"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Budi kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol air mineral dan sebungkus plester luka. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan salah satu botol kepada Jena.
“Minum dulu.”
Jena menerimanya dengan sedikit ragu. “Makasih.”
Budi kemudian duduk di sampingnya, membuka bungkus plester. Tatapannya kembali tertuju pada luka di pipi Jena.
“Diam sebentar.”
“Hah?”
Budi mendekat, lalu menempelkan plester dengan hati-hati di pipi Jena yang terluka. Gerakannya begitu teliti, seolah takut membuat luka itu semakin sakit.
Jena terdiam, tubuhnya membeku.
“Tangan kamu juga lukakan?"
"Hah!" Jena yang masih beku gara-gara perlakuan Budi, panik sesaat.
"Telapak tangan kamu. Tadi katanya luka."
Jena menunjukkan telapak tangannya. “Cuma lecet.”
"Mau aku pasangin, atau pasang sendiri?" Budi menunjukkan plester di tanganya.
"Aku pasang sendiri aja." Jena mengambil plester yang disodorkan Budi.
"Sini, aku bantu siram dengan air, biar bersih, baru ditampal plester." Budi membuka tutup air mineral, mengalirkan ke tangan Jena. "Kamu ada tisu gak, buat ngeringin?"
Jena mengambil tisu di tas, menyeka telapak tangannya lalu menempelkan plester disana.
“Mana lagi yang sakit?” Budi masih punya banyak sisa plester di tangannya.
“Enggak ada.”
“Sayang banget, aku terlanjur beli banyak.” Budi mengangkat satu renteng plester itu sambil tersenyum tipis. “Kalau masih ada luka lain, bilang. Biar enggak mubazir.”
"Kayaknya pengen banget aku banyak luka." Jena mendengus.
Budi menatap Jena beberapa detik. Seperti kembali memastikan sesuatu. “Boleh tanya?”
“Apa? Soal motor?" tebak Jena. "Aku bukan maling ya, itu motor aku pinjam. Jangan karena aku gak bawa STNK, kamu langsung nuduh aku maling."
"Bukan." Budi menggeleng.
"Lalu?" Jena mengerutkan kening.
“Kamu... Jenara, kan?”
Senyum Jena seketika lenyap. Ia menoleh cepat. “Kok kamu tahu nama aku?”
Budi tertawa kecil. “Berarti benar.”
Jena semakin curiga. “Kita pernah ketemu?”
“Pernah.”
“Di mana?”
“Kampus.”
Jena terdiam.
“Kita dulu satu kampus, cuma beda angkatan. Aku di bawah kamu.”
Mata Jena membesar. “Serius?”
Budi mengangguk.
“Tunggu-tunggu!" Jena tiba-tiba tersenyum. “Kamu kuliah di...Universitas Perjuangan?"
“Iya.” Budi mengangguk.
“Ah, bohong ah." Jena menggeleng. "Itu kampus elit!” Ia tertawa cekikikan sampai harus memegangi pipinya yang terluka. “Aduh!”
Budi memutar kedua bola mata, faham kenapa Jena menertawakannya. " Makanya, jangan suka ngetawain orang."
"Habisnya kamu lucu." Jena menahan agar tidak kembali tertawa. “Lulusan kampus elit_" Menunjuk gerobak roti bakar di dekat mereka. “...sekarang jualan roti bakar di pinggir jalan. Hahaha. Kocak lo!" Tawanya lepas.
Budi terdiam. Wajahnya yang semula santai perlahan berubah datar. “Memangnya kenapa?”
Jena menggigit bibir, berusaha menghentikan tawanya. Sadar, telah membuat orang lain tersinggung. “Enggak, gak papa kok. Sorry...gak bermaksud_"
“Ngetawain?" Potong Budi cepat.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma enggak menyangka.”
Budi menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecut. “Kadang, dunia memang enggak selalu berjalan sesuai rencana." Menatap ke arah gerobaknya.
Tawa Jena perlahan menghilang. Untuk sesaat, ia menatap Budi dengan pandangan berbeda. "Jangan-jangan!"
"Jangan-jangan apa?" Budi menoleh.
"Kamu CEO yang lagi nyamar ya?"
Mulut Budi langsung terbuka lebar, melongo.
"Beneran, kamu CEO yang lagi nyamar?" Memegang kedua bahu Budi, menatap matanya lama. "Kamu CEO perusahaan mana? Mau nyari jodoh gadis yang tulus, yang gak mandang harta gitu?" Ia tiba-tiba menggeleng cepat. "Jangan masukin aku dalam list. Aku gak pengen nikah."
"Awww!" Jena menjerit kecil saat keningnya didorong Budi dengan telunjuk.
"Kebanyakan nonton dracin!" Budi geleng-geleng.
