Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putar Balik!
Sebelum mobil benar-benar tiba di kediaman Elson, Rakanza secara tidak sengaja melirik ke arah kursi istrinya. Di sana, Ella tampak duduk membungkuk seraya menekan perutnya pelan. Wajahnya yang tertutup cadar tak bisa menyembunyikan gestur tubuhnya yang jelas-jelas sedang menahan rasa lapar hebat setelah perjalanan udara yang panjang.
Rakanza berdehem pelan, membuang muka ke luar jendela. "Gavin, putar balik! Berhenti di Adara's Fine Dining," perintahnya datar.
Gavin melirik dari kaca spion, langsung mengenali nama restoran mewah kelas atas yang sangat terkenal di pusat kota itu, restoran milik Adara Winston.
"Asyik! Tumben banget Bos peka sama perut lapar!" celutuk Gavin gembira. "Istri lapar langsung diajak ke restoran bintang lima. Memang Bos Raka ini sebenarnya suami si—"
"Gavin, mau gajimu bulan ini aku potong lima puluh persen?" potong Rakanza dingin tanpa menoleh.
Seketika Gavin langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memfokuskan pandangan lurus ke jalan raya.
Di sudut kursi, suara pfft pelan lolos dari balik cadar Ella. Gadis itu refleks menutupi mulutnya, berusaha mengatupkan bibirnya rapat-rapat begitu menyadari Rakanza meliriknya tajam.
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di pelataran restoran mewah tersebut. Begitu Rakanza dan rombongannya melangkah masuk, sang Chef Senior yang mengenali sosok pimpinan Elson itu segera menyambut mereka dengan sangat sopan dan penuh penghormatan. Mereka langsung dituntun menuju area meja VIP yang sangat privat dan elegan.
Berbagai aroma hidangan lezat yang menggugah selera langsung memenuhi udara. Setelah Rakanza duduk di mejanya dengan jarak aman dari Ella, seorang pelayan wanita menyerahkan buku menu.
"Pesan apa saja yang mau kamu makan," ujar Rakanza singkat, nadanya tetap terkesan kaku.
Ella membuka buku menu itu ragu-ragu. Melihat harganya yang fantastis, Ella hanya menunjuk satu porsi sup hangat sederhana.
"Saya... ini saja satu, Tuan."
Rakanza menaikkan sebelah alisnya, lalu matanya memindai penampilan Ella dari atas ke bawah.
"Badanmu sudah seperti ranting pohon begitu masih sok hemat? Makan yang banyak supaya tidak pingsan di rumah orang tuaku nanti."
Gavin yang duduk di meja VIP sebelah tentu saja dilarang Rakanza duduk satu meja ikut menimpal sambil menyeringai lebar. "Betul kata Bos, Nyonya Muda! Jangan sungkan-sungkan! Bos Raka ini uangnya kagak bakal habis tujuh turunan delapan tanjakan! Pesan semua menu di lembar pertama juga Bos sanggup bayar!"
Ella meringis pelan di balik cadarnya. Dipikir-pikir, ucapan suami dan asistennya ada benarnya juga. Lagi pula, perutnya memang sudah sangat keroncongan. Dengan polos dan patuh, Ella mulai menunjuk-nunjuk beberapa gambar hidangan di buku menu di hadapan pelayan.
Setelah menunggu beberapa saat, suasana di area VIP mendadak heboh. Dua orang pelayan datang sambil mendorong dua meja dorong penuh hidangan mewah yang tampak menggiurkan dari ujung ke ujung.
Mata Gavin nyaris copot dari kelopaknya melihat tumpukan piring bernilai puluhan juta rupiah itu.
"Buset... Nyonya Muda pesan satu restoran apa bagaimana?!" gumam Gavin sambil menelan ludah.
Rakanza sendiri ikut tertegun sesaat. Alisnya bertaut rapat menatap deretan makanan yang seolah cukup untuk memberi makan satu peleton prajurit.
Tatapannya kemudian jatuh pada sang istri yang kini menundukkan kepala dalam-dalam karena malu.
"Maaf... kalau... kebanyakan, Tuan," bisik Ella pelan dengan suara yang sangat bersalah. Tadi ia hanya asal menunjuk hidangan yang gambarnya kelihatan enak tanpa sadar kalau jumlahnya sebanyak ini.
Gavin menelan ludahnya dengan tegang. Ia sudah bersiap-siap pasang badan kalau-kalau bosnya yang berdarah dingin dan hemat kata itu bakal mengamuk atau menghina istrinya.
Namun, Rakanza hanya mengembuskan napas panjang. Pria itu tidak mengamuk, tidak membentak, dan justru bersikap seolah hal itu bukan masalah besar.
"Makan saja semuanya. Kalau tidak habis, suruh Gavin yang selesaikan," ucap Rakanza datar sambil mulai memotong steak di piringnya sendiri.
Gavin seketika melotot girang, sementara Ella mengembuskan napas lega yang sangat panjang di balik cadarnya. Dalam hati, gadis itu tersenyum tipis dan berbisik senang.
Ternyata... di balik sifatnya yang dingin dan kejam, dia tidak sepelit atau sejahat yang aku bayangkan.
Di tengah keheningan meja VIP saat mereka menikmati hidangan, tiba-tiba...
"AAAHH! HOO-HAH! TOLONG! KEBAKALAN!"
Teriakan histeris dari meja sebelah seketika memecah suasana. Ella dan Rakanza kompak menoleh secara bersamaan.
Di sana, Gavin sudah berdiri sambil mengipas-ngipas mulutnya yang terbuka lebar dengan buku menu.
Wajah asisten itu mendadak merah padam bagaikan udang rebus, matanya berkaca-kaca menahan derita, dan ia menjerit-jerit kepedasan sampai-sampai seluruh tubuhnya kegatalan dan lidahnya serasa terbakar.
Rakanza mengerutkan dahi dalam-dalam, menatap asistennya dengan pandangan heran bercampur geli yang tertahan. "Kamu kenapa, Gavin?"
"Lidah saya kebakalan, Tuan! Hoo-hah!" seru Gavin heboh, suaranya mendadak berubah cadel karena lidahnya menjulur kelaparan udara dingin.
"Ini makanan bukannya enak, tapi pantas dijuluki hidangan setan level sepuluh! Siapa yang masak sambal ini, astaga! Hoo-hah! Ail! Mana ail?!"
Tanpa mempedulikan gengsi sebagai asisten mafia, Gavin langsung menyambar es teh manis di mejanya dan meneguknya sampai tandas dalam sekali teguk.
Melihat tingkah heboh Gavin dan mendengar cara bicaranya yang mendadak cadel serta berlebihan itu, Ella kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di balik cadarnya, tawa Ella pecah meluap-luap. Bahunya sampai berguncang pelan menahan tawa agar suara gigilnya tidak terdengar oleh Rakanza.
Rakanza yang melirik bahu istrinya bergetar hanya bisa menghela napas panjang, lalu melotot dingin ke arah Gavin. "Gavin, tutup mulutmu sebelum aku suruh pelayan tambah sambalnya satu mangkuk lagi."
Gavin seketika membungkam mulutnya rapat-rapat sambil meringis menahan panas di lidah, membuat suasana makan siang itu terasa jauh lebih hidup dari sebelumnya. Yap, asisten itu tentu saja sengaja demi istri bosnya terhibur.
__
^^^Bersambung....^^^