Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Sisi Lain Kim Seokjin
Clara kira janji Seokjin beneran bakal ditepatin.
"Gue gak bakal keliatan di sekitar lo lagi."
Dan 2 hari setelah itu, beneran. Motor gede gak ada di gerbang. Seokjin gak nongol di depan kelasnya. Di kantin juga gak ada.
Gosip pelan-pelan turun. Gak ada bahan baru, orang bosen. Clara bisa napas lagi.
Tapi anehnya, lega yang dia tunggu-tunggu tuh gak dateng 100%. Ada ganjel dikit di dada. Kayak ada yang kurang.
Mutiara nyadar.
"Ra, lo kenapa sih ngelamun terus? Kan udah gak digosipin lagi. Harusnya seneng dong."
Clara geleng cepet. "Seneng kok. Seneng banget."
Bohong lagi.
Hari Rabu, jam wali kelas. Bu Lilis masuk bawa kertas undian.
"Oke anak-anak, minggu ini kita ada tugas bakti sosial. Bersih-bersih perpustakaan sama taman belakang. Kelompoknya campur kelas 11 sama kelas 12. Biar akrab antar angkatan. Ibu udah undi ya."
Anak-anak langsung protes. "Buuuu males campur kelas 12!"
Bu Lilis cuek. Mulai bacain nama.
"Mutiara sama Namjoon... Diana sama Jhope... Safira sama Suga..."
Clara udah doa dalam hati. Jangan sama Seokjin. Jangan sama Seokjin. Siapa aja asal jangan Seokjin.
"Clara Nagendra... sama... Kim Seokjin."
Kelas langsung hening. Terus bisik-bisik langsung meledak.
Clara rasanya pengen pingsan di tempat.
Diana langsung noleh ke Clara dengan muka "turut berduka cita". Safira malah bisik, "Mampus lo, Ra. Jodoh gak kemana."
Mutiara yang dapet Namjoon malah khawatir. "Ra, lo gapapa? Mau gue tuker?"
Clara geleng. "Udah, biarin. Tugas doang kok."
Padahal dalem hati, anjir kenapa harus dia sih Bu?
Jam pulang, kelompoknya langsung disuruh kumpul di perpus.
Clara dateng paling telat. Sengaja. Biar gak awkward sendirian.
Seokjin udah ada di sana. Duduk di meja paling belakang. Perbannya udah dilepas, tinggal bekas luka tipis di pelipis. Dia lagi ngeliatin rak buku yang berdebu.
Ngeliat Clara dateng, dia cuma angguk kecil. "Hai."
Clara angguk juga. "Hai, Kak."
Canggung. Parah.
Bu Lilis dateng bawain daftar tugas.
"Oke, kalian berdua kebagian rak biografi sama taman belakang ya. Raknya dibersihin, bukunya diurutin lagi sesuai abjad. Taman belakang rumputnya dicabutin. Kerjain sampe jam 4 ya."
Abis itu Bu Lilis pergi. Ninggalin mereka berdua.
Hening.
Clara bingung mau mulai dari mana. Akhirnya dia ambil kemoceng, naik ke tangga pendek buat bersihin rak atas.
Seokjin di bawah, ngurutin buku yang berantakan di rak bawah. Gak banyak ngomong.
15 menit lewat, cuma suara buku geser-geser.
Sampai ada suara dari luar perpus.
" Aduh..."
Anak kelas 7. Kecil. Pake kacamata kebesaran. Bawa tumpukan buku yang lebih tinggi dari kepalanya. Mau balikin buku tapi kepeleset keset kaki perpus. Buku-bukunya jatuh berantakan ke lantai. Anak itu juga jatuh. Lututnya berdarah dikit.
Pustakawati lagi gak ada di tempat.
Clara mau turun bantuin, tapi Seokjin lebih cepet.
Dia langsung berdiri, jalan ke anak itu.
Clara kira bakal dimarahin. Karena Seokjin kan serem.
Ternyata...
