Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Part 20
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, Alfan harus segera menjemput Tina, sedangkan penampilannya sekarang sudah sangat rapi, dengan setelan jas hitam dan kemeja putih sebagai kostum acaranya.
Alfan memerhatikan jam tangannya, posisinya sekarang berada di pinggir jalan, ia sedang menunggu mobil beserta sopir yang sudah disewanya untuk pergi ke acara. Tak lama menunggu, akhirnya mobil hitam mewah itu datang, sang sopir keluar untuk membukakan pintu untuk Alfan yang tampak tenang.
"Kita ke beauty salon ya, Pak!" pinta Alfan sembari mengirim pesan untuk Tina.
"Siap, Pak."
[Apa kamu sudah selesai?]
Pesan itu terkirim, tak lama Tina membalas pesannya dan mengatakan bila ia sudah selesai. Melihat pesan balasan itu, Alfan menghela nafas panjangnya, merasa bersyukur setidaknya ia tidak harus menunggu Tina lebih lagi di sana.
Bukan tanpa alasan Alfan tidak mau menunggu Tina di salon, itu karena ia merasa risi dengan para banci yang menggodanya, sedangkan Tina yang mengetahuinya hanya tertawa, seolah puas melihatnya menderita. Itulah kenapa Alfan memutuskan untuk pulang, ia sudah tak tahan dengan banyak godaan yang menurutnya menyesatkan.
Tak terlalu lama di perjalanan, akhirnya mobil yang Alfan tumpangi berhenti di depan sebuah salon yang tadi sempat Alfan datangi. Setelah itu, Alfan keluar dari mobil, ekspresinya yang selalu tenang memberinya banyak aura kewibawaan bagi setiap orang yang melihat penampilannya.
"Di mana asisten saya?" tanya Alfan ke arah salah satu perias di salon tersebut, ekspresinya tampak angkuh dengan wajah dinginnya yang terkesan kaku.
"Di dalam, Tuan. Lagi ganti baju, mungkin sebentar lagi akan selesai. Silakan duduk!" jawabnya sembari mempersilakan Alfan duduk di sofa tunggu, sedangkan Alfan hanya mengangguk lalu duduk, matanya melirik sekitar, merasa waspada saja kalau-kalau banci itu datang lagi.
"Banci yang tadi di mana?" tanya Alfan tiba-tiba sebelum perias itu melangkahkan kakinya.
"Oh yang tadi ya, Tuan? Kebetulan sudah pulang. Apa ada sesuatu yang harus disampaikan? Saya akan menyampaikannya."
"Tidak ada. Saya hanya risi melihat tingkah lakunya, lebih baik kalau dia sudah pulang."
"Begitu ya, Tuan? Ya sudah kalau begitu saya jemput Nona Tina ya, mungkin sekarang dia sudah selesai." Lagi-lagi Alfan hanya mengangguk, pandangannya kini beralih ke ponselnya, di mana ada pesan mamanya yang belum sempat ia baca.
Di dalam pesan itu, mamanya menanyakan acara yang akan Alfan datangi, mamanya itu khawatir kalau Alfan tak bisa datang, namun bukan Alfan namanya bila ia mengingkari janjinya. Dengan bangga dan bahkan berswab foto, Alfan mengirimkan gambarnya ke mamanya untuk meyakinkannya bila ia akan memenuhi janjinya.
[Wah, anak Mama ganteng. Sekarang ganti foto Tina, katanya kamu sudah mengantarkannya ke salon kan? Mama juga mau tahu penampilan calon menantu Mama.]
Alfan merapatkan bibirnya, setelah membaca pesan mamanya, hatinya merasa gelisah bila harus melakukannya. Bukan karena ia tidak mau, hanya saja ia merasa sungkan dengan Tina, ia yakin wanita itu pasti akan merasa tak nyaman dengan permintaannya.
"Pak," panggil Tina, yang Alfan toleh begitu saja, namun saat matanya benar-benar tertuju ke arah asistennya, hatinya dibuat terpesona saat pertama kali melihatnya.
