NovelToon NovelToon
Mafioso Tercinta

Mafioso Tercinta

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:864
Nilai: 5
Nama Author: jojo0609

Satu malam. Satu keputusan nekat. Dan hidup Samara berubah selamanya.

Samara Navira hanyalah resepsionis hotel biasa—yatim piatu yang bertahan hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Sampai suatu malam seorang pria asing berlumur darah menggedor jendela mobilnya dan memaksanya menyetir menembus gelap. Pria itu adalah Adam Darmawan: dingin, mematikan, dan ditakuti seluruh dunia hitam. Seorang bos mafia yang baru saja dikhianati kekasihnya sendiri.

Seharusnya Samara pergi begitu saja. Tapi begitu ia menyelamatkan nyawa Adam, ia ikut terseret ke dunianya—dunia penuh senjata, dendam, pengkhianatan, dan kekuasaan yang tak mengenal ampun. Dunia tempat musuh-musuh Adam kini juga memburunya.

Adam tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi perempuan keras kepala yang menolak tunduk padanya ini membangkitkan sesuatu yang ia kira sudah mati: keinginan untuk melindungi, untuk memiliki, untuk mencintai. Dan begitu sang mafioso menjatuhkan hatinya, ia takkan pernah melepaskannya.

Di antara peluru dan gairah, antara bahaya dan hasrat—apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas darah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jojo0609, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu yang Terungkap

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Samara dan Pedro banyak mengobrol. Di saat yang sama, Pedro membayangkan kemungkinan mengakhiri hubungan itu, meski ia sudah ragu apakah ia sanggup.

"Bagaimana kalau aku tak segera menemukan orang lain? Aku tak bisa sendirian, Sam. Apa yang harus kulakukan kalau tak menemukan cowok baik yang lain?" tanyanya.

Sam adalah panggilan sayang Pedro untuknya. Samara menatapnya serius sebelum menjawab.

"Pertama, kau harus berhenti merasa dirimu tak pernah cukup baik. Sudah kubilang, kau cantik, menyenangkan, dan punya hati paling besar yang pernah kutemui. Bagaimana bisa kau berpikir takkan menemukan orang yang baik? Kedua, Ivan bukan orang baik. Lebih baik sendiri daripada bersama orang seperti dia. Belum lagi kau masih punya aku."

Ia berusaha menumbuhkan kepercayaan diri Pedro.

"Aku punya kamu, tapi kita tak bisa tidur bareng, dan kau berpikir begitu karena kau sahabatku. Tapi kau tak tahu apa yang bisa orang-orang pikirkan tentang aku," ujar Pedro, masih ragu.

"Pedro, orang-orang di rumah sakit menyayangimu. Seluruh staf suka padamu, bahkan para pasien. Jadi ini bukan cuma pendapatku."

"Para pria mengejar-ngejarku? Aku suka bagian itu." Pedro tersenyum nakal.

Samara paham maksudnya. Keduanya tertawa dan Samara memanggilnya tolol. Inilah salah satu kelebihan Pedro: bahkan dalam situasi sedih ia selalu bersuasana hati baik dan berusaha membuat orang tersenyum.

Mereka hampir tiba di hotel, tapi sebelum itu, Pedro mengalihkan fokus percakapan itu kembali kepada Samara.

"Nah, giliranku. Kapan kau akan mengizinkan dirimu mengenal orang baru? Kau juga cantik, menyenangkan, perempuan hebat, dan aku jamin kau menerima banyak tatapan mengagumi di hotel itu." Kini giliran Pedro yang menyemangati Samara.

"Kau tahu betul aku tak menganggap diriku perempuan hebat seperti yang kaubilang. Tatapan dan rayuan memang kudapat, tapi aku tahu mereka cuma ingin seks. Kau kenal aku, dan tahu aku tak suka seks tanpa ikatan."

"Aku tahu, kau romantis akut. Untuk mau tidur dengan seseorang, harus ada sesuatu yang lebih dulu terjalin. Makanya kau lama sekali kehilangan keperawananmu," ucap Pedro sambil mulai tersenyum.

"Jangan khawatir, aku sudah mulai bangkit dari urusan Doni, dan akan kubiarkan segalanya terjadi pelan-pelan. Kau tahu aku suka semuanya terkendali."

"Membiarkan sesuatu lepas kendali kadang justru bagus, dan bisa membawa hal-hal baik."

