Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kehidupan bahagia selamanya
Setelah kemenangan telak di sidang hak asuh anak, hidup Una dan Pak Arya benar-benar bebas 100 persen dari gangguan Rizal. Rizal yang kalah di pengadilan akhirnya sadar dan putus asa. Ia kembali ke kampung halamannya di desa terpencil dan tidak pernah lagi muncul di kehidupan Una.
Ia dikabarkan menjadi kuli bangunan dengan hidup miskin dan menyesal seumur hidupnya karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Una.
Siska, selingkuhan Rizal, juga menghilang entah kemana setelah keluar dari penjara. Tidak ada yang peduli lagi dengan mereka.
Kini, Baby Aisyah sudah berusia 6 bulan. Ia sudah bisa tengkurap, tertawa ngakak, dan memanggil "Mama" dan "Papa" meski masih cadel. Setiap hari rumah mewah Pak Arya dipenuhi dengan tawa riang Baby Aisyah.
Una kini bukan lagi janda miskin yang diusir di tengah hujan. Ia kini adalah Nyonya Una Mahendra, istri pengacara kaya raya yang terkenal sangat baik, dermawan, dan cantik. Ia sering mengadakan pengajian dan bakti sosial untuk janda-janda miskin di kampungnya dulu.
"Bu Una, terima kasih ya Bu, dulu saya juga janda dihina, sekarang Ibu bantu saya modal usaha," kata salah satu ibu-ibu sambil menangis terharu saat menerima bantuan.
Una tersenyum dengan tulus. "Sama-sama Bu, saya dulu juga seperti Ibu, diusir saat hamil. Saya tahu rasanya. Makanya saya ingin bantu."
Pak Arya sangat bangga melihat istrinya yang kini menjadi wanita yang kuat dan dermawan. Ia mendukung semua kegiatan sosial Una.
Di rumah, Pak Arya adalah suami dan ayah yang sangat romantis dan siaga. Setiap pagi ia mencium kening Una dan Aisyah sebelum berangkat ke kantor. Setiap pulang kantor, ia selalu membawa mainan baru untuk Aisyah dan bunga mawar untuk Una.
"Mas, kenapa setiap hari bawa bunga? Kan boros Mas," kata Una suatu hari.
Pak Arya tersenyum dan memeluk Una dari belakang. "Karena kamu pantas mendapatkan bunga setiap hari sayang. Kamu telah memberikan aku kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kamu dan Aisyah adalah harta paling berharga dalam hidupku."
Malam itu, mereka duduk di taman belakang rumah mewah mereka yang dihiasi lampu-lampu taman yang indah. Baby Aisyah sudah tidur pulas di dalam kamar dengan suster bayi yang menjaganya.
Una bersandar di dada Pak Arya sambil melihat bintang-bintang.
"Mas, aku masih tidak percaya, dulu aku tidur di kontrakan bocor yang air hujannya masuk, sekarang aku tidur di istana mewah dengan suami yang sangat mencintaiku. Apakah ini mimpi Mas?" kata Una.
Pak Arya mencium kening Una dengan lembut. "Ini bukan mimpi sayang, ini adalah hadiah dari Allah untuk kesabaranmu. Kamu sabar saat diusir, kamu sabar saat dihina, kamu sabar saat hamil sendirian. Dan sekarang Allah ganti semua penderitaanmu dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat."
Una menangis haru dan mengangguk. "Terima kasih ya Allah, terima kasih Mas Arya, sudah menyelamatkan aku dan Aisyah."
Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang, menatap masa depan yang cerah.
Keesokan harinya, ada kejutan lagi. Pak Arya mengajak Una dan Baby Aisyah untuk umroh ke Tanah Suci Mekkah sebagai rasa syukur atas semua nikmat.
Una menangis sejadi-jadinya saat mendengar kabar itu. "Ya Allah Mas, umroh? Aku yang dulu bahkan untuk makan saja susah, sekarang bisa ke Mekkah?"
"Ya sayang, kita akan berdoa di depan Ka'bah, berterima kasih atas semua ini," kata Pak Arya.
Persiapan umroh dilakukan dengan mewah. Mereka membeli baju ihram baru.
Keluarga kecil yang bahagia itu akhirnya akan menuju Tanah Suci untuk menyempurnakan kebahagiaan mereka. Dari kisah janda yang diusir di tengah hujan, kini menjadi tamu Allah di Mekkah.
Sungguh kisah yang sangat menginspirasi bahwa kesabaran dan ketulusan akan selalu berbuah manis pada akhirnya.