NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil yang menyakitkan

“Lain kali, jangan ceroboh!” ujar Arsen dengan nada dingin. Pria itu bahkan tidak meluangkan waktu untuk menatap Keira lebih lama sebelum berbalik dan pergi begitu saja, seolah kejadian yang baru saja berlangsung hanyalah masalah sepele yang tidak layak dipikirkan.

Keira tetap terdiam di tempatnya.

Ia tidak menjawab sepatah kata pun, apalagi berusaha menahan kepergian Arsen. Tatapannya hanya mengikuti punggung pria itu yang semakin menjauh, sementara hatinya terasa kosong dan hampa.

Melihat keadaan Keira, Rina segera menghampirinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

“Keira, tubuhmu basah kuyup begini. Ayo, kita ganti baju dulu,” ajaknya lembut sembari merangkul bahu Keira, berusaha memberikan sedikit kehangatan kepada wanita itu.

Keira menurut tanpa membantah. Ia mengikuti langkah Rina dengan tubuh lemas, meninggalkan tepian sungai yang menjadi saksi kejadian menyakitkan tersebut.

Sementara itu, Kevin kembali melanjutkan pencarian. Kekesalan masih tergambar jelas di wajahnya, tetapi ia memilih menyimpannya sendiri dan kembali menyusuri aliran sungai. Harapannya hanya satu, Dafa bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat.

..

Di dalam kamar, Keira duduk termenung di tepi ranjang. Tubuhnya masih sesekali menggigil, meskipun rambutnya sudah mulai mengering. Rasa dingin seolah meresap hingga ke tulang, bercampur dengan perasaan kacau yang semakin sulit ia kendalikan.

Kedua tangannya melingkari tubuhnya sendiri, seakan-akan ia sedang berusaha memberikan kehangatan yang tidak ia dapatkan dari siapa pun.

Begitu dinginnya sikap pria itu... gumamnya dalam hati.

Perlahan, matanya mulai terasa panas. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi mendesak keluar, tetapi bayangan kejadian di sungai kembali memenuhi pikirannya.

Semakin jelas saja kalau dia memang tidak pantas kuanggap sebagai seorang suami.

Keira menunduk. Napasnya tertahan ketika ingatannya kembali pada saat dirinya terjatuh ke sungai.

Arsen melihat semuanya. Pria itu menyaksikan dirinya berada dalam bahaya, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menolongnya.

Tidak bergerak sedikit pun. Tidak menghampirinya. Bahkan tidak menunjukkan kepedulian seolah nyawanya berada dalam ancaman.

Bagaimana bisa dia mempermainkan perasaanku sampai sejauh ini? lanjutnya getir.

Jari-jarinya mengepal di atas lutut. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ungkapkan, begitu banyak kekecewaan yang ingin ia luapkan, tetapi semuanya hanya terjebak di dalam dadanya.

Nyawaku hampir saja melayang, tetapi dia sama sekali tidak peduli...

Akhirnya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Disusul tetesan berikutnya.

Keira menundukkan kepala, membiarkan air matanya mengalir tanpa berusaha menghentikannya lagi. Ia sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat, terlalu sakit untuk kembali menyangkal kenyataan yang perlahan mulai ia terima.

Bukan hanya kejadian di sungai yang membuat hatinya hancur.

Ada luka-luka sebelumnya yang kini kembali terbuka, membuat perasaannya semakin tidak menentu.

Ciuman dan sentuhan Arsen kemarin sempat membuatnya goyah. Untuk sesaat, Keira bahkan mulai berpikir bahwa mungkin masih ada sesuatu di antara mereka yang bisa diperbaiki. Mungkin, di balik sikap dingin pria itu, masih tersimpan perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ia sempat meragukan keputusannya sendiri untuk bercerai. Namun, kejadian hari ini seolah menghancurkan semua harapan itu dalam sekejap.

Kini, semua perhatian yang sempat ia rasakan terasa seperti kebohongan. Ia tidak tahu apakah Arsen benar-benar memiliki perasaan terhadapnya atau hanya sedang mempermainkan hatinya tanpa memikirkan akibatnya.

Keira mengusap pipinya, tetapi air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Sepertinya, perpisahan memang satu-satunya jalan yang tersisa.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

'Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani pernikahan seperti ini. Aku tidak ingin terus bertahan dalam hubungan yang hanya membuatku terluka.'

Dengan gerakan kasar, Keira menyeka air mata di pipinya. Ia kemudian mengangkat wajah, mencoba mengumpulkan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa melepaskan Arsen mungkin jauh lebih baik daripada terus berharap pada pria yang bahkan tidak mampu menunjukkan kepedulian ketika dirinya berada dalam bahaya.

Meski hatinya masih terasa sakit, Keira tahu bahwa ia tidak bisa terus membiarkan perasaannya menjadi alasan untuk bertahan.

Ia harus belajar melepaskan. Dan kali ini, ia ingin benar-benar mengakhiri semuanya.

..

