Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Fajar baru saja menyingsing di rutan pagi ini, namun bagi Dikta Dirgantara, matahari pagi tidak pernah membawa kehangatan. Tubuhnya yang tergeletak di lantai sel isolasi yang basah kini menggigil hebat akibat demam tinggi yang mencapai puncaknya. Siksaan demi siksaan membuat kesadarannya berada di ambang kematian.
Klek...Sreeet...
Pintu jeruji besi sel isolasi digeser kasar. Sipir Heru masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur encer yang sudah dingin dan berbau asam. Ia menendang pelan pinggang Dikta yang terbaring lemah. Hanya terdengar suara tercekat karena suhu tubuhnya yang meningkat.
"Hei, Dirgantara! Bangun! Waktunya sarapan untuk mantan orang kaya," cibir Sipir Heru sembari meletakkan nampan itu di lantai dengan kasar.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan, Dikta memposisikan tubuhnya untuk bisa bersandar pada dinding beton yang ada di sana.
"Aku... tidak butuh... makanan busukmu," desis Dikta.
Sipir Heru tertawa sinis, berjongkok di depan Dikta sambil memainkan tongkat karetnya. "Kau tidak butuh makanan? Tapi kau butuh berita dari luar, bukan? Biar kuberi tahu perkembangan terbaru dari lawan bisnismu itu, Arman Wijaya."
Sipir Heru mencondongkan tubuhnya, menatap Dikta dengan pandangan mengejek. "Pagi ini, Wijaya Corporindo resmi meluncurkan megaproyek properti miliknya. Bagas, sebagai Direktur Utama yang baru, memimpin langsung peletakan batu pertama di depan ratusan kamera media nasional. Seluruh dana investasi dari investor asing sudah mulai masuk ke rekening Arman Wijaya hari ini. Mereka benar-benar menari di atas bangkai perusahanmu, Dikta."
Dikta memejamkan matanya sejenak. Mendengar nama proyek itu disebut, otak jeniusnya yang berada di balik tubuh yang hancur itu perlahan-lahan mulai memproses data. Rasa sakit di tubuhnya digantikan oleh kalkulasi bisnis yang dingin dan mematikan.
"Mereka... sudah menanamkan seluruh modalnya?" tanya Dikta dengan senyum menyeringai.
"Tentu saja! Siapa yang tidak mau berinvestasi pada proyek triliunan seperti itu? Terlebih lagi, Arini, wanita yang kau percayakan itu kabarnya sudah menyerah di tangan Bagas," sahut Sipir Heru seraya berdiri kembali. "Kau sudah kalah mutlak, Dirgantara. Kau miskin, cacat, dan dalam beberapa minggu kau akan dipindahkan ke Lapas Nusakambangan sebagai tahanan isolasi seumur hidup."
Dikta tidak membalas makian itu. Sebaliknya, sudut bibirnya yang pecah dan berdarah perlahan-lahan terangkat, membentuk sebuah senyuman sinis yang teramat dingin dan mengerikan. Senyuman khas seorang CEO Dirgantara Group saat ia tahu lawannya baru saja melangkah masuk ke dalam perangkap yang ia siapkan.
"Kenapa kau tersenyum, hah?! Kau sudah gila?!" bentak Sipir Heru yang merasa terintimidasi oleh senyuman berdarah Dikta.
"Heru..." panggil Dikta, mata elangnya yang sayu tiba-tiba berkilat dengan ketajaman yang membuat bulu kuduk sipir bayaran itu berdiri. "Katakan pada Arman Wijaya... nikmati... setiap rupiah yang masuk ke rekeningnya hari ini. Karena dalam tiga hari... saat Arini memberikan dokumen asli itu... seluruh uang investasi itu akan berubah menjadi jeruji besi yang lebih gelap dari sel ini untuknya."
"Kurang ajar! Masih bisa mengancam!" ketus Sipir Heru yang panik karena tidak bisa meruntuhkan mental Dikta.
Bugh
Satu hantaman tongkat karet mendarat telak di dada Dikta, membuat pria itu terbatuk darah dan kembali tersungkur di lantai. Ia menyeringai puas mendengar berita itu. Sipir Heru melangkah keluar dengan napas memburu. Ia membanting pintu besi sel isolasi dengan keras.
Sementara Marco, Hendra, dan Billy sedang sibuk mempersiapkan bukti lain yang kuat untuk membebaskan Dikta dari tuduhan. Ponsel di saku miliknya Marco berdering kuat. Pria itu melirik sebentar pada layar yang tak berkedip itu, lalu menggesernya. Salah satu anak buah lapangan yang ditugaskan memata-matai kediaman Bagas.
"Marco, ada situasi darurat. Penjagaan di kediaman Bagas mendadak diperketat dua kali lipat. Beberapa interogator bayaran Arman baru saja masuk ke dalam. Sepertinya Bagas mulai curiga kalau Arini menyembunyikan sesuatu dari mereka."
Rahang Marco mengeras. Kabar buruk itu datang bertubi-tubi tepat setelah anak buahnya yang menjaga kawasan Panti Asuhan mengabarkan bahwa putra Dikta kritis karena menolak susu formula dan hanya bisa menerima ASI Arini. Pilihan Marco kini terkunci mati. Mengeluarkan Arini dari sana hidup-hidup dengan perang terbuka atau menyelamatkan nyawa bayi Dikta yang kritis di sana.
"Tetap pantau posisi dan pastikan Bu Arini tetap hidup. Jangan bergerak sebelum ada perintahku," desis Marco tajam sebelum memutus panggilan.
Marco langsung berbalik menatap Hendra dan Billy. Aura di dalam ruangan itu mendadak mencekam.
"Hendra, tetap di sini, kunci sistem, dan selesaikan enkripsi berkas kejaksaan!" perintah Marco mutlak kepada sang penjaga keamanan. Ia kemudian menyambar tas taktis berisi tali rappelling dan perangkat peretas portabel. "Billy, siapkan mobil. Kita berangkat sekarang!""
"Kita mau ke mana, Marco? Bagaimana dengan Ibu Arini?" tanya Billy panik sembari menyambar kunci mobil pribadinya.
"Kita tidak mungkin ke sana sekarang," jawab Marco sembari melangkah cepat menuju pintu keluar. "Satu-satunya yang harus kita lakukan sekarang adalah menolong Den Arkan. Kita tak punya waktu lagi. Tujuan kita kediaman Pak Dikta. Aku pernah melihat Bu Arini menyimpan stok ASI perah di lemari pendingin khusus di sana."
Billy tertegun. "Penthouse itu kan sudah disegel dan dijaga ketat oleh orang-orang Bagas sejak aset Pak Dikta dibekukan?"
"Mereka menjaga pintu utama dan basemen, tapi mereka bodoh," ucap Marco dengan senyuman dingin yang mirip dengan tatapan elang Dikta. "Ada satu celah yang mereka lupakan. Akses ventilasi helipad di bagian atap penthouse. Kita akan menerobos masuk dari sana."