NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:25
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelisahan

Sudut Pandang Rebecca

Aku mulai menghindarinya. Bukan sesuatu yang kurencanakan. Hanya… terjadi begitu saja.

Setelah malam itu di dapur… berada di dekat Dante terasa berbahaya. Bukan karena apa yang ia lakukan. Melainkan karena apa yang kurasakan. Dan aku tak mau berurusan dengan itu.

Jadi kupilih jalan termudah. Menghindar. Kalau ia di ruang tamu, aku pindah ke tempat lain. Kalau ia datang, aku pergi. Bicara seperlunya saja. Hanya yang perlu.

Tapi aku tak sendirian. Jason selalu ada di dekatku. Dan, berbeda dari Dante… ia mudah. Mengobrol dengannya tak perlu usaha. Tak ada ketegangan. Tak ada beban itu.

Sore itu aku di taman. Duduk di salah satu bangku. Berusaha menikmati sedikit udara terbuka. Meski dengan para pengawal di sekitar. Selalu.

"Kabur?"

Suara Jason terdengar. Aku menoleh ke arahnya. "Menghirup udara," aku mengoreksi.

Ia tersenyum tipis. Lalu duduk di sampingku.

"Lebih baik daripada coba kabur lagi."

Aku memutar bola mata. "Jangan mulai."

"Aku nggak mulai," jawabnya. Kalem. "Cuma mengamati."

Aku terdiam sejenak. Angin lembut berembus. Suara samar dari dalam rumah.

"Ini semua aneh," ujarku. Pelan. "Semuanya. Rumah ini. Rutinitasnya. Bergantung pada seseorang."

Ia mengangguk. "Bisa kubayangkan."

Aku menatapnya. "Kau selalu bekerja untuknya?"

"Bertahun-tahun," jawabnya.

"Dan kau memercayainya?" tanyaku. Lugas.

Ia bahkan tak berpikir. "Dengan nyawaku."

Itu membuatku mengernyit. "Meski dia… begitu?"

Jason mengembuskan napas lewat hidung. Nyaris tertawa. "Dia bukan orang yang mudah. Tidak pernah. Tapi dia melindungi."

Aku menatap lurus ke depan. Berpikir. "Dengan caranya sendiri," aku menggumam.

"Iya," Jason mengiyakan. "Dengan caranya sendiri."

Kami terdiam beberapa detik. Tapi tak canggung. Terasa ringan.

"Dan kau?" ia bertanya. "Percaya padanya?"

Aku mengembuskan napas. "Aku percaya dia akan melindungi anak-anak," jawabku. "Cuma tak percaya padanya untuk diriku."

Jason menatapku. Lebih tajam sekarang. "Mungkin karena kau tak memberinya kesempatan."

Itu mengejutkanku.

"Atau mungkin karena dia tak mempermudahnya," aku membalas.

Ia mengangkat bahu. "Itu juga."

Lalu topik berganti. Alami. Tanpa usaha. Kami membicarakan hal-hal sederhana. Tentang kota. Tentang pekerjaan. Tentang kehidupan sebelum semua ini.

Dan aku tertawa. Sungguhan. Tanpa sadar. Tanpa berpikir. Hanya… tertawa.

"Menyenangkan?"

Suara itu terdengar dingin. Memotong momen. Tubuhku langsung menegang. Aku menoleh.

Dante. Berdiri. Mengamati. Tatapannya lurus. Berat.

Jason langsung bangkit. "Cuma mengobrol," ujarnya. Kalem. Tapi waspada.

Aku tak beranjak. Hanya menatap Dante balik. "Ada masalah?" tanyaku. Lugas.

Ia melangkah maju. "Tidak." Jawaban itu keluar cepat. Tapi tatapannya berkata lain.

"Lalu?" aku mendesak.

Ia melirik Jason. Lalu ke arahku. Dan kemudian—

"Kau tak punya kerjaan lain?"

Pertanyaan itu keluar. Ketus.

Darahku mendidih. "Punya," jawabku. "Dan mengobrol belum dilarang, kan?"

Jason diam. Cerdas. Ia tak ikut campur.

Suasana kembali berat. Lagi. Seperti biasa jika bersamanya.

"Cuma hati-hati," ujar Dante. Suaranya rendah.

"Hati-hati soal apa?" aku membalas.

Ia menatapku. Sedetik lebih lama. "Soal siapa yang kau percaya."

Aku melirik Jason. Lalu ke arahnya. Dan kualihkan lagi tatapanku ke Dante. "Aku tahu betul siapa yang harus kupercaya," ujarku. Tegas.

Itu sudah cukup. Cukup untuk mengeraskan lagi tatapannya. Cukup untuk memperjelas… bahwa ada sesuatu di sini… yang telah berubah. Dan itu bukan sekadar amarah. Melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih… labil.

Dante berbalik. Lalu pergi. Tanpa berkata apa pun lagi. Tapi suasana itu tinggal. Berat. Sarat.

Jason mengembuskan napas pelan. "Dia nggak suka," komentarnya.

Aku menatap ke arah kepergian Dante. "Masalah dia," jawabku.

Tapi jauh di dalam hati… aku tahu. Itu bukan sekadar "masalah dia". Itu adalah awal dari sesuatu. Dan aku belum tahu… apakah itu baik. Atau sangat berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!