NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pengakuan di Lembah Tersembunyi

Pintu gerbang batu di belakang mereka tertutup perlahan seketika mereka melangkah keluar, seolah hidup sendiri. Suara gesekan batu yang berat bergema pelan, lalu lenyap, menyisakan keheningan yang terasa menatap mereka dari segala arah.

Ling Yue menarik napas panjang. Udara di sini terasa berbeda—lebih ringan, beraroma bunga yang tak dikenal, dan ada getaran halus yang menyentuh kulit, seolah tempat ini sendiri bernapas. Namun tidak ada yang menyambut. Warga yang tadi terlihat dari kejauhan kini telah menghilang; pintu-pintu tertutup, jalan setapak kosong, hanya angin yang bergerak di antara rumah-rumah batu.

"Mereka takut," bisik Ling Yue. "Atau sedang menilai kita."

Li An melepaskan pedangnya sedikit dari sarung, lalu membiarkannya kembali tertutup. "Kita datang tanpa panggilan, membawa berita buruk, dan identitas yang meragukan. Wajar jika mereka waspada."

Mereka berjalan perlahan menuju bangunan tertinggi di tengah lembah—sebuah aula besar yang dibangun menyatu dengan dinding tebing, atapnya berbentuk kelopak bunga yang mekar. Belum sampai di sana, sepasang sosok melangkah keluar menghadang jalan.

Pertama adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam bercampur perak, tatapannya tajam namun matanya menyimpan kelelahan yang dalam. Di sebelahnya berdiri pemuda bertubuh tegap, tangannya mencengkeram tongkat kayu berujung permata—penjaga lembah ini.

"Siapa kalian?" suaranya tenang namun tegas, tanpa menyambut. "Dan bagaimana kalian bisa menemukan jalan yang dikatakan hilang dari peta dunia?"

Ling Yue melangkah maju, menegakkan tubuh. "Namaku Ling Yue. Putri dari... Mei Lian, putri ketua klan terakhir." Ia membuka jubahnya, mengeluarkan kelopak bunga bercahaya yang kini bersinar terang di telapak tangannya. "Dan aku membawa pesan dari Rouran."

Nama itu membuat kedua orang itu terkejut. Wanita itu melangkah maju, matanya terpaku pada cahaya di tangan Ling Yue. "Rouran... dia masih hidup?"

"Dia mengorbankan dirinya agar kami bisa lari," jawab Ling Yue pelan namun tegas. "Dia menyatu dengan kekuatan kuno agar gerbang tidak jatuh ke tangan musuh. Dan dia menyuruh kami ke sini—mencari kalian, memperingatkan bahwa bahaya sudah di ambang pintu."

Wanita itu menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. "Masuklah. Kita bicarakan di dalam."

 

Aula itu luas dan sejuk, diterangi cahaya lembut yang memancar dari dinding. Di ujung ruangan, di atas singgasana batu sederhana, wanita itu duduk, sementara Li An dan Ling Yue berdiri di hadapannya.

"Aku adalah pengurus tertinggi di sini," ucapnya pelan. "Namaku Bai Su. Adik dari ibumu, Ling Yue."

Ling Yue tertegun. "Bibi..."

Bai Su mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca. "Ibumu pergi bertahun-tahun lalu, membawa Rouran danmu, berharap bisa menyelamatkan klan dengan cara yang berbeda. Hanya aku yang tetap, menjaga sisa-sisa kami yang tersembunyi di sini." Ia menatap Li An dengan tatapan yang berubah dingin. "Dan kau... kau membawa darah yang tidak seharusnya melangkah ke tanah ini."

Li An menegakkan tubuh. "Aku tidak menyangkalnya. Namaku Li An. Putra keponakan Paman Gao—penasihat istana yang kini memimpin pasukan mengejar kalian."

Bai Su tersenyum pahit. "Jadi benar. Dia yang selama ini mengincar rahasia klan kami. Dia yang mendorong pernikahan ini, bukan? Bukan untuk menyatukan dua keluarga, melainkan untuk menguasai apa yang dijaga keluarga kami."

