Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
_____🌺
Di ruang Makan, Pukul 06.30 Pagi hari.
Plak!
Sebuah amplop tebal berwarna merah muda bermotif bunga-bunga dilemparkan begitu saja ke atas meja makan.
Suara tamparan kertas ke atas meja kaca itu sukses membuat Nisa yang sedang mengoleskan selai kacang ke atas roti, langsung berjengit kaget. Dimas yang sedang menyeruput kopi hitamnya pun sampai tersedak pelan.
"Itu apa, Ma? Pagi-pagi udah main banting surat aja," tanya Dimas sambil mengelap mulutnya pakai tisu.
Bu Ratna menarik kursi dan duduk dengan wajah ditekuk masam luar biasa. Daster sutra marunnya berkibar seiring gerakannya yang penuh emosi.
"Undangan aqiqah! Anaknya Tante Mirna, teman arisan Mama yang rumahnya di blok ujung sana! Kamu tahu kan, Nis, anaknya si Mirna itu nikahnya barengan sama bulan pernikahan kalian berdua dulu?" ucap ibu mertuanya itu, dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf, sejak kalimat pertama.
Nisa menelan ludahnya kasar. Firasat buruk langsung menyelimuti perasaannya. "Iya, Ma. Nisa ingat. Fitri kan namanya?"
"Iya, si Fitri! Bulan depan dia mau gelar acara aqiqah besar-besaran ngundang satu kompleks! Dan asal kalian tahu ya, ini aqiqah untuk anak ketiganya! Ketiga! Tujuh tahun nikah, dia udah kebobolan tiga kali sampai dokternya nyuruh dia tutup pabrik! Lah kamu? Tujuh tahun nikah, boro-boro tutup pabrik, mesin pabrik kamu aja kayaknya belum pernah nyala sama sekali dari awal beli!" sembur wanita paruh baya tersebut tanpa jeda mengambil napas.
Dimas langsung meletakkan cangkir kopinya dengan keras.
"Ma, kok omongannya gitu sih pagi-pagi? Fitri kan emang nikah muda, badannya juga subur. Nggak usah dibanding-bandingin sama Nisa dong. Rezeki orang kan, beda-beda."
"Rezeki beda-beda gimana? Kamu itu selalu aja belain istrimu, Dim! Mama ini malu, tahu nggak?! Kemarin sore Mama ketemu Tante Mirna di tukang sayur, dia dengan sombongnya pamerin foto cucu ketiganya yang baru lahir. Terus dia nanya ke Mama, 'Jeng Ratna, si Nisa kapan nih nyusul? Jangan ditunda-tunda terus dong, nanti keburu keriput sel telurnya.' Hancur harga diri Mama dibilang gitu di depan ibu-ibu lain!" napas wanita tua itu memburu menahan amarah gengsi.
Nisa berusaha tersenyum tipis, mencoba meredam suasana seperti biasanya.
"Maafin Nisa ya, Ma, udah bikin Mama malu. Nanti kalau ditanya lagi, bilang aja Nisa sama Mas Dimas lagi fokus nabung buat beli rumah kedua, Ma. Biar mereka nggak bahas soal anak lagi."
Namun kali ini, senyuman Nisa tidak mempan sama sekali. Tatapan mata Bu Ratna justru semakin menajam dan dingin, menusuk langsung ke arah manik mata menantunya.
"Nabung beli rumah kedua buat apa kalau di dalam rumahnya sepi kayak kuburan?! Denger ya, Nisa. Barang elektronik aja, kulkas, TV, atau mesin cuci, itu garansi pabriknya paling lama cuma lima tahun! Kalau lewat lima tahun barangnya rusak nggak bisa dipakai, ya orang waras pasti langsung buang barang rongsokan itu ke tempat sampah, terus ganti beli mesin yang baru! Lah kamu? Udah tujuh tahun masa garansinya lewat! Dibawa ke dokter udah, disuruh minum jus udah, diurut udah! Tapi tetep aja nggak ada hasilnya!"
Ruang makan mendadak hening seketika. Suara detak jam dinding terdengar begitu nyaring.
"Ma! Cukup!" bentak Dimas dengan mata melotot. Kali ini suaranya benar-benar tinggi, tak lagi menahan diri. "Mama nyamain istri Dimas sama barang rongsokan elektronik?! Omongan Mama udah kelewat batas!"
