NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Reputasi

Beberapa minggu setelah insiden penamparan Claire dan berbagai pertengkaran yang terus bermunculan dengan Helena, Liam menyadari bahwa masalah yang ia hadapi jauh lebih besar dibandingkan yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Whitmore Group membutuhkan suntikan investasi baru untuk memperluas ekspansi bisnis mereka ke pasar Amerika dan Asia, sebuah rencana ambisius yang telah lama Liam persiapkan bahkan sebelum perceraiannya dengan Brooklyn terjadi.

Namun ketika Liam mulai menghubungi satu per satu calon mitra investasi yang selama ini menjadi target utamanya, ia mendapati kenyataan yang begitu mengejutkan dan sulit ia terima.

Pertemuan pertamanya dengan perwakilan dari Sterling Investment Group berlangsung dengan suasana yang begitu berbeda dari yang ia harapkan. David Sterling, kepala perusahaan investasi tersebut, menatap Liam dengan ekspresi yang sulit ditebak ketika mereka duduk berhadapan di ruang pertemuan mewah kantor Sterling.

"Tuan Whitmore, aku menghargai proposal bisnis yang kau ajukan," ucap David dengan nada formal yang terasa begitu dingin. "Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama investasi ini."

"Bolehkah aku tahu alasannya?" tanya Liam, mencoba menyembunyikan kekecewaannya di balik nada profesional yang tetap ia pertahankan.

David terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan bagaimana harus menyampaikan alasan sebenarnya dengan cara yang tidak terlalu menyinggung. "Terus terang, Tuan Whitmore, istri saya cukup dekat dengan Brooklyn Hartley. Kami mendengar tentang perceraian kalian, dan... berbagai cerita yang menyertainya. Kami merasa perlu mempertimbangkan kembali kredibilitas kepemimpinan Anda sebelum melanjutkan investasi besar semacam ini."

Kata-kata itu membuat Liam terdiam, terkejut menyadari bahwa reputasinya sebagai pemimpin bisnis ternyata begitu terkait erat dengan citra pernikahannya dengan Brooklyn, sebuah hal yang tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan sebelumnya.

Pertemuan-pertemuan berikutnya dengan berbagai calon investor lainnya membawa hasil yang serupa. Beberapa dari mereka menyampaikan penolakan dengan lebih terus terang, mengungkapkan bahwa reputasi Brooklyn sebagai wanita yang cerdas, tenang, dan penuh integritas selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu faktor kepercayaan tidak langsung yang mendukung citra Whitmore Group di mata para investor.

"Brooklyn selalu hadir di setiap acara sosial penting, memberikan kesan stabilitas dan kepercayaan pada keluarga Whitmore," ujar salah satu investor senior lainnya, Margaret Chen, dengan nada yang cukup blak-blakan. "Sekarang dengan kabar perceraian yang penuh kontroversi ini, ditambah rumor tentang hubunganmu dengan wanita lain bahkan sebelum perceraian resmi, banyak dari kami mempertanyakan kestabilan dan penilaian yang kau miliki dalam mengambil keputusan penting, baik dalam kehidupan pribadi maupun bisnis."

Kata-kata itu terasa seperti pukulan telak bagi Liam, yang selama ini tidak pernah menyadari betapa besar peran Brooklyn dalam membangun dan menjaga reputasi keluarganya di mata dunia bisnis, sebuah kontribusi yang selama bertahun-tahun ia anggap remeh dan bahkan tidak pernah ia hargai secara terbuka.

Setelah menghadiri lebih dari lima pertemuan berbeda dalam waktu dua minggu, semuanya berakhir dengan penolakan yang serupa, Liam akhirnya menyerah untuk hari itu, memutuskan untuk kembali ke penthouse dengan perasaan frustrasi dan lelah yang begitu mendalam.

...***...

Ketika Liam membuka pintu penthouse itu, berharap bisa segera beristirahat setelah rangkaian penolakan yang begitu melelahkan secara emosional, pemandangan yang menyambutnya justru semakin memperburuk suasana hatinya.

Ruang tamu penthouse tersebut dipenuhi tumpukan kantong belanja dari berbagai butik ternama, jauh lebih banyak dibandingkan biasanya. Helena duduk di tengah tumpukan tersebut, mengeluarkan satu per satu barang belanjaannya dengan wajah berbinar penuh kegembiraan, sama sekali tidak menyadari suasana hati Liam yang begitu terpuruk setelah hari yang panjang dan penuh kekecewaan.

"Liam! Kau sudah pulang," sapa Helena riang, mengangkat sebuah gaun malam berwarna emas dengan bangga. "Lihat apa yang kutemukan hari ini! Aku menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling Fifth Avenue, dan aku menemukan koleksi musim ini benar-benar luar biasa!"

