NovelToon NovelToon
Tenda Biru

Tenda Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:158k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."

Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.

Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.

Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.

"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."

Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenda Biru 14

Pagi hari diawali dengan Rhea yang tengah melakukan persiapan untuk bertemu dengan klien. Baginya ini adalah pekerjaan yang sesungguhnya dari pada sebelumnya.

Rhea mengambil pakaian yang dipilihkan Tono kemarin, ia mengenakannya dengan cepat lalu mematut dirinya di depan cermin.

Beberapa kali Rhea memutar tubuhnya, melihat pantulan tubuhnya dari berbagai sisi.

"Ini aku?" ucapnya lirih.

Pakaian formal yang berupa setelan celana panjang dan blazer berwana navy itu terlihat cantik dan sangat pas pada tubuhnya. Rhea tidak menyangka bahwa pakaian itu akan sangat pas.

"Dulu seragam yang kupakai, hanyalah atasan dengan nama pabrik tempat ku bekerja. Beda banget sama setelan ini."

Rhea membayangkan dirinya saat bekerja menjadi TKI dulu, ia tersenyum kecut.

"Baiklah, mari bekerja dengan baik. Apapun jenis pekerjaannya, yang utama adalah melakukannya dengan sepenuh hati kan?"

Rhea menganggukkan kepalanya pelan. Mengucapkan doa sejenak lalu melengkapi tampilannya dengan mantel tebal.

Sesampainya di lantai bawah, ternyata Nayaka dan Tono sudah siap. Rhea membungkuk sedikit dan mengucapkan maaf karena sedikit lama untuk bersiap.

"Nggak apa Mbak Rhea, kita juga baru keluar dari kamar. Untuk sarapan kita akan makan di luar, aman kan?"

Tono tersenyum, pria itu memang selalu ramah. Sungguh bertolak belakang dengan Nayaka. Sang bos benar-benar konsisten dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.

"A-aman kok Pak Tono. Mari."

Merek bertiga keluar dari rumah bersama-sama. Seorang supir sudah menunggu di sis mobil. Dia membukakan pintu untuk Nayaka. Lalu Ton membukakan pintu untuk Rhea.

Rhea akan duduk di sisi supir sedangkan Tono di sebelah Nayaka.

Mobil mulai berjalan, dan sepanjang perjalanan itu Tono terus membahas pekerjaan dengan Nayaka. Sedangkan Rhea dia berusaha mengulang istilah-istilah bisnis yang baru ditemuinya.

Ekor mata Nayaka menangkap pergerakan Rhea, dia mengangguk kecil lalu melanjutkan lagi pembicaraannya dengan Tono sampai mobil mereka sampai di depan sebuah hotel berbintang.

Blak

Glup!

Rhea menelan ludahnya kasar. Gedung yang berdiri kokoh dan megah itu bak ruang sidang skripsi yang tengah menantinya untuk presentasi.

"Kita akan sarapan dulu, setelah itu baru ketemu sama Tuan Raphael."

Segala hal sudah diatur, dan terasa begitu tertata. Rhea memuji Tono yang benar-benar kompeten sesuai jabatannya, yakni asisten pribadi.

Meski tak sesuai lidah, tapi Rhea masih bisa memakan makanan yang dipesan. Baru dua hari di luar negeri, ia sudah merindukan tumis kangkung buatan kakak iparnya.

"Nggak enak ya?" tanya Tono ketika melihat ekspresi wajah Rhea.

"M-masih bisa masuk kok, Pak Tono. Aman."

Eggs en Cocotte, sebuah makanan gurih yang dibuat dari telur yang dipanggang dalam mangkuk kecil bersama krim dan mentega. Sangat kurang pas di lidah Rhea karena dia sendiri kurang suka dengan telur.

Tono lalu memberikan menyarankan Rhea untuk memakan croissant saja, dan wajah Rhea langsung berubah lebih santai saat memakannya.

"Lebih suka manis ya?"

"Tidak juga Pak Tono, tapi kalau ini setidaknya rasanya masih familiar."

Pemandangan di meja itu sungguh kontras. Dua anak buah sedang berbincang santai sedangkan sang bos, hanya diam dan makan dengan tenang.

