Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : Saat Takdir Memilihku
Setelah Devan selesai berada di istana raja Bon-teng, dia serta Malea dan pengawal nya, kembali menuju alam moana. Setelah Devan sepakat bekerjasama dengan raja Bon-teng dirinya bergegas kembali. "Ini sangat tidak masuk akal!" gumam Devan saat berada jauh, dari istana itu.
“Sepertinya ada pihak lain yang sedang berusaha memperkeruh hubungan kedua belah pihak kita,” timpal Malea.
"Aku merasakan bahwa itu seseorang yang mungkin baginda kenal" timpal Manjo.
"Benarkah itu?" sambung Devan.
"Itu hanya dugaan ku saja baginda" jawab Manjo.
Devan hanya mengangguk sebagai jawaban, dia akan menelusuri siapa pelaku sebenar nya itu.
Singkat cerita dia sudah berada di istana milik nya, Devan lantas duduk di kursi nya dengan segala pikiran yang ada di benak nya, para dayang melayani Devan dengan bergantian, ada yang mengambilkan buah, ada yang memberikan minum, ada yang memijit nya, ahhh begitu senang nya hidup Devan itu. Namun Devan masih bergelut dengan pikiran nya, lalu kemudian dia teringat dengan enam siluman buaya putih, dan segera meminta manjo memanggilkan nya.
"Manjo bisa kah aku meminta tolong, panggilkan ke enam siluman buaya putih itu" ucap Devan.
"Dengan senang hati baginda, aku akan segera memanggil mereka kemari" jawab Manjo.
Tak lama Manjo pun menghilang sekejap mata, dari hadapan Devan. Kini disana ada syafir serta Meylin, karena Yunsi dan Ayumi menjaga ibu nya Devan. Agar tak ada yang berusaha menjahati nya. Malea yang sejak awal menemani Devan, sedang duduk di samping nya.
Tak lama setelah itu, datang lah enam siluman buaya putih di hadapan Devan. "Baginda memanggil kami?" ucap Lastri, yang memimpin ke lima siluman buaya putih lain nya.
"Yaa, aku hanya ingin bertanya, apakah benar raja Bon-teng yang menindas kalian sehingga mengharuskan kalian datang kemari?", tanya Devan.
Lastri yang menunduk menatap sejenak ke arah Devan, lalu kembali menunduk dan manjawab. "Benar baginda, namun dia selalu bersama para genderuwo, saat menyerang kami" jelas Lastri.
Deug!!
Kini dugaan Devan mulai terbuka lebar, bisa di pastikan itu Eyang suro, orang yang dulu dia lawan sempat memanggil genderuwo. "Baiklah, sudah cukup kalian boleh kembali, terimakasih kalian sudah kemari menamui ku" ucap Devan.
Setelah Lastri menjawab lalu dia berlalu pergi di antar kembali oleh manjo.
"Baginda, sebaik nya kau beristirahat dulu, tenangkan pikiran mu itu, kau kuat bukan berarti kau tidak akan menjadi buruk kondisinya" ucap Malea di samping Devan.
"Yaa seperti nya aku memerlukan itu, kau temani aku" jawab Devan. Seraya berdiri dan mengajak Malea.
Malea hanya menurut saja, entah mengapa Devan sering sekali bersama nya. Mungkin dia kerepotan jika harus di layani beberapa wanita sekaligus. Itu akan sangat menyulitkan bukan. Devan berbincang sejenak dengan Malea. Dia duduk di atas sebuah sofa tanpa sandaran. Dengan Malea yang berada di samping nya.
"Aku rasa ini berhubungan dengan eyang suro" ucap Devan.
"Dugaan ku juga sama baginda, seperti nya kejadian ini ada hubungan nya dengan Eyang suro" Timpal Malea.
"Kita harus mencari keberadaan dia" jawab Devan.
"Tentu saja, karena dia sudah berani membuat kegaduhan di alam moana dan alam jin" jelas Malea.
