Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Langkah kaki Reyna menuruni tangga marmer utama mansion Arland terdengar begitu ringan, namun setiap pijakan membawa beban ingatan yang menghimpit dadanya. Dulu, ia akan berlari menuruni tangga ini dengan senyum lebar, bahagia karena dipanggil oleh ayahnya atau dijemput oleh tunangannya.
Sekarang, setiap anak tangga terasa seperti jalan menuju medan perang.
"Kau terlihat pucat, Reyna. Apa kau kurang tidur?" tanya Clarissa, adik tirinya, yang tiba-tiba merangkul lengan Reyna erat-erat. Aroma parfum manis Clarissa menguar, namun bagi Reyna, itu adalah bau racun yang manis. "Kalau kau sakit, kita bisa menunda pertemuan dengan Papa. Tapi kau tahu sendiri, kreditor sedang mendesak kita..."
Clarissa memainkan perannya dengan sempurna. Gadis manis yang peduli pada kakaknya, yang ikut memikirkan nasib perusahaan keluarga. Dulu, Reyna akan merasa bersalah dan buru-buru meyakinkan Clarissa bahwa ia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, Clarissa. Hanya sedikit kurang tidur karena memikirkan perusahaan," jawab Reyna datar. Ia tidak menoleh, membiarkan tangan Clarissa melingkar di lengannya seperti ular yang membelit mangsanya.
Di ujung tangga, Julian sudah menunggu. Pria itu mengenakan setelan jas biru navy yang membalut tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi, dan senyum hangatnya yang dulu membuat Reyna merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia kini terukir di bibirnya.
"Selamat pagi, cintaku," sapa Julian, mengecup punggung tangan Reyna. Matanya menatap Reyna dengan tatapan penuh kasih yang dibuat-buat. "Sarapan sudah disiapkan. Tapi setelah kita selesai dengan Papa, kita bisa pergi ke kafe favoritmu, kan?"
Reyna menatap tangan Julian yang masih memegang tangannya. Tangan yang lima tahun lagi akan mendorongnya ke lantai beton yang kotor. Tangan yang akan membelai rambut Clarissa sambil menandatangani surat kematiannya.
Dengan gerakan halus namun tegas, Reyna menarik tangannya dari genggaman Julian. "Kita bicarakan nanti, Julian. Papa sudah menunggu."
Kedua orang di hadapannya sedikit terkejut. Julian berkedip, senyumnya kaku selama sepersekian detik sebelum kembali normal.
Clarissa menukar tatapan dengan Julian, sebuah komunikasi diam-diam yang luput dari mata Reyna di masa lalu, namun kini terlihat begitu jelas baginya.
Ada yang berbeda dengan gadis ini, pikir mereka. Tapi mereka tidak akan membiarkan hal kecil merusak rencana besar mereka hari ini.
Mereka bertiga melangkah menuju ruang kerja Richard Arland di sayap timur mansion.
Pintu ganda berukir kayu jati dibuka. Ruang kerja itu berbau cerutu mahal dan kulit. Richard duduk di belakang meja mahoninya yang raksasa, menatap mereka dengan wajah tegas yang tidak menunjukkan emosi. Di atas meja, tepat di tengah, tergeletak sebuah map kulit berisi tumpukan dokumen.
"Ah, kalian sudah datang. Duduklah," perintah Richard, suaranya berat dan berwibawa.
Reyna duduk di kursi empuk di hadapan meja ayahnya. Julian duduk di sampingnya, sementara Clarissa memilih berdiri di belakang kursi Richard, memposisikan diri sebagai anak kesayangan yang berdiri di sisi sang ayah.
"Reyna," Richard memulai, menatap putrinya dengan tatapan yang seolah-olah ia sedang menatap aset, bukan darah daging.
"Kau tahu kondisi Arland Group saat ini. Investasi kita di luar negeri gagal, dan ada tuntutan hukum yang bisa membuat perusahaan bangkrut minggu depan. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan warisan ibumu, dan menyelamatkan kita semua, adalah dengan menggabungkan hak suaramu dengan milikku."
Richard menggeser map itu ke hadapan Reyna. "Tanda tangani surat kuasa ini. Ini hanya formalitas sementara, Reyna. Agar aku bisa mengambil alih keputusan dan menyelamatkan perusahaan. Setelah badai ini berlalu, semuanya akan dikembalikan padamu. Kau percaya pada Papa, kan?"
Kalimat yang sama. Nada yang sama. Persis seperti yang Reyna dengar lima tahun lalu.
Di kehidupan sebelumnya, Reyna akan langsung meraih pulpen emas di atas meja, menangis karena merasa menjadi beban bagi ayahnya, dan menandatangani dokumen itu tanpa membacanya.
Ia akan menyerahkan 40% saham mendiang ibunya dan satu-satunya peninggalan wanita yang melahirkannya kepada pria yang bahkan tidak pernah benar-benar mencintainya.
Reyna menatap map itu. Tangannya terulur.
Julian tersenyum lega. Clarissa menahan napas, matanya berkilat penuh antisipasi. Richard menyandarkan punggungnya, yakin bahwa putrinya yang bodoh itu akan menelan umpannya.
Namun, alih-alih meraih pulpen, jari-jari Reyna membuka map kulit itu. Ia menarik lembar pertama, lalu lembar kedua, matanya memindai kalimat demi kalimat dengan kecepatan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara kertas yang dibalik.
"Papa," ucap Reyna tiba-tiba. Suaranya tenang, memecah keheningan. "Ini bukan surat kuasa sementara."
Richard mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Reyna mengangkat kepala, menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan dan kebutuhan akan pengakuan, kini sedingin es. "Pasal 4, ayat 2. Ini bukan pendelegasian wewenang. Ini adalah akta pelepasan hak waris dan pengalihan kepemilikan saham secara permanen. Jika aku menandatangani ini, saham ibuku bukan 'dipinjam' untuk menyelamatkan perusahaan. Saham itu akan resmi menjadi milikmu. Aku tidak akan mendapatkannya kembali, bahkan jika Arland Group untung seratus kali lipat besok pagi."
Wajah Richard memucat. Senyum Julian lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Clarissa yang berdiri di belakang meja ikut terkesiap, matanya membelalak menatap Reyna seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa asing.