NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN PISAU

Lorong sempit di antara dua peti kemas baja itu terasa seperti peti mati yang panjang. Gelap gulita, pengap, dan berbau karat bercampur genangan air laut yang busuk. Leo menekan punggungnya ke dinding besi yang bergelombang, mengatur ritme napasnya sepelan mungkin. Di tangan kirinya, pisau taktis hitam sepanjang tujuh inci itu terasa dingin dan kokoh.

Suara sol sepatu bot yang menginjak genangan air terdengar makin jelas dari arah belakang. Ada dua orang yang mencoba menyergapnya dari ujung gelap lorong ini.

"Pastiin senter lu nyala. Lorongnya gelap banget, anjir," bisik salah satu preman, suaranya bergetar menahan gugup.

"Bawel lu. Maju aja, dia pasti udah mati berdarah-darah di dalem sini," sahut preman kedua dengan nada sok berani, meski langkahnya terseret-seret.

Sinar senter kecil menyapu lorong, bergerak acak menembus kegelapan. Leo menyatu dengan bayangan di bagian dinding peti kemas yang sedikit melekuk ke dalam. Saat preman pertama berjalan melewatinya, terlalu fokus menatap lurus ke depan, Leo bertindak.

Tangan kanan Leo melesat membekap mulut preman itu, menahan suara apa pun yang hendak keluar. Di detik yang sama, tangan kirinya mengayunkan pisau, menggorok leher pria itu dalam satu gerakan cepat dan mematikan. Darah hangat menyembur membasahi lengan jaket hoodie Leo. Pria itu meronta sebentar sebelum tubuhnya lemas. Leo menurunkan mayat itu ke tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Preman kedua yang berjalan dua langkah di belakangnya menyadari sinar senter temannya tiba-tiba menyorot ke bawah.

"Woy, lu ngapain jongkok?" tegur preman kedua menyipitkan mata, mencoba melihat dalam gelap.

Jawaban yang ia dapatkan bukanlah suara temannya, melainkan bayangan hitam yang menerjangnya dari samping. Leo menusukkan pisaunya tepat ke dada kiri preman itu, menembus sela tulang rusuk hingga mengenai jantung. Pria itu terbelalak, matanya menatap kosong ke arah Leo, sebelum akhirnya ambruk ke aspal yang basah.

Dua nyawa melayang dalam sunyi, hanya memakan waktu kurang dari sepuluh detik. Leo mencabut pisaunya, menyeka darah di bilah hitamnya ke jaket preman yang baru saja ia bunuh.

Dari ujung lorong yang lain, tempat cahaya lampu sorot pelabuhan masih samar-samar menyinari pintu masuk celah, terdengar makian keras.

"Ke mana perginya dua bangsat itu?! Woy, Tono! Jawab, anjing!" teriak Silas menggema di antara dinding baja.

Keheningan yang membalas teriakannya membuat Silas paham. Ia meludah kasar ke tanah, suara ludahannya terdengar jelas di lorong yang sempit itu.

"Lu emang bener-bener licin, Leo," kekeh Silas nada tawanya terdengar berat dan penuh aura membunuh. Pria bertubuh raksasa itu melangkah masuk ke dalam celah lorong, langkahnya mantap tanpa keraguan. "Tapi lu salah pilih tempat sembunyi. Lorong ini sempit. Senapan lu kepanjangan buat diputar, dan lu nggak bisa kabur ke mana-mana."

Silas mengokang *shotgun* pompanya dengan bunyi krak-klak yang memekakkan telinga. Ia menodongkan senjata laras panjang itu lurus ke depan, menembus kegelapan lorong.

"Mati lu, keparat!" raung Silas menarik pelatuk.

BLAARRR!

Tembakan *shotgun* itu meledak seperti meriam mini. Kilatan apinya menerangi lorong sesaat. Ratusan butir peluru gotri menyapu ruang sempit itu, memantul-mantul liar di dinding besi peti kemas, memercikkan bunga api yang menyilaukan.