Seokjin jongkok. Pelan.
"Sakit?" tanyanya. Suaranya pelan banget. Beda sama suara dingin yang biasa dia pake di koridor.
Anak itu angguk sambil nahan nangis. "Lututnya perih, Kak."
Seokjin ngeluarin sapu tangan dari saku celananya. Sapu tangan putih. Bersih.
"Nih, teken dulu bentar. Jangan digaruk."
Terus dia pungutin buku-buku yang jatuh satu-satu. Ditumpuk rapi. Diurutin lagi. Terus bantuin anak itu berdiri.
"Udah, jalan pelan-pelan ke UKS ya. Minta plester sama Bu Sari. Bilang jatuh di perpus."
Anak itu angguk. "Makasih Kak Seokjin."
Seokjin senyum. Senyum tipis. Beneran senyum. Bukan senyum sinis.
"Iya. Hati-hati."
Anak itu pergi pincang-pincang ke UKS.
Clara yang masih di atas tangga bengong. Ngeliatin kejadian barusan.
Ini Seokjin yang sama yang ditakutin satu sekolah? Yang katanya ketua geng motor yang suka berantem? Yang katanya gak punya hati?
Kok bisa selembut itu sama anak kecil?
Seokjin balik ke rak bukunya. Ngeliat Clara masih ngeliatin dia.
"Kenapa?" tanya Seokjin.
Clara gugup. Turun dari tangga.
"Enggak... gak apa-apa. Cuma... Kakak ternyata bisa selembut itu ya."
Seokjin diem. Terus lanjut ngurutin buku lagi.
"Gue punya adek. Umurnya segitu juga. Kalau adek gue jatuh, gue pengen ada yang bantuin kayak gitu."
Clara kaget. Dia gak pernah tau Seokjin punya adek.
"Kakak punya adek?"
Seokjin angguk. "Satu. Cowok. Kelas 6 SD. Berisik banget."
Clara ketawa kecil. Pertama kalinya ketawa depan Seokjin tanpa takut.
"Oh pantesan."
Hening lagi. Tapi heningnya udah gak canggung kayak tadi. Agak mendingan.
Mereka lanjut beresin rak. Kali ini sambil ngobrol dikit-dikit.
"Kak, kemarin... maaf ya, yang di gang itu. Gue ngomongnya kelewatan," kata Clara pelan. Sambil ngelap debu.
Seokjin berhenti ngurutin buku.
"Gue juga minta maaf. Gara-gara gue lo jadi digosipin. Harusnya gue dengerin lo dari awal. Jangan sok belain lo depan orang banyak."
Clara angguk. "Iya. Tadi pas di kantin, gara-gara kakak belain gue, malah makin digosipin."
"Gue baru sadar," kata Seokjin. "Makanya kemarin gue janji gak bakal deket-deket lagi."
"Terus kenapa sekarang kita sekelompok?" Clara nyeletuk.
Seokjin ketawa kecil. Ketawa yang baru Clara denger.
"Takdir kali."
"Takdir apaan."
Mereka berdua ketawa. Kecil. Tapi cukup.
Jam 3.30, rak biografi beres. Tinggal taman belakang.
Taman belakang sekolah tuh agak berantakan. Rumput tinggi, banyak sampah daun.
Clara sama Seokjin disuruh cabutin rumput liar.
Panas. Clara pake topi. Seokjin enggak. Kaosnya udah basah keringet di punggung.
Pas lagi cabut rumput, ada ibu kantin lewat bawa galon berat. Ibu itu udah tua, jalannya pelan.
Seokjin langsung ninggalin rumputnya. Nyamperin ibu itu.
"Bu, sini saya bawain."
"Eh gak usah, Jin, berat—"
"Gak apa Bu, sini."
Seokjin angkat galon itu sendirian. Bawa ke kantin.
Clara ngeliatin dari taman. Bengong lagi.
Jadi selama ini yang orang liat cuma Seokjin yang berantem, Seokjin yang bawa motor gede, Seokjin yang bolos.
