"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 14] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Yah...
Jika hari pertama kehadiran Oscar
atmosfer kantor terasa tegang, maka di hari kedua, suasananya berubah mencekam. Tiga hari adalah waktu yang ia jadwalkan untuk terpisah jarak dengan wanita itu. Dan ini adalah hari kedua—hari di mana kesabaran sang CEO mulai terkikis habis.
Pukul delapan pagi, Oscar sudah duduk di balik meja kerjanya. Dante masuk membawa setumpuk dokumen baru dengan langkah yang dibuat se- Pelan mungkin.
"Jadwal Anda hari ini, Pak," Dante membuka suara dengan hati-hati. "Jam sembilan ada video conference dengan investor dari London. Jam satu siang, peresmian bank mitra di SCBD, dan sorenya ada wawancara eksklusif dengan majalah bisnis global."
Oscar tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam dokumen di depannya, namun pikirannya melayang ke seberang laut. Ponselnya masih bisu.
"Pak Oscar?" panggil Dante lagi, memastikan bosnya mendengar.
"Jalan saja sesuai jadwal," sahut Oscar dingin tanpa mendongak. "Dan batalkan sesi foto untuk wawancara sore nanti. Cukup sesi tanya jawab. Saya tidak punya waktu untuk berpose tidak penting."
"Baik, Pak. Lalu... mengenai laporan dari kediaman di sana?" Dante menggantung kalimatnya, tahu betul ini yang sebenarnya ditunggu. "Nona Anisa hari ini mengunjungi galeri seni lokal ditemani tim pengawal dan nyonya Azy,Beliau terlihat baik-baik saja."
Gerakan tangan Oscar yang hendak menandatangani berkas langsung terhenti. Terlihat baik-baik saja? Berarti wanita itu tidak merindukannya? Bahkan tidak peduli pria yang menguasai hidupnya sedang berada di belahan bumi lain?
Oscar meletakkan pulpennya dengan ketukan keras di meja. "Dia tidak menanyakan keberadaan saya? Sama sekali?"
"Tidak ada pesan atau pertanyaan dari Nona Anisa untuk Anda hari ini, Pak," jawab Dante jujur, meski tahu jawabannya akan memperburuk suasana hati atasannya.
"Keluar," perintah Oscar, suaranya pelan namun terdengar seperti ancaman. "Dan bawa ponsel ini. Kunci di laci mejamu. Jangan kembalikan sampai saya yang memintanya."
"Baik, Pak." Dante mengambil ponsel itu dan segera undur diri.
...----------------...
...09:00...
...----------------...
Jam sembilan tepat, video conference berlangsung di ruang kerja Oscar. Di layar monitor besar, jajaran investor dari London sedang memaparkan proyeksi saham gabungan. Namun, fokus Oscar terbelah. Pikirannya terus menginterupsi jalannya rapat.
Kenapa dia egois sekali? Apa susahnya mengirim satu pesan basa-basi?
"What do you think about these sustainability metrics, Mr. Oscar?" suara dari speaker laptop memecah lamunan Oscar. "We think this figure is quite safe for the Asian market."
Oscar menatap layar dengan pandangan menusuk, meluapkan seluruh kekesalan batinnya pada rapat tersebut.
"Your metrics are too optimistic and naive, Mr. Lucas.," potong Oscar dengan suara berat yang seketika membungkam forum. "I don't engage investors who are simply looking for a 'safe' position. If your team can't prog within twenty-four hours, I will withdraw my funds.."
"But Mr. Oscar, twenty-four hours is too-"
"I don't like negotiating twice. Send the revised draft tomorrow, or please find a new partner. The meeting is over."
Klik. Oscar mematikan sambungan video sepihak sebelum pihak London selesai berbicara. Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Dante, bawa ponsel saya kembali ke sini. Sekarang."
...----------------...
...11:20...
...----------------...
