Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Wajah di Tangga Istana
Angin pagi tiba-tiba berhenti berhembus. Suara baju zirah yang berdenting di kejauhan pun lenyap seketika. Di halaman istana yang luas itu, hanya ada keheningan yang berat — seolah seluruh dunia menahan napas.
Li An mencengkeram gagang pedangnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di depannya, di tangga utama yang beralaskan batu pualam putih, berdiri sosok yang tak seharusnya ada di sini. Pakaiannya berwarna ungu keemasan, kainnya berkilauan diterpa sinar matahari pagi yang tipis. Wajahnya tampak tenang, bahkan tersenyum tipis — senyum yang akrab, senyum yang selama ini mereka rindukan, namun kini terasa seperti pisau yang tertancap di dada.
"Ibu..." bisik Ling Yue. Kakinya melemah seketika. Ia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh tangan Li An yang merangkul bahunya dengan kuat.
Wanita itu — Ratu Agung, ibunya sendiri — melangkah turun dua anak tangga. Wajahnya cantik seperti yang diingat Ling Yue, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Cahaya yang dulu hangat dan penuh kasih sayang kini berubah dingin, tajam, dan tak terjangkau.
"Kau terkejut, anakku?" suaranya lembut, namun bunyinya menggema di seluruh halaman tanpa ada kehangatan sedikit pun. "Kau pikir aku sudah mati? Begitu juga semua orang. Itu rencanaku sejak awal."
"Rencana..." Ling Yue menelan ludah, menatap wanita yang melahirkannya itu dengan mata berkaca-kaca. "Semua ini... kudeta, pengejaran, penderitaan rakyat... semua ini kau yang mengatur?"
"Tentu saja," Ratu Agung tersenyum lebih lebar, seolah mereka sedang berbincang hal biasa di teras rumah, bukan berdiri di tengah lautan prajurit yang siap bertempur. "Aku menunggu kesempatan ini dua puluh tahun. Dua puluh tahun menyembunyikan diri, melihat putriku tumbuh jauh dariku, melihat negeri ini dipimpin oleh tangan yang lemah dan korup. Sekarang saatnya mengubah segalanya."
"Dengan cara membunuh? Menindas?" Li An melangkah maju, tubuhnya menegang bagai pedang yang terhunus. "Rakyat kelaparan, saudara saling mengkhianat, istana dikepung... Apakah ini yang kau sebut perubahan?"
Ratu Agung menoleh padanya, tatapannya mengukur sosok jenderal muda itu dari ujung kaki hingga kepala. "Kau berani bicara padaku seperti itu, Li An? Ayahmu tidak pernah mengajarkan rasa hormat?"
"Ayahku mengajarkan aku melindungi yang lemah, bukan menginjak-injaknya demi ambisi pribadi!" jawab Li An lantang, suaranya membelah udara. "Dan aku tidak akan tunduk pada siapa pun yang menyakiti negeri ini — bahkan jika itu ibu dari orang yang kucintai."
Ling Yue mengangkat wajahnya, air mata menetes perlahan di pipinya. "Ibu... katakan padaku ini tidak benar. Katakan padaku kau dipaksa, kau terjebak..."
Wanita itu menggeleng pelan, senyumnya perlahan memudar. "Kau masih polos, Ling Yue. Kau pikir keadilan datang dengan duduk diam dan berdoa? Kekuasaan hanya bisa diraih dengan kekuatan. Dan aku punya kekuatan itu." Ia mengangkat tangan kanannya, dan ratusan prajurit di sekeliling halaman mengangkat senjata serentak. "Serahkan giok itu, dan aku akan membiarkan kalian hidup. Kalian bisa berdiri di sampingku, melihat negeri ini menjadi milik kita."
"Giok itu bukan alat kekuasaan," ucap Ling Yue pelan namun tegas. "Itu adalah janji. Janji untuk menjaga keseimbangan, bukan menindas."
"Cukup sudah pembicaraan kosong," nada suara Ratu Agung berubah tajam. "Kau memilih menentangku? Baiklah. Kalau begitu jadilah musuhku, sama seperti orang lain yang menghalangi jalanku."
Ia memberi isyarat kecil dengan jari telunjuk. Dua barisan prajurit maju serentak, mengelilingi mereka. Li An berdiri di depan Ling Yue, pedangnya melintang. Rouran berada di sisi lain, napasnya teratur namun matanya waspada menatap setiap gerakan musuh.
"Kita tidak bisa melawan mereka semua," bisik Rouran cepat. "Ada pintu samping di sebelah kanan, tertutup tanaman merambat. Jika kita bisa memecah barisan mereka..."