Setelah selesai makan mereka tak langsung pergi, hingga sebuah kabar diterima kalau calon klien mereka sudah sampai.

"Kita pindah ruangan," ucap Tono sambil beranjak dari duduknya.

Jika tadi meja tempat mereka makan berbaur dengan pengunjung lain, maka tempat yang dituju sekarang berbeda. Sebuah ruangan yang tak terlalu besar dimana di dalamnya terdapat dua buah meja yang saling berhadapan dengan masing-masing memiliki 3 kursi.

Beberapa minuman dan makanan ringan tersaji di sana. Tidak banyak namun cukup.

"Bonjour, Monsieur Nayaka."

"Bonjour, Monsieur Raphael. Ravi de faire votre connaissance (senang bertemu dengan Anda)"

Semua saling berjabat tangan. Tak terkecuali Rhea.

Meski degup jantungnya sangat cepat melihat dua orang yang merupakan calon rekan bisnis LT, Rhea tetap tersenyum tipis dan berusaha mengatur nafasnya.

Mereka lalu duduk, dengan Nayaka berada di tengah.

Dengan bahasa Prancis, Nayaka mengenalkan Rhea sebagai penerjemah kepada Raphael Martin. Ekspresi wajah Raphael terlihat tidak senang awalnya namun setelah berbincang ringan beberapa saat, pria itu mengangguk-anggukan kepala.

"Alors, est-ce que LT a accepté la demande de garantie que nous avons soumise? (Jadi, apakah pihak LT menerima klaim garansi yang kami ajukan?)"

"Nous ne pouvons pas offrir de garantie complète. (untuk garansi penuh kami tidak bisa memberikannya)"

Rhea menerjemahkan jawaban Nayaka. Wajah Raphael langsung masam. Beberapa waktu sudah dia berikan bagi pihak Nayaka untuk membaca poin-pin kerjasama yang diajukan. Akan tetapi jawabannya tidak sesuai dengan harapannya.

"Kalau begitu, apa pertemuan ini akan jadi sia-sia belaka?" ucap Raphael, matanya menatap tajam ke arah nayaka.

Rhea mengambil nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia lalu menyampaikan apa yang dikatakan oleh Raphael kepada Nayaka.

Nayaka menarik satu sudut bibirnya.

"Anda belum mendengarkan hal selanjutnya. Kami memang tidak bisa memberikan garansi penuh, suku cadang pesawat itu memiliki resiko yang tinggi. Jika kamu menanggung semua resikonya maka bisa jadi kerugian kami akan sangat besar. Kami bisa memberikan jaminan barang dalam perjalanan, namun sebelum dan sesudah barang itu masuk kapal, bukan jadi tanggung jawab kami, terjemahkan."

Rhea menganggukkan kepala. Dia menyampaikan apa yang dipaparkan oleh Nayaka. Namun ekspresi wajah Raphael masih belum berubah. Kini satu alisnya memicing.

"Itu lah kenapa kita memilih LT, karena kami pikir bisa mengklaim seluruh jaminan keselamatan dan kemanan."

"Brengsek, kalau gitu kamu cuma mau untung sendiri."

Degh!

Rhea langsung mengarahkan pandangannya kepada kepada Nayaka. Dia menelan ludah nya kasar.

"Ya Allah, dia baru aja ngumpat di depan klien besar," batinnya.

Saat sadar bahwa Nayaka melihat ke arahnya, Rhea langsung kembali fokus menatap ke Raphael. Dia terdiam sejenak lalu mulai berbicara.

"Maksud Pak Nayaka, jika seluruh risiko dibebankan kepada pihak kami, , maka skema ini hanya akan lebih menguntungkan pihak Anda. Sedangkan kami, kerugian tak terduga bisa saja terjadi."

Raphael diam, dia menatap Rhea dengan seksama dan menghembuskan nafas panjang.

"Kamu mengubah kalimat ku?" tanya Nayaka yang sadar bahwa Rhea tak menerjemahkan persis seperti yang dikatakannya.

"Saya hanya memperhalus ucapan Bapak, tapi tetap menyampaikan maksudnya."

Hening sejenak, Nayaka yang tetap menatap ke depan menggerakkan kepalanya.

"Lanjutkan!"

