NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Pasar Gelap

Setelah menemani Yan Rao mendaftar, keduanya tidak langsung pulang. Tujuh hari lagi mereka akan berangkat ke Desa Qinghe, Tim Produksi Sungai Timur Kedua, Kabupaten Nanling.

Waktu yang tersisa tidak banyak. Karena itu, hari ini dia memutuskan membeli sebagian besar kebutuhannya sekaligus.

Tujuan pertamanya adalah Toko Persahabatan.

Begitu masuk, Meng Lin melihat beberapa rak penuh barang kebutuhan sehari-hari. Ada pakaian, sepatu, perlengkapan tidur, alat tulis, peralatan rumah tangga, sampai makanan kemasan.

Meng Lin langsung menyebutkan apa saja yang ia ingin beli. Sedangkan Yan Rao hanya menemaninya saja, keperluannya sudah siap semua.

Setelah memilih kasir mulai menghitungnya. Beberapa pelanggan yang melihat belanjaan Meng Lin hanya bisa menggeleng kepala.

Mereka langsung menganggap Meng Lin sangat boros. Entah pria sial mana yang mau menikah denganya. Meski wajahnya cantik, tapi apakah itu bisa membuat kenyang?

Meng Lin tidak peduli dengan bisikan mereka, dia berbelanja mengunakan uangnya sendiri.

"2 stel pakaian katun — 8 yuan"

" 2 celana panjang — 5 yuan"

"1 pasang sepatu kain — 2 yuan 500 wen

"2 pasang kaus kaki — 800 wen

"1 selimut — 4 yuan"

"1 handuk — 600 wen"

"Sabun, sikat gigi, pasta gigi — 1 yuan 200 wen

"Jarum, benang, dan beberapa kancing — 500 wen

"perkakas kecil — 3 yuan 500 wen"

Ada obeng, tang, kunci kecil, dan beberapa alat lainnya. Barang itu mungkin terlihat tidak terlalu berguna bagi pemuda terpelajar lainnya.

Namun, Meng Lin memiliki alasan sendiri untuk membelinya. Dengan pengetahuannya di bidang fisika terapan dan teknologi, dia mungkin bisa membantu memperbaiki beberapa peralatan.

Terakhir, dia mengambil beberapa makanan kering. Biskuit dan makanan kering — 2 yuan

Setelah selesai menghitung, dia menatap Meng Lin. “Totalnya dua puluh sembilan yuan empat ratus wen.”

Meng Lin mengangguk. Dia tidak langsung mengeluarkan uang. Sebaliknya, dia membuka dompet kecilnya dan mengambil beberapa lembar uang serta kupon.

Kasir melirik barang-barang di meja. “Beberapa barang harus menggunakan kupon.”

“Yang mana?” tanya Meng Lin. Dia belum terbiasa menggunakan kupon.

Kasir menunjuk pakaian dan sepatu. “Pakaian katun dan sepatu kain. Untuk barang-barang ini perlu kupon kain.”

Meng Lin mengeluarkan kupon yang diperlukan dari dompetnya. “Ini cukup?” tanyanya.

Kasir mengambilnya dan memeriksa satu per satu. “Cukup.” dia sedikit terkejut melihat tumpukan kupon itu. Pantas saja, Meng Lin membeli dengan sikap santai.,

Dia kemudian mengambil beberapa kupon makanan untuk biskuit yang dibeli Meng Lin.

“Untuk makanan ini juga perlu kupon pangan.”

Meng Lin menyerahkannya. Kasir menghitung kembali kupon tersebut sebelum memasukkannya ke dalam kotak kecil di bawah meja.

Kasir lalu menatap barang-barang yang cukup banyak di atas meja. “Kamu mau bepergian jauh?” tanyanya penasaran.

“Ya.” balas Meng Lin singkat.

“Keluar kota?”

“Pergi ke desa.” Meng Lin tidak keberatan, dia menjawab apa adanya.

Kasir tampak sedikit terkejut. “Menjadi pemuda terpelajar?” Dia sangat menyayangkan, gadis secantik ini harus turun ke sawah, kulitnya yang putih entah masih bisa bertahan atau tidak.

Meng Lin mengangguk. “Seminggu lagi berangkat.”

Kasir memandangnya beberapa saat, lalu melihat lagi barang belanjaannya. “Pantas membeli sebanyak ini.”