Setelah mendengar itu, Samara tak bisa menahan diri untuk memikirkan apa yang terjadi dini hari tadi. Itu jelas tak bisa disebut hal baik; melewati ketegangan mencekik semacam itu sama sekali tak menyenangkan.

Mereka terus mengobrol dan tak lama tiba di hotel. Pedro berhenti di depan pintu, sementara kedua pria itu berhenti agak jauh di belakang. Samara turun dan masuk ke hotel, Pedro mengikuti.

Kedua pria itu juga berpencar. Satu mengekor Pedro, sementara yang lain turun dan masuk ke hotel, supaya keduanya tetap terpantau, agar informasinya bisa disampaikan pada Oliver.

Samara tiba tepat waktu. Ia langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Seragam dipakai begitu tiba di hotel dan dilepas sebelum pulang, aturan yang mereka terapkan sendiri.

Pria itu duduk di salah satu sudut lobi dan mengamati. Setelah melihat Samara bertukar posisi dengan karyawan lain, ia segera menelepon Oliver.

"Bos, gadis itu bekerja di Hotel Royale, sebagai resepsionis."

"Bukankah itu hotel milik Adam?" tanya Oliver terkejut.

"Tepat. Mungkinkah dia salah satu simpanannya?" pria itu meninggalkan pertanyaan menggantung.

"Entahlah, tapi untuk sekarang aku akan mencari tahu seberapa penting perempuan itu baginya. Awasi dia sampai aku datang. Aku akan menemui perempuan itu langsung dan bertanya soal Adam."

Oliver memutus telepon lalu memanggil beberapa anak buahnya untuk menemaninya. Saat naik ke mobil, ia menerima telepon lain dari Sabrina. Ia pasrah dan menjawabnya, sambil bertanya-tanya bagaimana Adam bisa tahan begitu lama dengan perempuan ini.

"Ada apa, Sabrina?" jawabnya sudah dengan nada dingin.

"Aku sudah lama terjaga tapi kau tak juga datang menemuiku," ujarnya lembut.

"Aku pria sibuk, Sabrina. Aku tak punya waktu untuk main rumah-rumahan denganmu, apalagi berperan jadi suami yang penuh perhatian. Faktanya, aku pun bukan pacarmu. Kau tahu aku tak menjalin hubungan dengan siapa pun. Kita cuma sepasang kekasih gelap, mengertilah sekali ini saja. Nanti kalau kau berguna barulah aku mampir." Oliver menutup telepon sambil mendengus tak sabar.

Di klinik, Sabrina menatap ponselnya antara tak percaya dan geram, lalu mulai menggumam sendirian.

"Sebelum mendapatkan yang dia mau, dia tak begini. Aku bukan barang sekali pakai, Oliver. Dia memanfaatkanku sesukanya dan sekarang mengira bisa membuangku begitu saja? Takkan kubiarkan," ucapnya berang.

Adam belum keluar dari klinik. Ia sudah memerintahkan seorang pria berpakaian preman untuk pergi ke hotel; perintahnya, begitu Samara tiba, kabari dia dan terus awasi.

Sementara mereka menunggu dokter memberi izin pulang untuk Adam dan meresepkan obatnya, Kaio menerima pesan dari pria yang menginap di hotel. Pesan itu mengabarkan bahwa Samara sudah masuk kerja dan sampai saat itu tak ada gerak-gerik mencurigakan.

Kaio memberitahu Adam, yang sudah tak sabar karena dokter berlama-lama meloloskannya. Ia sudah berpakaian dan siap pergi. Ia bahkan tak akan pulang dulu; ia ingin lebih dulu mampir ke hotel dan bicara dengan Samara.

Oliver sudah menuju ke sana. Di tengah perjalanan ia menerima pesan berisi informasi tentang Samara, dengan catatan bahwa alamatnya tersimpan di sistem.

Oliver merasa aneh mendapati alamat gadis itu ada di sistemnya. Ia mulai membaca informasinya, dan barulah paham begitu membaca nama belakangnya. Ia menyapu asal-usul keluarganya, senyum merekah di wajahnya, lalu berkata.

"Ternyata dunia ini sempit, Samara Navira sayangku."

Ia membalas pesan itu, meminta mereka mengirimkan informasi yang ada di sistem tentang ayah Samara. Informasi yang baru saja ia terima itu sangat istimewa dan bisa ia manfaatkan di masa depan.

"Kisah ini makin lama makin menarik. Sekarang kita lihat, apakah aslinya kau semenawan penampilanmu," ucapnya sambil menatap foto Samara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!