Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Ke Toko
Livia memulai harinya dengan petunjuk dari Morenzo, yaitu sebuah kunci dan sebuah nama tempat. Dengan bantuan pengawal pemberian Morenzo, ia mulai mengumpulkan informasi dari berbagai penjuru untuk melacak lokasi tersebut.
Tujuan pertamanya adalah sebuah gudang tua di Sektor tujuh. Ternyata akses menuju ke sana jauh lebih sulit dari bayangannya. Elena mengira mobil bisa meluncur mulus dan berhenti tepat di depan gedung. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ia harus menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi belantara rimbun, jalannya sempit dan terpencil. Benar-benar tak terjamah orang-orang.
Hingga akhirnya, Livia menemukan gudang yang dicari. Bangunan itu tidak sesuai ekspetasinya yang membayangkan gedung tinggi terbengkalai. Sebaliknya, itu hanyalah sebuah bangunan kecil yang bentuknya lebih menyerupai akses menuju ruang bawah tanah.
Livia mencoba masuk. Ia melangkah sendirian meski sebenarnya tidak benar-benar sendiri karena para pengawal mengawasi dalam mode senyap. Ia memperhatikan kunci pemberian Morenzo, tapi rupanya itu bukan kunci untuk pintu masuk tersebut karena ukurannya jauh lebih kecil dari gembok yang menggantung.
Alih-alih panik atau terdesak, Livia memilih untuk tenang. Ia memutar otak guna mencari cara lain agar bisa masuk ke sana. Ia sempat berkeliling di sekitar bangunan namun tidak menemukan hasil. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri area yang lebih jauh.
Tak disangka, ia menemukan sebuah pemukiman padat yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Di sana geliat kehidupan terasa tak beda jauh dengan kota besar. Orang-orang lalu-lalang melakukan aktivitas sehari-hari layaknya di kota metropolitan.
Livia ingin berinteraksi dengan warga sekitar. Langkahnya terhenti saat telinganya menangkap sebuah suara. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat segelintir orang sedang berkumpul. Tidak banyak, hanya beberapa orang yang sesekali melempar uang ke dalam wadah yang disediakan.
Itu adalah sebuah pertunjukan biola.
Saat Livia mendekat, nada-nada yang dimainkan terasa semakin akrab di telinganya. Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa sosok di balik biola tersebut. Itu Axel. Laki-laki itu tengah menyambung hidup dengan memamerkan kemahirannya bermusik.
Livia sebenarnya tidak heran, sebab ia sudah tahu bagaimana hancurnya kondisi keluarga Killian saat ini. Akan tetapi ia tidak menyangka akan melihat Axel yang mau berjuang dari nol seperti ini.
Permainan biola itu berakhir. Livia menjadi orang terakhir yang menaruh uang di wadah. Axel yang masih menunduk sambil membereskan wadah uangnya, berucap terima kasih tanpa melihat ke arah si pemberi.
"Terimakasih."
Biasanya orang-orang akan langsung pergi setelah menaruh uang, namun Livia tetap bergeming. Ia membalas ucapan terima kasih Axel dengan suara tenang.
"Sama-sama."
Seketika Axel mendongak. Ia tertegun menyadari wanita yang baru saja memberinya uang belum beranjak pergi. Matanya membelalak saat mengenali sosok itu.
"Livia?"
Livia hanya membalas dengan senyum tipis sambil menyilangkan tangan di dada.
Axel berdiri mematung. Tangannya yang masih memegang beberapa uang receh terasa kaku. Ada rasa malu yang membakar tengkuknya, membuat telinganya memerah.
Ingin rasanya Axel berbalik dan lari sekencang mungkin, menghilang di telan bumi. Namun nuraninya menahan langkah itu. Kabur hanya akan membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pecundang, dan ia sudah cukup lama merasa seperti itu. Ia tidak ingin menambah daftar kegagalannya hari ini.
"Livia," gumam Axel lagi. Ia bangkit berdiri lalu membersihkan debu di celananya. "Sedang apa kau di tempat sejauh ini?"
"Hanya sedang berjalan-jalan. Mencari udara yang berbeda dari hiruk-pikuk pusat kota," jawab Livia singkat.
