NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Nama yang Ditakuti Pencipta

Suara lonceng ketiga belum sepenuhnya menghilang ketika seluruh botol di ruangan itu mulai bergetar. Satu demi satu, tutupnya terlepas. Kabut hitam mengalir keluar, membawa potongan suara, wajah, dan ingatan yang seharusnya telah lenyap dari dunia. Gu Chen melihat seorang lelaki tua menangis sambil menyebut nama anaknya. Di dekatnya, seorang perempuan berulang kali bertanya mengapa ia berada di tempat asing, sementara bayangan seorang prajurit tanpa wajah terus memukul dinding yang tidak bisa ditembusnya.

Itu bukan sekadar ingatan.

Mereka adalah orang-orang yang telah dihapus.

“Semua orang ini…” Lin Yue memandang kabut yang memenuhi lorong. “Mereka benar-benar masih ada?”

“Tidak sepenuhnya,” jawab Gu Yuan, yang perlahan bangkit dari lututnya. Tulisan yang sebelumnya mengurai namanya kini berhenti, meskipun sebagian hurufnya masih tampak samar. “Lonceng itu tidak membangkitkan orang mati. Ia memulihkan keberadaan yang pernah ditolak oleh dunia. Namun, tidak semua yang kembali akan memiliki tubuh, dan tidak semua yang memiliki tubuh masih mengingat siapa dirinya.”

“Penjelasan yang bagus,” kata Gu Chen. “Sayangnya, kau lupa menjelaskan kenapa benda itu berbunyi sendiri.”

Gu Yuan tidak menjawab.

Gu Chen tertawa pendek tanpa humor. “Tentu saja. Pertanyaan yang paling penting selalu menjadi bagian yang tidak kau jawab.”

Di depan mereka, orang berjubah putih masih berdiri. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya telah menghilang. Ia menatap lonceng hitam di dalam tas Gu Chen dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Seharusnya kau tidak membiarkannya berbunyi,” katanya.

Gu Chen mengangkat alis. “Kau datang ke sini untuk mengambil namaku, menghapus ayahku, lalu mengeluh karena lonceng berbunyi? Kau punya kebiasaan buruk menyalahkan orang lain.”

“Aku tidak menyalahkanmu.”

“Bagus. Berarti kita sepakat bahwa kau tidak akan menyentuhku.”

Orang itu memandangnya lama, seolah sedang mempertimbangkan apakah percakapan tersebut layak diteruskan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada anak berambut putih di balik pintu.

“Kau seharusnya tetap terkunci.”

Anak itu mencengkeram kusen pintu. “Kau yang mengurungku.”

“Aku memberimu kesempatan untuk tidak mengalami penderitaan yang sama.”

“Kau mengambil namaku!”

“Aku mengambil sesuatu yang tidak seharusnya menjadi milikmu.”

Anak itu terdiam. Untuk sesaat, kemarahan di wajahnya berubah menjadi kesedihan yang begitu dalam hingga Gu Chen merasa pernah melihat ekspresi tersebut sebelumnya.

Bukan pada anak itu.

Melainkan pada dirinya sendiri, dalam salah satu ingatan yang tidak pernah berhasil ia pertahankan.

Gu Chen melangkah ke samping, mencoba melihat wajah orang berjubah putih dengan lebih jelas.

“Siapa namamu?”

“Nama tidak penting.”

“Orang yang tidak mau menyebutkan namanya biasanya punya banyak hal untuk disembunyikan.”

“Dan orang yang terlalu ingin mengetahui nama orang lain biasanya belum siap menerima jawabannya.”

“Kalau begitu, kita berdua punya masalah.”

Orang berjubah putih menghela napas. Ia mengangkat tangan dan menyentuh udara di hadapannya. Sebuah garis tipis muncul, membentang dari ujung jarinya hingga ke dada Gu Chen.

Lin Yue langsung mengangkat busurnya.

“Jangan bergerak!” bentaknya.

Orang itu bahkan tidak meliriknya.

Garis tersebut bergetar, lalu membentuk tulisan yang hanya bertahan selama beberapa detik.

\[NAMA PERTAMA: TIDAK DAPAT DIPANGGIL.\]

\[NAMA KEDUA: TELAH DIAMBIL.\]

\[NAMA KETIGA: BELUM DISEPAKATI.\]

Gu Chen membaca tulisan itu dua kali.

Nama pertama. Nama kedua. Nama ketiga.

Ia sudah mendengar tentang tiga identitas, tetapi baru kali ini ia melihat petunjuk bahwa nama-nama tersebut memiliki hubungan berbeda dengannya.

“Nama kedua yang kau ambil,” katanya kepada orang berjubah putih. “Apa itu nama Bai?”

Bai yang berdiri di dekat rak mendadak mengangkat kepala.

Orang berjubah putih tidak menjawab, tetapi keheningan itu cukup untuk membuat Gu Chen semakin curiga.

