NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPA DAY DAN PENGAKUAN SAHABAT

Ruangan spa pribadi di sayap timur mansion ini didesain dengan estetika "zen" yang sangat dipaksakan. Ada air mancur bambu kecil di sudut ruangan yang mengeluarkan suara tik-tok-tik secara ritmis, aroma minyak esensial sereh dan lavender yang disemprotkan begitu pekat hingga bisa membuat pusing, dan pencahayaan remang-remang yang sengaja dibuat seolah-olah matahari tidak diizinkan masuk.

Di tengah ruangan, dua meja pijat berlapis linen putih bersih berdiri berdampingan. Vania dan Larasati berbaring telentang, wajah mereka ditutupi oleh irisan mentimun segar, dan tubuh mereka dibalut handuk putih tebal yang baunya seperti pemutih pakaian mahal.

Vania menghela napas panjang, membiarkan bahunya rileks di bawah tekanan tangan terapis yang ahli.

Ini dia, batin Vania, menikmati suara tik-tok dari air mancur bambu. Satu-satunya momen di sinetron 90-an di mana tidak ada yang berteriak, tidak ada yang pingsan, dan tidak ada yang melempar air kopi ke wajah orang lain. Aku bahkan bisa mendengar pikiranku sendiri. Di tahun 2026, aku harus bayar 500 ribu rupiah buat pengalaman begini. Di sini? Gratis, karena ini fasilitas mansion. Aku cinta sinetron ini.

Tiba-tiba, suara isakan pelan memecah keheningan ruangan.

Vania tidak membuka matanya, tapi dia tahu itu Larasati. Air mata sang heroine pasti sedang menetes dari sudut matanya, membasahi irisan mentimun di pipi kirinya.

"Kak Van..." suara Larasati bergetar, nyaris seperti bisikan yang putus-asa. "Aku... aku takut."

Vania menghela napas pelan. Dia mengangkat satu tangannya, mengambil irisan mentimun di mata kanannya, dan menoleh sedikit ke arah Larasati. "Takut kenapa, Las? Takut facial-nya luntur? Tenang, ini waterproof."

"Bukan itu," Larasati menggeleng pelan, air matanya kini menetes deras ke bantal. "Aku takut sama keluarga besar. Setiap kali aku ke mansion, Tante Ratna menatapku seperti aku adalah noda di karpet mahalnya. Bibi Marni selalu berbisik-bisik di belakangku. Om Reza... Om Reza bahkan pernah secara tidak sengaja menumpahkan anggur merah ke gaunku dan pura-pura tidak lihat. Aku tidak tahu harus berbuat apa, Kak. Aku takut aku tidak akan pernah bisa diterima. Aku takut Mas Raka akan lelah melindungiku."

Vania menatap Larasati. Dia melihat ketakutan yang tulus di mata wanita itu. Ini bukan akting. Ini adalah tekanan mental yang nyata dari hidup di lingkungan toxic.

Vania duduk perlahan, mengabaikan terapis yang mencoba memijat bahunya. Dia meraih tas ransel kanvasnya yang diletakkan di kursi dekat meja, merogoh ke dalamnya, dan mengeluarkan sebuah lipatan kertas tebal yang dijilid rapi dengan stapler warna-warni.

Dia meletakkannya di dada Larasati.

"Apa ini, Kak?" tanya Larasati, suaranya masih serak. Dia mengambil kertas itu, membaca judulnya yang diketik dengan huruf kapital tebal.

PANDUAN PRAKTIS: CARA MENGHADAPI MERTUA TOXIC TANPA KEHILANGAN WARISAN

"Baca Bab Satu sampai Bab Lima sebelum makan malam besok," ucap Vania datar, mengambil kembali irisan mentimunnya dan meletakkannya di mata. "Bab Satu: Pura-pura Tuli Saat Diminta Pinjam Perhiasan. Bab Dua: Cara Mengalihkan Isu Ketika Tiba-tiba Dituduh Mencuri Cincin. Bab Tiga: Kalimat Ajaib untuk Membuat Tante Ratna Tersedak Tehnya."

Larasati tertawa kecil, suara yang renyah di tengah ruangan yang syahdu. Tapi tawa itu cepat berubah menjadi isakan lagi. "Kak Van, ini... ini lucu. Tapi aku serius. Aku takut mereka akan melakukan apa saja untuk memisahkan aku dan Mas Raka."

Vania membuka matanya lagi. Tatapannya kini serius. Dia menatap lurus ke langit-langit, lalu menoleh ke Larasati.

"Dengar baik-baik, Las. Aku akan memberitahumu satu rahasia yang bahkan Raka tidak tahu," ucap Vania, suaranya rendah dan berat. "Tante Ratna dan Om Reza itu bukan sekadar jahat karena mereka tidak suka kamu miskin. Mereka jahat karena mereka desperate."

