NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Kedatangan yang Tak di Harapkan

Sudah hampir seminggu sejak Nadia mulai merasa hidupnya kembali tenang.

Sejak kejadian foto yang tersebar di grup karyawan, ia berusaha tidak lagi memikirkan omongan orang. Pekerjaannya sebagai krani di pabrik sawit mulai ia nikmati. Kadang ia membantu mencatat data penerimaan buah, kadang mengurus dokumen administrasi yang dibutuhkan bagian lain. Hari-harinya memang sibuk, tetapi setidaknya ia tidak lagi harus terus-menerus berhadapan dengan masalah pribadi.

Hubungannya dengan Rizki pun sudah semakin jelas. Mereka tidak kembali bersama. Nadia hanya ingin menjalani hidupnya tanpa terus dihantui keputusan masa lalu.

Namun, ada satu orang yang masih sering muncul dalam pikirannya.

Arif.

Laki-laki itu tetap sibuk dengan pekerjaannya sebagai asisten manajer. Setiap hari ia harus memastikan proses produksi berjalan lancar, memantau pekerjaan di dalam pabrik, dan menangani berbagai persoalan yang muncul di lapangan. Mereka masih bertemu, tetapi tidak selalu punya kesempatan untuk berbicara lama.

Anehnya, justru ketika tidak bertemu, Nadia sering teringat hal-hal kecil tentang laki-laki itu.

Cara Arif mengernyit saat memeriksa laporan. Nada suaranya ketika menegur karyawan yang bekerja sembarangan. Bahkan kebiasaannya meletakkan botol air di meja Nadia tanpa banyak bicara.

Nadia menggeleng sendiri saat menyadari pikirannya sudah ke mana-mana.

“Baru juga pagi, sudah senyum-senyum sendiri.”

Suara Mbak Sari membuat Nadia tersentak.

Nadia buru-buru menatap layar komputer. “Aku lagi baca data, Mbak.”

“Data apa yang bikin kamu senyum begitu?”

“Data yang bagus.”

Mbak Sari tertawa kecil. “Iya, deh. Data bagus. Semoga orang yang kamu pikirkan juga bagus.”

“Mbak Sari!”

Tawa Mbak Sari semakin keras sebelum ia kembali ke mejanya.

Nadia mengembuskan napas, berusaha mengabaikan rasa panas di pipinya. Ia tidak mau mengakui apa pun, bahkan kepada dirinya sendiri.

Belum sempat ia kembali berkonsentrasi, seorang staf personalia datang membawa map.

“Nadia, nanti setelah istirahat kamu bantu bagian administrasi produksi, ya. Ada beberapa dokumen yang harus dirapikan. Bu Lastri sudah koordinasi dengan Pak Hendra.”

“Baik, Pak.”

“Sekalian antar salinan jadwal pemeriksaan kesehatan karyawan ke klinik pabrik. Dokternya baru akan mulai bertugas hari ini.”

Nadia mengangguk sambil menerima map tersebut.

“Dokter baru?” tanyanya sekadar memastikan.

“Iya. Katanya dokter dari klinik pusat di Medan. Dipindahkan ke sini untuk sementara.”

Nadia tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya mencatat tugas tambahan itu dalam agenda, lalu kembali bekerja.

Baginya, pergantian posisi administrasi sudah biasa. Hari ini membantu bagian produksi, besok bisa saja kembali mengurus data krani atau membantu pekerjaan administrasi lainnya. Selama instruksi jelas, ia tidak keberatan.

Di sisi lain kawasan pabrik, sebuah mobil berhenti di depan kantor manajemen.

Arif baru saja keluar dari area produksi ketika seorang staf personalia menghampirinya.

“Pak Arif, dokter baru dari Medan sudah datang.”

Arif mengangguk singkat. “Baik. Pastikan jadwal pemeriksaan kesehatan karyawan sudah diserahkan ke klinik. Kalau ada pekerja yang perlu pemeriksaan lanjutan, koordinasikan dengan bagian personalia.”

“Siap, Pak.”

Arif kembali berjalan menuju ruangannya. Pikirannya masih tertuju pada laporan produksi yang belum selesai ia periksa.

Ia tidak punya waktu untuk memikirkan urusan lain.

Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Sampai beberapa menit kemudian, saat melintasi koridor dekat klinik, ia melihat seorang perempuan turun dari mobil dengan koper kecil di tangannya.

Perempuan itu mengenakan pakaian kerja yang rapi. Rambutnya disanggul sederhana, sementara sebuah tas tergantung di bahunya.

Arif berhenti.

Langkahnya mendadak terasa berat.

Perempuan itu menoleh ketika mendengar suara pintu mobil ditutup. Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

“Karin?” Suara Arif terdengar lebih rendah daripada yang ia maksudkan.

Perempuan itu tersenyum tipis, seolah kedatangannya bukan sesuatu yang mengejutkan.

“Hai, Arif.”

