NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akta Cerai

#12

Hari ketiga Dina menjalani perawatan di rumah sakit pasca persalinan, kondisinya belum sepenuhnya pulih, tapi ia sudah mulai bisa bergerak, berjalan mengelilingi kamar sesuai anjuran dokter agar proses penyembuhannya lebih cepat. 

ASI nya juga mulai keluar, dan dengan telaten Dina memompa cairan berwarna putih padat gizi tersebut, untuk untuk menunjang perawatan bayinya di ruang NICU. Kata dokter anak, ASI dari ibu memegang peranan penting untuk tumbuh kembang bayi. 

Sehari dua kali Dina diberi izin menemui bayinya, meskipun belum bisa digendong, namun, Dina sudah cukup senang, ada di dekat buah hatinya. Perasaannya masih campur aduk, antara bahagia dan sedih. Bahagia karena anaknya lahir dengan selamat, sedih karena kondisinya masih membutuhkan banyak perawatan. 

Saat Dina memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungannya, ia juga sudah menyiapkan mentalnya untuk resiko semacam ini. Maka ia tak boleh mundur apalagi menyerah, karena bayinya sudah punya takdir, rezeki, serta jalan hidup yang akan dilaluinya kelak. 

Apakah Farhan datang menemui bayinya? Selama tiga hari di rumah sakit, tak sekalipun Dina melihat atau mendengar tentang kedatangan Farhan. Pria itu benar-benar berhati batu, tak terenyuh sedikitpun dengan kondisi buah hatinya. Hal itu membuat Dina semakin yakin bahwa keputusannya berpisah dari Farhan adalah keputusan paling tepat. 

“Sudah siap?” Bu Rara hendak pergi ke ruang NICU, guna mengantar stok ASI untuk Ghaza, nama yang Dina sematkan untuk putranya. 

“Sudah, Ma.” 

Bu Rara mengambil alih cooler bag tempat menyimpan ASI selama perjalanan menuju ruang perawatan bayi. “Hari ini aku jalan kaki saja, Ma.” 

Bu Rara terkejut, karena ruangan NICU dan ruang perawatan Dina cukup jauh, dan bisa dibayangkan nyeri yang harus Dina rasakan selama berjalan ke ruangan tersebut. “Tapi—”

“Aku bisa, Ma. Dan memang aku harus bisa, jika sakit begini saja sudah membuatku cengeng dan menangis. Bagaimana aku bisa menemani Ghaza menghadapi kerasnya dunia?” 

Senyum Bu Rara merekah, “Baiklah, kita jalan pelan-pelan saja, kasih tahu Mama kalau kamu pusing atau perlu bantuan kursi roda.” 

Dina mengangguk, dan mulai berjalan dengan langkah pelan. Sesekali ia berhenti bila kepalanya pusing, atau luka jahitan di perutnya tiba-tiba terasa nyeri. Namun, setelah reda, Dina kembali melanjutkan langkah hingga ia tiba di lorong terakhir menuju ruang NICU. 

Tapi— suasana berubah secara tiba-tiba. Kelap-kelip lampu merah di depan pintu ruangan NICU menyala. 

“Code blue! Code blue! Code blue!” 

Dina menepi saat tiba-tiba ia melihat dokter dan beberapa staf medis berlari melewatinya begitu saja, mereka semua masuk ke ruangan NICU. 

Deg! 

Mendadak perasaan Dina tak nyaman, “Ma— kenapa mereka semua berlari?” tanya Dina, tanpa prasangka apa-apa. 

“Entahlah, Mama juga baru kali ini melihatnya,” jawab Bu Rara. 

“Kalau tak salah, dokter yang tadi adalah dokter yang menangani Ghaza, kan?”

“Iya, tapi mungkin saja pasien yang lain.” Bu Rara terus memberikan sugesti positif, meski dadanya ikut berdebar tak karuan. 

Dina memejamkan mata, mencoba untuk mempercayai ucapan Bu Rara. Ya, mungkin saja dokter sedang menangani pasien yang lain, karena bukan hanya Ghaza yang ada di ruangan NICU. Ada beberapa bayi lain yang kondisinya juga memprihatinkan. 