Namun tembakan itu meleset. Leo sudah mengantisipasinya. Ia menjatuhkan diri ke tanah tepat sebelum Silas menembak. Serpihan besi dan gotri panas berdesing di atas kepalanya.

Silas memompa *shotgun*-nya lagi, berniat melepaskan tembakan kedua. Tapi sebelum pria raksasa itu sempat menarik pelatuk, Leo sudah melompat bangkit dan menerjang maju. Tangan kiri Leo menepis laras *shotgun* itu ke atas dengan punggung pisaunya, membuat peluru tembakan kedua Silas menghancurkan sudut atas kontainer.

Menyadari senjatanya kini tidak berguna di jarak sedekat ini, Silas langsung melepaskan *shotgun*-nya hingga jatuh ke tanah. Ia bereaksi sangat cepat untuk ukuran pria sebesarnya. Tangan kanannya merogoh sarung di pahanya dan mencabut sebuah pisau *Bowie* berukuran raksasa dengan punggung bergerigi yang terlihat seperti gergaji daging.

"Lu pikir pisau mainan lu itu bisa ngalahin gue?!" ejek Silas menyeringai buas, memperlihatkan giginya yang kuning.

Silas mengayunkan pisau besarnya secara horizontal, berniat membelah perut Leo. Ayunannya sangat kuat, membelah udara dengan suara desingan tajam.

Leo melangkah mundur satu langkah, menarik perutnya ke belakang. Ujung pisau Silas hanya berjarak beberapa sentimeter dari kain hoodienya. Tanpa membuang momentum, Leo membalas dengan tusukan cepat ke arah leher Silas.

Silas menangkis tusukan itu dengan lengan kirinya yang dibalut pelindung kulit tebal, lalu membalas dengan pukulan keras dari tangan kanannya yang memegang pisau. Gagang pisau *Bowie* itu menghantam pelipis Leo dengan telak.

"Ukh!" rintih Leo terhuyung ke samping, punggungnya menabrak dinding kontainer hingga berbunyi nyaring. Pandangannya sempat berbayang sejenak.

"Gue bakal cincang lu pelan-pelan buat hadiah bos Marco," geram Silas kembali merangsek maju.

Pria raksasa itu menusukkan pisaunya bertubi-tubi dengan tenaga brutal. Dentingan logam beradu memenuhi lorong sempit itu. Leo menangkis setiap serangan Silas dengan sisa tenaganya, tapi kekuatan fisik Silas jauh lebih besar. Setiap kali pisau mereka berbenturan, pergelangan tangan kiri Leo terasa ngilu. Bunga api terus memercik setiap kali bilah pisau Silas meleset dan menggores dinding besi peti kemas.

Dalam jarak sedekat ini, napas mereka beradu. Bau keringat, darah, dan mesiu bercampur jadi satu.

Silas mengubah arah serangannya tiba-tiba. Ia tidak menusuk, melainkan menendang lutut Leo, lalu menghantamkan bahu raksasanya ke dada Leo.

Leo terpental dan kembali menabrak dinding besi. Kali ini, Silas tidak memberi ampun. Ia memegang bahu kanan Leo dengan tangan kirinya dan meremasnya sekuat tenaga. Tepat di atas luka tembak yang baru saja dijahit Elena pagi ini.

"Arrrgghhh!" teriak Leo tak bisa menahan rasa sakit yang luar biasa. Otot-ototnya seolah robek, darah segar langsung merembes membasahi jaket hoodienya.

"Sakit, hah? Anak manja kayak lu nggak pantes duduk di takhta Valenti!" maki Silas tertawa puas melihat Leo kesakitan. Pria itu mengangkat pisau *Bowie*-nya tinggi-tinggi, bersiap menancapkannya tepat ke jantung Leo.

Di ambang kematian, insting hewani Leo mengambil alih penuh. Ia tahu ia tidak bisa melawan kekuatan murni Silas. Ia harus menggunakan otaknya.

