NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Interogasi di Ruang Gelap

Langkah kaki Angkasa yang lebar di depan koridor membuat Eca terpaksa setengah berlari untuk menyamai temponya. Cowok itu tidak mengucapkan satu kata pun sejak mereka keluar dari kelas XI MIPA 3. Punggung tegapnya terlihat kaku, dan kedua tangannya mengepal erat di dalam saku celana. Aura dingin yang menguar dari tubuh Angkasa sukses membuat murid-murid lain yang kebetulan lewat di koridor langsung buru-buru menepi tanpa perlu diminta.

Begitu sampai di depan pintu ruang OSIS, Angkasa mendorong pintu kayu jati itu dengan kasar, masuk lebih dulu, lalu berbalik menatap Eca yang melangkah masuk dengan wajah cemberut.

BRAK!

Angkasa menutup pintu dengan sentakan keras, lalu menguncinya dari dalam. Suara klik kunci pintu itu bergaung di ruangan yang sepi, membuat jantung Eca mendadak berdesir ngeri. Suasana di dalam ruang OSIS siang ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya. AC yang menyala maksimal berpadu dengan ketegangan pekat yang menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua.

Eca langsung memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada, memasang mode waspada di balik kacamata bulat tebalnya. "Ngapain pintu segala dikunci? Lo mau macam-macam ya sama gue?" tanya Eca, langsung membuang bahasa lugunya karena di ruangan ini hanya ada mereka berdua.

Angkasa tidak langsung menjawab. Dia berjalan lambat mendekati meja kerjanya, melempar ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan nyaring, lalu berbalik menatap Eca dengan sepasang mata elang yang menatap tajam dan mengintimidasi.

"Gue yang harusnya nanya itu sama lo, Alesya," desis Angkasa dengan suara yang berat dan rendah. Dia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga Eca terpaksa mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur pintu kayu yang terkunci. "Ngapain lo berduaan sama Reno di kelas tadi? Dan apa yang dia omongin sama lo sampai lo kelihatan serius banget?"

Eca mengangkat dagunya menantang, mencoba menutupi kegugupan dan ketakutannya karena jarak mereka yang terlalu dekat. "Bukan urusan lo! Reno cuma lagi ngejalain tugasnya sebagai Wakil Ketua OSIS buat nanya kabar murid baru. Salahnya di mana?"

Mendengar jawaban Eca yang membela Reno, rahang Angkasa tampak mengeras. Cowok itu tiba-tiba memajukan tubuhnya, menumpukan kedua telapak tangannya di pintu kayu tepat di kiri dan kanan kepala Eca, mengunci pergerakan cewek itu sepenuhnya. Jarak wajah mereka kini sangat dekat, hingga Eca bisa merasakan hembusan napas Angkasa yang memburu di permukaan kulit wajahnya. Aroma parfum maskulin bercampur wangi kopi pahit dari tubuh Angkasa langsung memenuhi indra penciuman Eca.

"Gue udah pernah bilang sama lo kan? Di sekolah ini, lo itu urusan pribadi gue," bisik Angkasa tepat di depan wajah Eca, matanya berkilat penuh amarah tersembunyi dan sesuatu yang menyerupai rasa cemburu. "Reno itu musuh gue. Dia bakal ngelakuin apa aja buat nyari celah dan jatuhin gue, termasuk manfaatin cewek cupu ceroboh kayak lo. Jadi, menjauh dari dia kalau lo masih mau hidup tenang di sini."

Eca meremas tali tasnya sampai buku jarinya memutih. Tatapan mata Angkasa saat ini terasa begitu kuat dan mengikat, membuat Eca mendadak kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Ada desiran aneh yang mendadak muncul di dadanya melihat kedekatan posisi mereka, namun Eca buru-buru menepis perasaan konyol itu.

"Gue nggak peduli sama urusan permusuhan kalian!" ketus Eca, mencoba mendorong dada bidang Angkasa menjauh, namun tubuh cowok itu sama sekali tidak bergemang. "Lagian, kalau lo emang takut gue dimanfaatin Reno, makanya balikin kartu pelajar lama gue sekarang! Biar gue nggak punya keterikatan apa-apa lagi sama lo!"

Angkasa menatap bibir Eca yang mengerucut kesal, lalu pandangannya beralih menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Eca di balik lensa kacamata tebalnya. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibir tipis Angkasa. Dia perlahan menurunkan satu tangannya dari pintu, lalu jemari tangannya yang hangat tiba-tiba menyentuh ujung bingkai kacamata Eca, menaikkannya sedikit yang sempat melorot. Sentuhan mendadak itu sukses membuat tubuh Eca menegang kaku seperti tersengat aliran listrik.

