NovelToon NovelToon
DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikahmuda / Penyelamat
Popularitas:136.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.

"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.

"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona

"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.

"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Pelajaran berikutnya dimulai tepat saat guru masuk ke kelas. Beliau langsung mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas presentasi minggu depan. Mirella menahan napas, berdoa dalam hati agar tidak sekelompok dengan orang yang terlalu berisik. Namun saat nama-nama dibacakan, hatinya berdebar kencang saat mendengar namanya disebut bersama nama Bara, Devon, Ria, Pingkan, dan Rosa.

Ia satu kelompok dengan Bara? Kebetulan macam apa ini? Padahal dia mau menghindar dari laki-laki itu karena ketahuan menguping tadi. Bara pasti berpikir dirinya memang sengaja menguping.

Saat semua bergerak berkumpul di meja yang sama, suasana langsung terasa aneh. Terlalu aneh bagi Mirella, karena tidak terbiasa. Ria dan Pingkan langsung duduk di dekat Bara, dengan senyum-senyum manis yang tak lepas dari wajah mereka.

Tapi mereka langsung memasang tampang kecewa begitu Bara berdiri dan duduk di antara Devon dan Mirella. Devon menertawai keduanya. Sementara Mirella, sejak tadi hanya menunduk. Dia tidak akrab dengan mereka semua. Tidak tahu mau ngomong apa pula. Sepertinya masalah yang terjadi pada semua orang introvert itu memang seperti ini.

Ria dan Pingkan saling berpandangan, bibir mereka mengerucut sedikit namun tetap berusaha tersenyum. Mereka terpaksa duduk berhadapan, berbagi meja dengan Rosa yang langsung mengeluarkan buku dan pulpen dengan tenang. Mirella menunduk dalam, jari-jemarinya saling meremas di bawah meja. Ia merasa seperti tamu tak diundang di meja ini.

"Oke, kita mulai saja ya," ucap Rosa lembut, memecah keheningan yang canggung.

"Tugasnya membuat presentasi tentang dinamika populasi, lengkap dengan studi kasus dan solusi. Kita bagi tugasnya supaya nggak ada yang tumpang tindih."

Devon menyandarkan punggungnya ke kursi, tersenyum miring sambil melirik Ria dan Pingkan yang masih terlihat kesal.

"Sabar guys. Bara cuma mau jaga jarak. Atau mungkin dia tahu kalau duduk di sebelah kalian, fokusnya jadi terganggu, kan Bar?" candanya sambil menepuk punggung Bara pelan.

Bara hanya tersenyum tipis, tidak menampik maupun membenarkan. Ia membuka bukunya, menatap ke arah Rosa.

"Bagaimana pembagiannya?

Rosa menunjuk ke arah kertas di depannya.

"Begini idenya, Ria dan Pingkan, kalian siapkan materi dasar dan latar belakangnya. Devon, kamu cari data statistik dan contoh kasus nyata. Bara, kamu yang analisis masalah dan usulkan solusi. Mirella, kamu susun semua materi itu menjadi kerangka presentasi dan periksa kelengkapannya sebelum kita gabungkan. Bagaimana, adil?"

Ria dan Pingkan saling melirik, lalu mengangguk pelan.

"Boleh saja. Tapi kalau ada yang tidak kita mengerti, boleh tanya Bara kan?" tanya Ria dengan nada manja yang disengaja.

"Tanya ke Rosa saja. Gue males ngejelasin." tolak Bara langsung.

Devon menertawai dua cewek itu lagi lalu pandangannya beralih ke Mirella. Ia ingat tadi pagi ia tidak sengaja melempar bola mengenai gadis itu.

"Oh, ternyata sekelompok sama lo. Gimana, yang kena bola tadi masih sakit gak? Perlu babang Devon obati dengan senyuman cinta?" goda Devon mengeluarkan jurus playboy-nya sambil menatap Mirella dengan mengedipkan mata.

Mirella balas menatapnya sekilas lalu buru-buru mengalihkan pandangan, fokus ke buku.

"Eh, nama lo siapa? Maisena?

"Devon," Bara angkat suara. Menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam. Devon hanya tertawa. Ria dan Pingkan juga langsung tertawa karena merasa lucu.

"Namanya Mirella, Von. Udah gak usah saling ganggu lagi." kata Rosa mencoba menengahi.

"Ayo kita kerjakan tugas kita dulu." tambahnya.

Mereka semua pun mulai sibuk dengan pekerjaan kelompok itu. Mirella melakukan tugasnya meski tidak terlalu nyaman duduk dekat orang karena dia biasanya duduk sendiri. Meski yang duduk di sampingnya adalah Bara, tetap saja ... Rasanya canggung.

Sementara itu di sebelahnya, Bara sesekali melirik Mirella dengan ujung matanya.

"Kau ada bulpen lebih?" tiba-tiba ia bertanya pelan di telinga Mirella. Semua orang di kelompoknya sedang sibuk.

Mirella sedikit tersentak saat suara Bara terdengar begitu dekat di telinganya. Ia buru-buru merogoh tasnya, tangannya gemetar sedikit saat menyodorkan pulpen ke arah cowok itu.

