Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mode professional pun dimulai, Andrew dan Carol sama-sama menaiki sebuah mobil yang sengaja Andrew sewa untuk mereka selama di kota ini. Tak lupa Andrew juga menyewa sopirnya sekalian.
Hari ini mereka harus menemui klien penting yang kabarnya akan menjadi calon investor besar di perusahaan Andrew.
Setelah lima belas menit, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah lobi perusahaan.
Seorang pria nampak berjalan menghampiri mereka berdua, "Selamat datang di perusahaan kami, perkenalkan saya Gabriel. Saya akan mengantar Tuan dan Nona menuju ruangan Tuan Gerald." ucapnya sambil tersenyum hangat.
Carol membalas senyuman itu, sementara Andrew tampak cuek saja.
"Terima kasih sambutannya, Tuan Gabriel."
"Sama-sama Nona. Kalau begitu mari ikuti saya."
Andrew tidak langsung melangkah, dia diam sambil memberi isyarat supaya Carol berjalan lebih dulu.
Carol menatap Andrew sambil menahan senyum, barulah dia melangkah mengekori langkah pria bernama Gabriel itu.
Mereka diajak masuk ke dalam lift menuju lantai sembilan belas.
"Mari." Gabriel lagi-lagi bersuara saat pintu lift terbuka.
Langkahnya masih diikuti oleh Carol dan Andrew dari belakang.
Sampai akhirnya langkah pria itu berhenti di depan sebuah pintu besar.
Gabriel membukakan pintu itu, "Silahkan Tuan, Nona. Tuan Gerald sudah menunggu di dalam."
"Sekali lagi terima kasih, Tuan Gabriel." Carol tersenyum manis.
Dia dan Andrew kemudian melangkah masuk dan hal pertama yang Carol lihat adalah seorang pria paru baya berkacamata yang rambutnya sudah dipenuhi oleh uban dan seorang wanita dewasa yang terlihat sangat anggun dan berkelas.
Pria paru baya itu tersenyum saat seseorang yang sudah dia tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Lawson, akhirnya setelah bertahun-tahun." sapanya terdengar begitu akrab.
Andrew pun tersenyum, dia menyodorkan tangannya lebih dulu untuk berjabat tangan dengan pria yang lebih tua darinya ini.
"Tuan Gerald, lama tidak berjumpa."
"Tuan? Astaga, panggil aku Uncle seperti biasa."
Andrew tipis sambil menggeleng, "Tapi.."
"Kau tentu tahu Uncle tidak suka penolakan."
"Baiklah."
Dan wanita dewasa yang sedari tadi berdiri di belakang Tuan Gerald itu akhirnya maju.
"Halo Andrew, lama tidak berjumpa."
Bukan menjabat tangan. Wanita itu memeluk Andrew dan cepika-cepiki.
Hal itu membuat Andrew terlihat tidak nyaman dan Carol terlihat kikuk, gadis itu tidak tahu menahu jika Andrew dan calon klien mereka ini sudah saling kenal. Sebisa mungkin dia tetap mengatur ekspresi dan menyapa dengan sopan.
Dia tersenyum sambil menyodorkan tangannya, "Halo Tuan Gerald, perkenalkan saya Carol sekertaris Tuan Andrew."
"Carol? Nama yang bagus. Oh iya, perkenalkan juga ini Rose, putri saya."
Tangan Carol beralih ke tangan wanita dewasa itu, jadi dia bernama Rose.
"Hai, senang berkenalan dengan kamu." sapanya sangat ramah.
Lagi-lagi Carol membalasnya dengan tersenyum, "Halo Nona Rose, saya juga senang bisa mengenal anda."
"Ayo, silahkan duduk!"
Keempat orang itu akhirnya duduk bersama di depan sebuah meja panjang tempat pertemuan perusahaan Gerald.
"Sebentar ya, kita tunggu Gabriel dulu." ucap Gerald
Tidak butuh waktu lama setelah beberapa detik Gerald berbicara, pria muda bernama Gerald itu akhirnya datang dengan sebuah iPad di tangannya.
