Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — Gosip dan Sekutu
Kabar tentang insiden di ruangan Rangga menyebar cepat ke seluruh lantai delapan, bahkan sebelum Kirana sempat kembali duduk di mejanya. Bisik-bisik terdengar di sudut-sudut ruangan, tatapan penasaran mengikuti setiap langkahnya, dan beberapa rekan kerja yang sebelumnya cuek kini mendadak ingin tahu lebih banyak.
"Katanya Sandra sampai dipanggil HRD ya?" bisik seseorang di dekat mesin fotokopi, cukup keras untuk didengar Kirana yang kebetulan lewat.
"Iya, denger-denger bakal dapat surat peringatan. Nggak nyangka Pak Rangga bakal turun tangan langsung buat karyawan baru," sahut yang lain.
Kirana berusaha bersikap seolah tidak mendengar, meski telinganya memanas. Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus pada pekerjaan, meski konsentrasinya buyar oleh gemuruh pikirannya sendiri. Ia tahu, mulai hari itu, posisinya di kantor akan berubah—entah menjadi lebih baik, entah justru lebih rumit.
Benar saja, siang harinya Sandra dipanggil resmi ke ruangan HRD, dan kembali dengan wajah yang jauh lebih pucat dari sebelumnya, matanya sembab seperti habis menangis. Ia tidak lagi berani menatap Kirana, apalagi membentak-bentak seperti biasa. Sepanjang sisa hari itu, Sandra bekerja dalam diam, sesekali melirik curiga ke arah meja Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sore itu, Dewi mengajak Kirana bertemu setelah jam kerja, mendengar cerita lengkap yang sudah diceritakan Kirana lewat pesan singkat sepanjang siang.
"Jadi intinya, Sandra kena batunya sendiri?" tanya Dewi sambil menyeruput es teh manis di warung langganan mereka, matanya berbinar penasaran.
"Kayaknya sih gitu," jawab Kirana, mengaduk minumannya pelan. "Tapi aku juga nggak seneng-seneng banget, Dew. Aku takut ini malah bikin dia makin benci sama aku, terus bakal cari cara lain buat balas dendam."
"Ya kalau dia balas dendam lagi, laporin lagi aja ke atasan. Toh sekarang udah kebukti kok kamu jujur," Dewi menepuk pundak sahabatnya menenangkan. "Yang penting kamu udah buktiin kamu nggak salah. Itu udah cukup buat modal kamu bertahan di sana."
Kirana mengangguk pelan, meski masih ada kekhawatiran mengendap di hatinya. "Yang bikin aku lebih bingung itu... Pak Rangga."
"Kenapa emang sama bosmu itu?" Dewi mengernyit.
"Dia bela aku, Dew. Di depan semua orang. Padahal dia kan CEO, nggak biasanya turun tangan langsung buat masalah remeh kayak gini," Kirana menerawang, mengingat kembali tatapan tajam namun entah kenapa terasa hangat dari Rangga saat membelanya tadi siang.
"Terus katanya lagi, 'kalau ada masalah lain laporan langsung ke saya.' Itu bukan hal yang biasa dilakuin bos, kan?"
Dewi menatap sahabatnya dengan seringai jahil mulai muncul di wajahnya. "Eh, Kir, jangan-jangan bosmu itu naksir kamu?"
Kirana tersedak minumannya sendiri. "Ngaco banget sih kamu, Dew! Orangnya galak, dingin, dan ketus abis. Mana mungkin dia naksir aku, wong ketemu aja baru dua minggu, dan pertemuan pertama kita aja aku bikin laptopnya rusak."
"Justru itu," Dewi tertawa, matanya berbinar seperti menemukan plot drama favoritnya.
"Cowok-cowok kayak gitu tuh biasanya paling gampang jatuh cinta diam-diam. Coba deh kamu perhatiin lagi, biasanya ada tanda-tanda kecil."
"Udah ah, jangan macem-macem," Kirana menepis tuduhan itu dengan tawa, meski diam-diam hatinya sedikit berdebar mengingat kata-kata Dewi.