Arif menatapnya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Karin membetulkan tali tasnya. “Aku ditugaskan kembali ke klinik pabrik Dharmasraya. Surat penugasannya keluar beberapa hari lalu.”

“Bukannya kamu di Medan?”

“Memang. Tapi sekarang aku kembali bertugas di sini.”

Karin menjawab tenang, tanpa terlihat sedikit pun canggung. Seolah-olah mereka tidak pernah bertengkar, tidak pernah saling menyakiti, dan tidak pernah mengakhiri pertunangan yang dulu direncanakan akan membawa mereka ke pelaminan.

Arif menarik napas panjang.

“Kamu sudah tahu kalau kita tidak lagi punya hubungan apa-apa, kan?”

Senyum Karin sedikit memudar.

“Aku datang untuk bekerja, Arif. Bukan untuk membahas pertunangan kita.”

“Bagus kalau begitu.”

Arif hendak melanjutkan langkahnya, tetapi Karin memanggilnya.

“Arif.”

Ia berhenti tanpa berbalik.

“Aku tahu kamu mungkin tidak senang melihatku di sini. Tapi aku juga punya tanggung jawab atas pekerjaanku. Aku tidak bisa menolak penugasan hanya karena urusan pribadi.”

Arif akhirnya menoleh.

“Selama kamu menjalankan tugasmu dengan profesional, aku tidak punya masalah.”

Karin mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kita mulai dari situ.”

Arif tidak menjawab. Ia kemudian berjalan pergi, meninggalkan Karin yang masih berdiri di depan klinik.

Begitu punggung laki-laki itu menghilang di balik koridor, senyum Karin perlahan lenyap.

Kembali ke Dharmasraya bukan keputusan yang mudah. Ia sudah membayangkan harus menghadapi Arif lagi, tetapi bertemu langsung dengannya ternyata tetap menyakitkan.

Yang lebih sulit diterima adalah kenyataan bahwa Arif bahkan tidak bertanya bagaimana kehidupannya selama di Medan.

Laki-laki itu benar-benar sudah berusaha meninggalkannya.

Dan Karin belum sepenuhnya siap menerima hal tersebut.

Menjelang siang, Nadia menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya di bagian administrasi produksi. Ia membawa map berisi jadwal pemeriksaan kesehatan menuju klinik pabrik.

Suasana klinik cukup ramai. Beberapa karyawan sedang menunggu giliran pemeriksaan, sementara seorang perawat sibuk merapikan peralatan di meja.

“Permisi, Mbak. Saya dari administrasi. Mau menyerahkan jadwal pemeriksaan karyawan.”

Perawat itu menoleh. “Oh, taruh saja di meja sebelah, ya. Dokternya sedang memeriksa pasien.”

Nadia mengangguk dan melangkah masuk.

Ia meletakkan map tersebut di meja yang ditunjuk. Ketika hendak berbalik, pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Seorang dokter perempuan keluar sambil melepas sarung tangan medisnya.

“Nanti pasien berikutnya dipanggil setelah istirahat, ya,” katanya kepada perawat.

Kemudian dokter itu menoleh ke arah Nadia.

“Hai.. Nadia.. kita ketemu lagi.. "

“Dr.Karin, "

Nama itu membuat Nadia terdiam sesaat.

Ia mengenali perempuan di hadapannya .

Karin.

Mantan tunangan Arif yang sebelumnya pulang ke Medan.yang menyebabkan hubungan Nadia putus dari Rizki, yang membuat Ibu nya sakit di Padang Panjang. karena Karin yang kirim foto Nadia dan arif di gudang arsip waktu itu.

Nadia berusaha mempertahankan sikap profesionalnya. Ia tidak punya alasan untuk bersikap tidak sopan, apalagi mereka bertemu dalam urusan pekerjaan.

“Oh, begitu,” jawab Nadia singkat.

Karin memperhatikan wajahnya sejenak.

“Kamu cukup sering bekerja sama dengan Arif, ya?”

Nadia menatapnya, sedikit heran dengan pertanyaan itu.

“Kalau urusan pekerjaan, iya, Dok. Saya krani. Kadang membantu administrasi bagian produksi atau bagian lain sesuai kebutuhan.”

“Begitu.”

Karin menutup map tersebut.

“Kalau begitu, kita mungkin akan sering bertemu. Aku bertugas di klinik, dan kamu bekerja di bagian administrasi.”

“Tentu, Dok. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Nadia mengangguk sopan sebelum berpamitan.

Ia berjalan keluar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Karin tidak bersikap kasar, tetapi cara perempuan itu menatapnya membuat Nadia merasa sedang dinilai.

Di halaman klinik, Nadia berhenti sebentar untuk merapikan berkas yang masih dibawanya.

“Kenapa harus bertemu lagi dengan orang yang sama?” gumamnya pelan.

“Siapa yang kamu maksud?”

Nadia langsung menoleh.

Arif berdiri beberapa langkah darinya, satu tangan memegang berkas produksi.

