Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Olah Raga
BAB 11
Olah Raga
Meski terkadang merasa bosan dan harus menghadapi berbagai kegiatan yang penuh tantangan, Daffa tetap berangkat ke sekolah. Bagaimanapun juga, ia harus menjalani kehidupan Dinda sebaik mungkin selama tubuh mereka masih tertukar.
Namun, seperti biasanya, Daffa sama sekali tidak bersemangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Apalagi kali ini adalah jam olahraga. Baru tiga putaran mengelilingi lapangan, napasnya sudah terengah-engah seperti baru saja dikejar segerombolan anjing liar.
"Astaga... ini tubuh letoy amat," gerutunya.
Keringat mulai membasahi dahinya. Kakinya terasa berat, sementara napasnya naik turun tidak beraturan. Daffa akhirnya menyerah. Ia memilih menepi dan duduk di tempat yang agak teduh.
Dengan wajah lesu, ia meraih botol minuman yang sudah disiapkannya sejak tadi. Air langsung diteguknya beberapa kali hingga tenggorokannya terasa lebih lega.
"Baru tiga putaran!" keluhnya tidak percaya. "Kalau tubuh gue sendiri, lima putaran juga masih bisa."
Daffa menatap kedua kakinya dengan kesal, seolah-olah tubuh Dinda adalah penyebab utama penderitaannya.
"Sebenarnya lu makan apa sih Cil, sampai stamina tubuh lu begini?"
Tentu saja tidak ada jawaban.
Daffa hanya bisa menghela napas panjang. Ia kemudian melirik ke arah teman-teman sekelas yang masih berlari mengelilingi lapangan.
Ia kembali meneguk minumannya dengan santai. Namun, belum sempat menikmati istirahatnya, terdengar suara guru olahraga dari kejauhan.
"Dinda! Kenapa duduk? Ayo, lanjutkan larinya!"
Daffa langsung tersedak.
"Hah?!"
Ia menatap gurunya dengan wajah tidak percaya.
"Pak, tiga putaran itu sudah cukup, kan?"
"Cukup untuk pemanasan. Sekarang tambah dua putaran lagi!"
"Dua putaran lagi?!"
Oh, shit!
Daffa mengumpat dalam hati.
Ia menatap lapangan yang terasa mendadak seperti lintasan maraton. Namun baru saja ia hendak beranjak berdiri, sesuatu dibawah sana memerintahkannya untuk ke toilet.
"Ck! Duh kebelet lagi."
Daffa rasanya enggan pergi ke toilet. Sejak bertukar tubuh dengan Dinda, ia baru menyadari bahwa urusan ke toilet sebagai perempuan ternyata jauh lebih ribet daripada yang selama ini ia bayangkan.
Belum lagi pesan Dinda yang selalu mengingatkannya untuk menjaga kebersihan tubuh. Daffa bahkan harus selalu membawa tisu ke mana pun ia pergi. Benda sederhana itu kini terasa seperti barang wajib yang tidak boleh sampai terlupakan.
Daffa akhirnya segera meminta izin kepada guru olahraganya untuk pergi ke toilet. Setelah mendapat izin, ia pun bergegas meninggalkan lapangan.
Sesampainya di toilet, Daffa menuntaskan keperluannya dengan hati-hati. Ia berusaha mengikuti semua pesan Dinda, terutama soal menjaga kebersihan. Setelah selesai, ia memastikan semuanya sudah rapi sebelum mencuci tangan.
Namun, meskipun sudah berusaha bersikap biasa, Daffa tetap saja merasa gugup. Setiap kali harus berhadapan dengan bagian tubuh Dinda yang selama ini masih dianggapnya sebagai "area terlarang", telinga dan pipinya spontan memerah.
"Kenapa gue masih deg-degan begini, sih?" gumamnya pelan.
Daffa menggelengkan kepala, berusaha mengusir rasa canggung tersebut.
"Ini cuma tubuh Dinda. Gue cuma lagi ngejagain tubuhnya."
Meski sudah berulang kali mengingatkan dirinya sendiri, jantungnya tetap saja berdetak lebih cepat setiap kali ia berada dalam situasi seperti itu.
Daffa merasa benar-benar tersiksa, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Sulit baginya menjelaskan dengan kata-kata, bagaimana ia harus terus menahan rasa penasaran dan dorongan yang muncul sejak menempati tubuh Dinda.
