~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Pesanan yang Terlambat (Revisi)
“Ndoro, kok masak pindang tulang? Mboten wonten tamu (tidak ada tamu).”
Raras berhenti mengaduk. Uap kaldu naik ke wajahnya. Jam dinding dapur menunjukkan setengah lima pagi, dan panci besar di atas tungku itu sudah terlalu penuh untuk satu orang.
“Raras nggak sadar, Mbok.”
“Ndoro bangun jam empat?”
“Dari kecil Raras bangun jam empat. Tiga tahun ini malah tambah rajin.” Ia mengangkat tutup panci. Bau asam jawa dan lengkuas memenuhi dapur. “Hari apa ini, Mbok?”
“Kamis, Ndoro.”
Sendok kayu di tangan Raras berhenti. Kamis. Tiap Kamis ia memasak ini sebelum subuh, mengisinya ke rantang hijau, lalu menitipkannya pada Wahyu. Tangannya bergerak sendiri, bahkan setelah semuanya.
“Ndoro?”
“Pindang ini bagikan ke orang-orang gudang saja, Mbok. Nanti siang.”
“Gudang mriki (gudang sini), nopo gudang liyo (atau gudang lain)?”
“Gudang sini.”
“Inggih. Kula mboten tanglet malih (saya tidak tanya lagi).”
Raras menuang sesendok kuah ke mangkuk kecil dan mencicipinya. Asamnya pas. Pedasnya tidak berlebih, persis takaran yang dulu Danang minta.
“Rasanipun pas, Ndoro.”
“Terlalu pas, Mbok.” Ia meletakkan mangkuk itu. Kasa di tangan kanannya lembap oleh uap, dan lukanya berdenyut. “Itu masalahnya.”
“Kamu tidak tidur, Nduk?” tanya Retno dari ambang pintu, kebaya rumahnya terselip asal. Ia tidak bertanya soal panci. “Wajahmu pucat.”
“Raras tidur, Bu. Cuma tidak nyenyak.”
“Kamu mimpi apa?”
“Mimpi tidak penting.” Raras menyembunyikan tangan kanannya di balik punggung. “Raras cuma kebanyakan mikir, Bu.”
“Mikir boleh. Tapi jangan sampai kamu lupa makan.”
Raras tertawa kecil, pendek, dan matanya panas. “Ibu juga selalu bilang begitu.”
“Karena memang begitu.” Retno mengambil dua mangkuk dari rak. “Ayo makan. Pindangnya banyak. Kita habiskan bersama.”
“Bagi dulu ke gudang, Bu.”
“Gudang bisa menunggu sampai kamu sarapan. Sini, Ibu ganti kasa tanganmu juga.”
“Raras bisa sendiri.”
“Kamu selalu bilang begitu.” Retno meraih tangannya tanpa menunggu izin, membuka simpul kasa itu perlahan. “Lihat, masih merah. Kamu pasti memegang panci tanpa kain.”
“Cuma sebentar, Bu.”
“Sebentar saja sudah bisa bikin lukamu tambah parah.”
Pukul tiga lewat lima, ponsel Pak Hadi bergetar di atas buku besar. Layarnya menampilkan satu nama.
“Pak Danang, Mbak.”
Pena di tangan Raras berhenti.
“Angkat, Pak. Seperti yang saya bilang tadi pagi.”
“Pakai pengeras suara, Pak.”
“Mbak yakin mau dengar?”
“Kalau tidak, saya malah terus menebak-nebak, Pak. Itu lebih melelahkan.”
Pak Hadi mengangguk dan menekan tombol hijau.
“Nuwun sewu, Pak Danang. Wonten ingkang saged kula bantu (ada yang bisa saya bantu)?”
“Pak Hadi, soal tawaran saya. Dua kali lipat, tunai di muka. Kenapa ditolak?”
Suara itu serak. Raras mengenalnya sampai ke tarikan napas di ujung kalimat, dan jemarinya mengepal di atas kertas.
“Mohon maaf, Pak. Meniko kebijakan enggal (ini kebijakan baru). Prioritas tidak lagi dijual kepada siapa pun. Pesanan Bapak dilayani sesuai antrean.”
“Dulu tidak begini.”