“Jadi, benar.”

“Jangan menarik kesimpulan terlalu cepat,” ujar Gu Yuan.

Gu Chen menoleh tajam. “Kau juga tahu?”

“Aku tahu bahwa nama dapat dipisahkan dari seseorang. Aku tidak tahu apakah nama yang diambil darinya benar-benar nama Bai.”

Bai tertawa kecil. Suaranya terdengar serak.

“Kalian membicarakan namaku seolah aku tidak berada di sini.”

“Kalau begitu, bantu kami,” kata Lin Yue. “Siapa sebenarnya orang ini?”

Bai memandang orang berjubah putih. Ada ketakutan di matanya, tetapi juga sesuatu yang lebih tua daripada ketakutan itu—sebuah pengenalan yang tidak ingin ia akui.

“Aku pernah melihatnya,” jawab Bai. “Bukan wajahnya. Bukan tubuhnya. Aku pernah melihat sesuatu yang memakai namanya.”

Orang berjubah putih menyipitkan mata.

“Bai.”

Satu kata itu membuat tubuh Bai menegang. Ia mencengkeram dadanya, lalu jatuh berlutut. Dari mulutnya keluar suara tertahan, seolah seseorang sedang menarik sesuatu dari dalam tenggorokannya.

Gu Chen segera bergerak, tetapi Gu Yuan menahan lengannya.

“Jangan mendekat!”

“Dia sedang diserang!”

“Bukan tubuhnya yang diserang!”

Terlambat.

Gu Chen telah mengulurkan tangan, berusaha menggunakan Pemutus Benang. Ia merasakan beberapa hubungan di sekitar Bai, tetapi semuanya berbeda dari yang pernah ia hadapi. Ada hubungan antara tubuh dan ingatan, antara nama dan keberadaan, serta satu hubungan lain yang begitu dalam hingga ia tidak dapat menemukan ujungnya.

Ia memilih satu benang hitam yang melilit dada Bai.

Saat jarinya hampir menyentuhnya, rasa sakit menusuk kepalanya.

\[PERINGATAN: HUBUNGAN TIDAK TERIDENTIFIKASI.\]

\[PEMUTUSAN DITOLAK.\]

\[SUBJEK GU CHEN TIDAK MEMILIKI OTORITAS ATAS NAMA TERSEBUT.\]

Gu Chen terhuyung. Lin Yue menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

“Jangan memaksakan diri!” serunya.

“Aku tidak memaksakan diri.”

“Kau baru saja hampir jatuh!”

“Aku sedang mempertimbangkan posisi tubuh yang lebih nyaman.”

“Bohong!”

Gu Chen tidak sempat membalas. Bai tiba-tiba mengangkat kepala dan menatapnya. Untuk sesaat, mata Bai berubah menjadi keemasan.

“Jangan potong benang itu,” katanya dengan suara yang kembali normal. “Kalau kau memutuskannya, sesuatu yang lebih buruk akan terbebas.”

Gu Chen menarik tangannya.

“Apa yang lebih buruk?”

Bai menatap orang berjubah putih.

“Pemilik nama yang sebenarnya.”

Senyap.

Bahkan suara botol-botol yang bergetar terasa berhenti sesaat.

Orang berjubah putih akhirnya bergerak. Ia melangkah mundur, dan untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, wajahnya menunjukkan kemarahan yang nyata.

“Kalian tidak mengerti apa yang sedang kalian lakukan.”

“Kalimat itu mulai membosankan,” ujar Gu Chen. “Cobalah sesuatu yang baru.”

“Aku datang untuk mengambil satu nama. Namun, sekarang lonceng itu telah membuka jalur yang seharusnya tetap tertutup.”

“Jalur menuju apa?”

Orang itu menatap Gu Chen.

“Tempat di mana namamu pertama kali diciptakan.”

Gu Chen tidak menjawab. Di dalam tasnya, lonceng hitam kembali bergetar, tetapi kali ini tidak berbunyi. Getarannya terasa sampai ke tulang, seolah benda itu sedang berusaha memperingatkannya tentang sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Gu Yuan melangkah ke depan.

“Kau tidak akan membawanya ke sana.”

“Aku tidak perlu membawanya.” Orang berjubah putih tersenyum tipis. “Dia akan datang dengan sendirinya.”

Sebelum Gu Yuan sempat menjawab, garis putih muncul di lantai. Garis itu membentuk lingkaran yang mengelilingi orang berjubah putih. Tubuhnya mulai memudar, bukan seperti seseorang yang berpindah tempat, melainkan seperti gambar yang dihapus dari sebuah halaman.

Namun, sebelum benar-benar menghilang, ia menatap Gu Chen sekali lagi.

“Ketika kau menemukan nama pertamamu, jangan langsung mengucapkannya. Ada alasan mengapa bahkan para pemain tidak berani menyimpannya.”

“Dan kalau aku tetap mengucapkannya?”

Senyum orang itu kembali.

“Kalau begitu, kau akan mengetahui siapa yang sebenarnya membunuhmu.”

Tubuhnya menghilang.

Lingkaran putih di lantai lenyap sesaat kemudian, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.

Gu Chen berdiri diam selama beberapa detik.

Kemudian ia menoleh kepada Gu Yuan.

“Sekarang, kau akan menjelaskan semuanya.”

Gu Yuan mengusap wajahnya. “Aku tidak tahu semua yang ingin kau ketahui.”

“Aku tidak meminta semua jawaban. Aku hanya meminta jawaban yang kau ketahui.”

“Dan jika jawabannya membuatmu membenci dirimu sendiri?”

“Itu urusanku.”

Gu Yuan menatapnya lama. Pada akhirnya, ia mengangguk pelan.

“Baiklah. Ada satu hal yang belum pernah kukatakan kepadamu. Nama Gu Chen bukan nama pertamamu, tetapi juga bukan nama kedua yang diambil darimu. Nama itu kuberikan ketika aku membawamu ke Desa Qingyuan.”

“Jadi, nama yang kedua itu milik siapa?”

Gu Yuan tidak langsung menjawab. Ia melirik Bai, yang kini berdiri dengan susah payah, lalu memandang anak berambut putih di balik pintu.

“Nama kedua adalah nama yang pernah digunakan oleh seseorang untuk mengikat identitasmu pada dunia ini. Orang itu bukan aku.”

“Pemain Pertama?”

“Mungkin.”

“Dan orang berjubah putih tadi?”

“Aku tidak tahu.”

Gu Chen menyipitkan mata. “Kau sedang berbohong?”

“Aku sedang mengatakan bahwa aku tidak memiliki kepastian.”

“Perbedaan yang sangat nyaman.”

“Gu Chen.”

Nada suara Gu Yuan membuatnya terdiam.

“Ada sesuatu yang perlu kau pahami. Tidak semua kebohongan dibuat untuk menyembunyikan kebenaran. Sebagian dibuat karena kebenaran itu sendiri telah diubah berkali-kali, sampai orang yang mengingatnya pun tidak tahu versi mana yang asli.”

Gu Chen ingin membalas, tetapi kata-kata itu mengingatkannya pada seluruh perjalanan mereka. Sejarah Dinasti Wuming yang berubah. Nama Gu Yuan yang dihapus. Bai yang memiliki ingatan tanpa pemilik yang jelas. Dan dirinya sendiri, seseorang yang bahkan tidak dapat memastikan apakah ingatannya benar-benar pernah menjadi miliknya.

Mungkin Gu Yuan benar.

Namun, itu tidak berarti ia akan memaafkan semua kebohongan ayahnya.

“Baik,” kata Gu Chen akhirnya. “Kita cari tempat di mana namaku pertama kali diciptakan.”

Anak berambut putih itu menggeleng.

“Kau tidak bisa masuk ke sana hanya dengan membawa lonceng.”

“Lalu apa yang kubutuhkan?”

Anak itu menatap gelang di tangan Gu Chen.

“Ketiga gelang. Dan seseorang yang bersedia menyerahkan namanya secara sukarela.”

Mata Bai berubah.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Gu Chen menoleh kepadanya.

“Kenapa?”

Bai menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia tampak bukan seperti orang yang menyimpan banyak rahasia, melainkan seseorang yang sedang berusaha mencegah sebuah kesalahan lama terulang.

“Karena aku pernah menyerahkan namaku di tempat itu.”

Ia mengangkat wajah.

“Dan aku tidak pernah mendapatkannya kembali.”

Sebelum siapa pun sempat bertanya lebih jauh, sebuah tulisan baru muncul di udara.

Bukan tulisan merah seperti pesan-pesan sebelumnya, melainkan huruf putih yang tampak seolah ditulis menggunakan cahaya bulan.

\[ARSIP KESEBELAS: PEMULIHAN SELESAI.\]

\[PEMILIK NAMA: BAI.\]

\[STATUS NAMA: TELAH DIKEMBALIKAN.\]

Bai membeku.

Dari dalam dadanya terdengar suara retakan kecil.

Lalu sebuah suara lain, yang tidak berasal dari mulutnya, berbisik di seluruh ruangan.

“Akhirnya, aku bisa pulang.”

Gu Chen mundur satu langkah.

Di belakang Bai, bayangan seseorang mulai terbentuk. Sosok itu memiliki wajah yang sama persis dengan Bai, tetapi rambutnya putih seluruhnya dan kedua matanya tertutup kain hitam.

Sosok itu membuka mulut.

“Gu Chen,” katanya, “kau terlambat tiga ribu tahun.”

Dan untuk pertama kalinya, Bai berteriak ketakutan saat melihat wajahnya sendiri.

Bersambung ke Bab 25 — Nama yang Kembali dari Kematian

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!