Gak ada yang liat Seokjin yang bantuin anak kecil jatuh. Yang angkatin galon ibu kantin.
Reputasi tuh jahat ya. Sekali ditempel, susah lepasnya.
Seokjin balik lagi ke taman. Ngelap keringet pake lengan.
"Kenapa ngeliatin gue gitu?" tanya Seokjin.
Clara geleng. "Gak. Cuma... ternyata kakak gak seserem yang orang bilang."
Seokjin duduk di pinggiran taman. Ngambil napas.
"Orang dengernya cuma yang serem-seremnya aja. Yang baiknya gak ada yang mau cerita. Gak seru."
Clara ikut duduk. Jaga jarak, tapi duduk.
"Gue ngerti rasanya," kata Clara pelan. "Gue juga... orang liatnya gue anak pinter, anak baik, perfect. Padahal enggak. Padahal gue capek banget jadi kayak gitu terus."
Seokjin noleh. Ngeliatin Clara.
"Lo capek kenapa?"
Clara hampir keceplosan cerita soal rumah, soal Mama Papa, soal ginjal. Tapi dia tahan.
"Gak apa-apa. Capek sekolah aja."
Seokjin gak maksa. Dia ngerti kalau ada orang yang gak mau cerita.
Mereka duduk di taman sampe jam 4. Rumput belum kecabut semua, tapi udah mendingan.
Pas mau balik, Bu Lilis dateng ngecek. Senyum-senyum liat mereka.
"Wah, rukun ya kalian. Bagus bagus. Lanjutin besok ya."
Clara sama Seokjin saling lirik. Kaget.
"Besok lagi Bu?" tanya Clara.
"Iya, taman belum beres kan? Besok lanjut jam 3 lagi ya."
Bu Lilis pergi.
Clara ngela napas. Besok harus sekelompok lagi sama Seokjin.
Tapi anehnya, kali ini dia gak nolak dalam hati.
Seokjin berdiri, nepuk-nepuk celananya yang kotor.
"Besok gue bawain es teh ya. Sebagai permintaan maaf karena bikin lo digosipin."
Clara ketawa. "Gak usah bawa roti lagi. Kenyang gue diliatin orang."
"Ya udah, es teh aja."
Mereka jalan bareng keluar taman. Gak deket-deket amat. Tapi gak jauh-jauhan juga.
Di gerbang taman, Mutiara, Diana, Safira udah nungguin sambil ngumpet di balik pohon. Ngintipin.
Diana bisik heboh, "Woy liat deh! Mereka akur! Gila!"
Safira nyaut, "Gue bilang juga apa, Seokjin tuh gak sejahat itu."
Mutiara cuma senyum. Lega liat Clara ketawa lagi. Ketawa beneran, bukan senyum tempelan.
Clara ngeliat tiga sahabatnya ngumpet, langsung teriak, "Woy! Ngapain ngumpet! Keluar!"
Tiga-tiganya kabur ketawa-ketawa.
Seokjin ngeliatin mereka. Terus ngeliatin Clara.
"Temen lo rame ya."
"Iya, berisik banget. Tapi... mereka yang bikin gue masih betah di sekolah."
Seokjin angguk. "Enak punya temen kayak gitu."
Nada suaranya agak pelan. Kayak ada sedihnya.
Clara mau nanya, tapi Seokjin udah jalan duluan ke parkiran.
"Besok jam 3 ya. Jangan telat. Gue tunggu di perpus."
"Oke!"
Seokjin naik motornya. Kali ini gak ngegas kenceng. Pelan. Hilang di tikungan.
Clara berdiri di taman belakang sendirian. Rumputnya masih berantakan. Tapi hatinya agak rapi dikit.
Dia baru sadar, reputasi seseorang tuh kayak sampul buku. Dari luar keliatan serem. Tapi isinya belum tentu.
Dan hari ini, dia baru baca satu halaman dari buku yang judulnya Kim Seokjin.