NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Salah Tarik

"Dasar menyebalkan."

Belvina menatap sengit ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Lalu ia meraih ponselnya dan menjatuhkan diri di tepi ranjang. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

“Capek banget hari ini,” gumamnya.

Layar ponselnya menyala, game favoritnya terbuka. Dalam hitungan detik, fokusnya pindah total. Jemarinya bergerak cepat, sesekali mengetuk layar dengan serius.

Beberapa menit berlalu tanpa terasa. Belvina melirik meja nakas, gelas di atasnya kosong.

“Hais.”

Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang mulai kering.

“Debat sama dia bikin haus.”

Pandangannya masih tertuju pada layar saat bangkit dari ranjang. Kakinya melangkah ke arah meja kecil dekat jendela tempat botol air biasanya disimpan.

Saat itulah pintu kamar mandi terbuka.

Alden keluar sambil mengusap rambutnya yang basah. Tubuh bagian atasnya terbuka, hanya handuk yang melilit rendah di pinggang. Ia berhenti.

Belvina bahkan tidak menoleh. Matanya masih menatap ponsel.

Alden menyipitkan mata. Entah kenapa, ia tidak suka diabaikan seperti itu.

“Apa permainan itu semenyenangkan itu?”

Belvina tak menjawab, masih sibuk menekan layar.

Alden mendecak pelan.

Detik berikutnya—

Dug!

“Akh!”

Kaki Belvina tersandung kaki ranjang. Tubuhnya terhuyung ke depan.

PLAK!

Ponselnya terlempar ke lantai.

Refleks, tangannya mencari pegangan. Dan yang berhasil ia raih adalah... handuk Alden.

Alden membeku.

Belvina jatuh terduduk di lantai. Handuk ikut terlepas.

Ruangan mendadak senyap.

“Aduh... sakit...” keluh Belvina sambil mengusap lutut.

Belvina mendongak, lalu membeku. Matanya membesar.

“AAKH!”

Kedua tangannya langsung menutup wajahnya sendiri.

Alden tersadar. Ia bergerak cepat memungut handuk dan mengenakannya kembali.

“Belvina!” geramnya dengan wajah memerah.

“Mesum!” seru Belvina dari balik telapak tangan.

Alden menatap tak percaya.

“Mesum? Aku?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kau yang menarik handukku.”

Belvina masih menutup mata rapat.

“Bukannya tadi kau bawa baju ke kamar mandi?! Kenapa keluar cuma pakai handuk?!”

Alden menjawab datar.

“Aku lupa membawa pakaian dalam.”

Belvina menurunkan tangan perlahan, lalu menatapnya sinis.

“Kau pikun?” ia berdecak. "Harusnya kau berhenti jadi CEO."

Alden maju selangkah.

"Kau yang mengacaukan pikiranku."

“Kenapa jadi aku? Jangan playing victim.” Belvina beranjak dari lantai sambil menahan nyeri di lututnya.

“Jelas karenamu,” tandas Alden. “Kau merampas motor orang, lalu membajak mobilku, dan sekarang...”

Alden tak melanjutkan kalimatnya.

“Barusan itu kecelakaan,” balas Belvina.

“Dan kecelakaan itu akibat ulahmu. Kecerobohanmu. Kau jalan tapi tak pakai mata.”

“Mana ada orang jalan pakai mata? Pakai kaki.”

“Kau—”

“Cukup.” Belvina memotong. “Aku malah tambah haus karenamu.”

Ia mengerucutkan bibir, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu. “Ponselku. Game-ku.”

Matanya menyapu lantai. Saat menemukannya, ia buru-buru memungut ponsel itu.

“Mati,” gumamnya kesal. “Ishh, ini semua karenamu.”

“Berhenti menyalahkanku atas kecerobohanmu,” ujar Alden sambil berjalan menuju lemari.

Ia makin kesal karena Belvina justru hanya peduli pada ponselnya. Lalu pandangannya turun melihat tubuhnya sendiri. Biasanya para wanita akan melirik tubuh proporsional seperti miliknya.

Belvina berbeda. Ia sama sekali tak tertarik, malah sibuk meneguk air dari botol di tangannya.

Namun pikirannya tidak. Apa yang baru saja ia lihat beberapa detik lalu terus berputar di benaknya. Sesuatu yang menggantung. Tak seharusnya ia melihatnya, apalagi karena kecerobohannya.

Lalu bayangan tadi pagi muncul begitu saja saat ia terbangun. Ada sesuatu yang terasa menusuk pahanya, hangat, keras, dan bergerak. Sesuatu yang pagi tadi hanya ia rasakan samar, namun beberapa saat lalu akhirnya ia lihat wujudnya.

“Uhuk—uhuk!”

Belvina tersedak karena kehilangan fokus saat minum.

Alden, yang baru selesai mengambil pakaian dalam, menoleh ke arahnya. Wajah Belvina merah padam seperti kepiting rebus. Sudut bibirnya terangkat samar, lalu ia melangkah ke arahnya.

“Kenapa? Masih terbayang?”

Wajah Belvina makin panas. “Apaan sih?! Dasar mesum!”

“Aku suamimu.”

