Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Bei Mingye membaca surat Ibu Chongyue
Bei Mingye mengambil kain itu, lalu membukanya perlahan.
Di permukaannya terukir barisan tulisan tangan yang masih terlihat jelas.
"Chongyue, Ibu tahu umur Ibu sudah tidak panjang lagi. Ada sebuah rahasia besar yang ingin Ibu sampaikan kepadamu, tetapi Ibu tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya secara langsung. Ibu takut kau akan membenci Ibu setelah mengetahui kebenarannya.
Dulu, ketika Ibu pulang ke rumah orang tua Ibu, Ibu melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun, malang sekali, anak itu meninggal sesaat setelah dilahirkan. Ibu menetap di sana selama beberapa waktu. Tepat ketika hendak kembali ke ibu kota pada bulan Maret, Ibu menemukanmu terbaring sendirian di kaki sebuah tebing.
Saat pertama kali melihatmu, hati Ibu langsung luluh. Kau masih sangat kecil, dengan sebuah tanda teratai merah mungil di dahimu. Kau tertidur begitu lelap hingga membuat Ibu berpikir bahwa Surga sedang mengirimkan hadiah untuk mengobati luka kehilangan putra Ibu.
Pakaian yang kau kenakan saat itu sangat indah dan mewah. Bahannya bahkan belum pernah Ibu lihat sebelumnya. Pada bagian dalam pakaianmu terdapat sulaman bertuliskan nama 'Chongyue'. Saat itu Ibu berpikir, mungkin itulah nama yang diberikan oleh orang tuamu. Karena itulah Ibu memutuskan tetap memanggilmu Chongyue.
Sebelum membawamu pulang ke Kediaman Jenderal, Ibu takut orang lain akan melihat tanda teratai di dahimu. Dengan berat hati, Ibu memukul dahimu menggunakan batu hingga terluka. Kau menangis begitu keras, sedangkan hati Ibu terasa seperti ikut hancur. Syukurlah, luka itu akhirnya sembuh tanpa meninggalkan bekas. Kemudian, Ibu juga menemukan ramuan khusus untuk menyamarkan tanda itu secara permanen.
Ketika usiamu menginjak dua tahun, Putra Mahkota mengalami luka parah. Saat itu Ibu menyerahkan pil tingkat tinggi yang Ibu dapatkan dari seorang alkemis kepada Yang Mulia Kaisar. Ibu hanya berharap, jika suatu hari Ibu meninggal, beliau bersedia mengingat jasa kecil itu dan melindungimu dari penderitaan di Kediaman Jenderal ini...."
Tulisan pada bagian pertama kain itu berakhir sampai di sana.
Bei Mingye membalikkannya dan melanjutkan membaca tulisan di baliknya.
"Namun, Ibu tidak menyangka Yang Mulia Kaisar justru akan menganugerahkan ikatan pernikahan antara dirimu dan Putra Mahkota. Walaupun berat untuk mengakuinya, Ibu memahami bahwa kau memiliki keterbelakangan mental. Meski begitu, Ibu tetap mencintaimu sepenuh hati.
Saat itu, Jenderal sangat gembira. Dia membelikanmu banyak pakaian baru dan berbagai makanan lezat. Ibu tidak pernah berani mengungkapkan kenyataan bahwa kau bukan putri kandungnya. Karena jika rahasia itu terbongkar, Ibu tahu kemarahan Jenderal akan sangat mengerikan, dan orang yang paling menderita pada akhirnya tetaplah dirimu.
Kini usiamu sudah empat tahun. Ketika pertama kali kau memanggilku 'Ibu', rasanya seluruh penderitaan dalam hidupku seakan lenyap begitu saja. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Nyonya akhirnya mengetahui bahwa kau mengalami keterbelakangan mental, lalu melaporkannya kepada Jenderal.
Saat Putra Mahkota berkunjung ke Kediaman Jenderal, mereka menyeret tubuh kecilmu secara paksa ke hadapannya. Putra Mahkota menendangmu hingga tubuhmu terpental jauh. Pasti sangat sakit, bukan? Saat itu Ibu hanya bisa menangis karena para pengawal menahan Ibu agar tidak menghampirimu.
Chongyue, terkadang Ibu bertanya kepada diri Ibu sendiri... apakah keputusan Ibu menyelamatkanmu di kaki tebing dahulu merupakan sebuah kesalahan? Karena setelah hidup bersama Ibu, kau justru harus menanggung begitu banyak penderitaan.
Sekarang usiamu sudah lima tahun. Meski masih sangat kecil, wajahmu sudah tumbuh sangat cantik. Tuan Muda Kedua pernah berkata bahwa meskipun kau bodoh, wajahmu tetap memikat. Mendengar ucapan itu, Ibu sangat takut. Ibu menghabiskan seluruh tabungan Ibu untuk membeli obat penyamar wajah dari seseorang. Setelah itu, Ibu berbohong kepada semua orang dengan mengatakan bahwa kau sedang menderita penyakit berat agar tidak ada yang melihat wajahmu lagi.
Kini kau telah berusia sembilan tahun. Ibu dipatuk ular berbisa dan tahu bahwa waktu Ibu sudah tidak banyak lagi. Mulai hari ini, kau harus belajar menjadi kuat. Jika suatu saat nanti kau memiliki kesempatan meninggalkan Kediaman Jenderal ini, pergilah sejauh mungkin. Orang-orang di tempat ini bukan keluarga... mereka adalah iblis berwujud manusia. Kediaman Jenderal ini tidak lebih dari neraka.
