Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bujukan Manis Di Pelataran Sekolah
Matahari pagi menyiram jalanan kota dengan cahaya hangat. Keesokan paginya, seperti biasa Alea mengantar Azka sekolah dan langsung menuju toko bunga. Tak ada mobil mewah yang mengawal mereka secara mencolok.
Sebenarnya Adrian sudah membelikan mobil untuk Alea, tapi Alea masih senang menggunakan sepeda listrik yang dia beli beberapa bulan lalu. Bagi Alea, mengayuh sepeda listrik bersama Azka di pagi hari adalah kesenangan sederhana yang tak ingin ia lepaskan. Kadang dia berjalan kaki jika jarak tempuhnya dekat.
Namun, marabahaya yang tak terduga telah mengintai. Berbekal lokasi terakhir anak buahnya, Mama Adrian tahu lokasi tepat Alea.
Mama Adrian sendiri mengendarai mobilnya, berhenti di sudut jalan yang agak terlindung dari pandangan utama. Dari balik kemudi, matanya yang tajam mengawasi momen ketika Alea mencium pipi Azka, membetulkan tas punggung kecilnya, lalu melambaikan tangan sebelum pergi mengayuh sepeda listriknya menuju toko bunga.
Dia turun setelah Alea sudah jauh.
Suasana sekolah masih belum ramai karena jam masuk baru akan dimulai belasan menit lagi. Anak-anak lain masih berada di dalam area kelas bersama guru, menyisakan Azka yang berdiri di dekat halaman depan sambil menatap tumpukan daun gugur.
Dengan senyum yang dibuat seramah mungkin, Mama Adrian melangkah mendekati anak kecil itu.
"Haii cucu Oma..." sapa Mama Adrian ke Azka, memotong keheningan pagi.
Azka tertegun, menghentikan kegiatannya. Bocah tiga setengah tahun itu menengadah, menatap wanita paruh baya berpenampilan anggun dan bernuansa mahal yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Nenek?" ucap Azka sambil mendongak menatap wanita paruh baya itu. Ingatan polosnya langsung mengenali sosok wanita yang pernah ia lihat di mansion mewah beberapa hari lalu.
"Ayok, Nenek ajak jalan-jalan," bujuk Mama Adrian penuh kepura-puraan, mengulurkan tangannya yang terhias cincin permata untuk menggapai jemari mungil Azka.
Azka berkedip bingung. Di satu sisi ia ingat nasihat ibunya untuk tidak sembarangan ikut dengan orang lain, namun di sisi lain kata 'Nenek' dan wajah yang familiar membuat pertahanan polosnya goyah.
Mata bulat Azka menatap cemas ke arah pintu kelas yang mulai dimasuki beberapa temannya. Tangannya yang mungil meremas tali tas punggungnya dengan ragu.
"Tapi Nek, sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi..." ucap Azka polos, menatap wajah sang nenek dengan kepolosan khas anak tiga setengah tahun.
Mama Adrian mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia berlutut sedikit menyamakan tingginya, mencoba menampilkan sosok nenek yang penyayang meski hatinya dipenuhi niat licik untuk memisahkan anak itu dari ibunya.
"Hanya sebentar kok... Ayok naik ke mobil Oma," kata Mama Adrian lembut namun tersirat nada memaksa, memegang erat pergelangan tangan halus Azka. "Oma mau belikan mainan baru yang sangat besar dan es krim yang enak di toko depan. Setelah itu Oma antarkan Azka balik ke kelas lagi. Mau ya?"
Azka menggigit bibir bawahnya, menatap mobil mewah yang terparkir tak jauh dari gerbang. Rasa tergiur akan mainan dan es krim beradu dengan kepatuhannya pada pesan sang ibu.
Kebetulan saat itu para bodyguard kepercayaan Adrian tidak berjaga di PAUD karena beberapa waktu lalu ditegur sang guru. Para pengawal bertubuh tegap itu membuat para murid ketakutan karena penampilan mereka yang serba berjas hitam dan berkacamata hitam memicu suasana mencekam di lingkungan sekolah.
Demi kenyamanan sekolah, Rian atas perintah Adrian sempat menginstruksikan para pengawal untuk mundur dan mengawasi dari area yang agak jauh di luar perimeter gerbang utama—tanpa menyadari bahwa celah kecil inilah yang dimanfaatkan secara cerdik oleh sang mama.
Melihat Azka yang masih terdiam ragu, Mama Adrian langsung menarik pelan tangan kecil itu menuju pintu mobilnya yang sudah terbuka.
"Ayo, Jagoan. Oma tidak punya banyak waktu," bisik Mama Adrian, setengah menuntun setengah memaksa Azka melangkah keluar dari area halaman sekolah.