NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 — Ujian Kehendak

"Ujian terhadap jiwa," Kael mengulang kata-kata roh tertua itu, mencoba memahami apa yang sebenarnya diharapkan darinya. "Bagaimana aku bisa membuktikan hal seperti itu?"

"Duduklah di hadapan altar," roh tertua menginstruksikan, mengarahkan tangannya yang transparan ke arah tempat suci di tengah ruangan. "Dan biarkan kami melihat ke dalam esensi dirimu yang sesungguhnya."

Kael melangkah maju dengan hati-hati, duduk bersila di depan altar tempat pedang kuno tertancap, fragmen keemasan berdenyut lembut di ujung gagangnya. Ketujuh roh itu mengelilinginya, membentuk lingkaran, dan cahaya keemasan mulai menyelimuti seluruh ruangan.

"Tutup matamu," roh tertua berkata, "dan biarkan kami melihat perjalananmu yang sesungguhnya."

Kael menutup matanya, dan seketika, dia merasakan kesadarannya ditarik ke dalam semacam trans, gambaran-gambaran dari masa lalunya mulai muncul seperti proyeksi hidup di hadapannya—kematiannya di dunia lama, pertemuan dengan sang dewa, kebangkitannya di Death Forest, pertarungan-pertarungan awal yang membentuk karakternya.

Namun yang lebih mengejutkan, ketujuh roh itu juga tampak menyaksikan gambaran yang sama, seolah mereka benar-benar menyelami ingatan dan motivasi terdalam Kael.

"Aku melihat seseorang yang tidak mencari kekuatan untuk dirinya sendiri," roh tertua bergumam, suaranya penuh pertimbangan mendalam saat gambaran-gambaran itu terus mengalir. "Tapi seseorang yang terus-menerus memilih untuk melindungi mereka yang lemah, untuk membangun jembatan alih-alih tembok."

Gambaran itu berlanjut, menampilkan momen-momen penting—pertemuan dengan Seraphina di dungeon gelap, keputusannya untuk membantu Theron meski itu berarti mempertaruhkan dirinya sendiri, aliansi yang dia bangun dengan penuh rasa hormat terhadap setiap ras yang berbeda alih-alih memaksakan dominasi.

"Kau memiliki kekuatan luar biasa yang terus berkembang," roh lain menambahkan, "namun kau memilih untuk menggunakannya bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menyatukan yang terpecah, tepat seperti yang dilakukan Aldwin sendiri berabad-abad lalu."

Namun di tengah gambaran-gambaran positif itu, muncul juga momen keraguan dan ketakutan Kael—kekhawatirannya tentang kekuatan yang terus bertambah dalam dirinya, ketakutan bahwa suatu hari dia mungkin kehilangan kendali atau menjadi seperti Dravos yang dia lawan, mengumpulkan kekuatan tanpa batas tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

"Keraguan ini," roh tertua berkata dengan nada yang hampir menyerupai kehangatan, "adalah bukti terkuat dari kelayakanmu. Mereka yang tidak pernah mempertanyakan kekuatan mereka sendiri adalah mereka yang paling berbahaya. Kerendahan hati untuk terus mempertanyakan diri sendiri adalah esensi sejati dari kehendak yang layak dipercaya."

Perlahan, gambaran-gambaran itu mulai memudar, dan Kael merasakan kesadarannya kembali sepenuhnya ke ruangan sanctum, matanya terbuka untuk menemukan ketujuh roh itu kini menunjukkan ekspresi yang jauh lebih hangat dan penuh penerimaan dibanding sebelumnya.

"Kau telah membuktikan dirimu," roh tertua berkata dengan nada penuh hormat. "Kehendakmu murni, motivasimu tulus, dan hatimu, meski membawa kekuatan yang luar biasa, tetap rendah hati dan peduli terhadap orang lain. Kau layak mewarisi Fragmen Kehendak yang telah lama kami jaga."

Ketujuh roh itu bergerak mundur, membuka jalan menuju altar tempat pedang kuno itu berdiri. Kael bangkit dan melangkah maju, tangannya perlahan menyentuh gagang pedang tersebut.

Begitu kontak terjadi, gelombang energi keemasan yang jauh lebih intens dari fragmen-fragmen sebelumnya meledak dari pedang itu, menyelimuti seluruh tubuh Kael dengan cahaya yang hangat namun kuat, seperti pelukan dari ribuan jiwa yang telah lama menunggu kedatangannya.

[Fragmen Kehendak terserap.]