"Dia mengirimku untuk menjaga Ling Yue," kata Li An pelan. "Tapi seiring waktu... aku menyadari tujuannya berbeda. Ia tidak ingin melindungi Ling Yue. Ia ingin memanfaatkannya." Ia menatap Ling Yue sekilas, lalu kembali menatap Bai Su. "Dan sekarang aku berdiri di sini bukan atas perintahnya, melainkan atas kemauanku sendiri. Aku mencintai Ling Yue. Dan aku akan melindunginya—dan kalian—dari dia."

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Bai Su menatapnya tajam, mencari kebohongan di matanya.

"Kata-kata itu indah," ucapnya akhirnya. "Tapi buktinya?"

Sebelum Li An menjawab, suara tawa dingin terdengar dari pintu masuk aula.

"Biarkan yang membuktikan, Kakak Ipar."

Semua orang menoleh. Di ambang pintu berdiri sosok yang membuat darah Ling Yue membeku—Paman Gao, jubah ungunya berkilau di bawah cahaya, senyumnya tipis dan dingin. Di belakangnya, puluhan prajurit berbaris, siap menyerbu kapan saja.

"Kau..." Li An melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang pedang. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Paman Gao tertawa pelan, melangkah masuk seolah itu rumahnya sendiri. "Kau pikir aku membiarkanmu pergi begitu saja, Keponakanku sayang? Aku tahu setiap langkahmu. Setiap kata yang kau ucapkan. Termasuk pengakuan cintamu tadi." Tatapannya beralih ke Ling Yue. "Dan kau, Putri Kecil. Kau pikir giok itu hanya menuntun? Ia juga memanggilku."

Ling Yue merasakan kelopak bunga di dadanya berdenyut cepat, cahayanya meredup seolah ketakutan. "Apa yang kau inginkan?"

"Sederhana," jawab Paman Gao tenang. "Serahkan kekuatan itu. Bergabunglah denganku. Bersama-sama kita akan membangun kerajaan baru, di bawah kepemimpinanmu—dan pengawasanku."

"Kekuatan itu bukan milik siapa pun untuk diambil," potong Bai Su bangkit berdiri. "Itu milik tempat ini, milik semua makhluk yang hidup damai di sini. Dan kami tidak akan menyerahkannya pada orang yang haus kekuasaan sepertimu."

Paman Gao menghela napas seolah kecewa. "Sayang sekali. Aku berharap tidak perlu menggunakan kekerasan." Ia memberi isyarat dengan tangan. "Tapi jika kalian menolak... maka lembah ini akan menjadi makam terakhir kalian."

Li An melangkah ke samping Ling Yue, pedangnya terhunus. "Paman, aku tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh."

Paman Gao menatapnya sedetik, lalu tersenyum dingin. "Kau akan melawanku? Anak yang kubesarkan sendiri? Baiklah... mari kita lihat seberapa kuat kesetiaan barumu ini."

Saat ia melangkah maju, tanah di bawah aula bergetar pelan. Cahaya dari dinding berkedip, dan dari balik pilar-pilar batu, muncul sosok-sosok lain—bukan prajurit, melainkan warga lembah yang telah siap mempertahankan rumah mereka, memegang senjata sederhana namun tatapan mereka teguh.

Ling Yue merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Kelopak bunga di dadanya kini berdenyut kuat, bukan lagi ketakutan, melainkan kekuatan yang membangkit. Ia melangkah maju, berdiri di depan semua orang, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Berhenti!" suaranya bergema di seluruh aula, jernih dan tegas.

Semua mata tertuju padanya.

"Kau menginginkan kekuatan ini, Paman Gao?" ucapnya lantang. "Kau mengejarnya, membunuh, mengkhianati, berpura-pura... tapi kau tidak mengerti apa sebenarnya kekuatan itu."

Ia membuka telapak tangannya, dan kelopak bunga itu melayang naik, memancarkan cahaya yang begitu terang hingga membuat semua orang menyipitkan mata.

"Kekuatan ini bukan senjata. Ia adalah perisai. Ia tidak tunduk pada siapa pun yang ingin menguasai, melainkan pada siapa yang melindungi."

Cahaya itu menyebar, menyelimuti seluruh lembah, membentuk kubah pelindung di atas rumah-rumah dan warga yang berdiri teguh.

"Dan kau tidak akan pernah mendapatkannya."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!