Jena tertawa cekikikan. "Aku wanita karier, seorang manager, kamu kira ada waktu buat nonton dracin hah? Temenku yang hobi nonton dracin, tiap hari ngayal jadi bininya CEO." Ia kembali meminum air mineral yang diberikan Budi, lalu menyandarkan punggungnya ke tiang rambu di belakang trotoar. "Jadi, kamu CEO bukan?"
"CEO roti bakar!" Budi mendelik, lalu geleng-geleng.
"Yah...bukan ya. Padahal mau aku kenalan sama temen aku. Eh, tapi kok kamu jualan roti bakar sih?"
"Emangnya kenapa? Jualan kan pekerjaan halal."
"Halal sih halal, tapi..." Jena tak enak hati untuk bicara langsung.
"Tapi pekerjaan rendahan gitu, kurang elit dalam bahasa kamu?"
"E..." Jena nyengir, garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Ya kan kamu lulusan kampus elit."
"Aku di DO dari kampus."
"What!" Jena langsung melotot. "Wah, kasus nih orang. Kasus apaan, nyolong? Atau...pencabulan!" Ia reflek menutup dada dengan kedua lengan.
Budi membuang nafas kasar. "Gak bisa bayar UKT."
"Lah, dah tahu gak ada duit, ngapain kuliah disana. Kocak!" Jena tertawa sambil geleng-geleng. "Miskin, tapi banyak gaya. Ups!" Buru-buru ia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. "Sorry, gak bermaksud_"
"Menghina." Potong Budi cepat. "Aku memang miskin kok."
"Maaf, keceplosan."
"Keceplosan kok terus."
"Hehehe."
"Ngomong-ngomong, HP kamu benar-benar hilang?" Budi mulai mengalihakan pembicaraan ke lainnya.
"Eh, aku nggak bohong, ya."
"Aku nggak bilang kamu bohong."
"Serius hilang. Dompetku juga." Ekspresi Jena berubah kesal saat mengingat kejadian beberapa menit lalu. "Pasti pas rame-rame tadi, ada yang nyolong."
Budi mengangguk pelan, percaya. Kadang disaat orang kesusahan, memang ada aja yang nyari kesempatan. "HP kamu iPhone kan? Sepertinya bisa dilacak."
Jena menghela napas. "Semoga aja."
"Bisa pakai fitur lokasi. Sekarang kan canggih. Kalau pencurinya nggak langsung matiin perangkat, kemungkinan masih bisa ketahuan."
Jena mengusap wajahnya. "Semoga aja bisa kelacak, nanti aku minta bantuan teman."
Pandangan Jena perlahan bergeser ke arah gerobak roti bakar yang sudah dipinggirkan oleh orang-orang. Rodanya patah, kaca etalasenya pecah. Beberapa peralatan di dalamnya berantakan. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Maaf ya."
Budi mengikuti arah pandangannya. "Oh, soal gerobak?"
Jena mengangguk. "Ini salahku."
Budi menghela napas pendek. "Ya, memang salah kamu."
"Aku bakal ganti rugi."
Budi menoleh. "Serius?"
"Iya, tapi.." Jena mengusap tengkuknya dengan canggung. "Tapi nggak sekarang. Aku lagi apes banget hari ini."
"Iya, aku ngerti kok."
"Eh, btw, nama kamu siapa?"
"Aku Budi."
"HP hilang, dompet hilang, terus jatuh dari motor. Lengkap pokoknya apesku hari ini." Jena mengembuskan napas panjang. "Aku juga nggak bisa ninggalin motor sebagai jaminan. Itu bukan motor punya aku. Gini aja deh, kamu simpen nomor aku, nanti kamu hubungi."
"Lah, kan HP kamu ilang."
"Ya siapa tahu nanti ketemu."
"Kalau enggak?"
"Kan masih tetep bisa, pakai nomor lama, tinggal diurus aja. Tenang, aku gak bakalan kabur kok. Lagian duit 3 juta gak ada apa-apanya buat aku. Buat sekali ngopi aja habis."
"Kopi apaan 3 juta, dicampur emas?"
"Flexing, gitu aja gak faham. Lagi nge branding diri, biar kamu yakin kalau aku orang kaya. Soalnya..."
"Soalnya apa? Jangan bilang, orang tua kamu sudah bangkrut?"
"Syukurnya sih belum."
"Lalu?"
"E..." Ekspresi wajah Jena tampak ragu. "Aku...mau pinjem duit."
Budi seketika melongo.
"Tadi aku lihat bensinnya mau habis. Aku gak mau kehabisan di jalan terus nuntun. Mau ditaruh mana mukaku!" Kakinya begerak-gerak tak karuan, membayangkan ada di posisi itu.
Budi garuk-garuk kepala. Udah gerobaknya rusak. Udah keluar uang buat beli minum dan plester. Sekarang masih harus keluar uang lagi buat beliin bensin. Kenapa sial bisa bertubi-tubi gini sih?
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...