“Dulu aturannya berbeda, Pak. Sekarang semua pembeli diperlakukan sama.”
“Siapa yang memutuskan?”
“Keluarga, Pak.”
“Saya mau bicara langsung dengan orang yang memutuskan.”
“Beliau tidak bisa menerima telepon, Pak.”
“Kalau begitu, sambungkan saya ke Raras.”
Nama itu jatuh di ruangan begitu saja, lebih pelan dari kalimat-kalimat sebelumnya. Pak Hadi menoleh pada Raras. Raras menggigit bagian dalam pipinya, lalu menggeleng sekali.
“Saya mau bicara dengan Raras, Pak.”
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menyambungkan.”
Sambungan terputus. Kantor itu sunyi sampai terdengar tikus berlari di atas langit-langit.
“Dia belum makan,” kata Raras.
“Bagaimana Mbak tahu?”
“Kalau belum makan siang, suaranya selalu naik di ujung kalimat.” Ia merapikan kertas yang sebenarnya sudah rapi. “Dan dia tidak akan mengaku.”
“Mbak mau saya sambungkan kalau beliau menelepon lagi?”
“Tidak, Pak. Hari ini jangan.”
“Inggih, Mbak.”
Pukul empat lewat sedikit, Pak Slamet masuk dengan kemeja safari yang lengket oleh keringat.
“Nuwun sewu, Mbak. Ing pasar sampun rame (di pasar sudah ramai).”
“Soal apa, Pak?”
“Pak Danang membeli barang spot dari Koh Aseng. Tunai, harganya naik tiga puluh persen.”
“Siapa yang memberi kabar?”
“Mboten wonten, Mbak. Pasar nggih gadhah talingan (tidak ada, Mbak. Pasar juga punya telinga).”
“Pastikan kabar itu bukan dari kita, Pak. Jangan sampai ada omongan dari kantor ini yang tersebar di pasar atau di mana pun.”
“Inggih, Mbak. Saya pastikan.”
Ia menunduk lagi pada buku besar, tetapi angka-angkanya tidak mau bergerak.
“Tiga tahun saya menolong dia seperti ini, Pak. Cukup satu telepon ke Bapak, truk yang terlambat langsung jalan. Dulu saya pikir itu cinta.”
“Kalau sekarang, Mbak menganggapnya apa?”
“Sekarang saya mulai ragu. Jangan-jangan saya cuma terbiasa memanjakan dia.”
Pukul lima lewat sepuluh, ponselnya sendiri bergetar. Pesan dari Wahyu.
Mbak, maaf lancang. Pak Danang pakai kas operasional 160 juta buat beli stok spot dari Koh Aseng. Pak Joko dari Pak Hartono duduk di gudang, nunggu truk sampai jam enam. Mbak jangan bilang Pak Danang saya lapor.
Raras membacanya dua kali.
“Ada apa, Mbak?” tanya Pak Hadi.
“Mas Danang memakai kas perusahaan untuk membeli stok spot, Pak. Seratus enam puluh juta.”
“Uang keluarganya sendiri?”
“Uang Pak Surya.” Ia meletakkan ponsel di meja. “Dia tahu itu salah, tapi tetap melakukannya.”
“Mbak mau menelepon beliau?”
“Tidak.”
“Tapi kalau Pak Surya sampai tahu...”
“Saya tahu apa yang akan dilakukan Pak Surya.” Suaranya datar, tetapi tangan kirinya mengepal di pangkuan. “Saya khawatir, Pak. Dari tadi perut saya mual. Tapi kalau saya menelepon Danang sekarang, saya akan kembali melakukan hal yang sama seperti tiga tahun terakhir.”
“Inggih, Mbak.”
“Saya boleh menelepon Wahyu sebentar?”
Ia keluar ke teras kantor. Wahyu mengangkat pada dering pertama, suaranya berbisik.
“Mbak, saya di gudang belakang. Pak Danang nggak boleh tahu.”
“Kamu tidak salah, Wah. Tapi jangan lapor lagi soal urusan pribadinya. Itu bukan tugasmu.”
“Nggih, Mbak. Hari ini Kamis...”
“Iya, aku tahu.”
“Biasanya rantangnya...”