Siang harinya di kawasan SCBD, Oscar menghadiri acara peresmian perbankan di Bali, tentunya mau tidak mau ia harus lah menempuh perjalanan langit kembali
Acara formal yang dipenuhi para pengusaha elite. Ia berdiri di area VIP dengan segelas sampanye yang hanya diputar-putar.
Seorang pengusaha wanita dari perusahaan rekanan mencoba mendekat, melemparkan senyum manis. "Lama tidak melihat Anda, Pak Oscar. Kudengar Anda sedang sibuk mengurus proyek di luar negeri?"
Oscar hanya meliriknya sekilas, wajahnya sedatar papan tulis. "Ya."
"Ah... pasti melelahkan ya, harus membagi fokus," wanita itu mencoba mencairkan suasana.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini kita makan malam santai untuk membahas potensi kerja sama baru?"
Sial!. wanita ini belum juga mengikis jarak di antara keduanya,tentu Oscar sangatlah tidak nyaman.tidak seperti dia berada di sisi Anisa.
"Hubungi sekretaris saya. Dia yang mengatur jadwal mana yang tidak membuang waktu saya," jawab Oscar ketus.
"Maaf?" Wanita itu terperangah dengan penolakan yang begitu frontal.
"Permisi," potong Oscar tanpa minat, langsung melangkah pergi meninggalkan kolega tersebut yang mematung menahan malu.
Saat berjalan menjauh, saku celananya bergetar. Oscar dengan cepat merogoh ponselnya, berharap itu adalah sebuah pesan singkat dari seberang sana. Namun, saat layar menyala, yang tertera hanyalah email berisi update grafik bursa saham.
Oscar mendengus gusar. "cih! Yang benar saja!" umpatnya lirih, memasukkan kembali ponselnya dengan kasar.
Menjelang pukul enam sore, Oscar kembali ke ruang kerjanya setelah sesi wawancara yang melelahkan. Ruangan itu kini sunyi, menyisakan keremangan senja Bali di balik dinding kaca raksasa.
Oscar melempar jasnya ke sofa, membuka dua kancing teratas kemejanya, lalu duduk bersandar di kursi kebesarannya. Matanya tertuju pada ponsel yang ia letakkan tepat di tengah meja marmer.
Pria itu menatap benda mati tersebut dengan tatapan frustrasi. Keheningan ini perlahan menyiksanya.
Perasaan aneh bernama RINDU ini benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Masa iya sih?dia merindukan Anisa?
Ia terbiasa memegang kendali atas segalanya, namun sekarang, ia bahkan tidak bisa mengendalikan isi kepala seorang wanita yang bisa saja ia temui detik ini juga.
Ia meraih ponselnya, membuka ruang obrolan mereka yang masih kosong.namun tetap terpampang jelas Jarinya bergerak cepat mengetik pesan
^^^[Kenapa belum tidur? Kamu sengaja mengabaikan saya?]^^^
Oscar menatap ketikan itu selama beberapa detik. Gengsinya mendadak berteriak menolak.
"Tidak, Oscar. Jangan terlihat menyedihkan di depannya"
Ia menghapus kalimat itu, lalu menggantinya dengan kalimat yang lebih formal dan berwibawa
^^^[Laporkan kegiatanmu hari ini]^^^
Ibu jarinya menggantung di atas tombol kirim. Satu menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Rasa kesal, gengsi, dan rindu bergejolak hebat di dadanya.
Pada akhirnya, Oscar mendengus kasar. Dengan geram, ia kembali menghapus seluruh tulisan itu hingga bersih, lalu melempar ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras.
"Agghrh!.Anisa katakan sesuatu!," gumam Oscar pada ruang kerjanya yang menggelap. "Kamu benar-benar menguji batas sabar ku."
Pria dingin itu memijat pelipisnya yang berdenyut tegang. Besok adalah hari ketiga, hari terakhirnya di sini. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Oscar Carlous, ia merasa kalah telak oleh diamnya seorang wanita.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...