Menjelang sore, suasana di sekitar sungai semakin dipenuhi ketegangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Waktu seolah berjalan begitu lambat, sementara harapan yang sejak pagi mereka pertahankan sedikit demi sedikit mulai terkikis. Wajah-wajah kelelahan tampak di sepanjang tepian sungai. Suara orang-orang yang memanggil nama Dafa pun tidak lagi sekeras sebelumnya, seakan mereka mulai takut menghadapi kenyataan pahit yang sejak tadi berusaha disangkal.

Tiba-tiba, sebuah teriakan menggema dari arah hilir sungai.

“Ketemu! Dafa ditemukan di sini!”

Seketika, semua orang menoleh ke arah sumber suara. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas menuju lokasi tersebut, termasuk Arsen yang sejak tadi terus menyusuri aliran sungai tanpa mengenal lelah.

Langkah Arsen semakin cepat. Napasnya memburu, sementara jantungnya berdegup kencang. Di dalam benaknya, masih tersisa secercah harapan bahwa Dafa akan ditemukan dalam keadaan selamat.

Namun, harapan itu seketika terasa goyah ketika ia tiba di lokasi.

Tubuh Dafa telah terbaring di tepian sungai dalam keadaan basah kuyup dan tidak menunjukkan pergerakan sedikit pun.

Beberapa warga berdiri mengelilinginya dengan raut wajah tegang. Salah seorang di antara mereka berjongkok, berusaha memeriksa kondisi Dafa dengan hati-hati. Semua orang menahan napas, menunggu hasil pemeriksaan tersebut dengan perasaan yang campur aduk.

Sayangnya, tak lama kemudian, wajah pria itu berubah muram. Ia menggelengkan kepala secara perlahan, lalu menunduk dengan sorot mata penuh belas kasihan.

“Dia sudah tidak ada,” ucapnya lirih.

Kalimat singkat itu seolah merenggut seluruh suara dari tempat tersebut.

Semua orang membeku di posisi masing-masing. Tidak ada yang langsung mampu menerima kenyataan yang baru saja mereka dengar.

Rina spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, sementara tubuhnya bergetar menahan kesedihan yang begitu mendalam.

Di sisi lain, beberapa mahasiswa mulai terisak. Suara tangisan mereka perlahan menyebar, memecah keheningan yang menyelimuti tepian sungai.

Kevin berdiri kaku dengan mata membelalak. Ia menatap tubuh Dafa seolah masih berharap sahabatnya itu akan tiba-tiba membuka mata dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Namun, kenyataan di hadapannya terlalu menyakitkan untuk diabaikan.

“Enggak...” bisiknya dengan suara bergetar.

Kevin menggelengkan kepala berkali-kali, berusaha menyangkal apa yang baru saja didengarnya.

“Tadi dia masih sama gue...” lanjutnya terbata-bata.

Suaranya pecah di penghujung kalimat. Kedua matanya mulai memerah, dan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang beberapa waktu lalu masih berada di sisinya kini akan pergi untuk selamanya.

Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan penghiburan. Mereka semua sedang berjuang menghadapi kehilangan yang sama, mencoba memahami kenyataan pahit yang datang begitu mendadak.

Sementara itu, Arsen berdiri beberapa langkah dari tubuh Dafa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia tidak bergerak, tidak bertanya, bahkan tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Tatapannya terpaku pada tubuh yang terbujur kaku di hadapannya, sementara wajahnya tampak begitu kosong hingga sulit menebak apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam pikirannya.

Di tengah tangisan dan kesedihan orang-orang di sekelilingnya, Arsen tetap membisu.

Seolah-olah ia sendiri belum mampu memahami kenyataan bahwa pencarian yang mereka lakukan sejak pagi telah berakhir dengan hasil yang begitu menyakitkan.

1
Praja Nasution
lanjut trus thor!
Hosniyah Niyah
mantap lanjutkan Thor, cerita x bagus ❤❤❤💞💞💞🥰🥰🥰👌👌👌👍👍👍
Praja Nasution
Arsen ini 😭😭
Praja Nasution
❤❤❤
Praja Nasution
Kasihan kmu Kevin❤
Praja Nasution
Itu mahasiswa nya gak ada yang curiga sama sikap Arsen ke Keira kah? 😭
Praja Nasution
gengsi + gengsi, kpn jadi pasangan akur itu? 🤣
Praja Nasution
sengaja banget sih kamu Keira buat Arsen cemburu🤣
Praja Nasution
barang apa ya itu🤣🤣
Praja Nasution
cuek² gitu, ternyata Arsen perhatian yaaw🤭
Praja Nasution
bagus thor
Feronika Sari
pls update lgsung 5 eps kaa huhu seru bgt
isd: nanti author usahain ya, tapi kayaknya paling banyak 3 eps aja ya 😭😭
total 1 replies
Praja Nasution
lanjut terus ya thor
Praja Nasution
❤💪❤
Praja Nasution
❤❤❤
Praja Nasution
💪💪💪
Praja Nasution
bagus ❤
Feronika Sari
kaa sering up dong huhu galau nunggunya
isd: tiap hari author bakalan up kok, tenang aja jangan galau, intinya stay aja beb, dan jan lupa dukung author terus ya, Love you all❤😭
total 1 replies
Praja Nasution
😍😍❤
Praja Nasution
❤😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!