Liam menatap tumpukan kantong belanja tersebut dengan ekspresi yang sulit disembunyikan, kelelahan dan kekecewaan sepanjang hari kini bercampur dengan kekesalan yang mulai muncul menyaksikan pengeluaran berlebihan yang terus terjadi tanpa henti.

"Berapa banyak yang kau habiskan hari ini, Helena?" tanya Liam, suaranya terdengar begitu lelah, jauh dari nada ramah yang biasa ia gunakan.

Helena mengerutkan dahi, sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung tersebut. "Aku tidak terlalu memperhatikan angkanya, Liam. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu? Ada apa denganmu hari ini?"

"Karena aku baru saja menghadiri lima pertemuan berbeda dengan calon investor, dan semuanya menolak untuk bekerja sama dengan Whitmore Group," jawab Liam, kesabarannya yang telah lama teruji sepanjang hari akhirnya mulai retak. "Perusahaan kita membutuhkan dana segar untuk ekspansi, sementara kau di sini menghabiskan uang untuk gaun dan tas yang bahkan mungkin tidak akan pernah kau pakai lebih dari sekali!"

Senyum Helena perlahan memudar mendengar nada tajam dalam suara Liam. "Kenapa kau tiba-tiba marah padaku? Aku tidak tahu tentang masalah bisnismu, Liam. Bagaimana aku bisa disalahkan atas penolakan para investor itu?"

"Karena mereka menolak kerja sama ini disebabkan reputasiku yang hancur akibat perceraian dan hubunganku denganmu!" bentak Liam, akhirnya melampiaskan seluruh frustrasi yang telah ia pendam sepanjang hari. "Para investor mempertanyakan kredibilitasku sebagai pemimpin bisnis hanya karena aku memilih meninggalkan Brooklyn demi bersamamu!"

Kata-kata itu membuat Helena terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi tersinggung mendengar tuduhan tidak langsung tersebut. "Jadi sekarang kau menyalahkanku atas kegagalan bisnismu? Ini benar-benar tidak adil, Liam!"

"Bagaimana bisa ini tidak adil?" balas Liam, suaranya semakin meninggi. "Sejak kau kembali ke dalam hidupku, segalanya menjadi begitu kacau! Reputasiku hancur, kepercayaan bisnis yang telah kubangun bertahun-tahun runtuh begitu saja, dan kau masih saja menghabiskan uang dengan begitu boros seolah tidak ada masalah apa pun yang perlu dikhawatirkan!"

"Kau pikir aku tidak berkorban apa pun untuk hubungan ini?" balas Helena, air mata mulai menggenang di matanya, meski kali ini bercampur dengan amarah yang begitu jelas terlihat. "Aku meninggalkan kehidupanku di luar negeri, aku kembali ke sini hanya untukmu, dan sekarang kau menyalahkanku atas masalah bisnis yang bahkan tidak pernah aku ketahui detailnya!"

"Mungkin memang seharusnya kau tidak perlu kembali!" ucap Liam tanpa berpikir panjang, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya di tengah kemarahan dan frustrasi yang begitu mendalam.

Helena terpaku mendengar kalimat itu, matanya membelalak lebar penuh keterkejutan dan luka yang begitu dalam. "Kau benar-benar mengatakan itu padaku, Liam? Setelah semua yang telah terjadi di antara kita?"

Liam terdiam, menyadari betapa jauh kata-kata itu telah terlontar, namun kelelahan dan frustrasi yang telah menumpuk sepanjang hari membuatnya terlalu lelah untuk segera menarik kembali ucapannya.

"Aku hanya... aku hanya sangat lelah, Helena," ucap Liam akhirnya, suaranya terdengar begitu letih, duduk merosot di sofa terdekat sambil memijat pelipisnya yang terasa begitu berdenyut. "Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk memperbaiki semua kekacauan ini."

Helena berdiri diam untuk beberapa saat, air mata mengalir perlahan di pipinya, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kamar tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, meninggalkan Liam sendirian di ruang tamu yang dipenuhi tumpukan kantong belanja yang kini terasa begitu menyesakkan baginya.

Liam duduk sendirian dalam kesunyian ruang tamu itu, kepalanya bersandar pada sofa dengan mata terpejam, mencoba mencerna seluruh kekacauan yang telah terjadi dalam hidupnya sejak keputusan besar untuk meninggalkan Brooklyn dan mengejar kembali cinta lamanya bersama Helena. Setiap hari terasa semakin jauh dari kebahagiaan yang pernah ia bayangkan, digantikan oleh rentetan masalah yang terus bertambah tanpa henti—masalah bisnis, masalah kepercayaan, dan pertengkaran yang seolah tidak pernah menemukan titik akhirnya.

Kesadaran muncul dalam benak Liam—bahwa keputusan yang telah ia ambil mungkin bukanlah keputusan yang benar-benar tepat seperti yang selama ini ia yakini dengan penuh keteguhan hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!