Setelah berbincang beberapa saat, Devan mulai mencumbu Malea di atas sofa itu, kedua nya mulai menyatu dalam hangat nya rasa yang tak terlukiskan.
Sementara itu, terlihat pria tua berjubah hitam sedang berdiri seraya tertawa puas. "Hahahaha, aku yakin sekarang kalian sudah termakan jebakan ku!" gumam pria tua itu.
Namun tawa nya terhenti saat, sosok hitan tinggi berbulu dengan taring di mulut nya serta mata menyala merah, menghampiri nya.
"Maaf Eyang suro! Seperti nya rencana kita sudah terendus oleh kedua Raja" jelas Sosok hitam itu, kepada pria tua yang tak lain adalah Eyang Suro.
Mata nya memerah, tangan nya mengepal kuat, dirinya berteriak seakan meluapkan amarah nya. Bagaimana bisa rencana nya tercium secepat ini. "Awasi mereka!", ucap Eyang Suro.
"Amar! Pewaris mu akan ku lenyapkan" batin Eyang Suro.
Kembali ke tempat dimana Devan berada, dirinya berbaring di atas ranjang di temani oleh Malea serta Syafir dan Meylin. Yang berada di samping nya. Tubuh Malea serta yang lain nya begitu sangat, mempesona sehingga Devan begitu betah jika bercinta dengan mereka. "Apakah kalian pernah mengeluh jika melayani ku, setiap waktu?" tanya Devan.
"Tentu tidak baginda, itu sudah kewajiban kami" jawab Malea.
"Lalu bagaimana, aku bingung jumlah kalian sangat lah banyak, apakah setiap hari aku harus berganti pasangan?" tanya Devan.
Malea serta yang lain nya tertawa kecil saat mendengar, kalimat dari raja baru mereka itu. "Itu semua tergantung diri mu baginda, karena setiap dari kami tentu akan selalu siap melayani mu" timpal Syafir.
Devan hanya mengulum senyum nya, saat mendengar jawaban dari syafir.
Singkat cerita, Devan sudah berada di sebuah taman bersama para dayang nya, Malea, Syafir dan Meylin.
"Cahaya yang temaram tanpa matahari, hanya kekosongan saja" ucap Devan.
"Beginilah alam moana baginda, kau akan terbiasa" jawab Malea.
"Aku akan kembali menemui ibu sebentar saja, aku takut dia khawatir dengan ku" timpal Marvin.
"Yaa sebaik nya baginda temui dahulu ibu baginda" sambung Syafir.
Setelah beberapa saat berbincang, Devan pun bersiap bersama Malea dan yang lain nya. Sementara wilayah ini, akan di jaga oleh Manjo dan para dayang, yang tentu nya lebih kuat dari mahluk lain nya di alam moana.
Singkat cerita, Devan sudah berada di rumah nya, dia menemui sang ibu, disana masih terlihat sibuk nya toko itu, bahkan Vivi serta Yusa pun tak sempat menyapa Devan karena tak melihat nya datang.
"Kamu darimana saja nak?" tanya Mariana ibu dari Devan.
"Aku baru saja pulang dari, rumah teman ku bu" jawab Devan.
"Yasudah, mandi lah dan makan dulu" sambung Mariana ibu nya.
Devan hanya mengangguk dan segera menuju, kamar nya untuk membersihkan diri. Tak berselang lama, setelah berganti pakaian, Devan menuju kamar ibu nya, meskipun sebenar nya dia hanya meninggalkan rumah tiga jam saja, namun di alam moana dia sudah tiga hari, dia merindukan masakan ibu nya.
Devan makan dengan lahap seperti orang kelaparan, Mariana yang melihat itu hanya menggelengkan kepala saja.
"Pelan nak makan nya, kau seperti tidak makan beberapa hari saja", ucap Mariana seraya tersenyum melihat anak nya itu.
"Soal nya ini enak bu", jawab Devan dengan cengiran khas nya. Devan kembali makan dengan lahap, dia terus saja fokus, hingga dia tak sadar ada yang sedang memperhatikan nya.