"Tina ...?" gumam Alfan tak percaya, melihat wanita itu tersenyum dengan indahnya. Polesan make up flawess di wajahnya, membuat Tina semakin cantik di matanya.
"Bagaimana, Pak? Apa saya terlihat aneh?" tanya Tina terdengar ragu, merasa tak yakin saja dengan penampilannya.
"Tidak ...."
"Yang benar, Pak?"
"Eh maksud saya tidak aneh, tapi sangat-sangat aneh." Alfan menjawab dengan menyebalkan seperti biasanya, seolah ingin menutupi kekagumannya akan penampilan Tina. Membuat wanita itu memanyunkan bibirnya, merasa kesal dengan jawaban bosnya.
"Saya hapus saja ya make up-nya, Pak?" ujar Tina terdengar kesal, ia merasa tidak dihargai waktunya mempercantik diri oleh bosnya tersebut.
"Ya jangan lah. Saya sudah bayar mahal perawatan dan make up kamu itu, masa mau dihapus?" Alfan segera menghentikan Tina yang hampir menyentuh polesan wajahnya.
"Oh iya, sekarang kamu berdiri tegap di sana. Saya mau memfoto kamu, Mama saya mau lihat penampilan kamu." Alfan menunjuk ke arah tembok putih, sedangkan Tina hanya diam dan berjalan ke tempat yang Alfan tunjuk.
"Senyum! Jangan cemberut!" pinta Alfan yang sudah mengambil ancang-ancang untuk memotret Tina, sedangkan Tina hanya menghela nafas lalu menyunggingkan senyumnya dengan sangat terpaksa.
"Oke, sip." Alfan memotret Tina sebanyak yang ia bisa, ia ingin mengabadikan wanita itu ke dalam ponselnya.
"Sudah kan, Pak?" tanya Tina memastikan.
"Sudah." Alfan mengirim foto Tina ke nomor mamanya, ia merasa senang bisa membuat mamanya bahagia dengan hal kecil yang dilakukannya.
[Tina cantik banget, sekarang kamu foto sama dia ya, Mama tunggu fotonya. Kalau bisa yang banyak, Mama mau pamerin ke teman-teman Mama.]
Alfan menjatuhkan rahangnya, merasa tak percaya dengan permintaan mamanya. Bagaimana mungkin ia bisa meminta Tina untuk foto bersamanya, rasanya hampir mustahil mengingat betapa kesalnya asistennya itu. Namun setidaknya ia harus mencoba dulu, berusaha menuruti permintaan mamanya yang tidak mungkin ditolaknya.
"Tina."
"Iya, Pak. Ada apa lagi?" jawabnya terdengar masih kesal, mungkin karena Alfan sudah mengatakan bila dandanannya sangat-sangat aneh.
"Kita ... harus ... berfoto bersama ...." Alfan menjawab ragu, sedangkan Tina yang mendengarnya seketika mendelikkan matanya, merasa tak percaya dengan permintaan bosnya.
"Kenapa kita harus melakukannya? Saya tidak mau, Pak." Tina menjauhkan tubuhnya dari bosnya, merasa konyol saja bila ia sampai foto bersama dengan bosnya yang sangat menyebalkan itu.
"Kamu pikir saya mau? Ini juga permintaan Mama saya." Alfan menjawab kaku, seolah juga tidak suka dengan hal itu, meski sebenarnya ia juga sangat menginginkannya.
"Iya-iya." Tina menjawab terpaksa lalu berjalan ke arah Alfan.
"Ya sudah ayo foto, Pak!" ajak Tina terdengar tak ikhlas, sedangkan Alfan menyiapkan ponselnya.
"Senyumnya yang tulus, awas ya kalau sampai Mama saya curiga."
"Iya, Pak." Tina menjawab lelah, yang diam-diam Alfan senyumi lalu keduanya berfoto dengan banyak gaya, mengabadikan diri mereka dalam kamera.