Nadia mengangkat alis. “Pak Asisten Manajer sekarang suka menguping pembicaraan orang?”

Arif tersenyum miring.

“Kalau pembicaraannya menarik, mungkin.”

“Sayangnya, pembicaraanku tidak menarik.”

“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti baru selesai menghadapi pemeriksaan?”

Nadia mendengus kecil. “Aku baru bertemu Karin.”

Senyum Arif menghilang perlahan.

“Dia bicara apa sama kamu?”

“Tidak banyak. Dia cuma bilang kami mungkin akan sering bertemu karena urusan pekerjaan.”

“Dia tidak mengganggumu?”

Nadia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Arif, aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Arif terdiam.

Nadia baru menyadari bahwa ia menyebut nama laki-laki itu tanpa sapaan formal. Namun, ia tidak menarik ucapannya.

“Aku tahu,” jawab Arif akhirnya. “Aku cuma bertanya.”

“Kalau begitu, jangan pasang wajah seperti mau memeriksa seluruh isi klinik.”

Arif tertawa kecil.

“Memangnya wajahku seperti itu?”

“Persis.”

“Wah, ternyata kamu memperhatikan wajahku.”

Nadia membelalak. “Bukan begitu maksudku!”

Arif tersenyum semakin lebar.

“Baiklah, Bu Krani. Saya tidak akan mengganggu pekerjaan Anda lagi.”

Ia melangkah pergi, tetapi sebelum benar-benar menjauh, ia sempat menoleh.

“Jangan lupa makan siang.”

Nadia memutar bola mata, meskipun sudut bibirnya terangkat.

“Bawel!”

Arif hanya tertawa tanpa membalas.

Nadia memperhatikannya pergi, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari dirinya tersenyum sendiri.

Namun, dari jendela klinik, Karin melihat percakapan singkat itu.

Ia melihat cara Arif tersenyum kepada Nadia—senyum yang dulu begitu sulit ia dapatkan selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya.

Jari Karin mengencang pada map yang dipegangnya.

Jadi, inilah perempuan yang membuat Arif berubah.

Karin belum tahu seberapa jauh hubungan mereka telah berkembang. Namun, satu hal mulai jelas baginya: meskipun pertunangan mereka sudah berakhir, melihat Arif memberikan perhatian seperti itu kepada perempuan lain ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari ayahnya.

Ayah: Bagaimana hari pertamamu di Dharmasraya? Sudah bertemu Arif?

Karin menatap layar cukup lama sebelum mengetik balasan.

Karin: Sudah, Yah.

Tak lama kemudian, balasan ayahnya masuk lagi.

Ayah: Jaga sikapmu. Ingat, keluarga kita punya hubungan baik dengan direktur pusat. Jangan sampai urusan pribadi mengganggu pekerjaan.

Karin membaca pesan itu dua kali.

Ia tahu ayahnya tidak ingin ia membuat masalah. Apalagi penugasannya kembali ke Dharmasraya merupakan keputusan manajemen, dan ia tidak boleh bertindak sembarangan.

Namun, saat kembali melihat ke arah halaman tempat Arif dan Nadia tadi berdiri, sebuah pikiran muncul di benaknya.

Ia tidak perlu membuat keributan.

Ia hanya perlu melihat sendiri apakah hubungan kedua orang itu benar-benar seserius yang terlihat.

Dan jika memang demikian, Karin harus memutuskan apakah ia sanggup menerima kenyataan bahwa Arif telah memilih jalan hidup tanpa dirinya.

Sementara itu, di ujung koridor, Nadia baru saja kembali ke ruang administrasi ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Dari Arif.

Arif: Sudah makan siang?

Nadia tersenyum kecil sebelum membalas.

Nadia: Belum. Memangnya kenapa?

Balasan Arif datang cepat.

Arif: Tidak apa-apa. Aku juga belum makan.

Nadia mengernyit, lalu mengetik lagi.

Nadia: Terus?

Beberapa detik berlalu sebelum pesan berikutnya muncul.

Arif: Kalau kamu tidak keberatan, temani aku makan. Aku bosan makan sendirian.

Nadia menatap layar ponselnya dengan jantung yang mendadak berdebar lebih cepat.

Lalu ia tersenyum, mencoba menyembunyikan kegembiraan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan kepada dirinya sendiri.

Nadia: Lihat nanti, Pak Asisten Manajer.

Ia meletakkan ponsel, tetapi belum sempat kembali bekerja, pesan baru muncul.

Arif: Jangan lama-lama. Aku tunggu.

Nadia menggigit bibir untuk menahan senyum.

Hari itu baru saja dimulai, tetapi ia punya firasat bahwa kedatangan Karin akan mengubah banyak hal di pabrik.

Dan ia belum tahu apakah kedekatannya dengan Arif akan menjadi sesuatu yang akhirnya berani mereka perjuangkan—atau justru sesuatu yang harus mereka sembunyikan lebih lama lagi.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!