"Kenapa?! Kamu mau marah sama ibu kandungmu sendiri gara-gara perempuan ini?! Mama ngomong fakta, Dimas! Kamu itu anak laki-laki tunggal di keluarga Bratadikara! Kalau kamu nggak punya penerus, putus sudah silsilah keluarga kita! Habis! Kamu mau harta bapakmu ini nanti jatuh ke tangan panti asuhan semua karena nggak ada ahli waris?!" mertuanya membalas teriakan anaknya tak kalah garang.
"Harta bisa dicari, Ma! Tapi Nisa ini istri pilihan Dimas! Tolong Mama hargai Nisa di rumah ini!"
"Gimana Mama mau ngehargai perempuan yang nggak bisa ngasih fungsi utamanya sebagai istri?! Kamu banting tulang cari duit buat apa, Dim? Buat bayarin dokter kandungan yang nggak ada hasilnya? Buat ngerawat perempuan yang kerjanya cuma duduk depan laptop dari pagi sampai malam? Mama kadang kasihan sama kamu, Dim. Kamu ini nikah sama perempuan normal atau sama manekin pajangan toko sih?! Mending kalau manekin nggak ngabisin duit belanja!"
Deg.
Dada Nisa rasanya seperti dihantam godam besi seberat puluhan ton. Biasanya, omelan ibu dari suaminya itu hanya seputar masakan kurang enak, debu di lantai, atau sindiran julid lucu yang masih bisa Nisa tertawakan di dalam hati.
Namun kali ini, kata-kata wanita tua tersebut sangat pedas. Kasar, merendahkan, dan menusuk tepat ke titik kelemahan Nisa yang paling dalam.
"Nisa egois, Dim!" lanjut Bu Ratna tak peduli melihat wajah pucat menantunya. "Kalau dia tahu rahimnya cacat nggak bisa hamil, harusnya dia sadar diri minta cerai dari awal! Biar kamu bisa nikah lagi sama perempuan yang beneran bisa ngasih Mama cucu! Bukannya malah nahan kamu di pernikahan mandul ini seumur hidup!"
"MAMA! KELUAR DARI RUANG MAKAN SEKARANG!" Dimas berdiri menggebrak meja dengan sangat keras hingga piring-piring bergetar. Wajahnya merah padam dipenuhi urat amarah.
Bu Ratna sedikit tersentak kaget melihat kemarahan luar biasa anak lelakinya. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf. Ia langsung membalikkan badannya.
"Bela aja terus istri mandulmu itu! Lama-lama kamu juga sadar kalau omongan Mama pagi ini bener seratus persen!" ucapnya sebelum melangkah cepat meninggalkan ruang makan menuju lantai atas.
Sepeninggal mertuanya, kaki Nisa mendadak lemas. Ia merosot duduk kembali ke kursinya. Pandangannya kosong menatap selembar roti tawar di piringnya. Tak ada air mata yang keluar, hanya rasa sesak luar biasa di ulu hati yang membuat napasnya terasa tercekat di tenggorokan.
"Manekin pajangan toko. Barang rongsokan. Rahim cacat," gumam Nisa pelan, suaranya sangat lirih hampir tak terdengar, mengulang kata-kata mertuanya seperti kaset rusak.
Dimas segera menghampiri istrinya, berjongkok di sebelah kursi Nisa dan menggenggam kedua tangan wanita itu erat-erat. Tangannya terasa sangat dingin.
"Nis ... Sayang, jangan didengerin omongan Mama barusan ya. Mama cuma lagi emosi aja gara-gara dipanasin sama geng arisannya. Kamu tahu sendiri kan mulut Mama gimana. Tolong ya, Nis, masuk kuping kanan keluar kuping kiri aja," bujuk Dimas dengan suara bergetar penuh rasa bersalah.
Nisa menoleh perlahan menatap wajah suaminya. Senyum yang dipaksakan terbit di bibirnya yang pucat. "Mas Dimas berangkat kerja aja gih. Udah jam tujuh kurang, nanti jalanan keburu macet lho. Roti bakarnya dimakan ya di mobil."
"Nis, Mas nggak bakal berangkat kerja kalau kamu masih mukanya begini. Mas bolos aja hari ini nemenin kamu di rumah ya?"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh