Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUNGA MAWAR ISTANA DAN BENIH SANG PENERUS
Badai politik dan ancaman terorisme yang selama berturut-turut mengepung kehidupan keluarga Vardhana akhirnya mereda sepenuhnya. Penangkapan Putri Elena dan adiknya oleh Baret Hitam serta ekstradisi mereka ke Mahkamah Internasional menjadi penutup sempurna atas seluruh konflik dunia bawah dan persaingan darah murni. Kini, kedamaian sejati menaungi Istana Palazzo dan seluruh sudut Kerajaan.
Pagi itu, udara musim semi berhembus lembut membawa aroma wangi Bunga Mawar Putih yang tumbuh subur di taman dalam istana. Di selasar pualam lantai dua yang menghadap langsung ke arah air mancur utama, Arumi duduk di sofa rotan berbalut gaun muslimah berwarna lavender lembut.
Wajah Arumi tampak sedikit pucat, namun binar di matanya memancarkan kehangatan jiwa yang jernih. Di sebelahnya, Umi Fatimah sedang menyeduh teh herbal hangat, sementara Abi Vardhana duduk membaca buku agama dengan tenang.
"Arumi, Nak..." panggil Umi Fatimah lembut seraya menyerahkan cangkir teh porselen. "Minumlah teh jahe hangat ini. Sejak kemarin Umi perhatikan kamu sering mual dan tampak kurang fit."
Arumi tersenyum manis, menerima cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan. "Terima kasih, Umi. Mungkin Arumi hanya sedikit lelah karena ketegangan beberapa hari terakhir saat mendampingi Mas Zean."
"Seorang Ratu memang memiliki beban pikiran yang berat, Nak," timpal Abi Vardhana seraya menutup bukunya. "Namun sekarang seluruh musuh telah ditumpas oleh suamimu. Sudah saatnya kamu dan Zean lebih banyak beristirahat dan menikmati ketenangan ini."
TAP... TAP... TAP...
Langkah kaki tegap yang konstan dan berwibawa terdengar mendekati selasar. Raja Zean melangkah masuk dengan kemeja kain hitam santai yang digulung hingga ke siku, menampilkan lengan tegap beruratnya. Sisi dingin dan kejam yang biasanya ia tunjukkan di hadapan musuh-musuh dunia bawah seketika meleleh menjadi kelembutan tak bertepi saat matanya menatap sosok Arumi.
Zean membungkuk tipis memberi penghormatan hangat pada Abi Vardhana dan Umi Fatimah, sebelum akhirnya duduk di samping istrinya.
"Bagaimana perasaanmu pagi ini, Ratuku?" bisik Zean rendah seraya menyentuh dahi Arumi dengan punggung tangannya yang hangat untuk memeriksa suhu tubuh sang istri.
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu tegap Zean dengan nyaman. "Sudah lebih baik, Mas. Hanya saja tadi pagi kepalaku sedikit pusing saat baru bangun tidur."
Mata abu-abu Zean memancarkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. Pria penguasa itu merangkul pinggang Arumi protektif. Ia melirik ke arah Felix yang berdiri siap di ambang pintu selasar.
"Felix, panggil Dokter Spesialis Istana ke ruang pemeriksaan pribadi sekarang juga," perintah Zean tegas.
"Baik, Yang Mulia," sahut Felix sigap lalu berbalik mengurus panggilan medis.
"Mas Zean..." bisik Arumi pelan, menepuk lembut tangan suaminya. "Tidak perlu berlebihan, Mas. Ini hanya lelah biasa."
Zean menunduk, mencium pelipis Arumi dengan kelembutan yang dalam. "Kesehatanmu adalah prioritas tertinggilu di dunia ini, Arumi. Aku tidak akan membiarkan ada rasa sakit sekecil apa pun mengganggumu."
Umi Fatimah dan Abi Vardhana saling bertukar pandang, menyunggingkan senyuman lega melihat betapa dalamnya rasa cinta dan komitmen ketulusan Raja Zean dalam menjaga putri mereka.
Satu jam kemudian...
Di dalam ruang medis pribadi Palazzo yang dilengkapi peralatan kesehatan mutakhir, suasana terasa hening dan penuh kehangatan. Dokter senior istana—seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun—selesai melakukan pemeriksaan darah dan ultrasonografi pada Arumi.
Zean berdiri tegap di samping tempat tidur pemeriksaan, menggenggam erat jemari Arumi tanpa pernah melepaskannya. Abi Vardhana dan Umi Fatimah berdiri cemas menantikan hasil evaluasi medis.
Dokter senior itu mematikan monitor pemindai, lalu berbalik menatap Raja Zean dan Ratu Arumi dengan senyuman yang teramat lebar dan penuh haru.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Zean dengan suara bass yang terdengar sedikit tegang.
Dokter senior membungkuk hormat dengan takzim. "Selamat, Yang Mulia Raja Zean, Yang Mulia Ratu Arumi... Kondisi Ratu sama sekali tidak menderita sakit atau kelelahan berbahaya."
Dokter itu menunjukkan lembar grafik analisis laboratorium dan foto cetak kecil dari monitor pemindai.
"Gejala mual, pusing, dan lelah yang dialami Ratu Arumi adalah tanda-tanda alami dari kehamilan awal," lanjut sang dokter penuh suka cita. "Usia kandungan Ratu Arumi saat ini telah memasuki minggu kelima. Janin kecil di dalam rahim Ratu berkembang dengan sangat sehat dan kuat!"
DEG!
Kata-kata dokter istana itu seolah membekukan waktu di dalam ruangan medis!
Arumi terperanjat pelan, matanya berbinar kabur oleh genangan air mata kebahagiaan yang tak terbendung. Jemari lentiknya perlahan turun mengusap perut ratanya yang kini menyimpan benih kehidupan baru—buah cinta sucinya bersama Raja Zean.
"A-aku... hamil?" bisik Arumi penuh rasa haru dan tak percaya.
Umi Fatimah seketika meneteskan air mata syukur, mengelus dadanya dan merangkul pundak suaminya. "Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah..." ucap Umi Fatimah dan Abi Vardhana serentak dengan nada serak memuji keagungan Tuhan.
Sementara itu, Raja Zean—pria penguasa Baret Hitam yang tak pernah bergeming di hadapan ribuan musuh bersenjata—tertegun kaku. Pria tegap itu menatap lembar foto kecil janin di tangan dokter, lalu beralih menatap wajah cantik istrinya yang berderai air mata haru.
Sesuatu yang teramat hangat dan dahsyat meledak di dalam dada Zean. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mata abu-abu dingin Sang Raja berbinar basah oleh air mata kebahagiaan yang teramat tulus.
Zean berlutut di samping tempat tidur pemeriksaan Arumi. Pria paling berkuasa di dunia itu menggenggam kedua tangan Arumi, lalu mencium perut Arumi dengan kelembutan penuh rasa hormat dan syukur yang mendalam.
"Terima kasih, Ratuku..." bisik Zean dengan suara serak yang sarat akan emosi cinta mendalam. "Terima kasih telah memberiku anugerah terindah ini..."
Arumi menunduk, mengusap rambut tegap suaminya seraya tersenyum bahagia di tengah air matanya. "Ini adalah karunia Allah untuk cinta kita, Mas Zean..."
Zean bangkit, merengkuh tubuh Arumi ke dalam pelukan hangatnya yang sangat protektif, seolah ingin melindungi Arumi dan calon buah hati mereka dari seluruh bahaya dunia.
Kabar bahagia mengenai kehamilan Ratu Arumi menyebar cepat bagaikan angin segar ke seluruh penjuru istana dan jajaran tertinggi komando Baret Hitam. Felix dan seluruh perwira elit menyambut kabar calon penerus takhta itu dengan sukacita dan penghormatan militer tertinggi.
Malam harinya...
Ruang makan pribadi Palazzo diselimuti oleh suasana pesta keakraban keluarga yang amat hangat. Meja panjang dihiasi oleh hidangan makanan sehat khusus untuk menjaga nutrisi Arumi.
Zean duduk di samping Arumi, tidak pernah melupakan tugasnya sebagai suami yang telaten. Pria tegap itu menyendokkan sup sayuran hangat dan memotongkan daging lembut untuk Arumi, memastikan istrinya mendapatkan semua asupan terbaik.
"Mas... aku bisa makan sendiri," bisik Arumi sedikit malu-malu melihat perhatian ekstra suaminya di depan Abi dan Umi.
Zean menyunggingkan senyuman tipis yang amat tampan, menyodorkan sendok tersebut ke bibir Arumi. "Mulai hari ini, tugas utamaku adalah memanjakanmu dan memastikan calon anak kita tumbuh dengan sempurna."
Abi Vardhana tersenyum penuh kearifan melihat interaksi bahagia anak dan menantunya.
"Zean, Arumi..." panggil Abi Vardhana dengan suara tenang. "Anak adalah amanah agung dari Allah. Kebahagiaan dan kedamaian yang kalian rasakan saat ini adalah bukti nyata dari kesabaran dan keteguhan hati kalian melewati berbagai cobaan dan fitnah di masa lalu."
Arumi menerima suapan dari suaminya, menatap ayahnya dengan rasa hormat. "Iya, Abi. Arumi sangat bersyukur."
"Penyatu darah keluarga Vardhana dan keteguhan Baret Hitam..." panggil Umi Fatimah lembut. "Anak ini kelak akan tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana, adil, dan dicintai oleh rakyatnya."
Zean menggenggam tangan Arumi di bawah meja, meremasnya lembut. "Aku akan memastikan seluruh dunia menjadi tempat yang aman dan damai untuk tumbuh kembang anak kita."
Late night...
Di kamar tidur utama Palazzo, suasana terasa tenang dan syahdu. Tirai sutra putih melambai lembut ditiup angin malam yang hangat.
Arumi berdiri di dekat jendela balkon, mengenakan piyama sutra putih dengan rambut terurai indah. Tangannya mengusap lembut perutnya dengan senyuman manis yang tak pernah pudar.
Sebuah lengan tegap melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Zean merapatkan tubuhnya, meletakkan telapak tangan besarnya di atas tangan Arumi yang berada di perut sang istri.
"Mas masih merasa seperti bermimpi, Arumi..." bisik Zean rendah di leher Arumi, menghirup aroma wangi melati yang menenangkan dari tubuh istrinya. "Di dalam rahimmu... ada darah dagingku yang sedang tumbuh."
Arumi memutar tubuhnya, melingkarkan tangannya di leher tegap Zean, menatap mata abu-abu suaminya yang kini dipenuhi kehangatan cinta yang hakiki.
"Ini nyata, Mas Zean," panggil Arumi lembut. "Tuhan telah memberikan kita ikatan yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh siapa pun."
Zean menunduk, mencium bibir Arumi dengan kehangatan cinta yang begitu dalam dan penuh kerinduan. Ciuman yang menyegel janji perlindungan abadi seorang suami dan ayah bagi kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Di bawah pendaran cahaya rembulan yang menyinari takhta sakral Kerajaan, Raja Zean dan Ratu Arumi menyongsong babak baru kehidupan mereka—sebuah era kedamaian, kejayaan, dan penantian manis lahirnya calon penerus takhta yang akan mengukir sejarah baru di dunia.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/