Dia tersenyum kecil. “Kalau pergi ke desa, memang lebih baik membawa persiapan sendiri. Di sana belum tentu bisa membeli barang seperti di sini.”

“Aku juga berpikir begitu.”

Kasir memasukkan beberapa barang kecil ke dalam kantong kertas. Ketika hendak menyerahkannya, pandangannya kembali tertuju pada seperangkat perkakas.

“Kamu juga membeli alat-alat itu untuk di bawa ke Desa?” Karena Meng Lin mau mengobrol dengannya, jadi dia terus bertanya.

“Ya. Cuma untuk jaga-jaga. Kalau ada masalah, tidak perlu pinjam lagi!"

Baru kali ini dia melihat orang pergi ke desa tapi malah beli perkakas. Jika itu orang lain, pasti beli banyak makanan.

Kasir tertawa kecil. “Anak muda sekarang benar-benar berbeda. Biasanya orang yang pergi ke desa hanya membeli pakaian dan makanan. Kamu malah membeli perkakas.”

Meng Lin hanya tersenyum tipis. “Barang itu mungkin berguna.”

Kasir mengangguk. “Benar juga.” Dia menyerahkan barang-barang tersebut. “Sudah selesai. Ini kuponmu yang tersisa.”

Meng Lin menerima kembali beberapa kupon yang tidak terpakai, lalu menyimpannya dengan rapi di dalam dompet.

Sebelum pergi, dia memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Total belanja: 29 yuan 400 wen. Jika itu pemilik tubuh, mana mau mengeluarkan uang sebanyak itu.

Meng Lin membawa kantong belanjaannya dan keluar dari toko. Baru beberapa langkah meninggalkan toko, dia sudah kembali membuka daftar yang dibuatnya.

Masih ada beberapa barang yang harus dibeli.

“Obat-obatan... makanan tahan lama... dan beberapa barang untuk musim dingin. Oh aku juga harus beli bibit, untuk ditanam dalam ruang!" gumamnya dalam hati.

"Lin lin.. Kamu.....!" Yan Rao sangat syok melihat Meng Lin mengeluarkan uang tanpa ragu sedikitpun. "Kamu...?"

"Yan Rao ada apa?" tanya Meng Lin bingung melihat wajah Yan Rao yang tampak pucat.

"Itu... baru kali ini aku melihatmu mau mengeluarkan uang banyak!" katanya dengan jujur.

"Haaah.. Mau bagaimana lagi, semua ini sangat penting. Jadi aku menggunakan tabunganku.!" balas Meng Lin.

"Benar juga.. Kalau ada uang dan kupon lebih baik beli, daripada sampai di Desa tersiksa sendiri!" Yan Rao setuju, tapi tidak semua orang punya banyak uang. Jikapun banyak, dia harus tetap berhemat, karena cuma Ibunya yang bekerja di pabrik.

"Kamu benar.. Jadi untuk apalagi aku menahan. Uang bisa dicari lagi.!" ucapnya.

"Ya.. Sekarang kamu terlihat sangat berbeda. Lebih banyak berbicara dan tersenyum. Tidak lagi selalu menunduk!" sahutnya dengan jujur.

"Semua akan berubah...! Oh iya, kamu pulang saja dulu. Aku masih harus beli beberapa barang lagi!" kata Meng Lin sambil memperlihatkan daftarnya.

Meng Lin meletakkan sebungkus kue dan beberapa permen ke tangan Yan Rao. Dan langsung pergi begitu saja sebelum Yan Rao menolaknya.

Dia terus berjalan, tanpa menoleh saat Yan Rao memintanya berhenti. Meng Lin berbelok di sebuah gang, dan setelah memastikan tempatnya aman, semua barang-barang itu di masukkan dalam ruang.

"Heheh... Benar-benar praktis. Jadi orang rumah tidak perlu melihatnya!"

Di siang hari Meng Lin tidak pulang, di ke Restoran Negara dan makan siang di sana. Masih banyak barang yang harus di beli, tapi uangnya tinggal sedikit. Dia harus meminta uangnya kembali malam ini.

***

Meng Lin menghampiri pengemis kecil "Adik kecil, permen ini untukmu. Tapi beritahu Kakak, apa kamu tahu lokasi pasar gelap?" tanyanya dengan pelan.