"I-ini..," bisiknya pelan, takut terdengar oleh yang lain.

Bara menerimanya dengan senyum tipis yang samar.

"Terima kasih," ucapnya rendah, lalu kembali menulis di bukunya seolah tidak terjadi apa-apa.

Mirella menunduk kembali ke catatannya, tapi jantungnya berdebar jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia berusaha fokus menyusun kerangka presentasi, tapi pikirannya terus teralihkan ke sisi kanannya, ke arah Bara yang duduk begitu dekat. Aroma sabun yang sama seperti tadi pagi kembali tercium, membuatnya merasa sedikit gugup. Wanginya beda dengan wangi daddy Zavian, tapi sama-sama maskulin. Mirella juga suka mencium wanginya daddy Zavian.

Beberapa menit berlalu dengan hening. Hanya terdengar suara gesekan pulpen di atas kertas dan sesekali suara Ria dan Pingkan berbisik-bisik di seberang meja. Tiba-tiba kertas catatan Mirella sedikit tergelincir ke arah Bara karena siku mereka tidak sengaja bersentuhan.

"Ah, maaf!" Mirella buru-buru menariknya kembali, wajahnya memerah. Suaranya tetap pelan, pelan sekali agar tidak mengganggu konsentrasi yang lain.

Bara tidak bicara apa-apa, hanya menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Kemudian Mirella melihat pria itu menulis lagi, tapi kali ini ia menyodorkan perlahan buku catatannya ke arah Mirella dan memberi petunjuk agar gadis itu membaca di sana. Dalam catatan itu di tulis,

Tidak apa-apa. Tidak perlu gugup. Kentara sekali kalau kamu gugup.

Jantung Mirella kembali berdebar kencang. Ia menelan ludah. Ya ampun, bagaimana dia tidak gugup coba. Biasanya dia selalu duduk sendiri tanpa ada gangguan. Tapi sekarang, banyak yang mengelilinginya. Mana ada Bara pula yang tidak dapat ia pungkiri berhasil menghilangkan konsentrasinya.

Di sampingnya, Bara tersenyum tipis. Devon yang sadar langsung menyenggol bahunya.

"Ada apa? Kenapa senang begitu?" ucapnya.

Bara langsung memasang tampang biasa lagi.

"Nggak apa-apa. Kerjain aja tugas lo."

Devin menyipitkan mata curiga, lalu tersenyum dan kembali fokus.

Begitu bel pulang berbunyi, Rosa bertanya di mana bisa bikin tugas kelompok nanti.

"Di rumah Bara aja!" Seru Pingkan antusias. Mereka belum pernah pergi ke rumah Bara yang katanya besar banget itu. Tentu saja Pingkan menggunakan kesempatan ini.

Ria mengangguk setuju. Semuanya menatap Bara terkecuali Mirella. Bara tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Baik, kalo gitu besok sore di rumah Bara." kata Rosa. Semua mengangguk setuju.

Mirella tidak ikut mengangguk karena dia tidak tahu bakal di ijinin atau nggak. Bundanya tidak pernah ijinin dia keluar ke tempat lain kecuali ke sekolah. Selama ini hidupnya seperti burung dalam sangkar.

1
vnablu
Semangat terus maeee buat menulis karyanya untuk menghibur kamiii semuaaa 🥰🥰
~Hartwyn_Dee~
zavian perhatian banget...lama" Mirella bisa suka beneran ....
~Hartwyn_Dee~
pasti ini ulah Viona
Syakirah Dzaky
Aki koq pingin mirellla sama daddy zavian🤭
Magichand01 86
rajin2 uuppp
Magichand01 86
masih samar2 ini mirella sm siapa wkwkwk
Tuti Tyastuti
𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘮 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘻𝘢𝘷𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘦 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳
Tuti Tyastuti
𝘢𝘺𝘰 𝘮𝘪𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵
Naufal Affiq
aku takut perhatian membuat mirella,terbang ke awan zavian,
faridah ida
Zavian perhatian.banget sama Mirrela , .. semoga Viona gak bikin ulah lagi ...
Ita rahmawati
eh ada apa dg lampunya
Fitria Syafei
KK cantik Mantaf 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
Al Fatih
Daddy zavian sebaik itu......,, istrinya malah kayak ratunya para setan😡
Naufal Affiq
aku yakin ini ulah bunda mu merella
faridah ida
kok bisa pecah ya lampu nya ... 🤔
apa ada yang sabotase ...
stefani n.i.s
nah gitu dong masa seorang laki² bisa dikendalikan oleh perempuan setan. diancam ya diancam balik lagi aja. kasihan Mirella tdk pernah dpt kasih sayang..bapak kandung nya Mirella kemana sih thor
Syakirah Dzaky
Aku takut terjadi cinta terlarang
Yul Kin
lanjut kak
~Hartwyn_Dee~
baguusss zavian,, Viona emng kudu di gertak dikit biar ga songong...
Syakirah Dzaky
Bagus Zavian , klo perluh sebarkan aja semua Video saat dia menyiksa anakx , jadikan itu sebagai bukti , biar dia di penjara sekalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!