Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
“Jangan membuat orang lain repot hanya karena kamu. Jangan manja,” lanjut Arsen dengan nada tegas. “Kalau kamu memang tidak siap mengikuti KKN, lebih baik pergi.”
Ucapan itu terasa seperti tamparan keras bagi Keira, terlebih karena diucapkan di hadapan semua orang.
Wajah Keira seketika terasa panas. Harga dirinya seperti diinjak-injak di depan teman-temannya sendiri.
Tanpa membalas satu kata pun, ia segera mengambil daun singkong dengan sendok, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Ia mengunyah perlahan, meskipun rasa dan teksturnya membuat perutnya semakin tidak nyaman. Bahkan rasa pahitnya hampir membuatnya ingin muntah.
Namun, Keira tetap memaksakan diri.
Ia menelan makanan itu dengan susah payah.
Rina yang duduk di sampingnya menepuk pahanya pelan, berusaha memberikan dukungan tanpa menarik perhatian orang lain.
Sementara itu, beberapa mahasiswa lainnya memilih pura-pura sibuk dengan makanan masing-masing. Mereka tidak ingin ikut campur dan membuat suasana semakin canggung.
Arsen kembali menyantap makanannya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Wajahnya tetap datar.
Sikapnya profesional dan tegas seperti seorang dosen pembimbing yang hanya menjalankan tanggung jawabnya.
Namun, sesekali pandangannya tanpa sadar beralih kepada Keira yang masih makan dengan wajah kaku.
Keira terus menyuapkan makanan sedikit demi sedikit.
Matanya mulai terasa panas. Air mata bahkan hampir menggenang, tetapi ia segera menahannya.
Ia tidak ingin menangis.
Terlebih lagi, ia tidak ingin Arsen maupun teman-temannya melihat dirinya sebagai perempuan yang lemah.
Aku bukan manja. Aku hanya tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, batinnya kesal.
Perlahan, suasana makan malam kembali seperti semula.
Obrolan-obrolan ringan mulai terdengar. Suara sendok yang beradu dengan piring kembali memenuhi balai desa.
Namun, di balik keramaian itu, jarak antara Keira dan Arsen justru terasa semakin nyata.
Setelah menghabiskan makanannya, Keira segera berdiri.
Ia membawa piringnya menuju tempat mencuci tanpa sekalipun melirik ke arah Arsen.
Arsen hanya diam memperhatikan punggung Keira yang semakin menjauh.
Sementara itu, Keira terus berjalan sambil menahan kesal.
Aku ingin KKN ini cepat-cepat berakhir. Setelah semuanya selesai, aku bisa pergi dari rumahnya. Aku tidak perlu lagi mematuhi semua perkataannya ataupun tunduk pada aturan yang dia buat.
Baru saja Keira sampai di tempat mencuci piring, Rina menyusulnya.
“Kei, sini. Biar aku yang cuci,” ujar Rina. “Aku tahu kamu kan nggak pernah mencuci piring di rumah.”
Keira terdiam sejenak.
Siapa bilang? Sejak tinggal bersamanya, aku justru mulai belajar mencuci piring, batinnya.
Namun, ia tidak mengatakan apa pun.
Rina memperhatikan wajah Keira yang masih terlihat kesal.
“Kei, kamu marah sama aku?” tanyanya hati-hati.
Keira langsung menggeleng.
“Rin, mana mungkin aku marah sama kamu.”
Ia menghela napas panjang sebelum kembali berbicara.
“Aku cuma kesel. Kenapa sih dosen pembimbing kita harus dia?”
Nada suaranya terdengar penuh kekesalan.
“Dari sekian banyak dosen, kenapa harus Arsen?”
“Tapi dia kan ganteng. Siapa coba yang nggak mau Arsen jadi dosen pembimbing? Kita malah termasuk mahasiswa yang beruntung,” ujar Rina.
“Kalau aku sih, nggak merasa beruntung sama sekali,” jawab Keira ketus.
Rina kemudian melirik tangan Keira yang sejak tadi masih sibuk mencuci piring.
“Coba lihat, Tuan Putri satu ini mau selesai mencuci sampai kapan?”
Keira mengembuskan napas panjang.
“Huuft! Aku capek. Ini baru hari pertama. Tapi kenapa rasanya aku terus yang diserang sama dia?”
Rina hanya terkekeh kecil melihat wajah kesal sahabatnya.
.....
Malam semakin larut.
Suara jangkrik terdengar jelas dari luar rumah warga yang ditempati para mahasiswa. Lampu kamar yang redup hanya menerangi ruangan sederhana itu. Beberapa kasur tipis terhampar di lantai, sementara sebuah lemari kayu kecil berdiri di sudut ruangan.
Arsen duduk di tepi salah satu kasur.
Rumah yang ia tempati bersama para mahasiswa laki-laki memang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari papan, sementara jendela yang sedikit terbuka membiarkan angin malam masuk perlahan.
Pandangan Arsen jatuh pada kasur di hadapannya.
Entah mengapa, pikirannya justru kembali pada rumah.
Biasanya, ketika malam tiba, ia tidur di sisi kanan ranjang.
Dan di sebelahnya selalu ada Keira.
Di antara mereka memang selalu ada sebuah bantal guling yang sengaja diletakkan sebagai pembatas. Seolah benda sederhana itu menjadi garis yang tidak boleh mereka lewati.
Mereka tidak pernah saling menyentuh.
Tidak pernah benar-benar dekat.
Namun, tetap saja...
Keira selalu ada di sana.
Ada suara napasnya yang terdengar pelan. Ada gerakan kecil ketika perempuan itu membalikkan tubuh saat tidur. Bahkan terkadang aroma sampo Keira masih samar tercium ketika Arsen berada di dekatnya.
Sekarang?
Yang terdengar hanya suara dengkuran pelan salah seorang mahasiswa di sudut ruangan.
Arsen akhirnya merebahkan tubuhnya.
Ia menatap langit-langit kayu di atasnya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dada.
Sebuah helaan napas panjang keluar dari bibirnya.
Aneh.
Seharusnya ia merasa lebih tenang berada jauh dari Keira.
Tidak ada perdebatan. Tidak ada wajah kesal. Tidak ada sindiran yang membuat kepalanya pusing.
Namun, malam ini justru terasa berbeda. Ada sesuatu yang terasa kosong.
Sepi.
Padahal biasanya ia selalu mengeluh ketika Keira berada di dekatnya.
.....
Di sisi lain desa, Keira juga sudah berbaring di atas kasur tipis bersama Rina dan dua mahasiswi lainnya dalam satu kamar.
Mereka sempat mengobrol dan bercanda sebentar sebelum akhirnya satu per satu mulai terlelap.
Keira justru masih terjaga.
Ia membelakangi teman-temannya sambil menatap dinding kamar yang hanya diterangi cahaya lampu redup.
Pikirannya kembali melayang pada rumah yang mereka tinggalkan.
Biasanya, sebelum tidur, meskipun sedang kesal kepada Arsen, Keira selalu sempat melirik pria itu.
Sekadar memastikan apakah Arsen sudah memejamkan mata atau masih sibuk dengan ponselnya.
Terkadang ia hanya melihat punggung pria itu dari tempat tidurnya.
Tidak ada percakapan. Tidak ada sentuhan.
Bahkan sering kali mereka tidur dengan membelakangi satu sama lain.
Namun, kehadiran Arsen selalu ada.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Keira menyadari bahwa ternyata ia juga merindukan sesuatu dari rutinitas kecil itu.