Larasati terdiam, matanya membelalak di balik irisan mentimun.

"Mereka itu parasit, Las. Mereka hidup dari sisa-sisa kekuasaan Pak Darmawan. Tapi Pak Darmawan mulai tua, dan dia mulai melirik Raka sebagai penerus sah. Jika Raka menikah dengan kamu—gadis luar yang polos, tidak tahu menahu soal intrik perusahaan, dan sangat dicintai Raka—maka posisi Tante Ratna dan Om Reza akan terancam. Mereka akan kehilangan kendali."

Vania mencondongkan tubuhnya sedikit, memastikan Larasati mendengar setiap katanya.

"Mereka akan mencari segala cara untuk menghalangi pernikahan itu. Mereka akan memfitnahmu, menjebakmu, atau bahkan mencoba menyogokmu. Dan dengar ini, Las: mereka hanya akan menyerah jika kau mengikuti semua rencana mereka merebut harta Pak Darmawan dari Raka. Mereka ingin menjadikanmu boneka. Mereka ingin kamu menikahi Raka, tapi kamu harus bekerja untuk mereka, menandatangani dokumen-dokumen bodong, dan pada akhirnya, menghancurkan Raka dari dalam."

Hening.

Suara tik-tok air mancur bambu terdengar sangat jelas di ruangan itu. Larasati menatap Vania, dadanya naik turun. Informasi itu terlalu berat, terlalu gelap, dan sangat berbeda dari dunia dongeng yang biasa dia bayangkan.

Tapi alih-alih menangis histeris atau pingsan seperti heroine sinetron pada umumnya, Larasati justru tersenyum. Senyum yang tipis, lelah, tapi penuh dengan rasa syukur yang mendalam. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena takut.

Dia tertawa kecil, lalu menutupi wajahnya dengan handuk. "Kak Van... kau ini... kau benar-benar aneh. Tapi kau menyelamatkan nyawaku."

Larasati menurunkan handuknya, menatap Vania dengan mata yang berbinar tulus. "Kau sahabat terbaikku, Kak Van. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu. Sungguh."

Vania membeku.

Tangannya yang tadi sedang memegang irisan mentimun berhenti di udara.

Friendzone achieved, batin Vania, sebuah senyum lebar perlahan terukir di wajahnya. Survival rate: 90%. Aku resmi masuk ke dalam 'Inner Circle' Female Lead. Tidak ada lagi drama rebutan pria. Tidak ada lagi saling sikut di depan cermin. Aku punya sekutu. Aku punya teman. Aku punya... sahabat.

Dia merasa sangat lega. Beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan. Dia tidak harus menjalani sinetron ini sendirian lagi.

"Kau juga sahabatku, Las," ucap Vania, suaranya melunak, tulus untuk pertama kalinya. "Kita akan melewati neraka keluarga ini bersama-sama."

Larasati tersenyum bahagia, memejamkan matanya kembali, membiarkan terapis melanjutkan pijatannya.

Namun, Vania tidak melihat apa yang terjadi di sudut ruangan yang paling gelap, di balik tanaman hias Monstera raksasa yang daunnya lebar dan rimbun.

Di sana, tersembunyi dalam bayang-bayang, berdiri Kevin.

Pria itu tidak bergerak. Dia berdiri dengan sempurna, tanpa suara, seolah dia adalah bagian dari dekorasi ruangan. Mantel hitamnya menyatu dengan kegelapan sudut ruangan.

Tapi wajahnya? Wajahnya tidak tenang.

Rahang Kevin mengeras begitu rupa hingga otot-otot di pipinya berkedut. Giginya mengeras, menekan satu sama lain dengan kekuatan yang bisa meretakkan enamel. Matanya yang gelap menatap Vania dan Larasati yang sedang tertawa dan berbagi rahasia di atas meja pijat.

Sahabat.

Kata itu bergema di kepala Kevin seperti suara bel kiamat.

Dia memanggilnya sahabat. Dia tertawa bersamanya. Dia berbagi rahasia bersamanya.

Kevin mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Kuku-kukunya yang rapi menekan telapak tangannya sendiri. Dia tidak peduli pada Larasati. Dia tidak peduli pada Tante Ratna atau Om Reza. Yang dia pedulikan adalah fakta bahwa Vania, wanita yang seharusnya hanya melihatnya sebagai "prioritas" atau "ancaman", kini memiliki orang lain. Orang lain yang membuatnya tersenyum tulus. Orang lain yang membuatnya merasa aman.

Dan Kevin, dengan segala egonya yang rusak dan obsesinya yang tak terkendali, tidak bisa menerima itu.

Dia tidak butuh sahabat, batin Kevin, tatapannya menggelap, penuh dengan posesivitas yang mengerikan. Dia hanya butuh aku.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!