Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Keluarga dan Tamu Tak Diundang
Hari Sabtu yang mendebarkan akhirnya tiba. Sebuah restoran mewah bernuansa fine dining di pusat kota Jakarta menjadi lokasi makan malam keluarga yang digagas oleh Ibu Arka.
Elara tampil beda malam ini. Atas paksaan Arka yang tidak ingin istrinya berdaster atau memakai kaus oversized ke restoran bintang lima, Elara mengenakan gaun malam simpel berwarna navy blue yang elegan. Dipadukan dengan riasan tipis, Elara terlihat sangat cantik alami.
"Jangan malu-maluin," bisik Arka pelan saat mereka melangkah menyusuri lorong restoran menuju private room. Tangannya melingkar protektif di pinggang Elara.
"Tenang aja, Mas CEO. Ara udah latihan senyum anggun dari kemarin," balas Elara berbisik tenang, meski dalam hati deg-degan setengah mati.
Begitu pintu private room dibuka oleh pelayan, senyum Elara mendadak kaku.
Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, tidak hanya ada Pak Broto dan Ibu Arka yang duduk anggun. Di samping Pak Broto, duduk seorang wanita muda berparas jelita dengan pakaian desainer ternama, rambut ditata sempurna, dan perhiasan berkilau di lehernya.
"Arka, Elara, akhirnya kalian datang juga," sapa Ibu Arka hangat sambil berdiri menyambut mereka.
Namun, Pak Broto hanya berdeham dingin, lalu menunjuk wanita cantik di sebelahnya. "Arka, kamu pasti masih ingat Clarissa, kan? Anak rekan bisnis Papa yang baru pulang dari Inggris?"
Jantung Elara seperti meledak mini. Clarissa? Dari tatapan mata wanita itu yang memindai Elara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan, Elara langsung tahu kalau wanita ini pasti mantan calon istri idaman Pak Broto untuk Arka.
"Halo, Arka, long time no see," sapa Clarissa dengan suara manis yang dibuat-buat, lalu berdiri sambil melambaikan tangannya lembut. Pria mana pun pasti bakal luluh, tapi Arka hanya membalasnya dengan anggukan kaku dan dingin.
"Mari duduk," potong Ibu Arka cepat, berusaha mencairkan suasana canggung yang mendadak pekat.
Mereka berlima pun duduk melingkari meja makan oval. Elara duduk tepat di samping Arka, sementara Clarissa duduk berseberangan dengan mereka.
Sejak hidangan pembuka dikeluarkan, Pak Broto dan Clarissa seolah membuat panggung sendiri.
"Arka, Clarissa baru saja menyelesaikan gelar Master-nya di London School of Economics," puji Pak Broto sengaja membesarkan suara. "Papa tadinya berharap, Clarissa bisa bantu kamu memegang anak perusahaan Valora Group. Wanita berpendidikan dan berkelas seperti Clarissa ini memang sangat cocok mendampingi seorang CEO."
Sindirannya begitu telak merobek udara. Jelas-jelas semua itu ditujukan kepada Elara yang hanya seorang penjual baju thrifting.
Clarissa tersenyum manis penuh kemenangan. "Ah, Om Broto bisa aja. Tapi kalau Arka butuh bantuan untuk urusan analisis bisnis atau investasi internasional, aku selalu siap, kok."
Elara mengepalkan tangannya di bawah meja. Panas! Rasanya Elara ingin sekali menyiramkan sup krim di depannya ke wajah wanita itu. Namun, sebelum Elara sempat membuka suara untuk membalas, Arka mendadak meraih tangan Elara di bawah meja, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya.
Sentuhan hangat dan tegas dari tangan Arka sukses membuat Elara menoleh kaget.
"Terima kasih atas tawarannya, Clarissa," sahut Arka datar dan tenang. Suaranya terdengar sangat berwibawa di dalam ruangan. "Tapi Valora Group sudah punya tim analis terbaik. Lagipula, saya lebih butuh istri yang bisa membuat rumah saya terasa hangat dan hidup, bukan rekan bisnis tambahan di atas kasur."