Tepat saat pisau besar Silas meluncur turun, Leo memutar tubuhnya dengan paksa. Pisau *Bowie* itu meleset dari dada Leo dan menancap sangat dalam ke dinding besi bergelombang di belakangnya. Terdengar decit logam yang menyayat telinga saat pisau itu menembus pelat baja kontainer.

Silas terkejut. Pria itu berusaha menarik pisaunya keluar, tapi bilah tebalnya terjepit erat di antara robekan besi peti kemas. Ia butuh waktu dua detik untuk menariknya lepas.

Bagi Leo, dua detik adalah waktu yang lebih dari cukup.

Menahan rasa sakit yang membutakan di bahu kanannya, Leo menggunakan kaki kanannya untuk menendang tulang kering Silas, membuat pria raksasa itu sedikit limbung ke depan. Di saat bersamaan, tangan kiri Leo memutar pisau taktisnya, mengubah pegangannya menjadi posisi terbalik (*reverse grip*).

"Mati," bisik Leo dingin.

Leo mengayunkan pisaunya dari bawah ke atas dalam satu gerakan melengkung yang sangat cepat. Bilah hitam itu menyayat perut Silas dalam, lalu Leo melanjutkan serangannya dengan satu tusukan telak yang menembus rahang bawah Silas hingga ke langit-langit mulut pria itu.

Mata Silas terbelalak maksimal. Tubuhnya menegang seketika. Tangannya yang masih mencoba menarik pisau *Bowie* perlahan kehilangan tenaga dan terkulai lemas ke samping. Darah menggelegak keluar dari mulut dan hidungnya, menetes mengenai tangan Leo yang masih mencengkeram gagang pisau.

Leo mencabut pisaunya dengan satu tarikan kasar.

Tubuh besar Silas ambruk ke aspal dengan bunyi debum yang berat. Pria yang selama ini menjadi mesin pembunuh kepercayaan Marco itu tewas dengan mata melotot menatap kegelapan lorong, tersedak darahnya sendiri.

Napas Leo memburu tak beraturan. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kontainer, merosot perlahan hingga terduduk di aspal yang basah. Tangan kirinya memegangi bahu kanannya yang terasa seperti ditusuk paku panas, darah terus menetes tak mau berhenti.

"Leo? Leo, jawab aku!" suara panik Elena terdengar dari earpiece di telinganya. "Kudengar suara tembakan *shotgun*. Kau masih di sana?!"

Leo menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering, lalu menekan tombol kecil di telinganya.

"Aku masih hidup," jawab Leo suaranya serak dan terengah-engah. "Silas... dia sudah mati. Anjing utama Marco sudah kutidurkan."

Terdengar helaan napas lega yang sangat panjang dari ujung komunikasi.

"Kau membuat jantungku nyaris copot, Valenti," omel Elena suaranya sedikit bergetar. "Anak buah Silas yang berjaga di luar lorong mulai panik karena bos mereka tidak keluar-keluar. Beberapa dari mereka mulai berlarian menjauh."

"Bagus," ucap Leo memaksakan diri untuk berdiri, menggunakan dinding kontainer sebagai tumpuan. "Mereka cuma preman yang dibayar, tanpa pemimpin mereka tidak punya nyali."

Leo melangkah melewati mayat Silas. Ia menendang *shotgun* milik pria itu ke sudut lorong, lalu memungut senapan M4A1 miliknya yang masih menggantung di dada. Matanya menatap ke arah ujung lorong, tempat tumpukan peti kemas target berada.

"Elena, siapkan detonator untuk bahan peledak yang kita bawa. Aku akan memasangnya di kontainer X-774 sekarang," instruksi Leo berjalan pelan keluar dari lorong maut tersebut.

Malam ini, Marco bukan hanya kehilangan senjata bernilai jutaan dolar, tapi dia juga baru saja kehilangan algojo paling setia yang selama ini melindunginya. Ketakutan akan segera mengubah Marco menjadi orang gila. Dan Leo, meski tubuhnya nyaris hancur, akan memastikan kegilaan itu menjadi nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!