Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09
_____🌺
Malam hari di dalam kamar.
"Aduh ... shhh ... pelan-pelan, Nis. Perih banget rasanya, sumpah."
"Tahan dikit napa, Mas. Ini emang harus agak ditekan biar cepat keluar."
"Ya Allah ... aduh, ampun! Sakit, Nis! Jangan kenceng-kenceng tekannya! Merinding semua ini badanku."
"Iya, iya, ini udah paling pelan lho. Kamu rileks aja, jangan kaku ditahan gitu badannya. Kalau kaku malah makin sakit nanti pas digesek."
"Gimana mau rileks, kalau kamu main hajar aja? Pelan-pelan di bagian bawah situ, Nis. Tolong banget, perih ..."
Bu Ratna yang sedang berjalan santai melewati kamar anak dan menantunya, mendadak menghentikan langkah kakinya.
Telinganya yang sangat peka terhadap gosip dan suara mencurigakan, langsung menangkap suara desahan dan rintihan dari balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka celahnya itu.
Matanya langsung berbinar terang benderang, bahkan mungkin lebih terang dari lampu kristal di ruang tamu.
Senyum lebar langsung merekah di bibir merah wanita paruh baya itu. Tangannya menutup mulut, menahan pekikan kegirangan.
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya anak dan menantuku dapat hidayah juga malam ini. Gitu dong, kalau mau bikin anak itu harus semangat empat lima! Nggak sia-sia Mama pamer brosur sumbangan keliling kompleks kemarin sore, doa anak panti asuhan emang langsung manjur nembus ke langit!" gumamnya.
Wanita itu kegirangan sendiri di depan pintu kamar.
Ia segera menempelkan telinganya lebih rapat ke daun pintu. Penasaran tingkat tinggi dengan kelanjutan aksi di dalam sana.
"Nis, miringan dikit dong posisinya. Susah ini kalau begini." Suara Dimas kembali terdengar, kali ini napasnya terdengar ngos-ngosan.
"Kamu yang bener posisinya, Mas. Jangan banyak gerak. Ini licin banget soalnya, susah aku megangnya dari tadi meleset melulu," balas suara Nisa, terdengar tak kalah terengah-engah dari suaminya.
"Ya wajar licin, kan kamu pakainya banyak banget tadi. Jangan ditekan pas di tulang dong, sakit banget tahu!" keluh Dimas lagi, suaranya sedikit tertahan.
"Bawel ah! Udah, nikmatin aja prosesnya. Sebentar lagi juga kelar kok. Tahan ya, ini mau aku tekan agak keras dikit biar tuntas sampai bawah."
"Ahhhh! Ya ampun, Nis!"
Bu Ratna di luar pintu sampai jingkrak-jingkrak kegirangan menahan suara tawanya sendiri. Ia merasa bangga bukan main.
"Hebat juga si Nisa. Kelihatannya aja polos, kalem kayak putri keraton, ternyata agresif juga kalau di ranjang. Pantesan si Dimas sampai ngos-ngosan teriak begitu. Bagus, bagus! Hajar terus, Nis! Biar cepat jadi itu cucu Mama! Biar bungkam itu mulutnya si RW sombong!"
Bu Ratna bermonolog, penuh semangat kemenangan.
Merasa harus memberikan dukungan moral dan asupan energi untuk pasangan muda yang sedang berjuang keras di dalam sana, Ibu Ratna buru-buru berlari kecil ke arah dapur.
Otaknya langsung menyusun rencana cemerlang malam itu juga. Ia harus membuatkan ramuan rahasia.
"Bikin cucu itu butuh tenaga ekstra. Si Dimas badannya lemes gitu sering jajan seblak sama istrinya, bisa-bisa pingsan dia sebelum adzan subuh. Mama buatin teh telor bebek setengah mateng aja deh biar staminanya makin ngejreng!" ucapnya.
Dia meracik minuman di dapur dengan kecepatan setara koki restoran bintang lima.
_____🌺
Sepuluh menit kemudian, Bu Ratna kembali berjalan menuju kamar Dimas dan Nisa. Di tangannya terdapat nampan berisi dua gelas teh telor bebek hangat dan sepiring biskuit cokelat.
Ia tersenyum penuh kebanggaan. Suara rintihan dari dalam kamar ternyata masih terdengar, meski tak sekeras dan seheboh tadi.