“Di atas kertas.”

“Kalau begitu...” Alden bergerak mendekat. “Gimana kalau kita jadikan bukan cuma di atas kertas?”

Belvina refleks mundur. “Apa maksudmu?” Wajahnya tetap galak, suaranya meninggi, tetapi jantungnya berdegup kacau.

“Tadi pagi sudah menempel, barusan sudah lihat. Sekarang—”

“Jangan macam-macam!”

Belvina mendorong dada Alden, tetapi pria itu bergeming di tempatnya.

Dan entah kenapa, Alden justru menikmati reaksi Belvina yang berpura-pura berani padahal jelas gugup.

“Aku cuma mau satu macam,” sahut Alden.

Ia menunduk, lalu berbisik di telinga Belvina. Belvina seketika menahan napas.

“Hakku.”

Mata Belvina seketika membulat. “Jangan mimpi!”

DUG!

“Akhk!” Alden memekik tertahan.

Belvina menginjak kakinya keras-keras, lalu buru-buru kabur.

“Belvina!”

Namun wanita itu sudah lebih dulu membuka pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sebentar.

“Weeek!” ejeknya sambil menjulurkan lidah ke arah Alden.

Belum sempat Alden membalas, pintu sudah tertutup keras.

BRAK!

Alden berdiri kesal sekaligus gemas. Jemarinya menggenggam boxer-nya erat, tetapi sudut bibirnya justru tertarik tipis.

“Akan kubuat kau tak bisa tidur malam ini,” ancamnya, meski Belvina sudah lebih dulu menghilang.

 

Di luar kamar, Belvina berhenti berlari. Ia menyandarkan punggung ke dinding sambil mengatur napas yang masih memburu.

“Sial... sepertinya dia tahu kelemahanku.”

Ia mengusap wajahnya kasar. Namun bayangan benda panjang itu muncul lagi di kepalanya.

“Astaga... otakku tercemar karenanya.”

Belvina segera melangkah pergi, seolah bisa kabur dari pikirannya sendiri.

Di dalam kamar, Alden berdiri menatap kasur. Sorotnya perlahan berubah penuh arti. Sebuah rencana sudah tersusun di kepalanya.

“Belvina...”

 

...✨"Satu handuk terlepas, satu hati mulai terusik, dan tak ada satu pun dari mereka yang mau mengakuinya."✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
Lee Mba Young
Alden tergantung dng sheraphina berarti dia bukan CIO tunggal Kaya Raya dong 🤣. tak Kira perusahaan Milik sendiri ternyata sheraphina juga punya andil. ternyata tak sekaya itu Alden. trus ngapain di pertahanin krn Alden pasti akn lbih bnyak waktu dng sheraphina kn, apalagi kl hrs kluar Kota atau luar Negri. mending cerai saja kcuali Alden bisa lepas Dr Seraphina tp kayak nya gk mampu lepas deh Alden sdh tergantung ma dia hidup nya 🤭
partini: so setengah kaya setengah kere sist🤭🤭🤭
iya juga yah k
pastinya lebih banyak waktu bersama si sapi na
total 1 replies
Uthie
Heheheee 😁😁😁
Uthie
Hahahaa 😆
Uthie
Hahahaa... Alden macam anak yg pingin ikut diajak naik mobil 😁😆
Uthie
😂😂😂😂
Uthie
Sangat seruuu 👍👍😆😆
Uthie
Bersiaplah dengan perubahan istri mu Al 😏
Uthie
wanita yg selalu disakiti bisa saja berubah sewaktu-waktu 😏
Uthie
Langsung Sukkkaaa sejak awal mampir nya 👍👍👍👍🤩🤩🤩
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
Maaff... mulai serius nyimak niii 🤭😁🙏🙏
^ã^😉
si serap ini orang kaya yg katanya berkelas tapi tak berkelas sama sekali, sudah tau Alden lelaki beristri Masih aja di kejar Dan sok cari perhatian bahkan kamu itu lebih rendah Dari wanita yg sebagai LC 😄😄kenapa kamu g jadi LC aja sih serap,😄😄
Anitha Ramto
Huh si ulat bulu itu petarnyaannya bertubi² tidak ada koma sok soan,,
Alden sangat takut kehilangan Belvina ..ayo Bel Rawat Alden dengan baik,Alden akan bersikap lembut kepadamu dan sayang,cinta sama kamu
Dek Sri
Seraphina ngapain datang sih, ganggu aja
Yunita Sophi
kesempatan kedua biasa nya ada tp untuk ke tiga...? seperti nya mustahil
Yunita Sophi
sejak kecil Belvina sll dapat perlindungan dari Alden... sampai dewasa tetap bèrgantung... makin dari itu Aldan merasa jengah mungkin jg bosan...👍
Puji Hastuti
akankah ada kesempatan ke dua
Anitha Ramto
ayo Bel,beri kesempatan kedua untuk.Alden,ia sudah menyadarinya sekarang,Alden akan mencintsimu dengan tulus dan terus melindungimu
Ass Yfa
akhirnya Alden sadar..dia takut kehilangan Belvina
YuWie
mesake men mas Al...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!