"Kartu itu tetep aman di dompet gue, Asisten," ucap Angkasa pelan, suaranya mendadak melunak namun tetap terdengar mutlak. Dia menarik kembali tubuhnya, memberi Eca ruang untuk bernapas lega. Angkasa berjalan kembali ke mejanya, lalu mengambil sebuah berkas tebal bersampul biru yang tergeletak di sana.

"Tugas kedua lo siang ini," kata Angkasa sambil menyodorkan berkas tersebut ke arah Eca. "Ini data proposal anggaran buat acara pentas seni yayasan bulan depan. Rapatnya bakal diadakan jam dua siang nanti bersama para donatur. Gue mau lo ketik ulang semua data tabel keuangan di dalamnya ke dalam laptop gue, dan pastikan nggak ada salah ketik angka satu rupiah pun."

Eca menerima berkas tebal itu dengan cemberut. Baru juga kelar nulis geografi semalam, sekarang udah dikasih kerjaan akuntansi yayasan! jerit Eca dalam hati penuh dongkol.

"Laptop lo mana?" tanya Eca malas.

Angkasa menunjuk sebuah laptop perak tipis yang terbuka di meja kerjanya. "Kerjain di meja gue. Gue mau mantau kerjaan lo secara langsung biar lo nggak punya kesempatan buat main rahasia-rahasiaan lagi sama Reno lewat HP."

Eca menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan menuju kursi kerja kebesaran ketua OSIS. Dia duduk di kursi kulit yang empuk itu, membuka berkas biru, dan mulai mengetik baris demi baris angka anggaran di papan tik laptop dengan penuh penekanan, menyalurkan rasa dongkolnya lewat ketukan jari. Sementara itu, Angkasa memilih untuk duduk di sofa panjang seberang meja, memandangi Eca yang sedang bekerja dengan tatapan mata yang sangat dalam dan sulit dibaca.

Suasana ruangan kembali hening selama hampir tiga puluh menit, hanya dipenuhi oleh suara ketukan papan tik laptop dari jari-jari Eca. Di tengah kesibukannya mengetik data keuangan, Eca sesekali melirik ke arah Angkasa dari sudut matanya. Cowok itu ternyata sudah memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di bantalan sofa dengan napas yang teratur. Wajah Angkasa saat tidur terlihat jauh lebih tenang, kehilangan raut arogan dan kejam yang biasa ditunjukkannya sehari-hari.

Eca tertegun sejenak memandangi wajah tidur Angkasa. Kalau lagi merem gini, dia kelihatan kayak manusia biasa, bukan titisan dajjal, batin Eca tanpa sadar tersenyum tipis.

Namun, perhatian Eca mendadak teralih saat melihat sebuah sudut dompet kulit hitam milik Angkasa yang mengintip dari saku jaket almamaternya yang tersampir di sandaran kursi tempat Eca duduk. Jantung Eca langsung berdegup kencang bak genderang perang.

Itu dompetnya! Kartu pelajar lama gue pasti ada di dalam situ! teriak Eca dalam hati penuh kegembiraan.

Eca melirik ke arah Angkasa di sofa, memastikan cowok itu benar-benar sudah tertidur lelap. Setelah yakin Angkasa tidak bergerak, Eca perlahan-lahan menghentikan ketikannya. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tanpa suara, Eca mengulurkan tangan kanannya menuju saku jaket almamater Angkasa. Jarinya sudah menyentuh ujung dompet kulit tersebut, bersiap untuk menariknya keluar secara diam-diam.

Tepat saat dompet itu berhasil ditarik setengah jalan, sebuah tangan besar yang hangat dan kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Eca dengan sangat kencang dari arah belakang.

DEG!

Eca tersentak kaget setengah mati, matanya membelalak lebar. Dia menoleh ke belakang dengan patah-patah. Angkasa ternyata sudah tidak ada di sofa. Cowok itu entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakang kursi kerja Eca, mencondongkan tubuhnya dengan sepasang mata elang yang menatap Eca dengan kilatan penuh kemenangan dan kelicikan yang mengerikan.

"Ketangkap basah, Alesya," bisik Angkasa tepat di dekat telinga Eca, membuat seluruh tubuh cewek itu merinding seketika. "Lo pikir gue beneran tidur? Trik murahan lo buat nyuri kartu ini balik... resmi gagal total."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!