"Nis, geser dikit. Kanan, kanan. Nah, iya di situ, itu yang paling pegel," arah Dimas dari dalam kamar.
"Ini? Pegel apa perih? Merah banget ini sumpah. Kayaknya anginnya sekebon pindah ke punggung kamu semua deh, Mas."
"Biarin aja sekebon, yang penting lega habis ini. Besok ada rapat pagi sama klien penting, nggak lucu kalau aku tiba-tiba sendawa terus di depan mereka gara-gara masuk angin."
"Makanya, dibilangin jangan sering-sering minum es kopi susu kalau sore. Apalagi perut lagi kosong. Mama tuh bener, kamu harusnya makan yang sehat dan bergizi."
"Loh, kok kamu jadi belain Mama sih sekarang?"
"Bukan belain, Mas. Tapi emang bener kan? Ujung-ujungnya kalau kamu sakit, siapa yang repot? Aku juga kan yang suruh ngerokin dan ngurut, sampai keringetan gini."
Sang Mama, yang sudah berada tepat di depan pintu, tak lagi memperdulikan obrolan tersebut.
Ia mengetuk pintu perlahan dengan sebelah tangan, lalu mendorongnya masuk pelan-pelan karena memang pintunya tidak dikunci rapat dari dalam.
"Dimas, Nisa ... Mama bawain minuman penambah stamina nih buat kalian berdua biar makin ..."
Ucapan dari sang Mama terputus secara tragis di udara. Matanya melotot tajam seolah mau keluar dari kelopaknya berguling ke lantai.
Nampan di tangannya nyaris saja jatuh berdebum ke ubin saking kagetnya melihat pemandangan di depannya.
Bukan adegan romantis membara yang ia lihat. Sama sekali bukan!
Di atas kasur, Dimas sedang tengkurap telanjang dada. Punggung pria itu sudah berwarna merah padam dengan motif garis-garis menyilang mirip zebra cross di jalan raya.
Di sampingnya, Nisa sedang duduk bersila memegang sebuah koin uang lima ratus rupiah warna kuning dan sebotol lotion anti nyamuk. Nisa ternyata sedang asyik mengerok punggung suaminya dengan tenaga penuh.
"Astaghfirullahaladzim! Ya ampun, Dimas! Punggung kamu kenapa merah-merah semua kayak habis dicambuk algojo kerajaan?!" teriaknya histeris.
Suara itu membuat Dimas dan Nisa terlonjak kaget bukan kepalang.
"Eh, Mama! Bikin kaget aja ih masuk nggak salam dulu," ucap Nisa sambil buru-buru menarik ujung selimut untuk menutupi punggung Dimas yang telanjang.
Dimas memutar kepalanya ke arah pintu dengan wajah pucat pasi dan menahan sakit.
"Masuk angin, Ma. Parah banget ini. Kepala Dimas rasanya muter-muter dari tadi pulang kerja. Makanya minta tolong Nisa buat kerokin bentar."
Bu Ratna berjalan masuk dengan napas memburu menahan emosi yang meletup-letup. Harapan indahnya tentang cucu pertama seketika hancur berkeping-keping digantikan oleh aroma wangi lotion anti nyamuk yang menyengat hidung.
"Masuk angin apanya?! Suara kalian tadi di luar kedengaran desah-desah ngos-ngosan, Mama kira kalian lagi usaha keras bikin dedek bayi! Eh, nggak tahunya lagi kerokan! Bikin Mama jantungan aja, mana udah Mama repot-repot buatin teh telor bebek segala! Sia-sia telur bebek mahal Mama pecah dua butir malam ini!" omel sang Mama, menaruh nampan di atas meja rias Nisa dengan kasar dan wajah ditekuk.
Nisa dan Dimas saling berpandangan sedetik, lalu sama-sama menahan tawa melihat wajah kecewa berat Bu Ratna.
"Ya ampun, Ma. Mama mikirnya kejauhan banget sih sampai ke dedek bayi segala. Orang Mas Dimas tadi teriak-teriak kesakitan soalnya aku keroknya pakai tenaga penuh. Anginnya susah keluar, Ma," jelas Nisa sambil memperlihatkan koin lima ratusan di tangannya sambil tersenyum geli.
"Tenaga penuh apanya? Kamu itu kerokan apa mau nguliti kulit anakku, Nis? Itu merahnya sampai item begitu! Kamu pakai koin apa sih? Kok tajem banget kayaknya!"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh