Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Adiwangsa Enterprise
Orang-orang menahan napas dengan gugup penuh cemas. Sebagian bergidik oleh suhu ruangan yang dingin mematikan. Sebagian lain begitu tegang hingga keringat dingin membasahi dahi dan punggung mereka. Ada segelintir yang nyaris menangis.
Duduk di kursi kulit raksasa yang dibuat untuk seorang raja, adalah Darian Adiwangsa. Dengan tatapan mematikannya, para presenter merasa kaki mereka gemetar ketakutan.
Matanya begitu gelap hingga tampak seperti jurang keputusasaan tanpa dasar. Ekspresinya begitu dingin dan beku hingga menjatuhkan suhu suasana di sekelilingnya.
Seseorang dengan gugup telah menyalakan penghangat ruangan, tetapi kehangatan itu tak sanggup menandingi kejijikan terang-terangan di wajah Darian.
Bahkan dengan wajah menakutkan yang seakan mengetahui rahasia tergelapmu, para karyawati tetap tak kuasa terpana pada ketampanannya. Ia begitu gelap, menakutkan, dan mencekam, tetapi begitu memanjakan mata.
Aura mematikan menyelimutinya, memperingatkan siapa saja yang berani mendekat.
Ruangan itu begitu senyap hingga semua orang bisa mendengar detak jam. Setelah beberapa detik yang tak tertahankan, akhirnya Darian bicara.
"Rapat selesai." Tanpa sepatah kata lagi, ia bangkit dari kursinya.
Orang-orang menahan napas saat menyaksikannya berdiri dalam segala kewibawaannya.
"T-terima kasih atas waktu Anda, Direktur Adiwangsa!" Semua orang membungkuk saat ia melewati mereka. Mereka mempertahankan bungkukan itu bahkan ketika Darian keluar dari ruangan. Tak seorang pun berani bergerak sampai gema langkahnya akhirnya menghilang.
Ketika mereka tahu Darian sudah berada di lantai yang benar-benar berbeda, orang-orang akhirnya berdiri tegak. Sebagian mengembuskan napas lega yang berat. Banyak dari mereka ambruk kelelahan ke kursi. Hampir semua merasa seolah sepuluh tahun usia mereka baru saja dicabut.
Syukurlah rapat telah berakhir. Ada beberapa yang nyaris menangis melihat raut kecewa di wajah Darian. Salah satu presenter perempuan sudah dua detik dari air mata.
Mereka tak menyadari presentasi mereka seburuk itu sampai mereka melirik ke arah direktur utama dan melihat betapa gelapnya ekspresinya.
"Kita benar-benar tamat," ucap salah satu dari mereka, dan seketika terdengar gumaman setuju.
Sekretaris pribadi Darian, Gustaf, mengikutinya. Ia membuka pintu kantor dan masuk bersamanya.
Sama seperti kepribadian dan ekspresi Darian, ruangan itu terasa hampa dan dingin. Tepat di belakang meja kayu hitam raksasa terdapat jendela yang menyajikan pemandangan sempurna atas gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi kota.
Darian menghampiri kursinya dan duduk. "Jadwal hari ini?"
Gustaf berdeham dan mulai membaca dari tabletnya. "Saham Volkov Group turun, tetapi saham SEA Corp naik signifikan. Apakah kita harus terus berinvestasi di Volkov Group?"
"Terus berinvestasi," ucap Darian, menopang dagu pada lengannya.
Butuh tiga tahun bagi Gustaf untuk terbiasa dengan tatapan gelap bosnya. Ia tahu itu tak disengaja, tetapi haruskah tatapan itu menyerupai pandangan sang iblis sendiri?
"CEO Genova Corp meminta pertemuan dengan Anda. Terima atau tolak?"
"Tolak," jawab Darian tanpa ragu.
Gustaf merasakan bibirnya berkerut, tetapi ia tahu tak bijak mempertanyakan kata-kata bosnya. Sekali diucapkan, ucapan itu tak bisa ditarik kembali.
Sebesar apa pun pengaruh Genova Corp, mustahil Darian akan memberi mereka kesempatan kedua untuk presentasi. Mereka telah mengacaukannya pada kesempatan pertama dengan meremehkan Darian. Perusahaan itu sengaja berbohong soal angka-angka mereka, dan ketika Darian menginterogasi mereka tanpa ampun, para presenter runtuh dan mengungkap kebenaran.
