NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Aroma bawang goreng menyelinap lewat celah pintu kamar kos nomor tujuh, merambat di lorong sempit, dan membuat ibu kos yang sedang menyapu teras berhenti di tengah gerakan.

"Neng Anin?" Bu Heni mengetuk pintu dua kali. "Masak apa itu? Wangi banget!"

Pintu terbuka sedikit. Anindya muncul dengan celemek yang jelas bukan miliknya, rambut dikuncir asal, dan pipi yang agak berkeringat. Di belakangnya, di atas kompor listrik kecil yang biasanya hanya dipakai untuk merebus mi, mengepul panci berisi nasi gurih dengan aroma santan dan daun salam.

"Nasi uduk, Bu. Maaf ya, bau banget, saya buka jendela dulu."

"Bau apanya, ini mah wangi!" Bu Heni melongok ke dalam dengan mata berbinar. "Kamu bisa masak, ya? Pantes badan kamu tuh kecil tapi tangannya kuat."

"Cuma iseng, Bu."

"Iseng kok sampai pakai telur dadar gosong gitu?"

Anindya menoleh ke piring di meja kecilnya. Di sana ada sepiring nasi uduk yang ditata sederhana, dengan telur dadar yang pinggirnya sengaja digosongkan sedikit dan sambal kacang yang masih mengilap.

Ia tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa.

"Resep ibu saya, Bu."

"Wah." Bu Heni menepuk lengannya dengan lembut. "Ibunya pasti jago masak."

"Iya, Bu."

Ia tidak menambahkan apa-apa lagi. Bu Heni, yang sudah cukup lama membuka kos untuk tahu kapan harus bertanya dan kapan tidak, hanya mengangguk, lalu pergi dengan sepiring nasi uduk yang diberikan Anindya tanpa diminta, sambil bergumam bahwa besok ia akan membawa lima orang tetangganya untuk memesan.

Pintu ditutup. Anindya berdiri sendirian di kamar yang kini berbau seperti rumah masa kecilnya, dan akhirnya membiarkan dadanya berat.

Sudah dua tahun sejak terakhir kali ia membuat nasi uduk. Sejak ibunya tiada, dapur selalu terasa seperti ruangan yang lebih baik tidak dimasuki. Karena di sanalah ibunya paling hidup: di antara uap santan, di antara suara sendok kayu, di antara tawa kecil yang selalu muncul setiap kali Anindya menggosongkan telur dadar terlalu parah. Memasak berarti memanggil semua itu, dan ia tidak pernah sanggup menanggung jawabannya, karena tidak ada yang menjawab.

Tapi malam ini, setelah sehari penuh menjadi bahan bisik-bisik, setelah menatap papan nama baru dan nama yang tidak lagi ada di sana, ia hanya ingin satu hal sederhana: sesuatu yang bisa ia kendalikan dengan tangannya sendiri.

Santan, daun salam, serai. Telur, bawang goreng, kacang yang disangrai pelan.

Tangannya bergerak sendiri. Dan di tengah uap yang naik, ia mendengar, jelas sekali, suara ibunya di belakang telinganya: *Pelan-pelan, Nin. Santannya jangan sampai pecah. Orang yang masak buru-buru, rasanya ikut buru-buru.*

Ia memejamkan mata, tersenyum, dan menangis di saat yang sama. Tapi untuk pertama kalinya, tangis itu terasa seperti pulang.

---

Keesokan paginya, Anindya membawa dua rantang kecil ke warung.

Ia tidak berencana apa-apa. Ia hanya terlalu banyak membuat, dan membuangnya terasa seperti pengkhianatan pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar makanan. Jadi ia membungkus sisanya, menyimpannya dalam tas, dan ketika Mbak Sari sedang menyiapkan bumbu sebelum yang lain datang, ia meletakkan rantang itu di meja potong tanpa banyak bicara.

"Apa ini?"

"Nasi uduk, Mbak. Kemarin saya bikin kebanyakan."