[Peringatan: Integrasi tiga fragmen sekaligus memerlukan stabilisasi mendalam.]

[Proses ini akan memakan waktu lebih lama dari integrasi sebelumnya.]

Kael merasakan sesuatu yang berbeda dari integrasi fragmen-fragmen sebelumnya—bukan hanya sensasi fisik seperti panas atau insting liar, melainkan kejernihan mental yang luar biasa, seolah pikirannya sendiri menjadi lebih tajam, lebih mampu memahami dan menghubungkan berbagai aspek dari dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

[Adaptation terhadap Fragmen Kehendak: 8%.]

Ketika proses integrasi mulai stabil, ketujuh roh penjaga itu mulai memudar kembali menjadi patung-patung diam, namun sebelum sepenuhnya menghilang, roh tertua memberikan satu pesan terakhir.

"Tiga fragmen kini bersatu dalam dirimu," katanya. "Naluri untuk bertahan, api untuk membakar kegelapan, dan kehendak untuk menyatukan. Namun ingatlah, semakin banyak fragmen yang kau kumpulkan, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Jangan pernah lupakan pelajaran hari ini."

Dengan kata-kata terakhir itu, ketujuh roh sepenuhnya kembali menjadi patung batu diam, meninggalkan Kael berdiri di tengah sanctum dengan pedang kuno kini tergenggam di tangannya, energi tiga fragmen berbeda mengalir harmonis dalam dirinya untuk pertama kalinya.

"Bagaimana perasaanmu?" Seraphina bertanya, mendekat dengan kekhawatiran dan kekaguman yang bercampur di wajahnya.

"Berbeda," Kael menjawab, mencoba mencerna sensasi baru yang mengalir dalam dirinya. "Lebih jernih. Seperti aku bisa melihat gambaran yang lebih besar dari sebelumnya, memahami bagaimana semua kepingan ini—fragmen, aliansi, bahkan ancaman Dravos sendiri—terhubung dalam pola yang lebih luas."

"Itu terdengar seperti kebijaksanaan yang datang bersama Fragmen Kehendak," Lyra berkata dengan senyum kagum. "Kau tidak hanya menjadi lebih kuat, tapi juga lebih bijaksana."

Mereka meninggalkan Sanctum Kehendak dengan pedang kuno Aldwin kini menjadi senjata baru Kael, menggantikan Black Iron Sword yang telah lama menemaninya sejak Eldermere, membawa tiga fragmen yang kini bersatu dalam dirinya, dan pemahaman baru yang lebih dalam tentang tanggung jawab besar yang dia emban dalam perjuangan melawan ambisi Dravos yang terus berkembang.

Perjalanan kembali menuju Grandis dari Puncak Kembar membawa suasana yang jauh berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya—rasa pencapaian atas tiga fragmen yang kini bersatu dalam diri Kael bercampur dengan kesadaran baru akan tanggung jawab besar yang menyertainya.

Namun kedamaian relatif itu tidak bertahan lama. Pada hari ketiga perjalanan pulang, seekor burung sihir mendekat dengan kecepatan luar biasa, jelas membawa pesan mendesak yang tidak bisa menunggu hingga mereka tiba di Grandis.

Aldric, yang turut serta dalam perjalanan ini, segera membaca pesan itu dengan wajah yang semakin memucat seiring dia membaca setiap barisnya.

"Ada apa?" Kael bertanya, merasakan firasat buruk dari ekspresi Sect Master-nya.

"Serangan," Aldric menjawab dengan suara berat. "Bukan di Grandis, tapi di Eldermere—kota perbatasan tempat kau pertama kali tiba di dunia ini, Kael."

Berita itu membuat Kael menegang. "Seberapa parah?"

"Pesan ini menyebutkan pasukan Demon menyerang dari arah selatan, jumlah yang cukup besar untuk sebuah serangan yang terkoordinasi, bukan sekadar penjarahan biasa," Aldric melanjutkan, wajahnya semakin serius. "Ini kemungkinan besar pergerakan pertama yang direncanakan Dravos menggunakan basis kekuatan yang telah dia bangun di Netherys."

"Kita harus segera ke sana," Seraphina berkata tegas, kekhawatiran jelas terlihat di matanya.

"Eldermere berada di luar rute langsung kita menuju Grandis," penasihat kerajaan yang menyertai mereka menjelaskan, memeriksa peta dengan cepat. "Tapi jika kita bergerak cepat, kita bisa mencapainya dalam waktu empat hari, mengambil jalan memotong melalui hutan kecil di sebelah barat."