DEG!
Muka Clarissa langsung berubah pucat pasi. Ibu Arka tersenyum menahan tawa, sementara Pak Broto melotot tak percaya mendengar balasan menohok dari putranya.
Elara sendiri hampir tersedak ludahnya sendiri. "Anjir, Mas CEO kalau ngomong pedes banget tapi bikin meleyot!" pikir Elara, menjerit histeris di dalam hati.
"Lagipula," lanjutnya lagi tanpa beban, seraya mengusap punggung tangan Elara dengan ibu jarinya secara alami, "Elara ini pebisnis yang hebat. Dia membangun usahanya sendiri dari nol tanpa bantuan modal orang tua."
"Bebisnis thrifting maksud kamu?" potong Clarissa dengan nada sinis yang gagal disembunyikan. "Baju bekas?"
Elara menyipitkan mata. Jiwa petarungnya yang sempat tertekan kini mendadak bangkit seratus persen. Kalau soal jualan, Elara Paramita tidak boleh dihina.
Elara tersenyum manis, memajukan tubuhnya sedikit. "Bukan sekadar baju bekas, Mbak Clarissa yang cantik. Ini namanya sustainable fashion dan vintage collection. Di era sekarang, anak muda berkelas justru makin peduli sama lingkungan. Lagian, omzet harian Ara dari live streaming TikTok aja bisa buat beli beberapa tas bermerek, kok."
Elara menyenggol lengan Arka dengan manja. "Iya kan, Mas Arka Sayang? Malah kemarin foto Mas Arka yang Ara pajang di katalog. Terus, barang dagangan Ara langsung sold out dalam tiga menit. Suami Ara ini emang pembawa rezeki banget."
Kata 'Mas Arka Sayang' dan panggilan 'Suami Ara' diucapkan Elara dengan nada manja tingkat dewa, sukses membuat Arka sedikit terbatuk kering karena terkejut. Namun, Arka dengan cepat menguasai diri dan berpura-pura merangkul bahu Elara mesra.
"Ya. Apapun yang Elara lakukan, saya selalu dukung penuh selama itu positif," sahut Arka perlahan, menatap mata Elara dengan tatapan yang mendadak terasa terlampau dalam untuk sekadar akting.
Wajah Pak Broto makin menekuk seperti kain lap basah. Sementara, Clarissa hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja dengan raut wajah menahan malu yang amat sangat.
Di tengah kemenangan kecil itu, hidangan utama akhirnya disajikan. Pelayan meletakkan piring berisi steak daging sapi mewah di depan mereka masing-masing.
Elara menatap pisau dan garpu di tangannya dengan sedikit bingung. Jujur saja, memotong daging tebal di restoran fine dining bukanlah keahlian utamanya.
Melihat keraguan di mata Elara, Arka tanpa bersuara langsung menarik piring Elara mendekat ke arahnya. Pria itu dengan telaten memotong daging steak milik Elara, menjadi dadu-dadu kecil yang pas untuk sekali gigit, lalu segera mengembalikan piring itu ke depan Elara.
"Makan yang banyak. Kamu kurus sekali," bisik Arka pelan tapi cukup terdengar oleh semua orang di meja.
Sikap perhatian Arka yang sangat alami itu membuat Ibu Arka tersenyum gembira. "Tuh, Papa lihat sendiri, kan? Arka mana pernah seperhatian ini sama wanita lain. Papa jangan aneh-aneh lagi mau jodohin Arka."
Pak Broto tidak bisa berkata-kata lagi. Semua argumennya runtuh total. Clarissa pun hanya bisa memotong dagingnya dengan gusar tanpa selera.
Elara menatap potongan daging di piringnya, lalu menoleh menatap Arka dari samping. Garis rahang pria itu terlihat sangat tampan di bawah remang lampu restoran. Jantung Elara yang tadinya berdegup karena akting, kini mendadak berdebar kencang karena alasan yang sama sekali berbeda.
"Aduh, kok, Mas CEO makin lama makin bahaya buat kesehatan jantung Ara, ya?" batin Elara panik.