Livia sengaja menyimpan rapat-rapat tujuannya mengenai gudang di Sektor tujuh dan petunjuk dari Morenzo. Terlalu berisiko melibatkan Axel, atau siapa pun, dalam urusan yang belum jelas ujung pangkalnya ini.
Melihat kecanggungan Axel, Livia sebenarnya merasa sedikit iba.
Sejak melangkah keluar dari apartemen yang ditempati Elena beberapa waktu lalu, Axel memang hidup tak tentu arah. Ia pergi tanpa membawa apa-apa selain harga diri yang sudah terkoyak.
Berhari-hari ia berjalan luntang-lantung, menyusuri jalanan tanpa tujuan pasti. Perutnya lapar, otaknya dipaksa bekerja keras, bagaimana caranya menyambung hidup tanpa nama besar Killian yang kini sudah menjadi kutukan?
Di tengah keputusasaannya ia melihat seorang pria tua yang sedang kepayahan menurunkan tumpukan peti kayu dari sebuah truk. Pria itu adalah pemilik toko barang bekas. Tanpa pikir panjang, Axel membantu bapak tersebut hingga pekerjaan selesai.
Sebagai ucapan terima kasih, bapak itu mengajaknya masuk ke dalam toko yang penuh dengan barang-barang. Di sana mata Axel menangkap keberadaan sebuah biola. Itu adalah alat musik dari keahlian yang ia miliki.
Axel langsung mengutarakan idenya. Ia tidak punya uang untuk membeli biola itu, jadi ia membuat kesepakatan, ia akan menyicil biola tersebut dari hasil bermain musik di jalanan.
Sang pemilik toko yang tersentuh melihat kegigihan pemuda itu, setuju. Sejak saat itu Axel berpindah dari keramain ke keramaian lain, memeras kemahirannya demi beberapa keping koin. Sebagian besar ia gunakan untuk makan dan menyisihkan sisanya demi melunasi cicilan.
Tak hanya itu, Axel membuang jauh-jauh gengsi keluarga Killian yang tersisa. Karena ia butuh uang tambahan, Axel juga menawarkan jasa semir sepatu kepada para pekerja kantor yang lewat. Baginya rasa lelah tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa lapar dan kehinaan karena menjadi peminta-minta.
"Kalau kau memang sedang berjalan-jalan dan ingin lebih mengenal seluk-beluk kota ini, sebaiknya jangan sendirian."
Livia mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya? Kau ingin menawarkan diri menjadi pemanduku?"
Axel tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan. "Tidak. Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lagi pula, aku bukan orang yang tepat untuk membawamu berkeliling."
"Pergilah ke sana. Cari bapak-bapak tua pemilik toko barang bekas. Katakan padanya kau butuh orang yang tahu setiap inci kota ini. Dia sudah hidup di sini selama empat puluh tahun. Dia pemandu yang jauh lebih baik daripada aku."
Livia terdiam sejenak memperhatikan gerak-gerik Axel. Laki-laki di depannya ini benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi upaya untuk mendekatinya, tidak ada lagi rayuan atau keinginan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Axel telah membatasi dirinya sendiri dengan sebuah tembok. Baguslah jika begitu.
"Terima kasih atas sarannya."
"Sama-sama," jawab Axel singkat. Ia menyampirkan tas biolanya ke bahu, lalu mengangguk sopan sebelum melangkah pergi ke arah berlawanan.
Livia berdiri di sana memperhatikan punggung Axel yang menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang. Laki-laki itu benar-benar sedang merangkak dari bawah tanpa meminta bantuan pada siapa pun yang mengenali masa lalunya.
Livia lalu mulai melangkah menuju toko barang bekas yang disebutkan Axel. Mungkin saja bapak tua itu tahu sesuatu tentang bangunan misterius di Sektor tujuh yang tak bisa ia buka dengan kunci kecilnya.
Livia celingak-celinguk memastikan keadaan sekitar.
Bersambung.
untk melepaskan livia sebentar saja
seolah livia pikir jika dia tidak ada yg mengawasi🤣🤣🤭
bagaiamana munhkin kamu lupa pada janji Seorang morenzo yg tidak Akan melepaskanmu🤭🤭
malah ketemu sama elena🤣🤣
mau nunggu hasil nya aja experimen livia