"Kita tidak akan lari," potong Ling Yue tiba-tiba. Ia melepaskan cengkeraman tangan Li An, melangkah maju hingga berdiri sejajar dengannya. "Ibu ingin giok ini. Biarkan aku yang berbicara dengannya."
"Terlalu berbahaya," cegah Li An.
"Dia ibuku," jawab Ling Yue lembut namun mantap. "Ada sisa hati di dada wanita itu. Aku yakin."
Ia melangkah keluar dari perlindungan mereka, berjalan sendirian menuju tangga istana. Ratusan mata tertuju padanya — prajurit yang tak kenal ampun, ibunya yang penuh ambisi, dan dua orang yang rela mati demi keselamatannya.
"Ibu," panggilnya pelan, berhenti sepuluh langkah di bawah sosok itu. "Aku tumbuh tanpa kau di sisiku. Aku mendengar cerita tentangmu — wanita yang bijaksana, yang memberi makan rakyat miskin, yang membela yang lemah. Di mana ibu itu sekarang?"
Ratu Agung terdiam sesaat. Bayangan kerinduan melintas di matanya, namun ia segera menepisnya. "Dia sudah mati. Mati pada hari kaisar yang bodoh itu membuangku dari istana, menuduhku pengkhianat tanpa bukti."
"Aku tahu kau tidak bersalah," kata Ling Yue. "Aku sudah membaca catatan rahasia. Mereka menuduhmu karena takut akan pengaruhmu. Tapi balas dendam tidak akan menyembuhkan lukamu, Ibu. Itu hanya menambah luka baru — pada semua orang."
"Kau tidak mengerti," Ratu Agung membalikkan badan sejenak, menatap ke arah cakrawala yang mulai cerah. "Dunia ini kejam, Ling Yue. Jika kau tidak memakan, kau akan dimakan. Aku tidak membiarkan hal yang menimpaku menimpamu." Ia berbalik kembali, menatap putrinya tajam. "Serahkan giok itu. Sekarang."
"Tidak," jawab Ling Yue tenang. "Giok ini akan kusimpan sampai aku menemukan cara mengembalikannya ke tempat yang seharusnya — bukan ke tangan siapa pun, melainkan ke rakyat yang sebenarnya berhak."
Wajah Ratu Agung mengeras. "Baiklah. Kalau begitu kau juga musuhku." Ia melambaikan tangan. "Tangkap mereka. Bawa gadis itu kepadaku. Yang lain — bunuh."
Prajurit menyerbu maju serentak. Li An melompat ke depan, pedangnya berkilauan membelah udara, menangkis serangan pertama, kedua, ketiga. Ia bertarung dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, namun jumlah musuh tak terhitung. Tubuhnya mulai berkeringat, napasnya memburu, namun ia tidak mundur selangkah pun.
Rouran bergerak lincah di sisi lain, menyerang dari sudut yang tak terduga, memecah kepadatan musuh agar memberi ruang bagi Ling Yue untuk mundur. Namun mereka semakin terdesak. Pagar senjata semakin rapat.
Tiba-tiba, suara dentuman guntur terdengar — bukan dari langit, melainkan dari tanah di bawah kaki mereka. Halaman istana berguncang. Retakan muncul di lantai batu pualam. Cahaya keemasan memancar dari dada Ling Yue, begitu terang hingga menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Giok itu melayang lepas dari kalungnya, berputar perlahan di udara, memancarkan gelombang cahaya yang mendorong para prajurit mundur beberapa langkah.
"Apa ini..." gumam Ratu Agung, melangkah mundur terkejut.
"Giok itu tidak hanya alat kekuasaan," ucap Ling Yue pelan, matanya bersinar seirama dengan batu itu. "Ia adalah jantung negeri ini. Ia merespons kebenaran, bukan kekuatan."
Giok itu memancarkan sinar ke arah menara tertinggi istana, tempat bendera Klan Langit Gelap berkibar. Kain itu tiba-tiba terbakar tanpa api, lenyap menjadi abu dalam sekejap. Cahaya itu kemudian menyapu seluruh halaman, dan di bawah sinarnya, wajah-wajah para prajurit berubah — keraguan, kebingungan, rasa malu muncul di mata mereka. Banyak yang menurunkan senjata.
"Berhenti!" bentak Ratu Agung, namun suaranya kini terdengar goyah. "Jangan biarkan mereka memengaruhimu! Serang!"
Namun tak ada yang bergerak. Sebagian prajurit berlutut, sebagian lain menoleh ke arah Ratu Agung dengan tatapan curiga. Kekuasaannya yang tampak tak tergoyahkan sesaat lalu kini retak seketika.