"Maaf harus menunggu." ucapnya.
"Oke, karena Uncle tau kau adalah orang yang sangat perfeksionis jadi mari kita mulai pembahasannya. Silahkan Andrew." ucap Gerald terkekeh.
Andrew tersenyum tipis, pria itu kemudian berdiri dan sebelum membahas pekerjaan dia memberikan ungkapan terima kasih lebih dulu kepada Gerald yang sudah mengundangnya kesini.
Selanjutnya dia langsung menyampaikan presentasinya, memberi tahu keuntungan apa yang akan mereka dapat jika menjalin kerja sama. Juga menawari sesuatu apa yang akan menjamin kerja sama mereka.
Gerald, Rose, Gabriel dan Carol terlihat duduk sambil memperhatikan.
"Sekian, semoga anda berkenan." ucapnya menutup kata. Andrew pun kembali duduk di sebelah Carol dan juga di seberang Rose.
"Setelah mendengar presentasimu secara langsung kami menjadi lebih tertarik, benar begitu Rose?"
"Ya, tentu. Ini akan menjadi peluang yang besar untuk kami dan juga untukmu Andrew."
"Terima kasih."
Andrew tersenyum, tak lupa dia juga melirik Carol di sampingnya seolah mengatakan semua ini akan berhasil.
"Baiklah, kalau begitu kami akan segera mengurus semua berkasnya. Dan kau Gabriel, segera hubungi mereka supaya cepat selesai."
"Baik, Tuan." sahutnya.
"Untuk selanjutnya kamu bisa berkomunikasi dengan Rose, dia akan menghandle bagian ini. Sekalian kau ajari dia supaya bisa mengurus perusahaanku, ya?"
"Saya, Uncle?" balas Andrew bingung.
"Ya, sebagai teman masa kecilnya yang selalu bisa menghandle ketantrumannya sepertinya Uncle juga percaya padamu untuk mengajarinya tentang masalah yang satu ini."
"Tapi, Uncle bukankah sebaiknya.."
"Ya, Uncle sudah menduganya berita tentangnya pasti tidak sempat sampai kepadamu."
"Rose baru saja resmi bercerai, baru sekitar satu bulan yang lalu dia kembali ke kota ini. Dan dia ini sedang mencari kesibukan, awalnya Uncle ragu karena kau tahu sendiri kan dari dulu dia selalu menolak jika diminta harus mengurus perusahaan. Tapi kali ini dia sendiri yang menawarkan diri."
"Bukan menolak. Aku hanya sedikit telat menyadari jika aku adalah anak Papa satu-satunya yang akan mewarisi semua ini." Rose langsung meralat ucapan Ayahnya.
"Nah, kau dengar? Dia sungguh bersemangat kali ini. Jadi sebagai pengusaha dengan pengalaman yang lebih dari cukup harusnya kau tidak keberatan kan, Andrew? Selama kau disini saja, sampai berkas-berkas itu siap ditanda tangani."
Andrew tidak menjawab, dia malah melirik Carol lagi yang saat itu sedang tertunduk sambil memandangi layar iPad nya.
Dia sedang mengecek laporan masuk dari perusahaan yang sedang mereka tinggalkan. Meskipun kedua telinganya juga tetap fokus mendengarkan percakapan mereka.
Tiba-tiba gadis itu berdiri membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Maaf semuanya, saya ijin ke toilet sebentar."
"Oh tentu, silahkan Nona Carol. Kalau begitu Gabriel, tolong tunjukan arahnya!"
"Baik, Tuan." sahut Gabriel yang juga sebenarnya sedang sibuk dengan iPadnya.
"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa sendiri."
"Di lantai ini kebetulan banyak sekali lorong. Saya hanya khawatir kamu nyasar." ucap Gabriel menjelaskan.
"Oh, baiklah Tuan, terima kasih."