Mbak Sari menatap rantang itu lalu menatap Anindya. "Kamu bikin sendiri?"

"Iya, Mbak. Kalau nggak enak, nggak apa-apa dibuang."

Mbak Sari tidak menjawab. Ia membuka tutup rantang, mengambil sendok kecil, dan mencicip sedikit nasinya. Ia mengunyah pelan, wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia mencicip sambal kacangnya, lalu telur dadarnya. Lalu diam cukup lama.

Anindya mulai menyesal. Jari-jarinya meremas ujung apron.

"Gurihnya pas," kata Mbak Sari akhirnya. "Nasinya nggak lembek, nggak keras. Santannya nggak bikin eneg."

"Alhamdulillah, Mbak."

"Tapi sambal kacangnya kurang ngegigit. Tambahin sedikit cabai rawit rebus, jangan digoreng." Mbak Sari menatap telur dadarnya. "Kalau ini sih nggak usah ditambahin apa-apa. Sudah ada karakter."

Anindya merasa sesuatu di dadanya mengendur. "Makasih, Mbak."

"Bukan pujian. Cuma kebenaran." Mbak Sari menaruh sendoknya. Dan untuk sesaat, ada sesuatu yang lewat di wajahnya, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang terlalu lama ia kubur. "Nin, kalau kamu pengen jualan, mulai dari satu menu aja. Jangan banyak. Satu menu yang bener-bener kamu kuasai, lalu orang bakal datang buat itu."

"Jualan, Mbak?"

"Saya enam tahun di dapur, Nin. Saya tahu rasa yang bisa dijual." Ia berhenti, lalu menambahkan, lebih pelan, hampir pada dirinya sendiri, "Dan saya tahu rasa yang nggak pernah ditanyain siapa-siapa."

Anindya menatapnya, bingung. Tapi Mbak Sari sudah berbalik ke talenan.

Dari balik pintu, Teh Lilis muncul dengan mata sembap dan hidung memerah, seperti orang yang menangis semalaman. Ia menatap rantang di meja, lalu Anindya, lalu kembali ke rantang.

"Teh Lilis, kenapa?"

"Nin." Suaranya bergetar. "Maafin Teteh ya. Kemarin-kemarin Teteh ikutan ngomongin kamu. Teteh nggak maksud jahat, tapi Teteh bodoh, mulut Teteh nggak bisa direm..."

"Teh, udah."

"Beneran, Nin, Teteh nyesel banget. Waktu liat kamu pakai sarung tangan kuning lagi kemarin, Teteh ngerasa kayak orang jahat..."

"Teh." Anindya meraih tangan Teh Lilis dan menggenggamnya. "Udah. Saya nggak marah."

"Beneran?"

"Beneran." Anindya tersenyum kecil, dan matanya sendiri sedikit basah. "Mau nasi uduk?"

Teh Lilis menatap rantang itu, lalu memeluk Anindya erat-erat sampai Anindya hampir kehabisan napas. Di belakang mereka, Mbak Sari mengambil satu sendok lagi dari rantang dan berpura-pura sibuk dengan bawang. Tapi bahunya sedikit turun, dan Anindya, yang melihatnya dari sudut mata, tidak tahu kenapa ia merasa Mbak Sari sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari rasa gurih nasi.

---

Sore, ketika jam empat tinggal sepuluh menit, Dimas muncul di dekat loker dengan kedua tangan di saku dan wajah orang yang sedang berlatih kalimat di depan cermin.

"Nin."

"Iya, Mas Dimas?"

"Boleh aku anter sampai gang?"

Anindya berhenti memasukkan barang ke tasnya. Ia menatap Dimas, dan untuk pertama kalinya benar-benar melihatnya: laki-laki dua puluh tujuh tahun dengan rambut selalu berantakan, bahu yang agak membungkuk, dan mata yang terlalu jujur untuk berbohong tentang apa pun.