Bagaimanapun, ia tetap seorang laki-laki. Perubahan tubuh yang begitu drastis membuatnya harus berhadapan dengan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan. Terlebih lagi, ia kini harus merawat tubuh Dinda dan berhadapan langsung dengan sisi pribadi yang selama ini sangat dijaga oleh pemiliknya.
Setiap kali pikirannya mulai melantur, Daffa buru-buru menggelengkan kepala.
"Stop! Jangan macam-macam," tegurnya kepada diri sendiri.
Ia menarik napas panjang dan berusaha mengingat pesan Dinda.
Gue cuma sementara berada di tubuh ini. Gue harus bisa menjaga kepercayaan Dinda.
Daffa kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih tampak memerah karena rasa malu dan gugup yang bercampur menjadi satu.
Kenapa cobaan hidup gue malah begini, sih?
"Wah, lihat nih ada siapa?!"
Tiba-Tiba tiga orang anak perempuan mendekati Daffa yang sedang mencuci tangannya di wastafel dengan santainya. Meski mendengar, ia tidak peduli dan malah berjalan santai melewati mereka.
"Eits! Mau kemana?!"
Salah seorang dari mereka segera melangkah maju dan menghadang jalan Daffa.
Daffa pun berhenti. Ia menatap gadis yang berdiri di hadapannya dengan wajah heran.
“Ada apa?” tanyanya datar.
"Gue denger, lu berusaha godain Leon ya?!"
Apalagi ini?! Nggak penting banget!
Daffa hendak melangkah lagi. Namun lagi-lagi ia di tahan oleh mereka. Kali ini, seorang gadis lainnya ikut maju dan berdiri di samping temannya, membantu menghadang jalan Daffa.
Daffa menghela napas pelan. Dua orang sudah berdiri di hadapannya, sementara seorang lagi tetap berada di belakang mereka.
“Ini apaan sih?!” Daffa mulai merasa kesal. "Ck! Lu suka sama dia? Ambil aja, gue nggak minat!"
Ogah jeruk makan jeruk!
"Ck! Sombong banget lu ya?! Mentang-mentang lu di samperin Leon di UKS!
Daffa menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
Apa lu sering di bully begini Cil?
Daffa kemudian membalikkan tubuhnya. Tatapannya langsung tertuju pada salah satu gadis yang sejak tadi hanya berdiri sambil mengamati dirinya. Dari sikap dan sorot matanya, Daffa memperkirakan gadis itulah yang menjadi pemimpin di antara mereka.
Ia menatap gadis tersebut dengan tajam, seolah menunggu penjelasan.
"Masih jaman ya main ancam begini? Kenapa? Nggak pede sama diri kalian sendiri? Gue kesini hanya buat sekolah, bukan yang lainnya."
"Halah, sekolah apa?! Lu tiap hari gue dengar tidur di kelas." Jawab salah seorang dari mereka.
Ah, bener juga.
"Jangan ngeles deh! Jangan sok kecakepan. Baru di perhatikan sedikit sama Leon udah bersikap tengil Lo!"
Daffa tersenyum tipis. "Gue emang cakep kok. Ngapain gue ngejar cowok nggak penting itu?! Gue udah punya cowok, jadi jangan ganggu gue!" ucapnya.
Besok gue mesti minta anterin Dinda ke sekolah. Biar pada tahu, gue lebih ganteng dari cowok sok tenar itu!
"Dasar sombong! Oke kita lihat aja. Dan awas kalau lu kecentilan lagi sama Leon!"
"Ckckckck! Gue kasihan sama lu pada. Kalau suka tinggal bilang aja sama orangnya. Ngapain ganggu dan ngancem orang lain segala?! Itu artinya kalian merasa gue lebih dari kalian. Iya kan? Mau siapa pun suka sama gue, kalian nggak berhak melarang! Dan apa yang kalian perbuat begini, emangnya si Leon itu bakal suka dengan cewek-cewek modelan preman kayak kalian? Dah ah, minggir! Ini masih jam olahraga, gue mau balik ke lapangan."
Kali ini Daffa sedikit mendorong anak perempuan yang sejak tadi menghadang jalannya. Namun mungkin karena kesal dengan sikap Dinda yang sebenarnya adalah Daffa, cewek tadi merintangkan kakinya hingga membuat Daffa jatuh tersungkur.
Shit!
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu