Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mereka pasti akan mengirimkan mesin pembunuh profesional kelas satu yang dipersenjatai dengan peralatan militer sungguhan.
Kriet.
Jarot meremas pinggiran bak mandi keramiknya hingga retak halus terlihat dari tekanan jari-jarinya.
"Kalau kalian memang belum kapok dan mau bermain lagi, aku akan melayani kalian sampai kalian semua habis tanpa sisa," ancam Jarot di dalam kesunyian.
Jarot segera menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian dengan setelan bersih yang disiapkan Lyly.
Ia kembali mengambil ponselnya dan mengetik pesan perintah balasan kepada anak buahnya dengan sangat cepat.
"Tingkatkan status keamanan wilayah menjadi waspada tingkat dua. Awasi semua pergerakan sisa-sisa anggota Sindikat Tengkorak Hitam di kota ini."
"Kirim tim pelindung bayangan untuk mengawasi area perumahan Nisa dari jarak radius satu kilometer mulai besok pagi."
Setelah memastikan pesan terkirim, Jarot mematikan layar ponselnya dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan pikiran yang jauh lebih waspada dari malam-malam sebelumnya.
Kedamaian pensiun yang ia idam-idamkan sepertinya harus ditunda tanpa batas waktu yang jelas.
Sementara itu, di lantai dua, Lyly, Tata, dan Melly sedang berkumpul di dalam satu kamar yang sama.
Ketiga gadis itu sepakat untuk tidur bertiga di kamar Lyly malam ini karena masih terbawa sisa-sisa ketegangan.
Mereka berbaring berdampingan di atas kasur berukuran sangat besar itu sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Kak Lyly, kamu tahu tidak, saat aku melihat Jarot bertarung tadi, aku merasa sangat aman," ucap Melly pelan memecah keheningan.
Tata mengangguk setuju di sebelah adik bungsunya itu dengan mata menerawang jauh ke langit-langit.
"Gerakannya sangat efisien dan buas, tapi anehnya dia tidak pernah melukai lawannya sampai mati," komentar Tata dari sisi kacamata petarung.
"Dia sengaja mengendalikan tenaganya agar tidak menjadi pembunuh malam ini demi kita," analisis Tata menyadari kebaikan hati Jarot yang tersembunyi di balik kekejamannya.
Lyly memeluk gulingnya lebih erat dan tersenyum tipis dalam keremangan cahaya lampu tidur.
"Dia memang aneh dan menyebalkan, tapi kita berutang nyawa padanya hari ini," aku Lyly jujur mengalahkan ego tinggi yang biasa ia banggakan.
"Mulai besok, kita tidak boleh lagi merepotkannya dengan jebakan atau sikap permusuhan yang kekanak-kanakan," putus Lyly secara sepihak untuk mereka bertiga.
"Setuju! Lagipula aku juga sudah kapok meretas ponsel miliknya," sahut Melly cepat mendukung keputusan sang kakak.
"Aku juga akan mematuhi semua perintah latihannya dan membantu menjaga keamanan rumah ini sebisa mungkin," janji Tata penuh tekad kesatria.
Malam itu, ketiga nona muda keras kepala tersebut akhirnya bisa tertidur pulas dengan perasaan yang sangat lega dan aman.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa pria yang sedang mereka kagumi di lantai bawah baru saja menerima kabar buruk yang bisa mengancam nyawa mereka semua.
Pagi harinya, Jarot terbangun lebih awal dari biasanya dan langsung menuju halaman belakang rumah.
Ia kembali berlatih peregangan dan gerakan dasar untuk mengembalikan insting membunuhnya pada kondisi puncak.
Wush. Wush. Wush.
Gerakan tangan dan kakinya membelah udara pagi dengan suara hembusan angin yang sangat tajam dan presisi.
Kriet.
Pintu kaca terbuka dan Tata keluar menuju halaman belakang dengan pakaian olahraganya yang biasa.
Gadis tomboy itu tertegun berdiri di ambang pintu melihat pemandangan latihan Jarot yang luar biasa cepat dan sempurna.
"Latihanmu terlihat sangat berbeda dengan gerakan yang biasa kulihat di dojo milikku," puji Tata menghampiri Jarot dengan sopan.
Jarot menghentikan latihannya perlahan dan mengatur napasnya agar kembali normal.
"Ilmu bela diri di dojo itu tujuannya untuk olahraga dan meraih poin di pertandingan, Mbak Tata," jelas Jarot tanpa maksud merendahkan.
"Sedangkan gerakan yang kulakukan ini tujuannya hanya satu, yaitu menghentikan lawan secepat mungkin di jalanan," tambah Jarot memberikan perbedaan mendasar.
Tata mengangguk paham dan menatap Jarot dengan tatapan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman tulus.
"Jarot... maukah kamu mengajariku teknik pertarungan jalanan itu?" pinta Tata tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk rasa hormat seorang murid.
Permintaan Tata ini sangat di luar dugaan Jarot yang mengira gadis itu hanya akan latihan fisik biasa.
Melihat pemimpin perguruan bela diri ternama di ibu kota meminta untuk diajari teknik pertarungan jalanan adalah hal yang sangat langka terjadi.
Jarot terdiam sejenak menimbang-nimbang permintaan mengejutkan tersebut.
"Melatihmu berarti aku harus bersikap sangat keras dan kasar padamu. Kamu siap menerima konsekuensinya?" tanya Jarot dengan nada menguji mental.
"Aku sangat siap! Aku tidak mau lagi menjadi beban tidak berguna saat bahaya benar-benar datang mengancam keluargaku," jawab Tata mendongak menatap Jarot dengan tekad membara di matanya.
Tekad kuat dan kesungguhan hati gadis itu sedikit meluluhkan hati beku sang mantan penguasa bawah tanah tersebut.
"Baiklah, kita mulai latihan dasarmu besok pagi. Siapkan mentalmu untuk merasakan rasa sakit yang belum pernah kamu alami sebelumnya," putus Jarot mengabulkan permintaan sang nona muda.
Senyum lebar langsung mengembang di wajah Tata dan ia mengangguk semangat tanda mengerti instruksi.
Sepertinya hari ini akan menjadi awal dari dinamika baru kehidupan Jarot sebagai pengawal merangkap guru bela diri rahasia di rumah mewah ini.
Namun Jarot sadar, seiring berjalannya waktu, kedamaian semu ini pasti akan segera hancur lebur saat musuh dari masa lalunya mulai bergerak mendekat dalam kegelapan.