesal. Yoselin menghela napas panjang, mengikis sisa kelembutan dalam suaranya.
"Angela," panggil Yoselin halus.
"Setelah surat perceraian ini selesai, aku dan Edward tidak akan memiliki hubungan hukum apa pun lagi. Jadi, jika kalian berdua ingin menikah, silakan. Aku tidak akan pernah menjadi penghalang kalian lagi."
Mendengar ucapan Yoselin, mata Angela seketika berbinar bahagia. Kebencian di wajahnya berubah menjadi senyuman puas.
Namun sebaliknya, ucapan Yoselin justru membakar habis sisa akal sehat Edward.
"Kurang ajar!" geram Edward histeris.
Dengan tangan kirinya, Edward meraih lembaran-lembaran surat cerai itu dan merobek-robeknya menjadi serpihan kecil dengan penuh emosi, lalu melemparkannya ke udara hingga berhamburan di atas lantai kamar rawat.
"Dengarkan aku baik-baik, Yoselin!" bentak Edward dengan napas memburu dan mata yang memerah.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menandatangani surat itu! Aku tidak akan pernah menceraikan mu!"
Yoselin menatap serpihan kertas yang berserakan di lantai tanpa rasa panik sedikit pun. Ia menyunggingkan senyuman sinis yang begitu dingin.
"Robek saja sebanyak yang kamu mau, Edward," ucap Yoselin tenang.
"Pengacaraku punya ratusan salinan dokumen yang sama. Aku akan tetap mendaftarkannya ke pengadilan hari ini juga. Dengan atau tanpa tanda tanganmu, hakim yang akan memutuskan perceraian kita berdasarkan bukti-bukti KDRT dan pengabaian yang kumiliki."
"Yoselin! Jangan berani-berani kamu berjalan keluar dari pintu itu!" ancam Edward mencoba bangkit dari ranjangnya, namun rasa nyeri di lengan kanannya membuatnya terhenyak kembali sambil menggeram kesakitan.
"Selamat memulihkan diri, Edward," pukas Yoselin datar.
Tanpa memedulikan jeritan amarah Edward yang terus memanggil namanya dan mengamuk melempar barang-barang di atas meja, Yoselin membalikkan badan dan melangkah anggun keluar dari kamar rawat tersebut. Pintu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan Edward yang berteriak histeris dalam cengkeraman amarah dan penyesalan, serta Angela yang terdiam ketakutan menyaksikan kegilaan pria di hadapannya.
Bersambung...