Keesokan harinya, saat Kirana tiba di mejanya, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: sebuah kotak makan siang rapi tergeletak di sudut mejanya, lengkap dengan nasi, lauk, dan sayur yang terlihat lezat, tanpa ada nama pengirim atau catatan apa pun.
Kirana menatap kotak itu bingung, lalu bertanya ke rekan kerja terdekat. "Kak, ini siapa yang naruh di meja aku?"
Rekan kerjanya menggeleng, sama bingungnya. "Nggak tahu, tadi udah ada pas aku dateng."
Kirana mencoba bertanya ke beberapa orang lain, tapi tidak ada yang tahu asal-usul kotak makan itu. Ia sempat curiga jangan-jangan itu jebakan lain dari Sandra, tapi rasanya terlalu aneh dan tidak masuk akal untuk ukuran jebakan.
Hari itu, karena memang belum sempat sarapan dan uangnya sedang menipis menjelang akhir bulan, Kirana akhirnya memakan bekal misterius itu dengan hati-hati, dan ternyata rasanya sangat enak—jauh lebih enak dari makanan warung yang biasa ia beli dengan uang pas-pasan.
Kejadian serupa terulang beberapa hari kemudian—kali ini berupa payung baru tergeletak di lacinya saat cuaca mendadak hujan deras, padahal Kirana ingat betul ia tidak pernah membawa payung ke kantor karena payung lamanya sudah rusak dan belum sempat ia ganti.
Lalu di lain waktu, sebuah pulpen mahal bermerk yang sama sekali berbeda dari pulpen murah yang biasa ia pakai, tergeletak rapi di atas mejanya tanpa keterangan apa pun.
Kirana mulai merasa ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya, memberikan bantuan-bantuan kecil tanpa mau menunjukkan identitas. Ia tidak tahu harus merasa tersentuh atau justru waspada—dunia lama yang ia tinggalkan mengajarkannya bahwa kebaikan tanpa nama seringkali punya motif tersembunyi.
"Menurutmu ini siapa ya yang ngasih-ngasih gitu, Dew?" tanya Kirana lewat telepon malam itu, menceritakan rentetan kejadian aneh selama beberapa hari terakhir.
"Wah, makin curiga aku sama bosmu itu," Dewi terkekeh di seberang telepon. "Coba deh besok kamu perhatiin gerak-geriknya pas ketemu."
"Ih, mana mungkin CEO sesibuk itu sempat-sempatnya beli bekal makan siang atau payung buat staf junior kayak aku," bantah Kirana, meski dalam hati ia sendiri mulai bertanya-tanya, terutama karena semua barang misterius itu selalu muncul di hari-hari ia terlihat lelah atau sedang mengeluh kecil tentang cuaca di depan rekan kerjanya—hal-hal yang rasanya terlalu personal untuk diketahui orang asing sembarangan.
Yang Kirana tidak tahu, di lantai eksekutif, Rangga duduk di ruangannya malam itu, menatap layar CCTV kantor yang menampilkan rekaman singkat Kirana yang tersenyum kecil menemukan kotak bekal di mejanya paginya—rekaman yang sudah ia putar ulang lebih dari sekali, meski ia sendiri enggan mengakui alasan sebenarnya kenapa ia melakukan itu.
"Bu Marlina," panggilnya, saat asistennya lewat di depan ruangan.
"Iya, Pak?"
"Besok, tolong pastikan staf baru di divisi marketing—yang namanya Kirana—dapat porsi kerja yang wajar. Saya dengar dia sering kelebihan beban karena dilimpahi tugas orang lain."
Bu Marlina menatap atasannya itu dengan tatapan penuh selidik, senyum tipis mulai muncul di wajahnya yang biasanya kalem. "Baik, Pak. Akan saya sampaikan ke tim."
Rangga hanya mengangguk singkat, kembali fokus pada layar laptopnya, berusaha keras menyembunyikan fakta bahwa perhatian yang seharusnya sekadar formalitas atasan itu, kini mulai terasa jauh lebih personal dari yang ingin ia akui pada dirinya sendiri.
ini novel saya pertama🥰🥰