Tapi, beberapa saat kemudian, lampu merah di depan ruang NICU kembali padam, Dina menunggu sejenak, karena tak ada perawat yang berjaga di depan ruangan. Semoga saja bayinya berhasil diselamatkan, Dina membatin berharap yang terbaik meski bukan bayinya. 

Namun, beberapa menit kemudian, dokter yang keluar dari ruangan justru menghampirinya. Raut wajah dokter tersebut, membuat Dina menyadari sesuatu. 

“Ibu Dina—” sapa sang dokter. 

“A-ada apa, ya, Dok?” sahut Dina, gugup tapi masih mencoba berpikir positif. 

“Kami sudah berusaha maksimal, tapi— kondisi bayi ibu terus menurun sejak semalam.” 

Dina berdiri tegap, lupa akan rasa sakit yang mendera, sebab Dokter mengatakan hal yang membuatnya takut. “Anakku! Kenapa anakku, Dok!?” pekik Dina panik, jantungnya berdebar kencang, serta darahnya seolah ikut mengalir cepat melalui sela-sela pembuluh darahnya. 

“Terjadi komplikasi juga pada paru-parunya, itulah hal utama yang membuatnya kesulitan bertahan, ditambah lagi, paru-parunya belum matang dengan sempurna. Jadi, kami tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyelamatkan bayi Anda.” 

“Tidak! Dokter pasti bohong, kan?! Katakan Dokter sedang berbohong!” jerit Dina, seketika ia menangis keras, hingga tubuhnya luruh merosot ke lantai. 

“Aku bahkan belum sempat memeluknya, Dok.” 

“Anakku, anakku yang kuat, anakku hebat karena ia sanggup bertahan hingga lahir ke dunia, tidak mungkin ia pergi begitu saja,” sambung Dina masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja didengarnya. 

“Nak, yang sabar, ayo beristighfar, jangan seperti ini.” Bu Rara mencoba menenangkan Dina yang mulai terlihat seperti orang ling-lung. 

“Kami ikut berduka cita, Bu.” Dokter menundukkan kepalanya, ikut berbela sungkawa, serta merasakan kesedihan mendalam sama seperti yang dirasakan Dina. 

Tiba-tiba Dina bangkit dan menerobos masuk ke ruang NICU, di sana, di inkubator tempat Ghaza berbaring, semua peralatan, kabel dan selang telah dilepas oleh perawat. Tinggallah tubuh lemah Ghaza yang sudah tak bertenaga melawan penyakit yang dideritanya. 

“Kenapa dilepas? Ayo pasang lagi alat-alatnya, pasang kataku!” sentak Dina dengan suara melengking pada para perawat yang mengitari inkubator Ghaza. 

Para perawat itu hanya diam menunduk, mereka memahami bagaimana rasa sakit dan sedih yang Dina rasakan, kini cobaan kembali datang menghampiri. 

Tapi sisi positifnya, Dina tak perlu lagi melihat putranya kesakitan menjalani perawatan, bolak-balik ke rumah sakit untuk mengeluarkan cairan yang memenuhi kepalanya. Sekedar membayangkannya saja, sudah bisa ikut merasakan berata sakit saat harus menjalani tindakan tersebut. 

Bu Rara menyusul masuk, ia memeluk tubuh Dina yang kini sedang berlutut di lantai, memandangi wajah mungil Ghaza yang pucat membiru, “Ghaza— kenapa kamu pergi tinggalin Mama, kenapa?” raung Dina. 

“Sudah, Nak, sudah. Allah sudah berkehendak, kita hanya hamba yang menjalankan takdir yang sudah tertulis di atas sana. Jangan meraung, apalagi berlebihan menangis, anakmu pasti ikut merasakan kesedihanmu,” kata Bu Rara menenangkan serta memberikan sedikit bisikan agar Dina tidak terlalu tenggelam dalam kesedihan mendalam. 

Beberapa saat berlalu, Bu Rara masih membiarkan Dina menangis, tapi tak sampai meratapi kepergian putranya. 

Pak Hermanto datang setelah diberi kabar para perawat yang ada di bangsal perawatan Dina. Pria itu berdiri diam di depan pintu, kepalanya menunduk, ia berusaha menahan air mata kesedihannya, tapi pada akhirnya tetap gagal. 

