Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar kita
Ummi dan abi sampai di kamar. Setelah melakukan shalat Isyak, mereka tidak langsung tidur. Abi masih memperdebatkan sikap Zain kepada istrinya.
"Si abang masa' sama istrinya panggil nama, mi. Nggak ada romantisnya."
"Ya maklum, bi. Kan belum terbiasa."
"Ya meski begitu panggil dek lah jangan namanya."
"Kenapa nggak abi tegur anaknya?"
"Besok bakal abi tegur! Masa' iya ilmu abi nggak dipakai. Apa karena belum dapat jatah ya mi?"
"Abi ih... mulai kan."
Abi terkekeh.
Kembali ke kamar Zain.
Zain baru saja selesai shalat Isya'. Sedangkan Tiyas berganti baju di walk in closed.
"Ruangan ini saja lebih besar dari kamarku." Gumamnya sambil bercermin.
Ia memakai daster selutut berbahan combed.
"Ah tidak-tudak, bagaimana kalau nanti bajuku tersingkap."
Tiyas membuka bajunya dan menggantinya dengan yang lain. Ia pun memakai setelan celana panjang dan atasan lengan pendek. Tidak lama kemudian, Tiyas keluar dari ruangan itu. Zain sudah tidak nampak di dalam kamatnya. Dalam hati Tiyas bertanya-tanya kemana suaminya pergi.
"Bagus dong kalau misalnya dia tidur di kamar lain. Tapi itu tidak mungkin. Ya Allah... aku harus bagaimana?"
Tiyas meraba tempat tidur yang ukurannya dua kali lebih besar dari tempat tidurnya di kampung. Tiyas tidak berani naik ke tempat itu. Akhirnya ia hanyalah bisa mondar mandir.
Ceklek
Pintu terbuka. Zain datang membawa dia gelas susu.
"Aku terbiasa minum susu sebelum tidur. Ini aku buatkan untukmu juga."
Tiyas menerima segelas susu tersebut.
"Kenapa kemarin nggak ngomong? Tapi di rumah nggak ada susu." Batin Tiyas.
"Ayo diminum, lalu tidur lah. Tenang saja, aku tidak mungkin meracunimu."
"Em... iya. Terima kasih."
"Sama-sama."
Zain duduk di sofa lalu meminumnya. Sedangkan Tiyas masih tetap berdiri di tempat.
"Apa kamu mau minum sambil berdiri? Sunnahnya orang minum itu duduk. Duduklah!"
Tanpa menjawab, Tiyas langsung duduk di pinggir sofa lalu meminum susunya.
Sofa tersebut memang berbentuk L. Jadi mereka duduk cukup jauh.
Suasana hening, tidak ada obrolan lagi di dalam kamar itu. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ayo tidur, sudah malam. Kalau kamu takut tidur denganku. Biar aku tidur di sofa."
Tiyas tidak menjawab. Zain pun menangkap jika Tiyas memang tidak ingin tidur dengannya. Akhirnya Zain mengambil bantal dan selimutnya lalu membawanya ke sofa.
"Biar aku saja yang di sofa. Ini kamarmu."
"Kamar ini juga sudah menjadi kamarmu. Nggak pa-pa, demi kenyamananmu."
Tiyas pun naik ke tempat tidur.
Kamar dibiarkan dengan keadaan terang. Zain memang terbiasa tidur tanpa mematikan lampu.
Kasur yang sangat empuk dan lebar. Seprey yang lembut dan wangi. Hal tersebut justru membuat Tiyas tidak leluasa. Ia seakan menjadi tamu yang tidak tahu diri di dalam kamar tersebut. Dilihatnya Zain yang saat ini sudah berbaring miring di atas sofa.
"Kenapa dia baik sekali? Apa karena janjinya kepada bapak?"
Zain yang sangat lelah dan mengantuk karena semalam tidurnya tidak enak kini sudah berasal di alam mimpi. Sedangkan Tiyas masih langi-langit kamar itu.
"Kok aku merasa kejam banget ya. Masa' yang punya kamar malah tidur di sofa. Tapi ini kan kemauannya."
Tidak terasa Tiyas pun terlelap dengan sendirinya.
Dalam tidurnya Tiyas bermimpi sang bapak sampai ia menyebut nama bapaknya. Tiyas bahkan memanggilnya berkali-kali. Zain yang tidur dengan nyenyak sampai terbangun karena mendengar suara Tiyas.
