Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — Om Broto Melawan
Kabar tentang penyelidikan yang dilakukan tim legal Rangga rupanya sampai juga ke telinga Om Broto, entah bagaimana caranya—mungkin lewat salah satu koneksi bisnisnya yang masih terhubung dengan kantor notaris lama, atau mungkin lewat pegawai yang sudah memberikan kesaksian namun akhirnya bocor mulut.
Suatu sore, saat Kirana baru saja pulang dari kantor, ponselnya berdering menampilkan nomor tidak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya.
"Kirana," suara Om Broto terdengar dari seberang, kali ini jauh lebih tegang dan penuh ancaman dibanding pertemuan mereka sebelumnya. "Kamu pikir kamu bisa seenaknya nyelidikin urusan Om lewat kekasih kaya kamu itu?"
"Om udah tahu?" Kirana bertanya, mencoba terdengar tenang meski jantungnya berdebar kencang.
"Tentu aja Om tahu," Om Broto membalas tajam.
"Dan Om mau kasih tahu kamu, kalau kamu berani lanjutin ini ke jalur hukum, Om akan pastikan reputasi keluarga kamu—yang udah hancur itu—jadi makin hancur lagi. Om masih punya banyak koneksi yang bisa bikin hidup kamu dan pacar CEO kamu itu jadi runyam."
"Om ngancam saya?" Kirana bertanya tegas, meski tangannya sedikit gemetar memegang ponsel.
"Anggap aja ini peringatan terakhir," Om Broto berkata dingin. "Hentikan penyelidikan ini, atau kamu akan menyesal."
Panggilan itu terputus sepihak, meninggalkan Kirana yang berdiri mematung di tengah jalan menuju kosnya, jantungnya berdebar kencang antara marah dan takut.
Ia segera menghubungi Rangga, menceritakan semua ancaman yang baru saja ia terima. Suara Rangga di seberang telepon terdengar tegang mendengarnya, namun tetap berusaha tenang demi menenangkan Kirana.
"Jangan takut, Kirana. Ancaman kayak gitu biasanya cuma gertakan orang yang udah kepepet," Rangga berkata, meski nada suaranya menunjukkan kewaspadaan yang serius. "Saya akan tingkatkan keamanan buat kamu, dan saya akan bicara sama tim legal soal ancaman ini, mungkin bisa jadi bukti tambahan buat memperkuat kasus kita."
"Rangga, aku takut dia beneran ngelakuin sesuatu," Kirana berkata, suaranya bergetar menahan kekhawatiran. "Dia orang yang licik, aku udah liat sendiri buktinya dulu."
"Saya janji, saya nggak akan biarkan dia menyentuh kamu sedikit pun," Rangga menjawab tegas, tekadnya membara mendengar ancaman yang dilontarkan pada orang yang begitu ia cintai. "Malam ini saya jemput kamu, kamu tinggal di apartemen saya dulu sampai situasi ini lebih aman."
Beberapa hari kemudian, Om Broto yang merasa semakin terdesak mencoba strategi lain—ia menghubungi beberapa media untuk menyebarkan narasi balik, mencoba membangun citra bahwa dirinya adalah korban fitnah dari keponakannya sendiri yang "tidak tahu berterima kasih" setelah ia bantu selamatkan sebagian aset keluarga dari kebangkrutan total.
Namun kali ini, berbeda dengan insiden fitnah sebelumnya, Rangga dan tim legalnya sudah lebih siap. Mereka segera merilis bukti-bukti dokumen yang sudah dikumpulkan selama penyelidikan, termasuk kesaksian resmi dari mantan pegawai notaris, ke publik secara terkontrol melalui kuasa hukum mereka.
"Kami memiliki bukti kuat bahwa proses pengalihan aset keluarga Wibowo dilakukan dengan cara yang melanggar hukum, memanfaatkan kondisi rentan dari ahli waris yang saat itu masih berduka atas kehilangan orang tuanya," bunyi pernyataan resmi yang dirilis tim legal Rangga, didukung dengan dokumen-dokumen yang sudah diverifikasi keasliannya.
Narasi balik yang coba dibangun Om Broto pun runtuh dengan cepat, publik justru semakin bersimpati pada Kirana setelah mengetahui detail kecurangan yang menimpanya, sementara Om Broto justru semakin terpojok dengan bukti-bukti yang terus bermunculan.
Polisi akhirnya mulai turun tangan menyelidiki kasus ini secara resmi, setelah laporan pidana diajukan oleh kuasa hukum Kirana atas dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan yang dilakukan Om Broto.
"Kami akan segera memanggil pihak terlapor untuk dimintai keterangan," ujar salah satu petugas kepolisian yang menangani kasus tersebut dalam pertemuan dengan Kirana dan kuasa hukumnya.
Kirana mendengarkan penjelasan itu dengan perasaan campur aduk—lega karena akhirnya proses hukum resmi dimulai, namun juga cemas memikirkan panjangnya proses yang mungkin harus ia lalui ke depannya.
"Kamu udah berani banget sampai sejauh ini, Kirana," Rangga berkata malam itu, memeluk Kirana yang tampak lelah setelah seharian mengurus berbagai keperluan hukum. "Saya bangga sama kamu."
"Aku nggak akan bisa sampai di titik ini tanpa kamu, Rangga," Kirana berkata tulus, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Makasih udah selalu ada, di setiap langkah perjuangan ini."
"Saya akan selalu ada, Kirana," Rangga menjawab lembut, mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Sekarang, kita tinggal tunggu proses hukum berjalan, dan pastikan keadilan yang seharusnya kamu dapatkan sejak dulu, akhirnya benar-benar terwujud."
Malam itu, meski masih ada kecemasan tersisa mengenai proses hukum panjang yang harus mereka lalui, Kirana merasakan ketenangan yang begitu berharga—ketenangan yang datang dari keyakinan bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian, dan bahwa kebenaran, cepat atau lambat, pasti akan menemukan jalannya untuk terungkap.
ini novel saya pertama🥰🥰