•••

Tak perlu menunda lebih lama lagi, apalagi mengabarkan pada Farhan tentang keadaan Ghaza. Sore itu juga Ghaza dimakamkan, dan beberapa tetangga ikut mengantarkan bayi malang tersebut ke peristirahatan terakhirnya. 

Dina yang belum bisa menguasai diri sepenuhnya, masih terus terisak, terutama saat gumpalan tanah mulai menimbun tubuh mungil putranya. Sekuat tenaga ia tak meratapi kepergian Ghaza, agar putranya benar-benar pergi dengan tenang. 

“Surga menantimu anakku, ingatlah bahwa sejak kehadiranmu dalam perut Mama, kasih sayang Mama padamu tak pernah berkurang sedikitpun. Mama bahagia pernah mengandungmu selama delapan bulan, melahirkanmu ke dunia, dan jika ini adalah takdir hidupmu, Mama ikhlas, benar-benar ikhlas, kembalilah, kembali ke pelukan pemilik sejatimu. Selamat jalan, Ghaza Pratama. Tunggu Mama di surganya Allah, ya.” 

•••

Menjelang maghrib, mereka tiba kembali ke rumah, Bu Susi tetangga sebelah rumah, tiba-tiba datang. 

“Bu, tadi ada kiriman.” 

Bu Rara menerima amplop pemberian tetangganya itu. “Terima kasih, Bu Susi.” 

“Sama-sama, Bu,” sahut Bu Susi. “Dina, Ibu ikut berduka, ya. Yakinlah, bayimu sudah berada di surga.” 

“Amin, terima kasih, Bu Susi.” 

Setelah itu, Bu Susi pun pamit pulang. Dina membuka amplop berwarna coklat tersebut, karena surat itu memang ditujukan untuknya. 

Ternyata, akta cerai yang sudah disahkan oleh pengadilan agama. Entah sejak kapan Farhan mengajukan gugatan, karena Dina sama sekali tidak menerima surat panggilan sidang, atau mediasi. 

Tiba-tiba saja sudah ada akta cerai. 

1
sutiasih kasih
cinta....
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄
Ma Em
mungkin Ghazi kangen ingin bertemu dgn Dina sebagai ibu susunya .
Patrick Khan
rinduuuu cie cie ghazi rindu ya..ah km jg rindu kan azam🤣🤣🤣
Shee_👚
bukn hanya ghazi yang rindu tapi bapaknya juga rindu🤣
Dew666
Lagi dong
moon: sek blm di tulis 🤣🙏
total 1 replies
vania larasati
lanjut
Eva Karmita
semoga saja kalau nanti Sarah juga hamil anak Farhan anak yg di kandungan juga cacat ... seperti matanya cuma satu kayak anak Dajjal ...jahat banget jadi wanita 😭
vania larasati
lanjut
Dew666
Kapan azam dan Dina nikah nih😀
moon: sek selesaikan dulu masalahnya baru naik ke step selanjutnya 🤭
total 1 replies
Esther
Semangat Dina
Esther
Ternyata ada campur tangan Sarah penyebab anak Dina cacat sejak dalam kandungan.
Jahat banget kamu Sarah
Nar Sih
semagat dina 💪untuk jadi petani buah moga lancar yaa
moon: siap semangattt🦾🦾🦾🦾🦾
total 1 replies
Bunda Idza
salah panggil ini
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Bunda Idza
semangat Thor..

ditunggu 🥰🥰🥰
Shee_👚
Dina bakalan jadi wanita sukses dalam perkebunan tar. si farhan bakalan jadi gembel😂
Shee_👚
ayah atau papa kak
Shee_👚: sama kak, tapi kan jadi gimana gitu
total 3 replies
Shee_👚
sarah bener-bener biadab bayi gak bersalah jadi korban. tapi setidaknya dengan kejadian itu dina bisa melihat sifat asli farhan.
Shee_👚
ternyata kelainan sama anak dina ulah sarah😤
Shee_👚
bagus duwit kagak punya, dan bapak asli malika datang Untuk membongkar segalanya🤣
Shee_👚
lah itu tau, jadi sadar diri kalian yang memulai itu semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!