"Kita ambil jalan itu," Kael memutuskan tanpa ragu. "Eldermere adalah tempat pertama yang menerimaku di dunia ini. Aku tidak akan membiarkannya jatuh tanpa perlawanan."

Mereka segera mengubah rute perjalanan, bergerak dengan kecepatan maksimal menggunakan kombinasi Teknik Langkah Bayangan Angin Kael dan kemampuan terbang Selene untuk membantu mempercepat seluruh kelompok, meski hal itu menguras energi mereka secara signifikan setiap harinya.

Selama perjalanan cepat itu, Selene menggunakan kemampuannya sebagai Dragonkin untuk melakukan pengintaian udara, sesekali terbang tinggi untuk mengamati situasi dari kejauhan sebelum kembali melaporkan apa yang dia lihat.

"Aku melihat asap di kejauhan," Selene melaporkan pada hari ketiga, wajahnya tegang setelah kembali dari salah satu misi pengintaiannya. "Sepertinya sebagian kota sudah terbakar."

Berita itu semakin mempercepat tekad mereka, dan mereka melanjutkan perjalanan bahkan hingga larut malam, hanya beristirahat sejenak ketika benar-benar diperlukan untuk memulihkan energi minimal yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan.

Pada hari keempat, ketika mereka akhirnya mendekati Eldermere, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan—sebagian tembok kota telah hancur, asap hitam mengepul dari beberapa bangunan yang terbakar, dan suara pertarungan masih terdengar jelas dari dalam kota, menandakan bahwa pertempuran masih berlangsung.

"Kita harus bergerak sekarang," Kael berkata, menghunus pedang kuno Aldwin yang kini menjadi senjata utamanya, energi tiga fragmen dalam dirinya mulai bergejolak dengan kesiapan untuk pertarungan yang akan datang.

Mereka menerobos masuk melalui gerbang yang telah rusak, dan pemandangan di dalam kota mengonfirmasi ketakutan terburuk mereka—pasukan Demon dalam jumlah besar, mengenakan zirah hitam dengan tanduk dan sayap kelelawar yang menandakan asal-usul mereka, bertarung melawan penduduk kota dan pasukan pertahanan Valtherion yang jelas kewalahan menghadapi jumlah dan kekuatan lawan.

[Pasukan Demon — Kekuatan bervariasi, dari Qi Gathering hingga Spirit Core Realm.]

[Jumlah terdeteksi: Lebih dari seratus.]

"Terlalu banyak untuk pasukan pertahanan lokal," Aldric berkata dengan wajah tegang, mempersiapkan diri untuk bergabung dalam pertarungan meskipun usianya yang sudah tidak muda lagi. "Kita perlu bertindak cepat untuk membalikkan keadaan."

Kael merasakan energi tiga fragmen dalam dirinya bergejolak dengan intensitas baru, seolah situasi mendesak ini memicu sesuatu yang lebih dalam dari kemampuannya. Dia melesat maju dengan Teknik Langkah Bayangan Angin, bergerak dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, langsung menerjang ke tengah pertempuran untuk membantu pasukan pertahanan yang kewalahan.

"Untuk Eldermere!" dia berteriak, pedang kuno Aldwin berkilau dengan cahaya keemasan saat dia menerjang barisan Demon terdekat, tebasannya membawa kombinasi kekuatan naluri primal, panas api murni, dan kejernihan kehendak yang bersatu dalam satu serangan yang menghancurkan tiga Demon sekaligus dalam satu gerakan.

Seraphina, Selene, Lyra, dan Aria segera menyusul, masing-masing membawa kekuatan unik mereka ke dalam pertempuran, menciptakan front pertahanan baru yang mulai membalikkan momentum yang sebelumnya berpihak pada pasukan Demon.

Namun di tengah kekacauan pertempuran, Kael merasakan sesuatu yang familiar—tekanan aura yang dia kenali dari pertemuan sebelumnya, tersembunyi di antara pasukan Demon yang menyerang, mengamati pertempuran dari kejauhan dengan kesabaran yang mengerikan.

Dia menoleh, dan di atas atap bangunan yang masih berdiri di kejauhan, sesosok sosok berjubah hitam berdiri mengamati, matanya yang merah menyala bertemu langsung dengan mata Kael meski jarak yang memisahkan mereka cukup jauh.

Dravos telah tiba, mengawasi pertempuran yang dia rencanakan sendiri, menunggu dengan sabar untuk melihat sejauh mana kekuatan Kael telah berkembang sejak pertemuan terakhir mereka di benteng pegunungan Aschen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!