"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Steak, Cream Sup, Pasta dan Kopi
Evelyn berkali-kali melirik jam dinding di atas meja belajarnya. Sudah hampir jam tujuh malam. Jantung Evelyn berdetak kencang, dia tidak sabar karena malam ini Matthew akan makan malam di apartemennya dan mencicipi masakannya untuk pertama kali. Di atas meja dapur apartemennya, hidangan makan malam yang simpel sudah tersaji—dua piring steak daging sapi dengan sauce yang gurih, pasta creamy, dan mangkuk sup krim hangat serta tidak lupa 2 cangkir hot coffe latte, minuman favorite Evelyn.
Sebagai mahasiswi perantau yang hidup dari beasiswa, unit apartemen satu kamar ini adalah ruang aman bagi Evelyn. Area dapur dan meja makannya terpisah rapi dari kamar tidur, menciptakan suasana yang bersih, luas, dan nyaman. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri mengundang seseorang masuk ke apartemennya, selain Cedric. Selama tiga tahun di masa lalu itu, Cedric yang selalu hadir menemaninya, mencicipi masakannya dan membangunkan nya. Tapi itu cuma cerita masa lalu, di kehidupan kali ini, ada Matthew.
Suara ketukan pelan di pintu depan membuat Evelyn terperanjat kaget. Ia buru-buru merapikan pakaiannya sebentar sebelum melangkah cepat untuk membukakan pintu.
Di sana, Matthew berdiri tegak. Pria itu memakai kemeja putih berlapis mantel abu-abu gelap, membawa sebuah kantong kertas berisi buah-buahan segar.
"Matthew? Ayo masuk," ajak Evelyn sambil tersenyum tipis, menggeser badannya agar pria itu bisa lewat. "Maaf ya kalau tempatnya gak seluas rumahmu. Namanya juga apartemen anak kuliah."
Matthew menghirup wanginya aroma masakan yang menggugah selera sewaktu melangkah masuk. Ia melepas sepatunya di dekat rak. Selama delapan kali loop yang menyiksa, Matthew hanya pernah berdiri di seberang jalan, mengawasi jendela apartemen ini dari dalam mobilnya demi memastikan Evelyn aman dari incaran orang-orang Ashworth. Melangkah masuk dan berdiri di dalam ruangan ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
"Tidak masalah, Evelyn." kata Matthew datar, meletakkan kantong buah di meja dapur. "Tempatmu nyaman sekali."
Evelyn tertawa kecil, sedikit canggung. "Aku udah masak steak, pasta, sama sup krim hangat. Kamu duduk aja dulu, biar aku ambilin minum. Aku udah bikin coffee latte."
Matthew tidak langsung duduk. Ia melipat mantelnya dengan rapi di atas kursi, lalu menggulung kemeja putihnya sampai siku. "Aku bantu bawa piringnya ke meja makan."
"Eh, gak usah, Matthew! Kamu kan tamu—"
"Tidak apa-apa, Evelyn," potong Matthew cepat. Suaranya tenang dan kaku seperti biasa, tapi gerakannya cekatan menata piring-piring steak dan pasta ke atas meja.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan. Suasana di dalam apartemen yang tenang itu mendadak terasa begitu hangat. Tidak ada bahasan soal intrik kampus, Cedric, atau ancaman keluarga Ashworth. Cuma ada mereka berdua diiringi suara denting pisau dan garpu.
Evelyn memperhatikan Matthew yang memotong daging steak dan mencicipinya dengan sangat tenang. "Gimana? Dagingnya kematengan gak? Aku gak pernah masak sebelumnya jadi aku coba bikin yang yah mungkin bisa kamu nikmati. Abisnya aku bingung mau bikin apa untuk kencan kita yang pertama ini, Matthew."
Matthew menguyah makanannya, lalu menatap Evelyn. "Enak sekali. Ini masakan terbaik yang pernah aku makan."
Wajah lempeng Matthew saat mengucapkan pujian itu sukses bikin pipi Evelyn mendadak panas. "Kamu ini... kalau mau muji mukanya jangan datar begitu, dong. Jadi kelihatan kayak terpaksa." kata Evelyn sambil tertawa ngakak.
"Aku serius, Evelyn," bisik Matthew pelan. Matanya yang berwarna keemasan tampak hangat di bawah temaram lampu meja makan. "Dulu... aku sering bayangin gimana rasanya bisa duduk berdua sama kamu di tempat ini."
Evelyn tertegun. "Dulu? Bukannya kita baru benar-benar ngobrol beberapa hari ini?"
Matthew tersadar kalau ucapannya hampir melenceng. Ia meraih gelas air putih di dekatnya untuk menguasai diri. "Maksudku... dari dulu aku sering lihat kamu jalan sendirian pulang ke apartemen ini. Aku selalu mau mendekat, tapi bingung harus pakai alasan apa."
Evelyn tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh pelan punggung tangan Matthew yang terasa hangat. "Terima kasih ya udah berani pedekate sama aku, di kehidupan ini."
Kehidupan ini.
Deg.
Batin Matthew bergejolak hebat. Evelyn ingat kehidupan yang lalu! Tapi, seberapa jauh dia mengingat..
Kata-kata itu meresap jauh ke dada Matthew. Pria itu membalas genggaman tangan Evelyn, meremas jemarinya yang hangat dengan erat namun penuh kelembutan.
"Aku yang harusnya terima kasih," gumam Matthew pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar jendela. "Karena kali ini... kamu pilih aku."
Evelyn kaget bukan main. Dia tidak sengaja mengucap kehidupan ini, tapi kata-kata Matthew barusan juga membuat dia bertanya-tanya. Apa Matthew juga kembali ke masa lalu seperti dirinya?