Sebenarnya, dulu Ibu memiliki seorang pria yang sangat Ibu cintai. Namun, Xuan Yang mengancam keselamatan seluruh keluarga Ibu sehingga Ibu tidak memiliki pilihan selain menikah dengannya.
Chongyue, Ibu pernah mengajarimu membaca. Meskipun surat ini cukup panjang, Ibu yakin kau dapat memahaminya. Dilihat dari pakaian mewah yang kau kenakan saat Ibu menemukanmu, wajahmu yang begitu cantik, serta liontin giok biru yang selalu tergantung di lehermu, orang tua kandungmu pasti berasal dari keluarga yang sangat terpandang.
Ibu tidak mengetahui mengapa kau bisa berada di dasar tebing itu. Namun, setiap hari Ibu selalu berdoa agar Surga mempertemukanmu kembali dengan keluargamu.
Chongyue... Ibu sangat mencintaimu. Apa pun yang terjadi, kau harus terus hidup dengan baik."
Tulisan pada kain tua itu berakhir di sana.
Bei Mingye menatap lembaran kain di tangannya cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya perlahan berubah rumit.
Dia tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan.
Perlahan, Bei Mingye melipat kembali kain tua tersebut dengan hati-hati. Setelah memastikan lipatannya kembali seperti semula, dia memasukkannya ke dalam kotak kayu, lalu menutup kotak itu dengan tenang.
Pada saat yang sama, suara langkah kaki dari luar halaman terdengar semakin jelas.
Tak lama kemudian, rombongan besar akhirnya memasuki halaman.
Chongyue sudah berdiri tegak di tengah halaman. Tatapannya tertuju lurus ke arah mereka, sementara kewaspadaan memenuhi sorot matanya.
Dari jumlahnya, rombongan itu terdiri atas dua puluh tujuh orang.
Dua puluh orang berada di barisan belakang. Delapan belas di antaranya merupakan pengawal pribadi keluarga Xuan. Bersama mereka terdapat Xuan Xi, adik perempuan keenam Chongyue, juga Xuan Qing, kakak laki-laki keduanya.
Merekalah dua puluh orang yang sebelumnya berhasil didengar Chongyue dari kejauhan.
Tujuh orang lainnya berada di bagian depan rombongan.
Xuan Yang memimpin mereka, didampingi oleh tiga tetua keluarga Xuan. Tiga orang terakhir merupakan pria asing yang belum pernah dilihat Chongyue sebelumnya.
Salah satu pria asing mengenakan jubah biru yang tampak mewah. Wajahnya cukup tampan, meskipun jika dibandingkan dengan Bei Mingye, penampilannya masih jauh tertinggal. Namun, sepasang matanya yang tajam dan licik justru membuat pria itu memancarkan kesan penuh perhitungan.
Dua pria yang berdiri di belakangnya mengenakan pakaian seragam dengan model yang sama. Melihat posisi mereka yang selalu berada dekat dengan pria berjubah biru, kemungkinan besar keduanya merupakan pengawal pribadinya.
Jelas, ketiga pria itu bukan berasal dari keluarga Xuan.
Di sisi lain, Xuan Xi diam-diam merasa puas melihat Xuan Qingqing dipukuli hingga babak belur.
Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa puasnya.
Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang gadis yang selama ini dikenal sebagai sampah keluarga Xuan mampu mengalahkan Xuan Qingqing, seorang seniman beladiri tingkat tiga, sekaligus menjatuhkan empat pengawal tingkat empat.
Berbeda dengan Xuan Xi, Xuan Qing justru dipenuhi amarah.
Sebagai adik kandung Xuan Qingqing, dia sangat memahami bahwa kakaknya selama ini dipersiapkan untuk menjadi Putri Mahkota.
Namun, sekarang wajah Xuan Qingqing telah rusak akibat cambukan Chongyue.
Jika karena kejadian ini Putra Mahkota sampai membatalkan niatnya untuk menikahi Xuan Qingqing, orang yang paling diuntungkan tentu saja Xuan Xi.
Memikirkan itu membuat amarah Xuan Qing semakin membara.
Dia melangkah maju dengan langkah lebar, lalu menatap Chongyue dengan tatapan penuh kebencian.
"Xuan Chongyue! Kau benar-benar sudah gila!"
Suara bentakannya menggema di seluruh halaman.
"Kau bukan hanya memukuli kakakmu sendiri, tetapi juga menghancurkan wajahnya! Apa kau sudah tidak memiliki hati nurani?!"
Mendengar itu, Chongyue justru tertawa.
Tawanya terdengar begitu keras hingga menggema di seluruh halaman, seolah-olah ucapan Xuan Qing barusan merupakan lelucon paling konyol yang pernah dia dengar.
Melihat Xuan Chongyue tertawa seperti orang gila, Xuan Yang mengerutkan kening.
Sejak kecil hingga dewasa, putrinya yang satu ini tidak pernah berhenti membuatnya kehilangan muka. Selama ini, dia merasa sudah cukup berbaik hati karena membiarkan Chongyue tetap hidup dan memberinya tempat tinggal di Kediaman Jenderal.
Namun, gadis itu justru berani menghajar Qingqing hingga babak belur.
Benar-benar anak yang tidak tahu diri!
Di mata Xuan Yang, Xuan Chongyue sudah kehilangan akal sehatnya. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang anak yang selama ini selalu penakut berani menyerang keluarganya sendiri?