Li An memanfaatkan momen itu. Ia berlari menaiki tangga, pedangnya terhunus, namun bukan untuk menyerang — ia berdiri di samping Ling Yue, menghadap Ratu Agung.
"Sudah selesai," katanya tenang namun tegas. "Mereka tahu sekarang. Mereka tahu siapa yang benar dan siapa yang salah."
Ratu Agung menatap kerumunan yang mulai berpaling darinya, lalu menatap putrinya yang berdiri tegak di hadapannya. Di matanya akhirnya muncul air mata — bukan kemarahan, melainkan kesedihan yang mendalam dan tak tertahankan.
"Apakah ini kemenanganmu?" suaranya pecah. "Mengkhianati ibumu sendiri?"
"Aku tidak mengkhianatimu, Ibu," jawab Ling Yue lembut. "Aku menyelamatkanmu. Sebelum kau menjadi orang yang tak bisa lagi kau kenali sendiri."
Angin berhembus pelan, membawa debu dan sisa-sisa cahaya keemasan yang perlahan memudar. Giok itu kembali melayang turun ke tangan Ling Yue, terasa hangat dan tenang.
Namun di saat itulah, dari bayang-bayang pintu istana, muncul sosok lain — Paman Mu. Ia tidak sendirian. Di belakangnya berbaris pasukan berkuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, baju zirah mereka hitam pekat tanpa lambang apa pun.
"Kau terlalu lembut, Kakak," ucap Paman Mu pelan, menatap Ratu Agung. "Kau membiarkan perasaan menghalangi. Tapi aku tidak." Ia mengangkat pedangnya. "Pasukan ini setia hanya padaku. Dan sekarang, aku mengambil alih."
Ratu Agung menatap adik kandungnya dengan tak percaya. "Mu... kau..."
"Kau sudah tidak berguna," potongnya dingin. "Rencana ini seharusnya menjadi milikku sejak awal. Kau hanyalah jembatan."
Ia memberi isyarat, dan pasukan berkuda itu menyerbu maju — bukan ke arah Ling Yue dan kawan-kawan, melainkan ke arah prajurit yang setia pada Ratu Agung. Pertempuran meletus kembali, kali ini antara dua kelompok yang sama-sama mengaku memegang kekuasaan.
Kekacauan pecah di mana-mana. Teriakan, denting senjata, kuda meringkik — semuanya bercampur menjadi satu. Li An menarik tangan Ling Yue.
"Kita harus pergi sekarang!" teriaknya di tengah keributan. "Ini bukan pertarungan kita!"
"Dan Ibu..." Ling Yue menoleh cemas ke arah Ratu Agung yang berdiri terpaku di tengah tangga, dikelilingi bahaya dari segala sisi.
"Dia harus memilih jalannya sendiri," ucap Li An pelan namun tegas. "Kita tidak bisa memaksanya. Tapi kita bisa menyiapkan tempat untuknya kembali — jika ia mau."
Dengan berat hati, Ling Yue mengangguk. Di bawah lindungan kekacauan itu, ketiganya menyelinap pergi, menjauhi halaman istana yang kini berubah menjadi medan perang saudara.
Di balik dinding istana, di tempat tersembunyi, mereka berhenti untuk bernapas. Napas mereka terengah, tubuh penuh keringat, namun jiwa mereka lebih lelah daripada tubuh.
"Paman Mu..." gumam Ling Yue dengan wajah pucat. "Dia mengkhianati Ibu. Semua ini..."
"Belum berakhir," ucap Li An, merangkul bahu gadis itu erat. "Sekarang kita tahu musuh yang sebenarnya. Dan dia tidak akan berhenti sampai seluruh negeri berada di bawah kakinya."
Rouran menatap ke arah asap yang mulai mengepul dari arah istana. "Kita butuh sekutu. Tidak bisa bertiga saja."
"Aku tahu," kata Ling Yue, menatap giok di tangannya yang masih memancarkan cahaya lembut. "Ada orang yang akan mendengarkan. Orang yang setia pada ayahku, pada kaisar yang sebenarnya. Tapi untuk menemui mereka, kita harus melintasi perbatasan dan masuk ke wilayah yang dikuasai musuh."
Li An menggenggam tangannya. "Di mana pun kau pergi, aku ikut."
"Dan aku juga," tambah Rouran tegas.
Ling Yue tersenyum tipis, meski matanya masih basah. "Terima kasih. Kali ini kita tidak akan lari. Kita akan membangun kekuatan — dari bawah, dari rakyat, dari mereka yang masih percaya pada keadilan."
Di kejauhan, matahari mulai naik tinggi, namun bayangan gelap masih menyelimuti ibu kota. Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.