Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kepemimpinan dengan Hati
Suara deru mesin cetak baja bergemuruh memenuhi seluruh sudut ruangan divisi produksi. Bau oli pelumas dan hawa panas yang menyengat dari gesekan logam sudah menjadi makanan sehari-hariku selama tiga tahun terakhir. Namun pagi ini, atmosfir di area kerja terasa sedikit berbeda. Bukan karena mesinnya yang berubah, melainkan karena caraku berdiri di tengah-tengah mereka.
Pukul sembilan pagi tepat, aku mengumpulkan tujuh anggota timku di depan papan jadwal operasional. Biasanya, sesi pengarahan pagi selalu berlangsung tegang. Dulu, aku akan berdiri dengan tangan bersedekap, menyampaikan target harian dengan suara keras, dan langsung menegur siapa saja yang memasang wajah lelah.
"Selamat pagi semuanya," sapaku membuka sesi pengarahan.
Beberapa anggota tim saling bertukar pandang. Doni, salah satu operator muda yang paling sering kena semprot karena cara kerjanya yang agak lambat, tampak menunduk sambil meremas sarung tangan kainnya.
"Pagi, Mas Reno," jawab mereka bersahut-sahutan dengan nada ragu-ragu.
Aku menatap mereka satu per satu. Garis-garis kelelahan terlihat jelas di wajah-wajah jujur itu. Selama ini, aku hanya melihat mereka sebagai roda penggerak target pabrik—sama seperti caraku memandang diriku sendiri sebagai mesin pencari uang. Aku lupa bahwa mereka juga manusia yang memiliki rasa lelah dan masalahnya masing-masing.
"Hari ini target produksi kita dinaikkan sepuluh persen oleh manajemen pusat," kataku sambil menuliskan angka baru di papan tulis putih.
Aku bisa mendengar helaan napas berat dari beberapa orang. Doni bahkan makin menundukkan kepalanya, seolah tahu dialah yang akan paling tertekan dengan target baru ini.
"Saya tahu ini berat, apalagi dua mesin di lini B sedang rentan aus," lanjut ku dengan nada suara yang tetap tenang dan terukur. "Tapi kita tidak akan mengejar target ini dengan cara saling memaksakan diri sampai ada yang cedera atau burnout. Kita bagikan tugasnya agar lebih efisien."
Aku memutar tubuh, menatap Doni secara khusus. Anak muda itu sedikit melonjak kaget saat mataku bertaut dengan matanya.
"Doni," panggilku pelan.
"I-iya, Mas Reno? Maaf, kemarin saya—"
"Kemarin cara kamu menyusun bahan baku sudah jauh lebih rapi dari minggu lalu," potongku, memberikan apresiasi jujur yang belum pernah keluar dari mulutku sebelumnya. "Hari ini, kamu bantu Andi di lini pemotongan utama. Kamu punya ketelitian yang bagus di sana. Biar bagian pengangkutan berat dibantu oleh Eko dan Budi secara bergantian."
Doni tertegun. Matanya membelalak kaget, tidak menyangka bahwa aku memperhatikan kinerjanya, apalagi memujinya di depan anggota tim lain. Senyum canggung perlahan terukir di wajahnya yang berdebu.
"Siap, Mas Reno! Terima kasih, nanti saya kerjakan sebaik mungkin," jawab Doni dengan nada suara yang jauh lebih bersemangat dari biasanya.
"Ingat, kalau ada kendala di lapangan atau mesin mulai bermasalah, langsung bicara ke saya. Jangan dipendam sendiri sampai barangnya cacat produksi," tambahku menutupi sesi. "Mari kita mulai kerja hari ini dengan hati-hati."
Sesi pengarahan dibubarkan. Saat anggota tim mulai menyebar ke pos masing-masing, aku melihat Pak Bambang memperhatikan dari balik kaca ruangannya. Supervisor senior itu mengangguk-angguk kecil dengan senyum tipis—sebuah sinyal persetujuan yang jarang ia tunjukkan pada bawahannya.
Jam istirahat siang tiba. Suasana kantin pabrik begitu riuh oleh dentang sendok dan obrolan para pekerja dari berbagai divisi. Aku memilih duduk di meja sudut dekat jendela yang mengarah ke area taman kecil pabrik, menikmati es teh manis dan semangkuk soto ayam.
Ponsel di saku celanaku bergetar singkat. Aku merogohnya dan mendapati sebuah notifikasi pesan dari Kareen.
Kareen: Selamat siang, Reno. Bagaimana hari pertamamu menerapkan gaya kepemimpinan baru di pabrik? Apakah anak-anak timmu kaget?
Sebuah senyuman tipis tak terbendung terukir di bibirku. Cara Kareen menebak situasi di lapangan selalu berhasil membuatku kagum.
Reno: Siang, Kareen. Kamu seperti punya mata-mata di sini. Iya, mereka sempat bingung. Doni bahkan kaget waktu saya puji ketelitiannya.
Kareen: Haha, sudah kubilang kan? Apresiasi kecil itu dampaknya besar banget buat orang lain. Kamu hebat sudah berani memulainya. Jangan lupa makan siang yang benar, ya.
Reno: Ini lagi makan soto di kantin. Kamu sendiri gimana di Bandung? Sibuk?
Kareen: Lumayan, lagi sibuk rekap laporan evaluasi pelatihan kemarin. Tapi selalu ada waktu buat dengar kabar perkembanganmu di Jakarta.
Jemariku berhenti sejenak di atas layar. Ada kehangatan aneh yang merayapi dadaku setiap kali membaca balasan pesannya. Jarak Jakarta dan Bandung memang memisahkan kami ratusan kilometer, namun percakapan sederhana ini membuat jarak itu terasa begitu dekat. Di tengah hiruk-pikuk dan bau oli pabrik yang biasanya memenjarakanku, pesan dari Kareen terasa seperti oase yang menyegarkan.
Reno: Terima kasih ya, Kareen. Kalau bukan karena obrolan kita di Bandung malam itu, mungkin saya masih jadi penyelia galak yang dimusuhi anak buah.
Kareen: Sama-sama, Reno. Tapi ingat, perubahan itu terjadi karena kemauan dari dalam dirimu sendiri. Aku cuma bantu membukakan pintunya saja.
Sore harinya, bel tanda selesai shift bergema nyaring. Hasil evaluasi produksi hari ini mengejutkan semua orang. Lini kami tidak hanya berhasil mencapai target kenaikan sepuluh persen, tetapi juga mencatatkan angka cacat produksi paling rendah sepanjang bulan ini.
Saat aku merapikan berkas di mejaku, Doni berjalan mendekat sambil membawa helm proyeknya.
"Mas Reno, terima kasih ya buat instruksinya tadi pagi. Jujur, biasanya saya selalu cemas tiap berangkat kerja ke pabrik ini. Tapi hari ini terasa beda banget," ucapnya tulus.
Aku menepuk bahunya pelan. "Kamu yang kerja keras, Don. Pertahankan ya. Hati-hati di jalan pas pulang."
Aku melangkah keluar dari area pabrik dengan perasaan puas yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dulu, pencapaian target hanyalah angka dingin yang membebaskan diriku dari teguran atasan. Namun hari ini, pencapaian itu terasa begitu bermakna karena diraih bersama-sama, tanpa harus ada yang merasa tertekan atau dikorbankan.
Sambil berjalan menuju stasiun untuk pulang menemui Rayan, aku menatap langit sore Jakarta yang perlahan berubah warna menjadi keemasan. Hidupku belum sempurna, tantangan keuangan dan masa depan masih membentang di depan mata, namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa siap untuk menghadapinya dengan senyuman.