Anak kecil itu menatap permen dengan mata berbinar. "Kakak ikut aku!" ucapnya dengan percaya diri.

"Ehh.. Tidak perlu. Kamu sebutkan saja, Kakak bisa pergi sendiri.!" Meng Lin tidak ingin repot jika ada masalah di sana, jika pergi sendiri dia bisa bersembunyi ke dalam Ruangnya.

"Oh baiklah...! Kakak, lewat di samping gang penginapan di jalan....!" Dia berbisik dengan pelan saat menyebut alamat nya.

Meng Lin mengangguk, lalu memberi anak itu permen. "Baik terima kasih. Ambil ini!"

Setelah anak kecil itu pergi, Meng Lin masuk le dalam Ruangnya berganti pakaian serba hitam. Ia menggunakan make up untuk mengubah struktur wajahnya, rambutnya di kepang lalu menggunakan topi dan kain untuk menutup setengah wajannya.

Meng Lin berjalan menuju gang yang di maksud. Ternyata jalan itu bisa mengelabui orang awam, karena di kiri ada penginapan, dan di kanan Restoran Negara.

Orang-orang keluar masuk, jadi tidak terlalu curiga ada apa dengan gang itu. Karena di dalam gang juga. Ada beberapa rumah penduduk lokal.

Meng Lin harus berbelok sebanyak tiga kali dan sampai di pintu yang lumaya besar berwarna merah. Dari luar, hanya seperti pintu pagar milik tuan tanah.

Tok.. Tok.. Tok..

Meng Lin mengetuk pintu tiga kali yang jedanya berbeda sesuai dengan ajaran anak kecil. Katanya itu adalah kode rahasia sebagai pelanggan baru.

Seseorang membuka pintu dan mengintip sedikit. Pria itu menatap Meng Lin dari atas sampai bawah.

"Jual atau beli?" tanyanya dengan suara datar.

"Beli..!" Balas Meng Lin tak kalah datar. Dia juga mengubah suaranya.

"5 Wen..!"

Meng Lin menyerahkan uangnya, dan barulah pintu dibuka agak lebar. Meng Lin masuk tanpa melihat sekitar. Tapi mau bagaimanapun dia punya dua mata, jadi dia bisa melihat jelas apa yang ada dibalik pintu itu.

Terlihat seperti rumah pada umumnya, halamannya rapi dan bersih. Penjaga menuntun Meng Lin lewat halaman samping, dan di halaman belakang ternyata ada pintu lagi.

Saat dibuka, barulah terlihat apa yang ada dalam penantiannya. Dari jarak beberapa KM terlihat keramain, pedagang dan pembeli saling bertransaksi.

Meski banyak orang, situasinya senyap dan tegang. Benar-benar seperti sekelompok orang yang melakukan kejahatan.

"Ohhh ternyata gelap karena ada beberapa pohon dan juga ada yang memasang beberapa atap.!" gumam Meng Lin dalam hati.

Saat baru mau melangkah, Meng Lin melihat seorang gadis kecil duduk di bawah pohon dengan keranjang tertutup. "Astaga, betapa kejamnya dunia. Untuk menyambung hidup, anak kecil itu sampai nekat seperti ini!"

Meng Lin berjalan mendekat dan berjongkok. "Gadis kecil apa yang kamu jual.?" suaranya pelan dan lembut.

Gadis kecil itu menatap Meng Lin lalu membuka membuka kain penutup keranjangnya. Aroma wangi langsung tercium.

"Bakpao?" Meng Lin tertegun. "Berapa harganya?" Dia sangat beruntung, karena tidak perlu lagi pakai kupon pangan dan kupon daging.

"3 wen isi daging! 2 wen isi sayur. Tidak pakai kupon" jawabnya pelan dan ragu.

"Aku beli semua.. Tapi kamu harus jual dengan keranjangmu. Aku tidak bawa tas!" kata Men Lin dengan mata berbinar. Harganya memang lebi tinggi satu wen, tapi tidak perlu kupon lagi.

"Apa? Beli semua...?" matanya membulat di bawa topi jerami..

.

.

.

.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
Yani
lanjut Thorr
gift ☕ biar semangat 🥰🥰
Fauziah Daud
sehat selalu n lanjut
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat 😍💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n terus sehat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!