"Bapak... bapak..... "
Zain menghampirinya.
Terlihat wajah Tiyas panik. Zain pun membangunkannya.
"Hei bangun, bangun.... "
Namun Tiyas masih saja berperang dengan mimpinya. Akhirnya Zain menggoyang bahu Tiyas.
"Tiyas, bangun!"
Dan Tiyas pun terbangun.
"Hah hah.... " Nafasnya tersenggal-senggal.
"Kamu kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Zain, Tiyas langsung memeluk suaminya. Zain dapat merasakan ketakutan yang dialami istrinya.
"Aku takut.... "
"Ada apa?"
Tiyas baru sadar dan melepas pelukannya.
"Em... maaf." Tiyas mengusap sisa air matanya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak pa-pa. Aku hanya mimpi buruk tentang bapak."
"Sering-seringlah mengirim do'a. Dan jangan memberatkannya denga ketidak ikhlasan. Tiyas, sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Aku punya kewajiban untuk membimbingmu. Setidaknya belajarlah menerima kenyataan ini."
Tiyas mencerna apa yang dimaksud Zain. Ia bukan wanita bodoh yang tidak mengerti apa-apa.
Zain melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu'. Sudah waktunya ia bermunajat dengan Tuhannya.
Setelah mimpi tadi, Tiyas tidak tidur lagi. Ia mengingat kejadian dalam mimpi tersebut.
"Apa mungkin bapak menanggung dosaku karena aku tidak melayani suamiku? Astaghfirullah... " Tiyas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sambil bersandar di tempat tidur, ia memperhatikan suaminya yang sedang shalat.
Keesokan harinya.
Tiyas yang baru saja tidur saat menjelang adzan Shubuh, saat ini baru bangun. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Ia segera beranjak dari tempat tidur. Dilihatnya Zain yang masih tertidur pulas di sofa. Zain memang tidur lagi setelah shalat Shubuh. Tiyas merapikan tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Tiyas keluar dari kamar mandi. Ternyata Zain baru saja bangun.
"Em... kalau pagi begini biasanya mas minum apa?"
Zain cukup kaget mendengar pertanyaan dan sebutan untuknya pagi ini.
"Mas, kamu dengar aku?"
"Ah iya aku dengar. Kalau pagi aku biasa minum coklat. Di dapur sudah disiapkan semua."
"Ah iya, mas."
Tiyas merapikan jilbabnya lalu keluar dari kamar. Tanpa sadar Zain mengulum senyum saat memperhatikan istrinya dari belakang.
Bertepatan dengan keluarnya Tiyas dari kamar, Zean hendak keluar kamar. Namun langkahnya terhenti sampai di pintu saat melihat seorang wanita keluar dari kamar saudaranya. Zain sampai mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
"Hah... perempuan dari kamar abang? Ini tidak mungkin. Abang nggak mungkin berbuat zina.Tidak mungkin abang menyembunyikan perempuan di kamarnya.Gawat ini! "
Tiyas sudah sampai di bawah. Untungnya dia bertemu dengan ummi di ruang tengah.
"Selamat pagi, nak."
"Selamat pagi, ummi."
"Bagaimana tidurnya semalam, nyenyak?"
"Alhamdulillah, lumayan."
"Alhamdulillah... kamu mau apa?"
"Em saya mau bikin coklat hangat untuk mas Zain. Kalau boleh tahu dapurnya sebelah mana, ummi?"
Ummi mengulum senyum.
"Oh iya, paling sudah dibikinin sama bibi'. Ayo ummi antar ke dapur."
Tiyas mengikuti mertuanya.
Dan benar saja, bibi' baru selesai membuat coklat hangat untuk Zain.
"Bi', biar nak Tiyas yang membawa coklatnya ke kamar."
Bibi' masih mematung. Dalam hatinya bertanya-tanya siapakah Tiyas.
"Bi', kok malah bengong?"
"Ah iya, maaf nyonya. I-ini coklatnya."
Bibi' memberikan nampan yang berisi secangkir coklat hangat.
"Ma-af lancang nyonya. Mbak ini siapa? "
"Ah iya, sampai lupa. Bi' ini perkenalkan, ini Tiyas istrinya Zain."
"Apa istrinya dengan Zain?"
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