"Mas Dimas..."

"Cuma sampai gang. Nggak lebih."

Perjalanan ke ujung gang berlangsung dalam diam yang canggung. Sore Bandung mulai gelap lebih cepat dari biasanya, dan udara dingin menyelinap di antara jaket tipis dan kerudung Anindya. Dimas berjalan setengah langkah di belakangnya, tangan masih di saku.

Di mulut Gang Mawar, Dimas berhenti.

"Nin, aku mau ngomong sesuatu."

"Mas, jangan."

"Aku belum ngomong apa-apa."

"Tapi aku tahu." Anindya menghela napas pelan. Ia menatap Dimas, tidak dengan kasihan, tapi dengan kejujuran yang ia harap tidak menyakitkan. "Mas Dimas baik banget. Dari awal, Mas Dimas yang paling ramah ke aku. Sarung tangan biru itu juga. Tapi aku nggak bisa."

Dimas diam. Ia menatap aspal, lalu menatap sepatunya, lalu akhirnya menatap Anindya dengan senyum yang sedikit miring.

"Karena Mas Reyhan?"

"Bukan."

"Beneran?"

"Karena aku sendiri belum tahu aku maunya apa." Anindya menggeleng. "Dan itu nggak adil buat Mas Dimas kalau aku pura-pura tahu."

Dimas mengangguk pelan. Ia tidak marah, tidak membantah. Tapi bahunya turun seperti seseorang yang baru saja meletakkan sesuatu yang selama ini ia bawa-bawa tanpa sadar.

"Oke," katanya. "Makasih udah jujur."

"Makasih udah ngerti, Mas."

"Jangan berhenti pake sarung tangan itu ya. Yang kuning." Dimas tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus, tapi di ujung matanya ada sesuatu yang basah. "Kayaknya itu lebih cocok buat kamu."

Anindya tidak menjawab. Ia hanya melambai kecil, lalu berbalik dan masuk ke gang, meninggalkan Dimas yang masih berdiri di mulutnya selama beberapa detik. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa menolak kebaikan seseorang adalah salah satu hal tersulit di dunia, bahkan ketika itu benar.

Dimas akhirnya berbalik, berjalan menuju perempatan untuk mengambil motornya, dan di depan minimarket, matanya berhenti pada sesuatu.

Sebuah mobil kecil berwarna abu-abu, terparkir di tepi jalan dengan lampu mati. Kaca depannya gelap, tapi di bawah cahaya lampu minimarket, ia bisa melihat siluet seseorang di balik setir.

Seseorang yang duduk sangat diam, dengan wajah menghadap ke arah mulut Gang Mawar.

Dimas membeku di tempat.

Siluet itu tidak bergerak. Tidak menoleh, tidak turun, tidak menyalakan mesin. Hanya duduk di sana seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak yakin pantas ditunggu.

Dimas menatap mobil itu cukup lama. Lalu, tanpa sepatah kata, ia berbalik dan berjalan menjauh, dengan sebuah pengetahuan baru yang terasa lebih berat dari semua yang ia bawa sore itu.

Di dalam mobil, Reyhan tidak menyadari bahwa ia baru saja dilihat. Ia hanya menatap sebuah jendela di lantai dua rumah kos di ujung gang, tempat sebuah lampu kuning menyala dan bayangan seseorang bergerak pelan di baliknya.

Ia sudah duduk di sana hampir satu jam. Berkali-kali tangannya menyentuh pintu mobil, hampir membukanya, hampir turun. Berkali-kali ia menarik tangannya kembali. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Ia bahkan tidak tahu apakah ia punya hak untuk berdiri di depan pintu itu.

Ia hanya tahu satu hal: ia tidak sanggup pulang ke rumah yang sepi tanpa terlebih dahulu memastikan bahwa lampu di jendela itu masih menyala.

Setelah lampu itu padam, barulah ia menyalakan mesin dan pulang.

Bersambung ke Bab 13...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!