Rhea memejamkan matanya sejenak, dia pikir dirinya hanya akan berperan sebagai kamus. Namun apa yang dialaminya sekarang lebih dari itu.

"Menjadi jembatan bagi kepentingan dua orang itu, benar-benar melelahkan."

Rhea tersenyum lebar, dia melihat kepada Raphael dan Nayaka secara bergantian.

Pembicaraan masih berjalan, dan pada akhirnya pertemuan kali ini belum bisa mendapatkan kata sepakat yang diharapkan karena pihak Raphael masih bersikukuh dengan keinginan mereka.

"Rhea sampaikan begini saja. Jika mereka setuju dengan jalan tengah yang aku sampaikan tadi, minta pihak mereka menghubungi. Jika sampai besok pagi tak ada kabar, maka kita anggap mereka menolak bekerja sama."

Rhea menahan nafasnya lalu mengangguk. Sebenarnya ia sedikit was-was, mereka sudah sejauh ini datang, apa iya hanya akan pulang dengan cuma-cuma.

"Kenapa? Cepat terjemahkan."

"Lakukan aja Mbak Rhea, sepert permintaan Pak Bos."

Tono yang berkata sambil tersenyum, cukup membuat Rhea merasa sedikit tenang. Dia lalu mengatakan maksud Nayaka kepada Raphael.

"Baik, nanti akan kami bicarakan lebih dulu."

Fyuuuuh

TBC

1
D_wiwied
hahaha boleh ga sih aku tertawa, mampvs kamu Tris ga cm di pecat kamu jg di blacklist huhuhu nangis darah ga tuh 🤣🤣🤣🤣🤣
ElHi
telatt sebenernya Kaaa...harusnya dari baheulaaa😤😤
Esther
Kapok kamu Trisna....selamat menganggur😂
Eni Istiarsi
beneran udah nggak tertolong Trisna
Cicih Sophiana
yo qta jitak si Trisna rame rame... 😂😂😂
Cicih Sophiana
orang gak mampu ya biasa nya iri hati ke orang yg mampu... iri dengki itu penyakit yg susah di sembuh kan krn gak ada obat nya
Cicih Sophiana
itu yg kemarin cewek Arthur kan... buang aja cewek begitu ngerusak bisnis orang aja...
GiZaNyA
had3h si Trisna ini beneran ngga mau berubah yaa... ckckck... udah digosipin 1 kantor juga masiihhh aja ngga mau introspeksi... ckckckck...
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
laporin biar di tindak m Nayaka dia di ksh kesempatan tp g di pake
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
dah tau salah tapi takut malu dan km menyalahkan orang lain atas kesalahan km sendiri ooh oh oh dah g PNY hati
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
ada yg panas kupingnya
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
mulai km JD bahan gosip
Esther
Pecat saja Trisna ini, gak rugi juga LT kalau memecatnya.

Berani tanganmu naik ke Rhea...habis kamu Trisna
Oma Gavin
trisna cari mati blm kapok juga dia hbs ini dipecat dgn tidak hormat
dewi rofiqoh
Berani banget si trisna mau nyakitin rhea! Apa gk takut konsekuensi yang akan diterimanya dari nayaka?
ElHi
karyawan mayakkkk...mayakk....ngapain piara sampah macam gini...😤😤😤gak kuat aku tuh....pengen tak remettttt mulutnya..tak tarik rambutnyaa sampe alas kaki..aarrrgghhhh
D_wiwied
berani kamu sentuh Rhea walau hanya seujung kuku, siap2 aja kamu terima akibatnya Tris.. Rhea udah ckp diam lho selama ini tp kamu mlh bak orang yg ga tau diri, udah tau salah tp ga bs introspeksi diri
mustika ikha
wong namanya juga typo, klw ngetik pasti ada yang salah, org kyk gitu pasti iri ama othor soalnya otak nya encer buat cerita mana bagus lagi🤣🤣🤣💪💪💪
Esther
kamu dulu nggosipin Rhea, skrg kamu yg jadi bahan gosip Trisna😂
GiZaNyA
akhirnya sekantor tau kelakuan kamu Tris... kuat2 yaa menghadapi badai nyinyiran gara2 kelakuan kamu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!