“Hari ini tidak ada rantang, Wah.”
“Nggih, Mbak.” Ia terdengar lebih kecil. “Tadi Pak Danang nemu permen jahe di tasnya. Lama banget dilihatin, terus dimasukin saku.”
Raras menutup mata. Permen itu ia selipkan di tas Danang sebulan lalu, dan lelaki itu tidak pernah menyadarinya sampai hari ini.
“Kamu makan dulu, Wah.”
Ia baru saja menutup telepon ketika Pak Hadi muncul di ambang pintu dengan ponsel di tangan.
“Pak Joko, Mbak. Dari Pak Hartono.”
Raras tegak.
“Itu orangnya Pak Hartono, Pak. Beliau pernah bilang saya paling sopan di meja makan. Jangan sampai beliau mengenali suara saya.”
“Saya yang jawab, Mbak?”
“Pakai pengeras suara. Saya tidak akan bicara.”
“Selamat sore, Pak Joko.”
“Selamat sore, Pak Hadi. Maaf mengganggu.” Suara lelaki paruh baya itu tenang dan terukur. “Saya sedang duduk di gudang Pak Danang. Beliau bilang stok yang datang berasal dari pemasok spot karena pemasok utamanya kesulitan memenuhi antrean. Apa benar kantor Bapak sedang mengalami kesulitan?”
Pak Hadi menoleh. Raras mengangguk.
“Jawab apa adanya, Pak. Jangan ditambah atau dikurangi.”
“Kami tidak mengalami kesulitan apa pun, Pak Joko,” kata Pak Hadi. “Pesanan Pak Danang dilayani sesuai antrean. Kalau lancar, dua hari.”
Hening di ujung telepon. Terdengar bunyi kursi plastik bergeser, lalu bunyi pena menggores kertas.
“Ada pesanan Pak Danang yang lain tertunda?”
“Hanya pesanan hari ini, Pak.”
“Siapa yang memutuskan soal prioritas?”
“Pemilik kantor, Pak.”
“Bisa saya bicara dengannya?”
“Beliau tidak menerima telepon.”
“Baik. Saya catat.” Pena itu bergores lagi. “Terima kasih, Pak Hadi. Itu yang ingin saya pastikan.”
Sambungan terputus. Pak Hadi menurunkan ponselnya.
“Pak Hartono akan tahu Pak Danang tidak jujur, Mbak.”
“Saya hanya menjawab pertanyaannya, Pak.”
“Inggih. Tapi jawaban itu bisa membuat masalah untuk beliau.”
“Saya tahu.” Raras menatap layar ponselnya yang gelap. “Saya tidak bisa terus berbohong demi dia, Pak. Selama ini saya selalu melakukannya.”
“Sekarang Mbak mau bagaimana?”
“Menunggu, Pak. Saya tidak mau menghukum dia, tapi saya juga tidak mau terus menolongnya. Kali ini saya hanya akan menunggu.”
“Inggih, Mbak. Kula tengga sareng (saya menunggu bersama).”
Ponselnya bergetar di meja. Layarnya menyala dengan dua kata yang dulu selalu membuatnya tersenyum: Mas Danang.
“Mbak?” bisik Pak Hadi.
“Biarkan, Pak.”
Dering pertama. Kedua. Raras menekan telapak tangan kirinya ke meja sampai buku jarinya memutih. Ketiga. Keempat. Kelima.
Layar itu gelap lagi. Di atasnya muncul satu baris kecil: satu panggilan tak terjawab.
“Beliau pasti ingin sekali bicara dengan Mbak.”
“Saya juga ingin bicara dengannya, Pak.” Raras membalik ponselnya. “Justru karena itu saya tidak mengangkatnya.”
Pak Hadi tidak langsung kembali ke buku besar. Ia berdiri di dekat meja, seolah menunggu Raras berubah pikiran. Raras meraih pena dan mencoba membaca angka-angka di hadapannya, tetapi pikirannya masih tertahan pada nama yang baru saja menghilang dari layar. Ia membiarkan ponsel itu tetap terbalik. Untuk pertama kalinya, rasa khawatir tidak harus berakhir dengan sebuah panggilan darinya.
lanjuut
🙏💪