NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14_Perasaan nyata sang putri

[1 Minggu Setelahnya]

Tia membuka matanya dengan pelan. Ia meregangkan badannya.

“Hmm... sudah pagi ya?”

Ia bangun dan membuka jendelanya.

Sinar pagi menyorot kedua matanya. Angin sejuk masuk ke kamarnya dan membuat rambutnya sedikit terangkat. Dari jendela itu, ia bisa melihat ibu kota yang sudah ramai dengan hiruk-pikuk kegiatan orang-orang.

Tia yang masih mengenakan piyamanya menarik napas dalam-dalam.

“Rasanya sangat menenangkan...” sambil tersenyum tipis.

Ia berjalan ke arah lemarinya lalu membukanya. Di dalam lemari itu ada banyak sekali baju-baju yang bagus. Tapi hari ini ia memilih baju untuk latihan.

“Huhh... hari ini ada latihan lagi. Aku sudah lelah...” sambil merengut kan pipinya.

Setelah berganti baju, ia langsung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.

“Hari ini pasti Papa dan Kakak tidak akan datang... seperti biasanya.”

Ia menundukkan kepalanya, wajahnya datar.

Lalu ia mengangkat wajahnya kembali.

“Untuk apa aku memikirkan mereka. Selama aku memiliki Ibu, aku akan baik-baik saja.”

Saat berjalan di lorong menuju ruang makan, ia melihat ibunya yang berjalan pelan. Ia langsung bergegas menghampirinya.

“Ibu, tunggu aku!”

Ibunya membalikkan badan dan menoleh ke belakang.

“Wah... Tia, ternyata.”

Ia mengusap pipi Tia dengan lembut.

“Tumben sekali kau belum berada di ruang makan?”

Tia menurunkan bahunya dan menghela napas.

“Huhh... itu membosankan, asal Ibu tahu. Aku harus selalu makan sendiri. Papa dan Kakak selalu saja sibuk. Ayah terlalu sibuk karena terobsesi dengan kejayaan, dan Kakak sangat terobsesi dengan kepopuleran.”

Ibu Tia tersentak kaget, matanya sedikit membelalak.

“Ehh... benarkah seperti itu?”

Tia mengerutkan dahinya.

“Benar sekali. Dan lagi, sifat mereka yang sama-sama suka mempermainkan perempuan... itu benar-benar sangat menjijikkan.”

Ibu Tia ternganga, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Be-benarkah ya...” Alisnya naik-turun.

“Ngomong-ngomong, Tia... ada yang perlu Ibu tanyakan.”

Tia menjawab cepat.

“Tentu. Apa itu?”

Ibu Tia bertanya pelan.

“Sepertinya kau jadi sedikit lebih berekspresi dari biasanya ya?”

Tia langsung menundukkan kepalanya. Pipinya memerah.

“Ti-tidak juga kok.”

Ibu Tia menaruh tangan di mulutnya, menyembunyikan senyum tipis.

“Benarkah? Tidak ada alasan lain?”

Tia terus menunduk. Pipinya dan telinganya merah padam.

“Be-benar kok. Ti-tidak ada alasan lain...” suaranya gugup.

Ibu Tia mengusap kepala Tia, lalu mulai berjalan lagi menuju ruang makan.

“Ayo, Tia. Kalau kau terus berdiam diri di situ, kau akan telat sarapan loh.”

Tia terkejut. Bahunya menegak, mukanya masih merah padam.

“Ba-baik. Aku akan segera ke sana.”

Mereka akhirnya sampai di ruang makan. Begitu masuk, mereka terkejut.

Ada seorang wanita yang terlihat menangis di samping Raja.

“ SAYANG! Apa yang kau lakukan kepadanya, hah?!”

Tia menurunkan bahunya, matanya membelalak.

“Bohong, kan... Nyonya Flora?”

Flora menghapus air matanya dengan kedua tangan.

“Maaf mengganggu waktu makan kalian. Kalau begitu, aku izin pergi dulu.”

Ia langsung berlari melewati mereka berdua.

Ibu Tia mengerutkan alisnya dan menggertakkan gigi.

“Sayang, jangan bilang kau memperlakukan Flora dengan kasar lagi!?”

Tia langsung menangis dan berlari meninggalkan ruang makan.

“Aku benci kepada Papa! Sangat benci!!”

Ibu Tia benar-benar marah. Wajahnya mengkerut. Ia berjalan cepat ke arah Raja dan langsung menamparnya dengan sangat keras.

*PLAK!*

“Kau benar-benar sudah keterlaluan, Margo!”

Raja hanya menatap istrinya dengan tatapan tajam.

“Aku melakukan hal itu, karena kau yang bilang tidak ingin berhubungan seperti itu lagi denganku.”

Wajah Ibu Tia berubah. Bahunya menurun. Ia langsung membungkuk.

“Maafkan saya, Yang Mulia... karena telah menampar wajah Yang Mulia.”

Raja membuang mukanya.

“Aku maafkan. Tapi lain kali jangan berbuat seenaknya seperti itu lagi.”

 

Tia berlari mengejar Nona Flora hingga ke taman.

_Kenapa? Kenapa Ayah membuat Nyonya Flora menangis?_

Sampai di taman, ia mencari ke sekeliling dengan tergesa.

_Di mana? Di mana Nona Flora sekarang?_

Tiba-tiba dari belakang terdengar langkah kaki.

“Ah... Tia.”

Tia langsung membalikkan badan.

“Nyonya Flora!” Ia berlari ke arahnya. “Apa Nona sudah tidak sedih lagi?”

Flora tersenyum pada Tia.

“Hmm... tidak kok. Karena Tia sudah ada di sini.”

Ia mengambil sapu tangannya dan mengelap sisa air mata di matanya.

Tia murung.

“Maaf, Nyonya Flora... karena Papa, Nona jadi seperti ini.” Air matanya menetes.

Flora tersenyum tipis dan memegang bahunya.

“Hei, Tia. Mari duduk di bangku yang di sana.”

Tia mengangguk pelan. Mereka berjalan ke bangku itu. Setelah duduk, Flora mengambil sapu tangannya dan mengusap air mata Tia.

“Tidak apa-apa kok, Tia tidak perlu bersedih.”

Flora lalu menggenggam tangan Tia.

“Tia, kau tidak perlu menangis. Ini bukan salah Tia. Mungkin Raja hanya tidak ingin diganggu oleh selir sepertiku.”

Lalu ia menyandarkan kepala Tia ke pundaknya dan mengelusnya lembut.

“Ouh, iya. Aku hampir lupa mengatakannya... terima kasih ya, Tia. Karena sudah mau berteman dengan Kai.”

Tia menggeleng pelan.

“Tidak perlu berterima kasih kok. Justru aku yang ingin berterima kasih kepada Nona.”

Ia menggenggam tangan Flora erat.

“Terima kasih... karena sudah membuat Kai ada di dunia ini.”

Flora sedikit terkejut.

“Memangnya ada apa?”

Tia tersenyum tipis.

“Sebenarnya beberapa hari yang lalu...”

[Kilas Balik 2]

Tia berjalan menuju tempat latihan seperti biasa.

Saat itulah ia melihat seorang anak sedang berlatih gerakan pedang sendirian di lapangan latihan ksatria.

“Siapa dia? Kenapa dia berlatih di tempat ini?”

Tia menghampirinya dan melambaikan tangan.

“Oii... sedang apa kau di sini?”

Kai menoleh. Ia diam sebentar, lalu melanjutkan latihannya.

Tia kesal. Ia menghampiri dan menggenggam tangan Kai.

“Hei! Kau!” Ia menarik Kai dengan paksa. “Cepat ikut denganku!”

Kai bingung, hanya bisa pasrah.

“Maaf... kau mau membawaku ke mana?”

Tia merengut.

“Ke ruang latihan!” Nada suaranya judes. Ia menoleh ke Kai.

“Dengar ya. Sebagai Putri Kerajaan, aku tidak akan membiarkanmu latihan di tempat seperti itu. Itu berbahaya.”

Kai memiringkan kepala.

“Kenapa berbahaya?”

“Karena kau bisa saja dibunuh oleh seorang assassin. Itu yang biasanya aku dengar dari guruku.”

Sambil terus menyeret Kai.

Sampai di tempat latihan, ia mendorong Kai ke tengah ruangan.

“Cepatlah ke sana!”

Kai yang tidak tahu apa-apa menurut saja. Ia berjalan ke tengah lapangan sambil menggenggam pedang kayunya.

Saat Guru Yue datang, ia terkejut melihat Kai.

“Kena... Tia, apa kau mengenalnya?”

Tia menggeleng.

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya.”

Guru Yue menunduk dan berbisik di telinga Tia.

“Dengar, Tia. Orang yang sering latihan dari pagi sampai malam yang kemarin ku ceritakan... itu dia.”

Tia terkejut dan menoleh ke Kai.

“Tapi dia tidak kelihatan seperti orang yang sering berlatih ilmu pedang.”

Guru Yue berbisik lagi.

“Aku tidak bohong, Tia. Tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan.”

Ia menatap Kai tajam, lalu berbisik lagi.

“Apakah kau tahu julukan ‘Sang Putri Pedang’?”

Tia mengangguk.

“Tentu. Dia salah satu pahlawan, kan? Orang yang hampir mengimbangi teknik berpedang milik pahlawan legendaris Xenon. Dan anak ini adalah putranya.”

Tia tersentak.

“Ehh... bohong! Lalu bagaimana caranya dia masih bisa bertahan sejauh ini?”

Guru Yue menggeleng pelan.

“Aku pernah melihatnya. Satu tahun lalu, mereka sparing. Walaupun Sang Putri Pedang hanya memakai satu tangan, anak ini tidak berhenti menyerang. Saat Putri Pedang menginjakkan kakinya ke genangan lumpur, anak itu langsung melompat ke udara, memutarkan tubuhnya, lalu menebas dengan sangat kencang.”

Mata Tia berbinar.

“Lalu... apakah dia menang?”

Guru Yue menggaruk kepala.

“Tidak mungkin. Putri Pedang menangkisnya dengan tangan satunya lagi. Tapi... walau dia kalah, aku belum pernah dengar ada orang yang mampu bertahan lama melawan Putri Pedang yang hanya pakai satu tangan.”

Mereka berdiri tegak lagi. Tia menatap Kai.

“Dari yang aku pahami... anak ini benar-benar cepat beradaptasi dan sangat jenius dalam pertarungan.”

Kai berjalan ke arah mereka. Guru Yue merinding ketakutan.

Kai bertanya.

“Hei... jangan bilang kau membawaku ke sini karena ingin mengajakku latihan bertarung?”

Tia mengangguk pelan.

“Begitulah.”

Kai tersenyum dan menunduk.

“Aku senang atas tawaranmu. Tapi maaf, aku harus menolak.”

Tia kaget. Ia mengerutkan dahi, mengira Kai meremehkannya.

“Kau... benar-benar...”

“Karena aku tidak bisa mengarahkan pedangku kepada perempuan.” Sambil tersenyum tipis ke Tia.

Tia tersipu. Pipinya merah padam.

“Hah? Apa yang kau bicarakan?!”

Guru Yue menggenggam bahu Tia.

“Aku keluar dulu sebentar. Kau tetap tunggu di sini ya.” Lalu ia keluar.

Tia memegangi dadanya. _Kenapa rasanya begitu hangat?_

Ia bertanya pelan.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

Kai menjawab.

“Karena orang yang paling kucintai pernah berkata padaku, bahwa aku tidak boleh mengarahkan pedangku kepada perempuan.” Sambil tersenyum tipis.

Tia memegangi dadanya lagi. _Ah... tadi rasanya hangat. Tapi sekarang jadi dingin._

Ia tersenyum tipis.

“Siapa orang yang kau cintai itu?”

Kai tersenyum lebar.

“Dia ibuku. Namanya Flora.”

Tia terkejut, ternganga. _Flora... jadi anak ini anak Nyonya Flora? Dan ternyata Nona Flora adalah seorang pahlawan._

_Tapi begitu ya... dia sangat mencintai orang seperti itu._ Sambil tersenyum tipis.

Setelah itu Kai langsung berlari meninggalkan Tia.

“Kalau begitu, selamat tinggal.”

Tia menatap punggung Kai dari jauh.

_Baru pertama kali ini ada yang menganggapku sebagai seorang perempuan biasa._

Keesokan harinya, Tia mengubah penampilannya. Rambutnya digerai. Ia memakai gaun putih yang indah.

Saat berjalan, ia melihat Kai sedang istirahat di bangku taman.

Tia berjalan ke arahnya, lalu berdiri di hadapannya dan tersenyum.

“Hei! Kamu! Mau jadi temanku?”

[Akhir Kilas Balik 2]

Flora tertawa tipis mendengar hal itu.

“Jadi begitu... tidak kusangka Kai kecilku akan mengatakan hal seperti itu.”

Tia langsung tersipu malu. Pipi dan telinganya berubah menjadi merah padam.

“Sudahlah, Nyonya Flora... aku benar-benar sangat malu.”

Flora langsung menutup mulutnya dan mencoba menahan tawa dengan cara pura-pura batuk.

“Jadi... apa jangan-jangan perubahan dirimu yang benar-benar mencolok ini karena kau menyukainya?”

Tia tersentak. Mulutnya bergetar karena panik. Matanya melirik ke segala arah, ditambah wajahnya yang jadi lebih merah dari sebelumnya.

“Be-begitulah... ahh, aku sangat malu!” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Flora tersenyum lembut lalu menidurkan kepala Tia ke pangkuannya.

“Begitu ya... kalau kau menyukainya, tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Jika kalian ingin melangkah ke arah yang lebih jauh... itu masih boleh loh.”

Tia langsung duduk dan menatap wajah Flora dari dekat. Matanya berbinar.

“Benarkah?!”

Setelah sadar, ia langsung membuang mukanya karena malu.

“Tapi... kami kan bersaudara. Jadi tidak mungkin...”

Flora tersenyum tipis dan memalingkan wajah Tia ke arahnya.

“Karena kalian bukanlah saudara kandung, harusnya itu diperbolehkan. Tapi... semuanya tergantung kepadamu sendiri, Tia.”

Ia mengusap pipi Tia pelan.

“Pokoknya... aku sangat mendukung kalian berdua.”

[akhir kilas balik]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!