Sejak saat itu, Genova masuk daftar hitam Darian. Dicoret oleh Adiwangsa Enterprise membuat perusahaan-perusahaan lain mengikuti perintahnya, dan tak lama Genova Corp mendapati diri terancam bangkrut.
Gustaf tahu tak seorang pun pernah mendapat kesempatan kedua di Adiwangsa Enterprise. Setiap perusahaan, proposal, dan proyek diberi satu kesempatan untuk membuktikan diri. Kalau gagal, ya gagal. Tak ada tapi-tapi.
Tepat saat Gustaf hendak menyebutkan hal lain, terdengar ketukan di ruangan. Ia bergidik melihat kejijikan di wajah Darian. Siapa yang berani menyela rapatnya?
"Ada apa?" tanya Gustaf.
Tapi tak ada jawaban.
Ketika Gustaf menyadari bibir bosnya membentuk garis tipis dan matanya menatap ke arah pintu, ia bergegas memeriksa keadaan.
Gustaf membuka pintu dan terkejut tak melihat siapa pun di sana. Bahkan, tak seorang pun sekretaris yang biasanya berjaga di luar kantor. Itu aneh.
Ia melirik jam dan menyadari separuh dari mereka sedang makan siang, sementara dua lainnya tak terlihat di mana pun.
Sungguh tak profesional, tak ada satu pun sekretaris yang hadir.
Gustaf mengembuskan napas, tahu salah satu dari mereka akan dipecat di tempat. Dan ia sudah tahu siapa orangnya.
Tepat saat Gustaf hendak menutup pintu, ia melihat sebuah paket mencurigakan di hadapannya. Ia mengambilnya dengan hati-hati dan berbalik menghadap Darian, yang telah mengamatinya sedari tadi.
"Punya siapa itu?" tanya Darian pelan.
Gustaf menunduk, mengernyit menatap kolom alamat pengirim dan pengantar yang kosong. Apakah ini diantar langsung? Tapi itu mustahil, apalagi dengan keamanan seketat itu di sekitar Adiwangsa Enterprise.
"Bawa kemari." Darian memerintah, dan seketika Gustaf muncul di hadapannya.
"Pak, Anda yakin kita harus membukanya sendiri? Ini paket yang sangat mencurigakan..." Gustaf mengernyit.
Darian mengabaikannya dan mengeluarkan sebilah pisau lipat.
Gustaf terlonjak ketakutan melihat kemunculan mendadak pisau yang berkilat di bawah cahaya. Sedetik, ia mengira bosnya benar-benar akan membunuhnya karena melontarkan pendapat konyol.
Ia menahan napas saat Darian membuka kotak itu.
Gustaf merasakan tangannya sedikit gemetar saat menanti apa yang ada di dalam. Mustahil bahkan untuk sekadar masuk ke gedung kantor Adiwangsa Enterprise tanpa kartu identitas karyawan. Namun memiliki kartu kunci pribadi yang mengaktifkan tombol lantai tertinggi gedung ini nyaris mustahil. Hanya segelintir orang yang punya akses ke kartu kunci pribadi itu, dan mereka semua adalah orang-orang kepercayaan Darian. Bagaimana mungkin ini bisa diantar langsung?
Gustaf merasakan jantungnya berdegup semakin cepat setiap detik yang berlalu.
Ketika Darian akhirnya membuka kotak itu, suasana hatinya kian keruh.
Di dalam kotak itu, ada kotak lain. Dan di dalam kotak kedua itu, ada kotak ketiga. Pola itu terus berulang, hingga sampai pada kotak kedelapan. Dan saat itu terjadi, kesabaran Darian sudah mencapai batasnya.
Gustaf menahan napas, tak berani bicara karena takut membuat bosnya semakin murka.
Hari ini benar-benar hari yang buruk! Pertama, para presenter membuatnya kesal, lalu ia menerima paket entah dari siapa, dan terakhir, si pengirim berani-beraninya membuang-buang waktu Darian!
Semua orang di kantor pasti akan menderita hari ini.